
Rosa dan Lily berjalan berbarengan masuk ke dalam kantin, kening Rosa mengkerut melihat beberapa siswa yang memakai seragam yang bukan dari sekolah mereka.
"Anak SHS kenapa ada di sekolah kita?" Tanya Rosa, Lily melihat ke arah sekelompok siswa yang berseragam SHS yang juga ada di kantin.
"Kakak kelas sebelas ada lomba cerdas cermat dengan anak SHS" jawab Lily, Rosa menoleh ke arahnya "Kak Angga yang kasih tahu. Kebetulan Kak Angga temenan sama Kak Afkar"
"Oh" Rosa mendekati ibu kantin bersama Lily untuk memesan makanan yang akan mereka makan.
Lily melihat ke sekeliling karena ini kali pertama dia makan ke kantin barat yang berada di antara gedung kelas sebelas dan dua belas, Rosa yang mengajaknya. Meski itu kawasan kakak kelas tapi tidak sedikit juga anak kelas sepuluh makan disana.
"Tumben kalian disini?" Nurul salah satu temannya sepertinya terkejut melihat mereka di sana, semenjak kejadian mereka dipanggil ke ruang BK beberapa teman memang sudah mau bicara dengan Lily terlebih sifat Lily tidak seperti yang mereka dengar sebelumnya.
"Mau coba saja" jawab Lily, ya mereka memang mau cari suasana baru.
"Oh" Nurul duduk di depan mereka "Soto di sini enak banget, lo wajib coba"
"Iya? Lain kali Li- Aku coba" ucap Lily, dia sengaja mengubah panggilan dirinya karena menurut beberapa orang memanggil diri sendiri dengan nama, itu sangat kekanakan sekali.
"Oh, Lily!" Lily menoleh mendapati Ezra yang sudah berjalan ke arahnya dengan mangkok di tangannya.
"Kak Ezra" sapanya begitu Ezra meletakkan mangkuknya di depan mereka
"Gue gabung disini, ya"
"Iya kak" jawab Lily setelahnya dia mendengar dengusan Rosa di sampingnya.
"Teman sekelas?" Tanya Ezra melihat Nurul dan Rosa, dia melihat tatapan kesal Rosa padanya
Ezra mengernyit, memang dia salah apa sama cewek di depannya itu?
"Lo Ezra kan? Temannya Angga?" Mereka mendongak saat seseorang mengebrak meja mereka siswa berseragam SHS, bukan hanya mereka tapi orang orang di kantin juga langsung menoleh ke meja tempat mereka duduk.
Ezra mengangkat sebelah keningnya "Kita kenal?"
"Ngak usah banyak bac*t lo?" Dia hendak menarik kerah Ezra tapi cowok itu mundur lebih dulu. "Tunas bangsa ngerendahin SHS ha? Atau Angga takut makanya dia nyuruh adek kelas lo yang tanding dengan SHS? Pengecut lo Bab*"
Lily dan teman temannya hanya bisa melihat ke Ezra yang terkekeh pelan.
"Bac*t lo" Sertak Ezra "Kami bukan senior yang kurang kerjaan yang suka ikut campur urusan adek kelas, kami banyak kerjaan jauh lebih penting." Ezra ingin melanjutkan makannya.
"Akhh..." Jerit Nurul, Lily langsung menutup mulutnya agar tidak menjerit juga sedangkan Rosa terbelalak, kuah kuning soto milik Ezra sudah tumpah ke seragam Lily karena cowok SHS itu mendorong mangkuk Ezra.
"Lo gak apa apa?" Tanya Rosa, Lily tidak menjawab.
"Lo ada masalah sih ha?" Ezra berdiri menjulang di depan cowok SHS, "Kalian bawa dia ke UKS"
"Yuk Li, pasti berbekas itu." Nurul menarik Lily berdiri pun dengan Rosa.
Mereka dengan cepat meninggalkan kantin itu, padahal belum sempat makan.
__ADS_1
"Perih" ringis Lily, Soto itu panas padahal dia sudah memakai lapisan baju yang tebal tapi masih sangat panas.
"UKS di depan" ucap Nurul.
"Kenapa ini?" Langkah mereka terhenti, Angga berdiri di depan mereka
Aryan menatap pakaian Lily yang sudah berubah kuning, wajah Lily juga mengernyit seperti menahan sakit. Niel yang jalan bersamanya menelan ludah melihat perubahan wajah Angga yang tadinya sudah tenang sekarang makin tenang bahkan terkesan tak berekspresi. Dia melangkah mendekat Lily menarik Lily perlahan
"Biar kami ya-" kalimat Rosa tidak dilanjutkan karena Angga menatapnya.
Dia meletakkan Lily di kasur UKS dan menemui penjaga UKS yang kebetulan teman sekelasnya.
"Nia, lo ada salep gak?" tanya Angga pada temannya itu.
"Eh untuk apa?" Angga menunjuk Lily, Nia yang melihat pakaian Lily terkejut. Dia dengan cepat membuka kotak obat mencari obat untuk luka bakar. "Ini kenapa bisa ketumpahan sih?" Nia bertanya sambil melangkah ke arah mereka "Lepas seragammu!"
"Eh?" Lily melihat ke arah Angga tanpa Niel karena Niel sudah ke kantin lebih dulu, dia sudah tahu situasinya dari Nurul.
Mengerti maksud Lily, Nia memukul lengan Angga "Keluar lo"
"Kenapa?"
Nia menunjuk Lily dengan dagunya "Dia harus melepas seragamnya. Lo mengintip ha?"
"Ah sorry" Dia menjauh dari ranjang dan menarik gorden pembatas jadi siapapun tidak ada yang bisa melihat terlebih dia berdiri di depan untuk menjaga.
"Tidak terlalu parah, mudah mudahan tidak meninggalkan bekas." Nia menutup salepnya "Ga!"
"Hm?"
"Lo mending ke koperasi pinjam seragam dulu, bajunya kuning semua ini" serunya dari dalam.
"Nanti, sudah belum?"
"Sudah" Nia kaget karena Angga masuk begitu saja untung Lily sudah menurunkan bajunya untuk menutup perutnya. "Ini kenapa kamu bisa kesiram?"
"Ada anak SHS yang bikin ulah di kantin" Rosa yang memang dari tadi di situ menjawab
"SHS?"
Rosa menganggukkan kepalanya "Awalnya nyari kak Angga"
Nia menoleh ke temannya itu "Lo bikin ulah apa sama anak SHS?"
"Gak ada, memang mereka suka cari masalah" Angga menjawab sebelum meminta Rosa melanjutkan ceritanya.
Lily mendongak melihat Angga saat Rosa bercerita, tidak ada perubahan yang besar dari wajahnya. Merasa di perhatikan Angga balas menatap Lily sambil tersenyum kecil.
"Anak SHS ada masalah apa sih sebenarnya?" Nia berkecak pinggang "Eh mau kemana lo?" tanyanya pada Angga yang Sudah berjalan pergi
__ADS_1
"Aula, belum selesai soalnya" jawab Angga tanpa menoleh
"Seragamnya woi"
"Nanti!"
Nia mendengus dia melihat ke arah Lily lagi "Usahakan lukanya jangan terkena air dulu."
"Iya kak" Lily melihat ke arah pintu dimana Angga menghilang tadi. "Kak Ezra juga kayaknya kena" ucap Lily
"Oh oke, nanti aku tanya dia." Nia melangkah ke arah rak untuk menyimpan obat obatan yang dia terapkan ke Lily. "Nih salepnya, kamu oleskan terus sampai lukanya kering ya"
Lily mengambil salep itu dan menganggukkan kepalanya. Nia meminta agar Lily istirahat saja dulu tidak perlu belajar, dia sudah meminta Rosa agar meminta izin untuknya.
Karena jam istirahat Sudah selesai jadi dia hanya tinggal sendirian di UKS, dia memegang perutnya yang terasa nyut nyutan, dia hanya berharap tidak meninggalkan bekas.
"Hai!" Angga masuk ke UKS dengan seragam yang masih dalam plastik di tangannya.
"Kakak tidak masuk kelas?" tanya Lily dia langsung duduk, Angga menggelengkan kepalanya.
Angga meletakkan baju itu di nakas dan duduk di kasur samping kaki Lily yang diluruskan.
"Kakak minta izin" Tangan Angga terulur memperbaiki anak rambut Lily yang menjuntai "Masih sakit?"
"Ngak sakit cuman sedikit perih" jawab Lily, Angga menghela nafas panjang. "hm... Bagaimana cerdas cermatnya?" tanya Lily karena Angga terus diam
"Sekolah kita menang, Kennan dan timnya menyelesaikannya dengan baik" Jawab Angga sambil tersenyum mengingat bagaimana adik kelasnya menyelesaikan pertanyaan sulit itu, dia sangat yakin kalau dia disana dia bakal kesulitan. "Besok Lily istirahat dulu di rumah ya"
"Tidak, besok ada kuis."
"Tap-"
"Lily tidak mau beasiswanya Lily di cabut. Lukanya juga tidak sakit, Lily mau sekolah besok"
"Kamu tidak perlu mikirin beasiswa kamu, aku sanggup bayar biaya sekolah" ucap Angga.
"Ini bukan masalah bayar tidaknya kak, tap-"
"Lily, kakak tahu itu. Beasiswa kamu itu beasiswa siswa berprestasikan?" Lily menganggukkan kepalanya "Tapi Li, selama kakak bekerja dan sanggup membiayai kamu, jangan ambil beasiswa itu. Banyak lebih pantas. Memang beasiswa untuk siswa berprestasi itu untuk mengapresiasi siswa pintar, tapi di negara kita masih banyak lebih butuh. Di luar sana banyak anak yang cerdas tapi karena biaya mereka tidak sanggup sekolah. Latar belakang kita bagus, orang tua kita meninggalkan banyak hal pada kita." Angga meraih tangan Lily yang menunduk "Kita memang tidak bisa membantu semua anak diluar sana, tapi melepas beasiswa bisa memberi kesempatan satu anak diluar sana. Kakak tidak meminta kamu melepasnya sekarang, tapi kedepannya... Kamu bisa kan kasih kesempatan pada siswa yang lebih butuh." Lily mengangguk "Terimah kasih."
"Kakak juga dapat ya?"
Angga menganggukkan kepalanya "Kakak lepas, Waktu itu Ayah sampai marah karena kakak hampir mengambilnya. Katanya orang seperti kita kekurangan apa? Kenapa harus merenggut harapan anak yang lebih pantas. Cukup orang orang yang kurang bersyukur dengan latar belakang keluarganya yang melakukannya dengan alasan dia pantas karena cerdas atau karena keberuntungan. Sampai sini kamu pahamkan?"
Lily mengangguk, sampai disini dia paham kenapa Angga bisa menjadi ketua osis.
"Sebenarnya bukan hanya kakak yang menolaknya, Hanin, Aryan juga Erza dan Kennan. Mereka juga menolak dengan alasan yang sama, mereka pintar dan mereka mampu lalu kenapa harus menerima apresiasi yang bisa membantu anak diluar sana, untuk mengapresiasi bisa banyak hal."
*****
__ADS_1