Lily Untuk Angga

Lily Untuk Angga
Part 60


__ADS_3

Angga hanya bisa memasang wajah pasrah saja, teman temannya berhenti di sebuah restourant yang terkenal cukup mahal. Sebenarnya ini salahnya, seharusnya dia tidak banyak bicara malam itu.


"Ikhlas gak nih?" tanya Dwi


"Ikhlas!" meski menjawab dengan misuh misuh, tapi dia benar benar tidak masalah.


"Tidak ikhlas juga tidak masalah sih, yang penting makan gratis!" Niel langsung tos Hari.


"Plus mahal juga! Hahahaha!"


"Kak ini kami tidak apa apa ikut?" Nurul bertanya terutama melihat kakak kelasnya yang sama sekali tidak peduli sama Angga.


Nia yang berdiri di sampingnya tertawa "Tenang saja, Angga itu punya duit banyak."


"Tap..tapi~"


"Tidak apa apa" jawab Lily "Ayo masuk."


Mereka semua masuk ke dalam restourant, mencari tempat duduk yang sekiranya nyaman untuk mereka. Awalnya mereka ingin duduk di tempar bebas rokok, tapi langsung kena semprot Nia.


Angga duduk di samping Lily, meletakkan botol mineral yang tutupnya sudah dia longgarkan.


"Terima kasih!" Angga hanya menepuk kepalanya sebagai jawaban.


"Kita gak dibukain juga Ga?" Goda Hari, Angga mendelik "Hehehe canda bos."


"Ga, ini gue sudah boleh pesan?" tanya Nia, matanya sudah dia tidak dia alihkan dari menu di tangannya.


"Hm." jawab Angga, dia melihat Rosa dan Nurul yang hanya diam. Dia meletakkan menu lain di depan mereka "Kalian juga pesan saja."


"I.Iya kak, terima kasih" ucap Nurul, Rosa hanya menganggukkan kepalanya sebagai ucapan terima kasih ke Angga.


"Terlihat jelas perbedaan perlakuannya ntar kalo lo punya anak cewek sama cowok" Komentar Ezra "Anak cewek di manja, anak cowok di abaikan."


Angga memutar bola mata malas "Sama anak sendiri tentu beda lah! Lagian lo pada bukan anak gue!"


"Si kamp*et" seru Dwi.


Angga tidak mengubris mereka lagi, dia memilih memanggil waiter karena dia juga sudah lapar. Dia duduk kembali di samping Lily yang juga melihat menu, dia menjulurkan kepalanya untuk mencari yang ia makan juga.


"Kakak mau makan apa?" tanya Lily menatap Angga, cowok itu mengambil alih menu di tangannya "Lily mau yang ini, ini, ini sama yang ini!"


Melihat menu yang di tunjuk Lily, Angga hanya mengangguk dia memesan makanan yang lain supaya bisa memakan berbagai jenis menu.

__ADS_1


Rosa menutup buku menu setelah menentukan pilihannya, dia menumpukan tangannya di meja menatap lurus ke Angga dan Lily.


"Kak Angga serius hanya saudaraan sama Lily?" Dia bertanya karena sudah lumayan gatal untuk bertanya, meski awalnya dia tidak ingin peduli.


Angga dan Lily bersamaan menatapnya, Lily tidak mengatakan apa apa tapi Angga tersenyum misterius. Rosa mengangguk mengerti meski tidak diberi jawaban, melihat bagaimana mereka berinteraksi harusnya dia tidak bertanya lagi.


"Emang saudaraan bisa pacaran?" tanya Nurul dengan tampang polos "Bukannya tidak boleh?"


Nia mengambil gelas menuangkan air ke dalamnya "Selama bukan saudara kandung sih, sesama sepupu saja banyak yang nikah."


"Bukannya aneh kak?" tanya Nurul lagi.


"Tidak ada yang aneh dengan itu," Dwi yang menjawab dia melihat ke arah adik kelasnya itu "Tapi kalau ada yang lain, sebaiknya yang lain saja."


Angga tertawa "Gue sama Lily bukan saudaraan."


"Tapi waktu itu kakak bilang~"


"Gue tidak ada pilihan, lagian dia memang adekkan? Adek kelas!" jawab Angga mengedikkan bahunya.


"Garing kali Ga" ucap Hari "Ini pesanan kita kapan datangnya sih? Gue sudah lapar." ucapnya.


Ezra memukul kepalanya memintanya bersabar, dia melihat Angga "Lo sudah dapet motor?"


Angga menganggukkan kepalanya "Nanti malam dikirim ke rumah."


"Ya elah, lo kayak kagak tahu Wi, dia kan memang suka cari masalah sendiri." ucap Hari "Udah dari tahun purba dia kek begitu."


Angga hanya tertawa terbahak, dia berdiri membantu waiter yang baru datang meletakkan makanan di meja.


"Makan makan!" Ucap Hari dia mengambil makanan yang dia pesan "Kapan lagi coba makan makanan mahal."


"Makanya mulai sekarang, mulailah serius, ngak usah main main terus." Angga meletakkan udang di piring Lily "Kalau lo sukses, makanan di tempat seperti ini bukanlah apa apa."


Hari tidak mengatakan apa apa, dia hanya tertawa kemudian melahap makanannya. Angga dan ketiga lainnya tahu, sifat Hari yang acuh tak acuh dan kebanyakan main itu adalah bentuk protesnya.


"Lo jadi ngekos di tempat itu?" tanya Ezra


"Iya" dia melihat Ezra "Lo berubah pikiran sekarang? Mau ngekos juga? Kalau lo mau lo bisa tinggal di tempat gue."


"Rumah gue dengan kampus tidak terlalu jauh, tidak ada alasan keluar rumah." kata Ezra dia menghela nafas panjang "Niel, lo bagaimana?"


"Ngekos lah!" jawab Niel "Gue kan kuliah di luar kota."

__ADS_1


"Masih jauh dari nih bocah!" Hari menunjuk Dwi, Dwi hanya mengedikkan bahunya "Di jerman bro! Hanya jangan sampai bikin keluarga bahagia ya!"


Dwi menendang kakinya "Sembarangan!"


"Jauh tidak dari tempat kak Melanie?" Lily bertanya karena penasaran.


"Mantannya Angga?" Lily menganggukkan kepalanya, Dwi menatapnya tidak percaya dia melihat Angga yang santai.


"Kenapa lihat gue? Mereka dekat sekarang, heran juga gue" kata Angga, Lily mencubitnya "Sakit Li!"


Lily menatapnya tajam "Memang Kakak lebih suka gitu kalau kami berantem? Lagian Lily sama kak Melanie gak ada masalah apa apa."


Nia yang memperhatikan mereka terbahak "Baru kali ini gue lihat lo ciut, Ga! Biasanya lo kan batu." Dia menyeka air matanya karena kebanyakan tertawa.


"Diem lo!"


"Dia ketemu pawangnya!" ledek Niel, Angga hanya mendengus sebal.


"Makan!" Lily menyodorkan piring berisi lauk ke arah kedua temannya, dia tidak menghiraukan Angga dan yang lainnya "Besok mau belajar bareng? Kak Kennan kan sibuk belajar untuk ujian jadi tidak bisa bantuin."


"Gue ikut ya! Belajar buat ulangan kenaikan kelaskan?"


"Iya" jawab Lily "Belajar di tempatku."


"Besok gue tidak bisa" ucap Rose "Lusa bisa." sambungnya.


"Tidak apa apa" kata Lily


"Padahal gue mau lihat rumah Lily." Nurul mendesah "Tapi lo bilang tinggal di rumah kerabat lo kan? Tidak apa emang?"


Rosa juga menatap Lily, dia juga baru menyadarinya. Lily berbalik menatap Angga yang sedari tadi melihatnya, Angga menganggukkan kepalanya.


"Diizinin."


Mata Nurul, Rosa dan Nia membulatkan matanya, mereka menatap. Nia mengebrak meja kemudian menunjuk Angga


"Ga, Lo!" dia tidak bisa mengatakan apa apa "Wah... Gue baka laporin ke komnas perlindungan anak!"


Angga mengepalkan tisu dan melemparnya ke Nia, kalau dia laki laki mungkin dia akan melemparkan sendok ke arahnya.


"Ngak usah heboh! Kami tidak hanya tinggal berdua kamp*et. Habis ini gue juga keluar dan ngekos karena harus ngampus." jelasnya.


Nia menarik Lily mendekat padanya, menatap Angga dengan tatapan waspada. Angga memutar matanya malas, dia rasanya mau menjedotkan kepala Nia.

__ADS_1


Lily hanya bisa menggelengkan kepalanya, kakak kelasnya memang sesuatu. Dia melirik teman sekelasnya, mereka berdua sepertinya masih kaget dengan informasi.


Lily berfikir, bagaimana reaksi mereka saat tau dia dan Angga sebenarnya pasangan yang sudah menikah?


__ADS_2