
"Lily!"
Angga melambai dari mobil ke arah Lily yang baru keluar dari gerbang sekolah.
"Aku duluan" Pamitnya pada Rosa dan Nurul, berbeda dengan Rosa yang terus memasang wajah ketus, Nurul menatapnya dengan jail.
Lily berlari kecil ke arah mobil, Angga memintanya duduk di kursi penumpang.
Nurul bersedekap dada melihat interaksi Lily dan Angga.
"Mereka serius kakak adek? Mereka kelihatan kek orang pacaran"
Rosa mengedikkan bahunya, dia tidak peduli. Hanya saja kalau sampai Lily disakiti Angga, mungkin dia tidak akan tinggal diam.
Lily kaget, saat masuk ke dalam mobil, ada orang lain di kursi kemudi.
"Selamat siang" sapa orang itu, Lily mengangguk sambil membalas sapaan.
Angga masuk ke dalam mobil, dia duduk di samping Lily. Dia menoleh ke arah Angga, meminta penjelasan.
"Alamat rumah tante kemarin di mana?" Angga bertanya tanpa memberi penjelasan. Lily menyebutkannya "Tolong antar ke alamat yang disebutkan istri saya"
"Siap pak!"
Lily melirik Angga, cowok itu memakai pakaian santainya.
"Kenapa?" tanya Angga saat sadar di tatap Lily. "Kenapa sih?"
"Kakak ngak dari kantor? Bajunya kok beda?".
Angga mengacak rambut Lily "Kakak dari kantor, baru ganti baju ini. Kan mau ke rumah tante kemarin"
"Mama Naya" Lily membetulkan sebutan Angga.
"Iya, tante Naya!" Angga memperhatikan Lily yang sesekali melirik supir. "Ah, beliau pak Mamat, beliau yang akan mengantar jemput Lily kalau kakak tidak di rumah"
Lily mendongak menatapnya, Angga menjelaskan. Kalau dia tidak ada di rumah saat kuliah nanti, pak Mamat lah yang akan mengantar jemputnya.
"Tapi karena kakak belum resmi lulus, jadi masih kakak yang akan nganter kamu sekolah. Dan untuk sementara, beliau yang akan mengantar kakak kesana kemari selama di kantor." jelas Angga panjang lebar. "Lily mau pakai seragam kesana, atau kita singgah beli pakaian dulu?"
Lily melihat seragamnya kemudian menggelengkan kepalanya. "Pakai ini saja. Sekalian mau pamer, kalau Lily sudah besar sekarang."
"Masih kecil ini" Angga merangkulkan tangannya di bahu Lily "Kamu jangan cepat cepat gedenya"
"Kenapa? Takut kalah saing ya?"
Angga menunduk menggigit lengan atas Lily "Sudah berani ya sekarang?"
"Kakak!!" Lily berseru sambil memukul bahu Angga.
Angga melepaskannya sambil terkekeh kecil, dia menjawil hidung Lily yang mendengus. Lily mengangkat lengan bajunya, memastikan kalau tidak berbekas.
__ADS_1
Dengan iseng Angga kembali menggigitnya.
"Angga!" Lily berseru tapi dengan cepat menutup mulutnya sendiri. Angga menatapnya dengan mata menyipit.
Angga mencubit pipinya sedikit keras. "Benar benar berani sekarang ya"
"akhh... Ampun kak! Ampun!... Ngak sengaja!" Lily memukul mukul tangan Angga agar di lepaskan. "Maaf kak.. Aduh. Kak!"
Angga akhirnya melepaskannya karena kasihan juga, dia melihat pipi Lily memerah. Dia mengelus pipi Lily sambil minta maaf.
Di depan supir hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia sudah mendengar rumor tentang pimpinan baru di kantor, Angga terkenal tidak kenal ampun. Tapi, melihat dia bersama istrinya, Angga tidak lebih remaja pada umumnya.
Dia melirik Lily yang sekarang misuh misuh, supir itu tidak habis fikir kalau atasannya luluh dengan sesuatu yang imut. Supir itu hanya bisa menghela nafas pelan, sepanjang perjalanan dia hanya bisa mendengar kekesalan Lily pada Angga yang terus menjailinya.
"Masih lama ya Pak?" tanya Angga karena merasa sudah dari tadi di dalam mobil.
"Sekitar tiga kilo meter lagi pak"
Angga mengangguk mengerti, dia kembali melihat Lily. Gadis itu tengah melihat keluar jendela, matanya menampakkan nostalgia.
"Lily SMP di sana!" Lily berseru menunjuk sebuah sekolah yang akan mereka lewati.
Angga ikut melihat, Lily ternyata sekolah di sekolah negeri. Berbeda dengannya yang sekolah di sekolah swasta.
"Besar juga" Lily mengangguk mendengar komentar Angga, sekolah Lily memang terbilang besar diantara beberapa sekolah lain. "SMP, kamu tidak digangguin kan?"
Lily menggelengkan kepalanya "Mereka takut sama Atar, jadi tidak berani."
Lily tertawa mendengarnya tapi tak ayal menganggukkan kepalanya juga.
Lily duduk kembali, dia melihat ke depan. Angga mengikutinya.
"Seperti yang Lily katakan, Atar itu seperti saudara kembar Lily. Kami bertengkar, tapi dia yang paling jagain Lily."
"Berarti kalau bukan karena Ayah, pasti sulit yah dapatin kamu?" tanya Angga, Lily tidak menjawab.
Lily juga berfikir, mungkin kalau Ayahnya tidak bertemu Ayah Angga hari itu, tidak meminta Angga menikahinya, jangan kenal mungkin tahu ada makhluk yang bernama Angga saja mungkin Lily tidak akan tahu.
Mengingat kepribadiannya, Lily benar benar tidak peduli dengan yang namanya senior.
"Mungkin" jawab Lily, Angga mendengus. "Lily bahkan kaget saat tau Kakak mantan ketos."
Angga menatap Lily kaget "Jangan bilang kamu?"
Lily menganggukkan kepalanya, dia paham maksud Angga "Iya, Lily tidak tahu kakak mantan ketua osis."
"Wahh... Padahal kakak cukup famous loh."
Lily terkekeh "Itu juga Lily tahu. Terakhir Lily kena bully karena Lily selalu dibonceng kakak"
Wajah Angga yang tadi jail, berubah menjadi serius. Dia menatap Lily serius, tapi tak lama dia menghela nafas.
__ADS_1
"Kenapa tidak bilang kakak?" Angga meraih tangan Lily "Kalau kakak tahu, kakak akan bergerak lebih cepat."
"Karena tidak penting" dia mengalihkan pandangannya "toh yang mereka bilang tidak benar. Lily tidak ganjen ke Kakak"
"Tetap saja"
"Lily tidak peduli saat orang mengkritik Lily, tapi beda cerita kalau mengikut sertakan orang tua."
Dari pantulan kaca jendela, Angga bisa melihat mata Lily menjadi sendu. Dia berlahan menarik Lily, berharap gadis itu melihat ke arahnya.
"Lily" Angga memanggilnya dengan nada lembut. Jadi, mau tidak mau Lily menoleh.
Angga dengan sengaja memencet hidung Lily, gadis itu kembali meringis dan berseru ke arahnya. Angga tertawa begitu melepasnya, Lily mendengus.
"Badut!" ledek Angga karena melihat hidung merah Lily
"Karena siapa coba?"
"Ngak tahu" Angga kembali merangkul Lily, gadis itu tidak memberontak. "Kamu mau nginap tidak di rumah tante Naya"
Gadis itu menghela nafas, dia melihat Angga yang melihatnya juga.
"Kakak izinin?"
"Kalau kamu mau, kakak tidak masalah" jawab Angga "Kamu juga pasti kangen mereka kan?"
"Iya, Kangen banget" Lily menatap lurus sambil tersenyum "Mereka keluarga kedua Lily, mereka menyayangi Lily dan Lily juga sayang mereka."
Angga menyugar rambutnya ke belakang, saat Lily bercerita, entah kenapa Angga bisa melihat ada binar bahagia disana.
"Selama kamu tidak menangis" Angga bergumam dengan sangat pelan.
"Hah?"
"Apa?"
Lily menegakkan duduknya "tadi kakak ngomong sesuatu?" tanya Lily
"Tidak, kamu salah dengar"
Lily memicingkan matanya, Angga hanya mengangkat sebelah alisnya, meyakinkan kalau Lily salah dengar.
"Mungkin."
Tak lama mobil berhenti di depan rumah berpagar kayu. Angga turun lebih dulu, dia melihat ke sekelilingnya.
"Benar ini jan rumahnya Li?" tanya Angga. Lily menggelengkan kepalanya, tangannya menunjuk sebuah rumah berpagar beton. "Mau jalan saja?"
Lily mengangguk, dia turun dari mobil. Toh hanya tinggal dua rumah lagi dari tempat mereka berhenti.
Angga meminta pada supirnya untuk pulang lebih dulu, saat pulang baru dia telfon lagi. Angga mengambil tas kecil yang berisi buku paket Lily, memegangnya di tangan kirinya sedangkan tangan kanannya menggandeng tangan Lily.
__ADS_1
Begitu tiba di depan rumah yang dimaksud, Lily menghela nafas panjang, entah kenapa dia gugup sekali. Berlahan dia mengulurkan tangannya hanya untuk menekan bel.