
Lily duduk sambil memeluk lututnya di atas kasur, matanya menatap keluar jendela kamar yang disiapkan Liz untuknya. Pikirannya kacau balau saat ini, apa yang diceritakan Liz terngiang ngiang di kepalanya.
Dia hanya tidak menyangka, keluarga dari pihak Ibunya begitu tak berperasaan. Dia kasihan pada Liz, karena keegoisan mereka, tak satupun dari kedua orang tuanya yang meninggal dapat dia lihat untuk terakhir kalinya.
Tok tok
"Masuk" ucap Lily.
Liz membuka pintu kamar, dia menatap Lily yang terlihat kuyu dalam semalam.
"Kenapa kak?"
Liz bersandar di ambang pintu "Mau jalan jalan?"
"Ke mana?"
"Ke mana saja." jawab Liz "Banyak tempat yang bisa dikunjungi."
Lily belum menjawab, dia melihat jam dulu di ponselnya. Masih jam sebelas siang, artinya belum waktunya untuk pulang sekolah.
Dia menyingkap selimutnya dan berjalan menuju balkon, menarik pakaiannya yang kemari yang sempat di cucinya. Saat kembali ke kamar, dia meminta Liz keluar dari kamar itu dan menunggunya di bawah saja.
Dia butuh membersihkan dirinya.
Tidak cukup sejaman, Lily turun ke bawah, dia melihat ke arah Liz yang sibuk dengan ponselnya, dia sudah berganti pakaian juga.
"Sudah siap?" tanya Liz saat melihat Lily, gadis itu menganggukkan kepalanya. "Ya sudah, kamu keluar duluan, tunggu di mobil saja."
"Iya."
Lily berjalan keluar, tapi sebelum itu dia kembali melirik Liz yang kembali menelfon. Dari apa yang di tangkap pendengarannya, tampaknya Liz sibuk dengan pekerjaannya.
Lily masuk ke dalam mobil yang sudah dibukakan untuknya, dia hanya duduk diam sambil menunggu Liz di sana. Tak lama Liz muncul masih dengan ponsel yang menempel di telinganya, dia tersenyum ke arah Lily begitu dia masuk ke dalam mobil.
"Aku mau laporannya ada di mejaku sore ini, adapun kerja sama dengan grub LC soal projek ini, aku akan membahasnya di kantor nanti." setelah mengatakan itu, dia menutup telfonnya. "Ke pusat perbelanjaan, tidak masalahkan? Ada yang harus kakak periksa di sana."
Lily menganggukkan kepalanya "Iya."
"Kapan Suami mu balik?" tanya Liz di tengah kesunyian.
"Minggu depan, katanya ada projek di sana." jawab Lily, dia sekarang berkirim pesan dengan Nurul yang katanya bosan di kelas.
Liz melirik apa yang dia lakukan "Projek?"
"Iya"
"Projek apa?" tanya Liz, dia sebenarnya pura pura bertanya agar ada percakapan diantara mereka. Dia sangat tahu projek apa yang dia lakukan Angga, karena dia juga berinvetasi untuk projek itu.
"Tidak tahu, Kak Angga jarang sekali membahas pekerjaannya saat di rumah." jawab Lily, dia tidak mengatakan hal apa yang Angga lakukan saat di rumah.
__ADS_1
Saat berada di rumah, Angga selalu sibuk memeriksa ini itu, menjahilinya, dan merengek memintanya untuk jalan jalan berdua. Kalau pun ada pekerjaan, Angga mengerjakannya saat tengah malam, Angga selalu mementingkan Lily.
"Oh." jawab Liz, dia melirik Lily sekali lagi. Senyum Liz terbentuk begitu saja, dia senang melihat adiknya juga senang saat membahas Angga.
Dia sedikit iri pada Angga.
Tapi dia tidak bisa marah, dia tidak pernah hadir di sisi Lily sejak gadis itu lahir. Jadi, sangat wajar kalau Lily tidak mempunyai kesan terhadapnya.
Dan lagi.... Posisi suami dan kakak itu berbeda.
"Sayang sekali!".
Lily menoleh ke arahnya "Kakak ngomong sesuatu?"
Spontan Liz menggeleng.
****
Lily menatap mal di depannya dengan mata membulat, bukan karena takjub dan bukan karena dia pertama kali datang, tapi mall di depannya ini jauh lebih mahal dari mall yang lainnya. Beberapa bulan lalu Angga pernag membawanya ke sana, dia mengatakan tidak akan datang lagi sambil cemberut, tapi siapa yang menyangka kalau dia datang kembali.
Dengan Kakak kandungnya!
"Ayo masuk!" ajak Liz, dia berjalan lebih dulu sambil menggulung lengan bajunya.
Lily menghela nafas panjang sebelum mengikuti Liz, hari ini Liz memang mau menghabiskan waktu dengan adiknya. Lily berjalan dengan tatapan lurus, dia berusaha untuk tidak melihat barang barang yang terpasang di etalase di setiap toko.
"Kamu mau membeli sesuatu?" tanya Liz, Lily menggelengkan kepalanya dengan cepat.
Meski menginginkannya dia tetap menahan diri, dia bukan anak yang boros. Dia bisa ke pasar dan membelinya di sana, harganya pasti jauh lebih murah dengan kualitas yang bagus juga tentunya.
Dia tidak hanya ingin membeli brand.
Tapi tak lama langkahnya berhenti, melihat itu Liz juga melakukan hal yang sama.
"Kamu mau beli apa?"
Lily menolehkan kepalanya ke sebuah toko "Jas. Jas kak Angga hanya ada beberapa.".
Liz melihat toko di depannya, itu adalah brand ternama. Dia kembali menatap adiknya itu, apa Lily menahan diri untuk dirinya tapi untuk Angga dia sama sekali tidak menahan diri?
Liz mendengus dalam hati, meski saat itu masih kecil, tapi Liz yakin sifat Lily sama dengan Ibu mereka.
Lily melangkah ke toko setelah mendapat persetujuan Liz, bagaimana pun dia pergi bersama kakaknya itu. Dia masuk ke dalam surga jas, banyak jenis jas yang bisa dia pilih tentunya dengan harga yang sepadan juga.
"Kamu di sini dulu, tidak apa kan?" tanya Liz, Lily mengkerutkan keningnya, mengerti itu Liz menjawab "Kakak mau menemui klien sebentar."
"Oh Iya."
Begitu Liz keluar, dia meminta salah satu asistennya mengawasi Lily. Dia takut ada yang menganggu adiknya.
__ADS_1
Lily melihat lihat jas dan mengambil beberapa untuk saling di bandingkan, dia sudah tahu ukuran Angga jadi tidak akan kesulitan meski Angga tidak bersamanya. Angga menyukai warna hitam, tapi Lily membeli jas tidak semuanya hitam.
Setelah membeli jas, dia juga membeli beberapa kemeja kerja, dasi dan kaos kaki. Angga sama sekali malas membeli untuk dirinya sendiri, jadi Lily merasa berkewajiban membelinya.
Sementara pakaiannya dikemas, Lily pergi ke toko sepatu yang berada di samping tempat dia membeli jas. Dia jarang ke mall jadi dia akan membeli beberapa barang saat datang ke sana, salah satunya sepatu untuk Angga.
Dia memilih sesuai seleranya, mengikuti selera Angga sama saja bohong.
Angga tidak punya selera.
Semenjak Angga menikah dengannya, hampir semua pakaian dia yang memilihkan untuknya. Tapi kebalikannya, Angga paling bisa membelikan pakaian untuk Lily yang jarang membeli pakaian.
"Siapa ini?" Lily mendengar suara yang akrab di telinganya. Suara yang akrab tapi tidak pernah didengarnya beberapa bulan ini.
Tidak jauh dari dia berdiri, sekumpulan gadis berdiri sambil bersedekap dada sambil melihatnya. Beberapa dari mereka adalah yang di keluarkan dari sekolah, dia menatap Lily tajam.
Lily melihat mereka sebentar kemudian membalikkan badannya, tangannya kembali meraih sepatu kulit khusus pria.
"Mas, nomor 43 ada gak?" Lily memperlihatkan sepatu di tangannya, Mas yang ada di sana langsung mencari dan memberikan padanya.
"Heh! Pura pura buta lo ya!" Seseorang mendekatinya dan mendorong kepalanya "Makin jadi lo ya sekarang."
Lily menghela nafas panjang, dia malas berurusan dengan orang seperti mereka. Melihat Lily hanya diam mereka makin geram, dia merampas sepatu di tangan Lily.
"Wahh... Buat sugat daddy lo ya?" Dia melihat Lily.
Dia semakin kesal karena Lily hanya diam, menatap mereka seperti kumpulan orang bodoh.
"Berapa harga tiap lo tidur sama Sugar daddy lo hah? Om gue ada tuh yang cari baby girl." ucapnya dan disambut tawa yang lain. "Jawab bang*at!"
"Saya tidak menjawab pertanyaan orang dungu!"
"Lo!" dia mengangkat tangannya hendak memukul Lily tapi terhenti, dia teringat bagaimana Lily membanting orang.
Dia menyeringai mengambil beberapa sepatu, merusaknya dan menyalahkan Lily pada pemilik saat datang. Lily tidak habis fikir, kenapa mereka sama sekali tidak berubah dan semakin terlihat bodoh.
"Saya tau kalau kalian kurang pintar, tapi saya tidak menduga kalian benar benar tidak berotak." ucap Lily ketika tangan mereka menunjuknya.
"Lo!" Lily melangkah mundur saat akan dipukul, dia melirik ke pojok atas ruangan dimana ada CCTV.
"Kalian merusak barang barang dan menuduh mbak ini," penjaga toko itu menggelengkan kepalanya "Sebaiknya kalian tetap di sini, rekan kami menunggu keamanan." dia menoleh ke arah Lily dan memintanya untuk kembali belanja.
Lily melirik mereka sebentar dan meraih dua pasang sepatu, kali ini dia juga mengambil untuk dirinya sendiri. Dia membayarnya dengan cepat dan keluar dari tempat itu, sangat malas berurusan dengan mereka.
"Sudah selesai?" Lily kaget saat Liz berdiri di depannya, kakaknya itu memberikan paperbag yang berisi jas Angga. "Kamu tidak beli baju juga?"
Lily menggelengkan kepalanya, moodnya yang kurang baik makin buruk karena pembullynya dulu.
"Lily mau pulang saja."
__ADS_1