
Dua bulan berlalu dengan sangat cepat, besoknya Angga sudah harus melakukan Ujian Nasional.
Dia memegang kepalanya yang sedikit terasa sakit, dua bulan ini dia sangat sibuk, bahkan lebih sibuk dari sebelumnya. Angga harus mempersiapkan dirinya untuk Ujian, mengurus kantor yang berantakan karena dia melakukan perubahan baru juga untuk mengurus ujian masuk universitas yang sudah di buka.
Dia bahkan sadar jarang bicara dengan Lily, jangankan bicara, dia bahkan jarang bertemu karena Angga sangat sering tidur di kantor, makan pun sudah tidak teratur.
"Gue kangen Lily" Angga menenggelamkan wajahnya diantara lembaran contoh soal.
"Fokus dulu, besok kita sudah ujian" Niel mendorong lembaran lain kearahnya. Mereka berlima sedang ada di ruang kerja Angga karena dia tidak bisa meninggalkan kantor lama lama.
"Baru juga berapa minggu, lebay lu" ucap Hari dia menggosok kepalanya dengan pulpen, tapi tak lama dia menjerit karena Angga menendangnya "Apasih Ga? Gak jelas banget lo"
"Maklumin aja Ga, jomblo memang gak bakal paham" Dwi menimpali sambil menyeringai ke arah Hari.
"Wah.. Cari perkara nih orang" Hari menggulung lengan bajunya, baru akan menyerbu ke arah Dwi, sebuah gulungan kertas mendarat di kepalanya.
"Berisik amat lo, gue gak bisa fokus" omel Ezra yang mukanya sudah terlihat sangat frustasi "Sampai besok gue gak bisa ngisi, lo yang harus tanggung jawab"
"lah gue ngak ngapa ngapain lo, kenapa gue yang harus tanggung jawab?" Hari berseru penuh drama, Angga hanya bisa menghela nafas panjang, terlalu malas menegur.
Dia mengambil hpnya yang berdenting, menandakan ada pesan masuk. Senyumnya mereka membacanya.
"Gila nih anak, mandang hp sambil nyengir."
Angga mengangkat keningnya kemudian memperlihatkan isi pesan yang masuk.
...
...
Kakak sudah makan?
Mau Lily antarkan makan?
Mereka memasang wajah masam membaca pesan Lily, Niel bahkan memasang wajah ingin menabok Angga yang tukang pamer.
"Harus banget kata My? Lo kek anak SMP yang baru pacaran" cibir Hari, Angga menyeringai
"Harus dong, kenapa lo yang sewot?" Angga kembali menunduk untuk membalas pesan Lily.
^^^Memangnya Lily tidak kerja?^^^
Lagi istirahat.
Kata Kak Alga, gak papa keluar sebentar.
Angga menatap balasan Lily, kalau dia mengizinkan Lily datang, berarti dia bisa ketemu tapi...
__ADS_1
Angga melihat ke arah teman temannya, dia tidak akan puas berduaan dengan Lily karena ada mereka.
^^^Tapi, Kakak tidak sendirian^^^
^^^Ada Niel dan Lainnya di sini.^^^
Ngak apa apa, nanti Lily bawakan untuk mereka juga.
^^^Kalau tidak merepotkan^^^
^^^Tapi, memang Lily tahu dimana kantor kakak?^^^
Tidak
ini Lily baru mau minta alamatnya.
Angga tertawa membaca balasan Lily sebelum mengetik alamat kantornya. Dia juga memberitahu kalau mereka berlima di sana.
*
Lily bergegas membungkus makanan untuk mereka, setelahnya membawa ke kasir untuk di bayar. Walau dia bekerja di sana, tapi bukan berarti dia harus seenaknya membawa makanan dari sana.
"Karena besok kelas dua belas ujian, kita tidak sekolahkan." Alga menghitung belanjaan Lily, Lily mengiyakan "Kamu bisa masuk pagi tidak? Sampai mereka selesai ujian." tanya Alga
"Bisa kak, dari jam sembilan bisa kan kak?"
"Ga, cewek orang tuh, jangan lo sepik" Mereka berdua menoleh dan mendapati Aryan disana menyeringai.
Alga mengambil gumpalan tisu dan melemparnya ke arah temannya yang sembarangan bicara itu.
"Astaga! Gue hanya ngingetin." Aryan melempar balik ke arahnya "Gue mau makan dong"
"Di sini buat bayar, bukan untuk mesan" ucap Alga, dia menyerahkan pesanan Lily sambil memberitahu harganya. "Diskon untuk karyawan" ucapnya saat melihat wajah Lily yang kebingungan, karena dia memberi harga lebih rendah.
"Makasih kak"
Alga mengangguk, dia menoleh ke arah Aryan "Sendirian? Cewek lo mana?"
"Sibuk"
Alga hanya menganggukkan kepalanya tidak bertanya lebih, dia hanya menanyakan kalau Aryan mau makan apa, sedangkan Lily langsung pamit.
Lily berdiri di depan gedung kantor Angga, dia kesana dengan ojek. Perjalanan dari tempat kerjanya ke kantor Angga memakan waktu dua puluh tiga menit, mungkin kalau berangkat dengan mobil akan lebih lama lagi.
Dia segera berjalan masuk dan menghampiri resepsionis untuk menanyakan di mana Angga.
"Apa adek sudah buat janji sebelumnya?" resepsionis itu bertanya, Lily diam sebentar untuk berfikir, apa mengirim pesan tadi bisa di sebut janji? "Kalau adek tidak buat janji, maaf saya tidak bisa membantu"
__ADS_1
"Saya mau mengantarkan makan siang, Mbak" ucap Lily sambil mengangkat kantongan berisi makanan untuk Angga.
"Maaf, tapi ini saya tidak bisa membantu."
Lily mengangguk mengerti, dia tidak bisa memaksa karena itu memang pekerjaan resepsionis. Dia hanya meraih ponselnya dan mengirim pesan ke Angga mengatakan kalau dia akan menunggu di bawa saja.
"Lily!"
Dia menoleh ke arah lift di mana Angga keluar, Lily yang tadinya duduk di kursi tunggu langsung berdiri.
"Kenapa tidak langsung ke ruangan Kakak?" Angga bertanya begitu dia sampai di depan Lily, tangannya merapikan anak rambut Lily yang menjuntai menutup pipinya.
"Lily tidak buat janji sebelumnya" jawab Lily, dia mengulurkan kreseknya ke Angga "Ini makanan dari tempat Lily kerja, yang kotak biru itu... Lily sendiri yang masak"
Angga mengangguk, dia menoleh ke arah resepsionis yang sudah berdiri karena ada dirinya disana.
"Kalau Lily datang lagi nanti, tolong langsung suruh saja ke ruangan saya" perintah Angga, dia tidak bisa menyalakan resepsionisnya karena memang sudah dia beritahu untuk tidak sembarang mengizinkan siapapun ke ruangannya tanpa janji.
"Baik Pak"
Karena perubahan dan pergantian staf staf tinggi kantor yang mendadak, hampir semua orang di kantor sudah mengenal Angga. Mereka hanya tidak menyangka remaja yang baru berusia delapan belas tahun berani mengambil resiko sebesar itu, mereka bahkan bertanya tanya darimana keberanian itu berasal karena mantan CEO mereka yang lama pun pasti akan berfikir beberapa kali untuk melakukan perubahan.
"Sudah makan belum?" tanya Angga sambil menggandeng tangan Lily menuju lift.
"Sudah, di sana ada jam makan siang, semua wajib makan kecuali yang puasa" jelas Lily, Angga mengangguk karena merasa lega mendengarnya.
"Syukur deh kalau begitu"
Lily mendongak menatap wajah Angga yang terlihat kurus dari sebelumnya. Terdapat kantung mata yang lumayan tebal di bawah matanya, serta bibirnya sedikit pecah pecah.
"Kakak jarang pulang ke rumah, kakak tidur teraturkan?" tanya Lily ada kecemasan dari nada suaranya, Angga tersenyum dan mengangguk.
Tentu saja itu bohong, jangankan tidur, makan saja kadang dia lupa. Pekerjaannya sangat banyak akhir akhir ini karena perubahan staf yang dia lakukan.
Begitu tiba di ruangan Angga, mereka di sambut suara berisik teman Angga. Mereka sangat berterimah kasih karena diberi makan siang.
"Kebetulan gue laper banget. Thanks ya Li" ucap Niel sambil mengambil kotak di kresek, Lily menganggukkan kepalanya.
"Ini dari tempat temannya Afkar kan?" tanya Dwi begitu melihat kotaknya
"Iya kak, kebetulan aku kerja part time disana." jawab Lily, dia mengambil sendok yang memang terpisah dari kotak, memberinya ke Angga. "Kak, Pantry di sini ada dimana? Lily ambilkan air" dia bertanya dengan suara sangat kecil.
Angga menahan tangannya dan membiarkannya duduk di sana.
"Di sana ada air" Angga menunjuk ke sudut ruangan, di sana ada dispenser juga rak kecil untuk menyimpan beberapa gelas dan piring.
****
__ADS_1