Lily Untuk Angga

Lily Untuk Angga
Part 14


__ADS_3

Juan mendengar kesaksian anak kelas itu yang memojokkan Lily hanya satu orang yang berdiri teguh membela Lily. Rosa berdiri dengan Arogan melihat teman sekelasnya bibirnya terus berdecih mendengar kesaksian mereka. Juan mendengarkan tanpa memotong ucapan mereka hingga sampai pada Lily


"kamu tidak ingin membela diri?" Juan bisa melihat tatapan keras kepala Lily, dia percaya kalau gadis kecil itu berprinsip kuat "kalau begitu kamu mau akan kena hukuman"


Lily masih diam sebelum bersuara "apa salah jadi yatim piatu?"


Juan tertegun mendengar pertanyaan Lily


"jadi Yatim piatu itu dosa besar ya pak? saya juga tidak mau pak jadi Yatim Piatu. Saya jadi Yatim piatu... Apa itu juga salah saya?"


Juan terdiam dia berdiri menatap Lily yang seperti menahan air matanya. Juan sudah paham titik permasalahannya


tok tok


Pintu ruangan itu dibuka dan menampakkan Angga yang masuk, dia melihat semua adik kelasnya itu sebelum pandangannya jatuh ke Lily. Meski baru bersama dia sedikit tahu perasaan Lily hanya melihat ekspresinya. Selama orang tua mereka meninggal, Angga hanya hingga berdua dengan Lily membuatnya mau tidak mau memperhatikan gerak gerik Lily.


"kenapa kamu disini?" Juan memicingkan matanya menatap Angga yang dengan santai masuk ke ruang BK.


Sebagai mantan ketua osis dia juga sering masuk ke ruangan itu untuk berbicara dengan Pak Juan tentang urusan anak anak di sekolah itu.


Angga menepuk kepala Lily begitu dia melewatinya, dia menarik kursi dan duduk depan pak Juan.


"adikku kayaknya dituduh yang tidak tidak" kata Angga, ada sedikit rasa jengkel dari nadanya.


"Adik?"


"iya pak" Angga melihat ke arah Lily "dia adikku, saya walinya sekarang" ucap Angga


Semua melihat ke arah Lily tapi gadis itu tidak bergeming. Juan menghela nafas kemudian bersandar


"hubungannya kamu kesini mau apa?" tanya Juan


Angga merogoh saku seragamnya mengeluarkan flashdisk dan meletakkannya di meja pak Juan.


"Lily sudah dibully dari semenjak masuk ke kelas itu, sepertinya hari ini beberapa orang mencapai garis batasannya" gumam Angga, meski demikian Juan masih mendengarnya "karena saya tahu adik saya dipanggil ke ruang BK, terus saya harus dimana kalau bukan disini?"


Tidak bisa mengatakan apa apa, Juan hanya bisa menghela nafas dia mengalihkan pandangannya ke arah siswa yang dia acuhkan kehadirannya karena kedatangan Angga.

__ADS_1


"kamu pikir saya tidak bisa menyelesaikan ini?" Juan melihat Angga kembali, Angga balas menatap gurunya itu bukan tidak percaya.. Dia sangat percaya hanya saja dia tidak akan puas kalau tidak melihatnya langsung. "lebih baik kamu kembali ke kelasmu, wali murid belum dibutuhkan disini" ucapnya


Angga berdecak dia dengan enggan berdiri menatap adik adik kelasnya dengan dingin membuat mereka menunduk


"sampai gue tahu ada dari kalian gangguin Lily.. Kalian berurusan dengan g-"


"Angga!"


"iya pak ini keluar" sahutnya, dia melirik Lily dan berlalu keluar. 


Juan menghela nafas panjang, dia melihat mereka lagi


"bapak tanya sekali lagi.... Kalian berada di kelas saat Lily memukul mereka berdua, kalian tahu penyebabnya kan?" mereka semua menundukkan kepalanya. "kalian mau jawab jujur atau ingin saya mencarinya sendiri? Kalian tahu konsekuensinya kalau kalian berbohong."


Juan menoleh ke arah Lily "dan kalau mereka jujur kamu juga tahu apa akibatnya"


"saya mengerti pak" ucap Lily "tapi entah mereka jujur atau berbohong saya tidak peduli. Saya tetap akan melakukan hal yang sama kalau mereka menyentuh garis batas saya"


Rosa dibelakangnya tersenyum, ah... Dia tidak menyangka gadis yang selalu murung dan ditindas di kelas itu memiliki sisi keras kepala seperti ini.


Menarik!


"saat saya tanya kenapa kamu bohong?" Juan bersedekap dada membuat siswa yang berkata jujur menundukkan kepalanya makin dalam.


"saya... saya..."


"kamu pasti sadar, kamu berbohong berarti kamu juga pelaku, kamu berdiam diri dan hanya menonton maka kamu juga pelaku, kamu sadarkan?"


Mereka saling memandang


"mereka anggota dari geng kelas tiga, kalau kami melawan kami akan jadi target"


Juan menyeringai ke arah orang yang dipukuli itu. Lily dan Rosa saling memandang, geng? Apa di sekolah mereka ada hal seperti itu?


Juan mengambil ponselnya seperti mengirim sesuatu ke seseorang.


"tapi meski kalian tidak jujur tidak masalah" Juan berkata tanpa melihat mereka, tadi Angga memberikan flashdisk padanya dan tanpa bertanya dia sudah tahu jawabannya. Angga mantan ketua osis tentunya dia masih memiliki pengaruh pada osis saat ini. "kalian kembali ke kelas. Lily dan kalian berdua tetap disini."

__ADS_1


Setelah satu jam di ruang osis, Lily keluar dari ruang bk dengan surat panggilan orang tua di tangannya.


"Hei"


Lily kaget saat pundaknya di tepuk, dia menoleh dan mendapati Angga tersenyum ke arahnya dan dengan spontan dia menyembunyikan surat di belakang punggungnya.


Angga tidak bodoh dan langsung tahu apa yang disembunyikan Lily


"tidak apa apa" ucapnya, Lily menundukkan kepalanya merasa bersalah


"maaf" cicitnya. Angga menggelengkan kepalanya menatap Lily yang matanya yang memerah.


Dia menghela nafas sedikit panjang, padahal dia sudah bersyukur karena dia tidak melihat mata sembab itu beberapa hari ini tapi karena kejadian hari ini dia melihatnya lagi.


"Lily harus kasih suratnya ke siapa? Ayah sudah tidak ada" cicitnya suaranya tercekat karena menahan air mata agar tidak jatuh.


Angga mengelus kepalanya mengambil surat dibelakang punggung Lily


"jangan khawatirkan itu, kakak akan minta orang yang menjadi wali sementara kakak untuk datang"


"eh?" dia menatap Angga, dia tidak tahu Angga punya wali sementara, di pandangi Lily Angga mengosok hidungnya dan menjawab lirih


"Hanya sampai lulus SMA" ucapnya "setelahnya kakak akan jadi walimu"


"terimah kasih"


"apa sih, kakak kan sudah bilang jangan terlalu canggung"


"hm"


"sudah, kamu ke kelas urusan ini biar kakak yang mengurusnya. Lily hanya perlu fokus pada pelajaran Lily."


"iya." dia kemudian pamit dan berjalan ke arah gedung ke kelas sepuluh.


Angga memandang SPO di tangannya dengan dingin, meski melakukannya untuk pembelaan diri tapi memukul orang tetap saja melanggar aturan sekolah jadi dia sudah menebak kalau Lily akan mendapatkan SPO.


Dia membaca pesan di ponselnya yang dari Pak Juan memintanya menyelidiki salah satu teman sekelasnya membuat Angga mendengus, dia bukan lagi anggota osis.

__ADS_1


Dia memasukkan SPO itu disakunya, dia akan meminta asisten ayahnya menjadi wali Lily besok karena dia sendiri masih harus belajar dan sedikit kurang tepat kalau harus menjadi wali dari seorang siswi yang juga murid di sekolah yang sama dengannya.


****


__ADS_2