
Lily seperti biasa bangun pagi, melihat Angga di sampingnya sudah tidak membuatnya kaget lagi. Lily menguncang bahu Angga membangunkannya tapi sepertinya Angga terlihat enggan membuka matanya.
"Kakak! Kak Angga!" Dia menepuk pelan lengan Angga
Angga menarik nafas dan menghembuskan berlahan, dia membuka matanya dan Lily dengan jelas melihat matanya memerah layaknya orang kurang tidur, kantung mata Angga juga sudah lumayan tebal dan mukanya memucat terlihat jelas kalau dia kelelahan.
"Kakak kalau mau tidur tidur saja, nanti Lily suruh kak Ezra atau teman sekelas kakak yang lain izinin kakak"
"Sekolah" gumam Angga dia juga berusaha bangun, mengumpulkan nyawanya yang sepertinya baru kembali.
Lily melihat Angga sekali lagi yang duduk di tengah kasurnya masih dengan selimut menutupi setengah tubuhnya.
Lily kembali ke kamarnya untuk mandi dan bersiap.
"sshh" dia meringis begitu mengaplikasikan obat ke lukanya yang terkelupas.
Setelah semua siap dia kembali ke kamar Angga memastikan cowok itu bangun, saat masuk Angga sudah siap.
"Kenapa?" tanya Angga tangannya memasang sabuk pinggangnya, Lily menggelengkan kepalanya dia menutup kamar Angga sebelum membukanya kembali karena matanya menatap sesuatu "Handuknya tolong di jemur jangan di taruh sembarangan"
Angga yang kaget menatap pintu yang kembali tertutup, matanya berpindah ke handuk sebelum tertawa.
"Anak itu" decaknya sambil menggelengkan kepalanya merasa lucu. Dia mengambil handuk menjemurnya dan mengambil pakaian kotor yang tadi dia lempar begitu saja di lantai, memasukkan ke keranjang pakaian kotor sebelum dia dimarahi Lily.
Lily berjalan ke dapur untuk membuat sarapan tapi terkejut karena sarapan sudah siap di meja.
Ah dia lupa kalau sudah punya ART di rumah ini.
"Selamat pagi, Nyonya!" Bude Sum meletakkan piring ke meja.
"Selamat pagi, Bude." Dia menatap makanan di atas meja, ini pertama kali ada seseorang menyiapkan sarapan untuknya.
"Apa Nyonya tidak suka bubur ayam?" Bude Sum bertanya karena melihat Lily yang hanya diam saja. Lily menggelengkan kepalanya
"Saya suka, ini pertama kali saya dibuatkan sarapan" Lily tersenyum kecil "Terimah kasih Bude"
__ADS_1
"Tidak perlu terimah kasih, ini pekerjaan saya, Nyonya."
"Saya panggil kak Angga dulu." dia keluar dari dapur untuk memanggil Angga sarapan.
"Hm? Kenapa?" Angga yang sudah di tangga bertanya
"Sarapan" beritahu Lily
Angga mengkerutkan keningnya "Cepat sekali"
"Kan ada bude Sum" Angga menepuk keningnya, melihat reaksi Angga sepertinya bukan hanya Lily yang lupa kalau di rumah mereka sudah ada orang lain.
Mereka berbarengan masuk ke dapur, Angga menyapa ARTnya sebelum menarik kursi untuk sarapan.
"Enak bude" puji Lily wanita paru baya itu hanya tersenyum ke arahnya dan berterima kasih.
Selesai sarapan mereka bersiap ke sekolah tapi sebelum itu Lily memberitahu Bude Sum untuk tidak perlu membersihkan lantai dua dimana dia dan Angga tinggal karena disana tanggung jawabnya.
"Kenapa kamu tidak mau lantai dua dibersihkan bude Sum?" tanya Angga begitu mereka sudah di jalan, Lily yang membaca buku karena lagi lagi ada kuis hari ini.
"Hem" Angga bergumam sebelum mencubit pipi Lily "Terserah kamu."
"Pakaian Kakak biar Lily yang cuci jadi jangan taruh di sembarang tempat supaya Lily bisa langsung mengambilnya.
"Iyaaaa... Kamu bawel ternyata." Mendengar ucapan Angga Lily langsung menunduk membaca bukunya, Lily menepuk kepalanya "Tidak apa apa, tapi sama kakak saja ya".
**
Lily dan Rosa berjalan barengan menuju tempat dimana para peserta persiapan OSN berkumpul untuk belajar bareng.
"Kalian pasti anak baru yang dibilang kak Angga" siswi bertagname Jasmine menghampiri mereka " Ah, Gue Jasmin kelas 11 IPA 4"
Lily dan Rosa juga memperkenalkan diri, Jasmine membuka pintu mempersilahkan mereka masuk, dan kesan pertama mereka dengan tempat itu... Sunyi!
Bahkan perpustakaan kalah, hanya suara alat yang mencoret kertas terdengar. Jasmine menepuk tangan dua kali meminta perhatian. Jasmin memperkenalkan mereka setelahnya meminta mereka mencari tempat ternyaman untuk duduk.
__ADS_1
Tak lama pintu di ketuk dan saat membuka pintu Angga masuk dan langsung menuju kursi paling depan tepatnya samping papan tulis. Saat dia mendongak matanya menangkap keberadaan Lily yang baru dia sadari keberadaannya.
"Oh kalian berdua sudah masuk" ucapnya basa basi, Angga membuka kardus yang tadi dia saat masuk.
Angga menopangkan tangannya di meja menatap lurus ke arah adik adik kelasnya. "Gue bawa soal soal OSN tingkat nasional tahun kemarin sampai tiga tahun sebelumnya, kemungkinan kali ini jenis pertanyaan yang sama akan muncul, jadi pelajari inI." Angga mengeluarkan tumpukan kertas dari kardus. "Oh iya, duduk berdasarkan jurusan yang masing masing. Jasmine, bantu memisahkan ini dulu."
Sementara Jasmine dan Angga mengatur kertas soal dan materi, yang lainnya mengatur kursi sesuai perintah.
Dan karena masih baru Rosa dan Lily kebingungan. Angga yang tidak sengaja melihat Rosa dan Lily yang hanya berdiri berbicara "Matematika di depan, Fisika di tengah" beritahu Angga.
Lily dan Rosa langsung menarik kursi milik mereka dan bergabung dengan yang lainnya, dan karena mata pelajaran yang mereka pilih Lily dan Rosa terpaksa berpisah.
Setelah membagikan contoh soal dan materi Angga memberi sedikit wejangan kepada mereka.
"... Jasmine, mulai dari sini lo yang urus karena gue ada urusan lain"
Jasmine memberi hormat "Siap Kak"
Sebelum benar benar keluar dia menghampiri Lily dia menepuk kepalanya "Nanti kamu ke kelas Kakak, ada yang mau kakak kasih" beritahu Angga, Lily mengangguk mengerti.
Sebenarnya Angga bisa saja ke kelas Lily tapi dia benar benar punya banyak urusan.
Setelah mengatakan apa yang mau dia katakan dia langsung keluar.
"Lo adeknya kak Angga?" salah satu siswa disitu bertanya
"Kerabat" jawab Lily seperti biasanya
"Lo Lily yang nilainya paling tinggi di kelas sepuluh kan?" Lily mengangguk sedangkan Rosa yang mendengar nada sarkas dan dingin itu menoleh.
"Gue kasih tahu ya, lo jangan sombong kalau mau lama, nilai lo itu cuman sementara." Lily mengkerutkan keningnya bingung, kapan dia sombong? Dia melirik papan namanya, Mikel dan dia masih kelas sepuluh terlihat dari lambang kelas yang ada di lengan bajunya. "Dan karena lo juga kerabat kak Angga jangan bertingkah karena disini lo sama sekali tidak spesial dan tidak akan diperlakukan demikian."
"Saya juga tidak berharap diperlakukan spesial" balas Lily dia kemudian menunduk membuka lembaran dan buku yang dibagikan Angga tadi.
*****
__ADS_1