Lily Untuk Angga

Lily Untuk Angga
Part 20


__ADS_3

Selepas makan mereka semua berkumpul di rumah rumahan dekat lapangan basket. Ezra mengeluarkan catur kesayangannya menantang Angga sedangkan Zain, Baim, Niel juga Kenzo main basket, Afkar melihat pernainan Ezra dan Angga pun Lily, sedangkan Aryan dan Hari main game di ponsel mereka.


"Mau main?" Angga menawarkan pada Afkar


"Gue mau istirahatin otak, besok ada ulangan Ekonomi." tolaknya


"Lah mereka malah main noh" Angga menunjuk Aryan, Baim dan Zain.


"Aryan sama Baim mereka tidak butuh belajar. Zain punya kemampuan the power of kepepet" dengus Afkar.


Angga mengangguk paham dia hendak melangkahkan salah satu bidaknya tapi di cegah Lily "Kenapa?"


"Jangan yang itu" Lily mengambil bidak lain untuk di pindahkan.


"Ah curang!" Ezra menggaruk kepalanya yang tiba tiba gatal karena serba salah kalau dia bergerak "Lily jangan dibantuin pacar lo!"


Lily menarik kembali tangannya dan kembali diam, sebenarnya dia tidak mau ikut campur dalam permainan tapi tangannya terasa gatal kalau hanya menonton Angga yang seperti kepayahan.


Angga terbahak dia menarik Lily mendekat ke arahnya, gadis itu tidak bisa menolak.


"Nempel aja teross" Hari mendengus dari belakang, Angga menoleh sambil memasang smirk


"Iri? Bilang bos!!"


Hari mengambil gelas ale-ale kosong melemparnya ke arah Angga. Hari makin mendengus karena Aryan tiba tiba turun dari pondok tempat mereka duduk "Kemana lo?"


Aryan melambaikan ponselnya yang berdering "Cewek gue nelfon!"


"Ban*ke" sungutnya. Aryan hanya tertawa sambil berjalan menjauh. "Tapi ceweknya Aryan siapa sih?"


"Ada, anak sekolahan kita" Jawab Ezra yang membuat Hari makin mencak mencak karena dia juga tahu kalo soal itu.


"Anak IPS juga pokoknya" Jawab Afkar.


"Teman sekelasnya?"


Afkar menyeringai "serius lo mau tau? Kepo lu!!"


"Kamp*et lo!" 


"Setau gue, Aryan itu tidak suka mengumbar hubungannya, pacarnya juga sama. Cukup mereka berdua saja" Angga memindahkan bidaknya sesuai petunjuk Lily "Skakmat! Hahahahahaha..."


"AKH... BAN*KE!" Ezra menggaruk kepalanya kesal terlebih melihat tawa menyebalkan Angga "Kalau tidak ada Lily lo tidak bakal menang!"


"Yang penting gue yang menang!"


Ezra mendengus, dia menghela nafas meliha Lily yang tersenyum tipis melihat tingkah kekanakan Angga.


"Dari kapan lo main catur?"


Senyum Lily seketika hilang dan menoleh ke Ezra yang menunggu jawabannya.


"SD"


"Pantes lo jago mimpin nih otak udang" Ezra menunjuk Angga


"Kalau gue otak udang, bukan nama gue yang paling di atas saat penerimaan rapor di mading!" Ucapnya sombong. Ezra mendengus dan memilih mengajak Lily main.


Gadis itu melihat Angga dan cowok itu mengangguk mengiyakan sebelum ikut bermain basket dengan yang lainnya.

__ADS_1


Setidaknya dia masih sedikit jago kalau main basket.


"Kamu mau ikut ekstrakurikuler catur gak?" Ezra mengatur bidaknya "Bulan depan ada lomba, hadiahnya lumayan!" tawar Ezra.


"Tidak."


Ezra mendongak menatap gadis mungil di depannya yang juga mengatur bidaknya.


"Kenapa?" Lily hanya menggelengkan kepalanya "Sayang sekali"


Padahal Ezra berfikir kalau Lily sangat berbakat di catur, tapi kalau gadis itu menolak sebagai kakak kelas yang baik dia tidak mau memaksanya.


"Lo duluan!" ucap Ezra, Lily menganggukkan kepalanya dan menjalankan salah satu bidaknya.


Angga yang main basket sesekali menoleh ke pondok dimana dia membiarkan Lily bermain dengan Ezra.


"Ngak bakal ditikung lo." Niel mengoper basket ke arahnya.


"Bukan itu" Dia melempar ke Zain yang kosong "Jarang gue lihat dia semangat begitu semenjak bokapnya meninggal. Zain lempar sini!"


"Bagus dong" Kenzo mencoba menjaga Angga. Angga menganggukkan kepalanya.


"Akhh..." Mereka menoleh ke arah Ezra yang terlihat frustasi.


"Baru kali ini gue lihat Ezra main sampe teriak teriak gak jelas" ucap Niel dia melempar bola ke ring " sudahan, gue capek!"


Mereka mendekat ke pondok, Angga menggeser Aryan yang sudah duduk di samping Lily.


Lily terlihat sangat tenang meski saat hendak menggerakkan pionnya dia berdiam diri cukup lama untuk berfikir.


"Bagaimana?" Niel bertanya


"Diam, gue gak bisa konsentrasi" serunya, dia mengubah posisi duduknya jadi berjongkok sedangkan Lily menggigiti kukunya.


Satu jam lebih permainan Lily dan Ezra baru selesai dengan Ezra keluar sebagai pemenangnya.


"Dia memang gila catur" Angga mengipasi wajah Lily yang berkeringat. "Mau pulang?"


Lily menganggukkan kepalanya, dia juga capek sekali. Menurutnya mending di suruh membersihkan satu kelas bolak balik ketimbang harus berfikir keras.


"Lain kali main lagi!" Ezra berucap saat Lily memakai tasnya bersiap pulang.


"Iya"


"Lo kelas sepuluh apa?"


"Sepuluh A" jawab Lily dia kemudian pamit mengikuti Angga.


*****


Lily mengambil selimut menyeretnya ke ruang tv, dia juga sudah menyiapkan camilan yang ia simpan di kulkas.


Dia mau menonton drama semalaman karena besoknya hari minggu.


Tv di rumah Angga adalah tv smart jadi dia tidak perlu memakai laptop yang layarnya kecil, cukup nonton di tv.


Angga yang keluar mau mengambil air mengangkat keningnya melihat Lily yang siap dengan alat tempurnya.


"Mau tidur di sini?" tanya Angga tiba tiba membuat Lily kaget

__ADS_1


Dia mengelus dadanya sambil menganggukkan kepalanya.


"Mau nonton soalnya"


Angga mengangguk sambil berlalu ke dapur. Saat kembali dia langsung ke kamar tapi tidak lama dia keluar dengan matras.


"Pakai ini"


Lily membulatkan matanya, menatap matras bergantian dengan Angga.


"Di lantai dingin, nanti kamu masuk angin."


"Kan ada sofa"


"Ngak enak tidur di sofa." jawab Angga.


Dia bergerak menggeser sofa agar matras kasur bisa dia posisikan di tengah. Setelahnya dia melapisi seprai yang sempat dia bawa juga.


Angga kembali ke kamar dan keluar dengan banyak bantal dan Lily hanya melongo.


"Kakak mau nonton juga?"


"Iya" Angga mengatur bantal sebelum menepuk sisi kosong di sampingnya.


Melihat itu Lily tidak bergerak "Tidak usah malu, kita sudah halal juga"


Lily menghela nafas dan dengan muka yang memerah dia mendekat dan duduk di samping Angga yang menyetel tv.


"Netflix?" Lily menganggukkan kepalanya.


Angga menyerahkan remot ke Lily membiarkannya memilih drama apa yang akan dia nonton.


"Sebenarnya apa bagusnya cowok korea? Gantengan Kakak kemana mana!" ucap Angga begitu melihat pemeran di drama yang dipilih Lily


Lily hanya meliriknya tanpa mengatakan apa apa, rasanya dia ingin memberikan Angga cermin lebar.


"Ini ceritanya tentang apa?" Angga mencomot keripik yang ada di tangan Lily memasukkannya ke mulut.


"Pengacara Mafia dari Italia" jawab Lily.


Angga mangguk mangguk dia kembali bertanya


"Ada berkelahinya tidak?"


"Ada, banyak!"


Setelahnya Angga diam tidak bertanya lagi, dia fokus ke layar Tv.


Setelah beberapa saat suasana di ruang tv itu senyap hanya suara tv yang terdengar, Angga meledakkan tawanya memecah suasana sepi.


"Baguskan?" tanya Lily, Angga langsung diam


"Biasa saja."


Lily mendengus kecil, tubuhnya tiba tiba kaku saat Angga bersandar pada lengannya.


Malam itu mereka benar benar begadang sampai subuh, itupun karena tertidur dengan sendirinya.


*****

__ADS_1


__ADS_2