Lily Untuk Angga

Lily Untuk Angga
Part 42


__ADS_3

Angga dan Lily pamit setelah sholat subuh, bukan apa apa, Lily harus sekolah dan Angga harus kerja. Seragam dan buku pelajaran miliknya ada di rumah, pun Angga pekerjaannya ada yang tertinggal di rumah mereka.


"Kakak tidak pakai dasi?" tanya Lily, Angga memakai jas tanpa dasi. Cowok itu menundukkan kepalanya, memang apa yang salah?


Lily menghela nafas, dia memaklumi karena mungkin akan terkesan tua. Dia kembali menatap penampilan Angga


"Hari ini, apa kakak ada pertemuan penting?"


Angga diam sebelum mengangguk "Kakak akan bertemu investor dari korea."


"Ikut Lily" Gadis itu menarik Angga kembali ke kamar cowok itu, mendudukkannya di atas kasurnya.


Lily membuka lemari Angga, mencari pakaian yang terlihat cocok untuk memakai dasi tapi tidak terlihat tua dan monoton.


"Panas Li" keluh Angga saat melihat setelan yang dipilihkan Lily. Lily berdecak tanpa mau di bantah.


Lily menarik tangan Angga, dia menyodorkan setelan yang dipilihkan Lily. Dia mendorong Angga ke dalam kamar mandi untuk berganti pakaian.



Lily mengacungkan jempolnya begitu Angga keluar, dia puas dengan pilihannya. Melihat apa yang dia kenakan, Angga berfikir kalau ini adalah efek Lily kebanyakan nonton drama korea.


Tapi lagi lagi, Angga hanya bisa pasrah. Toh pakaian yang Lily pilihkan tidak buruk, dia terlihat sedikit keren meski lumayan gerah.


"Ah sapu tangan!" Lily berlari keluar kamar, tak lama dia muncul dengan banyak sapu tangan.


Dia mencocokkan satu persatu dengan jas Angga, setelah menemukan satu, dia menyelipkan di saku jas. Dia mundur sambil memperhatikan Angga, sambil memegang dagunya dia mengamati hasil kreasinya.


"Bagus. Nah kakak bawah ini" Dia menyodorkan sapu tangan lain. "Kemarin Lily tidak sengaja lihat pas cari makan, jadi Lily beli beberapa"


Angga menerimanya "Kenapa harus sapu tangan? Tisu kan banyak"


"Kakak, tisu memang bagus, tapi sapu tangan lebih efisien. Juga, ini lebih elegan."


Angga menganggukkan kepalanya, dia memasukkan Sapu tangan itu ke dalam saku celana miliknya. "Sekarang kakak antar kamu ke sekolah, nanti terlambat!".


"Iya"


Mereka turun dari kamar mereka, setelah pamit pada bi Sum mereka berangkat.


Supir mengangkat sebelah alisnya, dia sebenarnya heran dengan style baru Angga. Dia melirik Lily dengan seragam SMAnya, dia seperti melihat karakter yang keluar dari novel picisan favorit remaja.


Tak lama mereka tiba di sekolah tidak lama kemudian, Lily dengan cepat turun.


"Li!" Angga membuka jendela mobilnya.

__ADS_1


"Ya?"


Angga melambaikan tangannya agar Lily mendekat, dengan bingung gadis itu melangkah kembali mendekati mobil. Angga mengulurkan tangannya, Lily mengkerutkan keningnya.


"Ingatkan apa yang dikatakan tante Naya kemarin? Mulai dari hal kecil dulu"


Lily mengerti, dia dengan cepat meraih tangan Angga untuk di salami. Karena berada di lingkungan sekolah, Angga hanya menepuk pelan kepala Lily dan memintanya cepat cepat masuk.


Setelah makam malam semalam, orang tua angkat Lily memanggil mereka berdua untuk memberi sedikit wejangan. Bahkan, Ayah angkat Lily ikut serta memberi wejangan meski perasaan tidak ikhlas melepas anak perempuannya, tapi demi kebaikan mereka, dia memberitahu hal hal yang boleh dan tidak boleh di lakukan.


Mengingat wajah kesal Ayah angkat Lily sealam, Angga hanya bisa berusaha menahan tawa. Tapi kelak suatu hari nanti, jika dia memiliki anak perempuan mungkin akan melakukan hal yang sama.


***


"Tumben baru sedikit lambat datangnya Li?" Tanya Nurul begitu Lily masuk kelas.


Lily sebenarnya merasa canggung di sapa begitu masuk kelas, semenjak SMA dia selalu dianggap transparan soalnya. Lily meletakkan tasnya di bangkunya kemudian menjawab Lily


"Saya dari rumah orang tua wali saya, jadi agak lambat ke sekolahnya." Nurul hanya mengangguk


"PR Bahasa Inggris kalian sudah?" Rosa yang baru datang bertanya


"Sudah" Nurul dan Lily menjawab bersamaan. "Lo?" tanya Nurul


"Sini gue jelasin!" Nurul meminta buku Rosa. Di kelas itu memang, Nurul yang nilai bahasa inggrisnya paling tinggi.


Nurul bahasa inggris, Rosa Fisika dan Lily matematika. Mereka bisa menutupi satu sama lain. Lily dan Rosa sebenarnya tidak paham, kenapa Nurul malah melengket pada mereka.


"Bagaimana OSN kalian? Sudah di tentuin?" Tanya Nurul yang matanya fokus pada kamus di tangannya.


"Hari ini" Jawab Lily. Dia menoleh ke samping, dia merasa ada yang memperhatikan mereka bertiga. "Ada apa?" tanyanya tanpa suara.


"Kalian belakangan ini, dekat sekali ya!"


Rosa dan Nurul menoleh ke asal suara, mereka bertiga saling melihat. Sebenarnya bukan hanya cewek yang ada di samping yang heran, tapi teman sekelas mereka yang lain.


"Ah itu?" Nurul mengambil pose berfikir sebelum menjentikkan jarinya "Karena kami sama sama cantik" serunya.


Rosa memutar bola mata jengah, dia menarik kamusnya dari tangan Nurul. Lily hanya bisa menggelengkan kepalanya saja, dia suka sifat Nurul yang tidak terduga.


Tidak lama bel masuk berbunyi, mereka semua berhamburan keluar kelas untuk apel pagi.


Jam istirahat, Lily dan Rosa ke ruang klub. Hari ini mereka ada penentuan siapa yang akan ikut OSN.


"Akh!" Lily meringis kecil saat pundaknya di senggol Danu yang juga baru masuk.

__ADS_1


"Oh sorry, lo kecil gak kelihatan"


"Bukannya karena lo kegendutan ya? Makanya tidak muat" sarkas Rosa. "Apa?" tantangnya saat Danu melihatnya tajam


"Kalau lo bukan cewek, gue tampar mulut lo! Sayang aja lo cewek. Gue bukan cowok yang mukul cewek"


Rosa menaruh telapak tangannya di depan mulutnya, memasang ekspresi kaget "hah? Lo cowok? Gue kira lo cewek, cabe soalnya".


Danu dengan wajah memerah hendak mendekati Rosa, tapi Lily langsung berdiri di depannya. Matanya menatap Danu tajam, Lily tipikal melindungi. Dia tidak masalah diganggu orang lain, tapi tidak dengan orang yang baik padanya.


"Lo pikir dengan lo lindungi teman lo, gue bakal mukul dia hah? Lo pikir gue takut sama lo? Kak Angga gak ada disini buat ngebela lo!"


"Saya tidak pernah berfikir untuk membuat kak Angga membela saya" ucap Lily "Kak Angga bukan pengacara yang bertugas membela siapapun, benar salahnya kliennya."


Lily melangkah maju mendekati Danu "Kamu mau melakukan apapun terserah, tapi jangan ganggu teman temanku."


Lily menggandeng tangan Rosa untuk duduk di tempat mereka. Rosa melihatnya, coba saja Lily bersikap begini saat diganggu.


"Lo kenapa diam saja kalau di bully?" tanya Rosa pada akhirnya


"Karena mereka tidak penting, meladeni mereka sama saja meladeni anjing gila."


Rosa menatap tidak percaya ke arah Lily, dia baru tahu kalau Lily memiliki mulut sedikit kasar.


Tak lama pak Juan masuk dengan banyak kertas di tangannya. Dia menatap mereka satu persatu.


"Saya to the point saja, hari ini saya sangat sibuk." Juan meletakkan kertas di atas meja. "Danu kamu ikut saya nanti ke ruang BK"


Mereka semua saling pandang, apa kesalahan Danu sampai di panggil ke ruang BK?


"Ta..tapi kenapa pak?" tanya Danu, Juan menatapnya membuat Danu ciut.


"Kamu kira saat ujian berlangsung saya hanya diam saja? yang lain tenang!"


Mereka yang saling berbisik satu sama lain langsung diam.


"Matematika Lilyana Anderson, Fisika Rose Flowrensia,......, " Pak Juan menyebutkan siapa saja yang akan ikut. "Untuk Lilyana dan Rosa, Hari senin nanti temui Kennan Rajendra, dia akan membantu kalian berdua."


Mereka saling menatap, siapa yang tidak tahu Kennan Rajendra? Siswa bak pangeran vampir, dengan otak albert enstein.


Kenapa mereka menyebutnya pangeran Vampir? Itu karena Kennan memiliki kulit putih pucat, bola matanya berwarna hitam pekat pun dengan rambutnya ditambah dia memiliki tubuh yang jangkung.


Ya semua tahu, anak perwalian pak Juan semua seperti berasal dari keluarga bangsawan. Meski tidak banyak yang tau Visual bak pangeran dan putri itu memiliki kelakuan seperti anak kecil yang di bebaskan dari tidur siang mereka.


"Iya pak" jawab mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2