Lily Untuk Angga

Lily Untuk Angga
Part 86


__ADS_3

Lily masuk ke dalam kantor Angga dengan rantang di tangannya, dia dengan cepat bergegas ke resepsionis. Melihat kedatangan Lily mereka semua langsung berdiri, sekarang siapa yang tidak tahu siapa dia.


"Siang Bu." sapa mereka.


"Siang Kak," Lily meletakkan rantang di meja "Kak Angga ada ngak Kak?"


"Pak Angga belum datang, Bu." jawab mereka.


Lily melihat jam yang melingkar cantik di pergelangan tangannya, kemarin Angga mengatakan akan kembali di jam seperti ini. Dia mengambil ponsel dari sakunya dan menelfon Angga.


Tak lama telfon tersambung, dia mengatakan kalau dia dii kantor Angga. Lily mengatakan kalau dia akan menitipkannya ke kakak resepsionis karena dia harus kembali kerja, tapi Angga mengatakan kalau dia akan langsung ke kantor.


Jaraknya memang tidak jauh dari sana.


Lily akhirnya menunggu di lobi, dia tidak ke ruangan Angga karena memakan waktu lama nantinya. Lily masih harus kembali bekerja, dia hanya izin sebentar seperti biasanya.


Tak lama Angga datang, masih dengan pakaian dari kampus tentunya. Dia dengan cepat menghampiri Lily yang duduk memangku rantang, di belakang Angga ada Ezra.


"Lama ya?" tanya Angga, Lily menggelengkan kepalanya.


Dia dengan cepat berdiri dan menyerahkan rantang ke Angga, beruntung hari ini dia membawa menu lebih karena mereka membuat menu baru. Di belakang Angga, Ezra hanya tersenyum senang mendengar penjelasan Lily.


Yes! Dia kebagian makanan.


"Ini kamu mau langsung ke tempat kerja?"


"Iya!" Lily memperbaiki letak tas selempangnya "Kan Lily cuma izin sebentar, kalau lama takut kak Alga marah nantinya."


"Ya sudah," Angga menarik Lily mendekat dan mencium keningnya "Kamu hati hati di jalan."


"Uekk!!" Ezra memasang wajah ingin muntah, dia kesal melihat pasangan di depannya.


"Iya," jawab Lily yang tidak merespon Ezra.


Dengan cepat dia berlari keluar, temannya yang mengantarnya sudah menunggunya di luar. Lima langkah berjalan Lily berhenti, dia menoleh ke arah Angga.

__ADS_1


Angga mengangkat alisnya "Kenapa?"


"Kakak jelek gaya rambut begitu!"


***


Ezra yang sibuk bermain di ponselnya ekor matanya melirik Angga yang sibuk, dari awal mereka datang Angga sudah sibuk sampai sekarang. Dia hanya istirahat untuk makan, setelahnya dia melanjutkan lagi.


Dia saja yang mengikutinya dari tadi sudah lelah, apalagi Angga yang harus bekerja sambil berfikir. Melihatnya membuat Ezra sedikit berfikir kalau Angga terlalu keras pada dirinya, tapi kalau mau dipikir lagi, banyak orang diluar sana yang hidup jauh lebih keras bahkan sejak usia dini.


Lalu apa yang dia lakukan selama ini?


Mematikan ponselnya, Ezra menoleh ke Angga "Angga!"


"Paan?"


"Di kantor lo, nerima pekerja part tima gak?"


Angga langsung mengalihkan pandangannya dari komputer, dia memandang temannya yang menurutnya sedikit bercanda.


Ezra mendengus "Ban*ke lo!" dia kembali duduk dengan benar.


Angga terkekeh dan kembali melihat layar komputernya "Kalau lo mau, lo bisa buat bisnis kecil dulu. Gue tambahin modal." dia membaca apa yang baru kirim asistennya "Pekerjaan part time di perusahaan seperti ini sangat jarang, kalau pun ada itu bagian buru kasarnya."


Ezra mengerti maksud Angga, terlebih dia baru punya ijazah SMA. Betapa sulitnya kalau pendidikan belum sampai, pekerjaan pun sangat sulit di dapatkan.


"Kafe aestetic itu banyak peminatnya, coba saja itu." usul Angga.


"Gue gak bisa buat kopi."


"Belajar!" ucap Angga enteng, Ezra langsung mencibir "Lo kan bisa cari orang yang bisa? Di dekat kampus, gue lihat ada lahan kosong. Coba lo cari siapa yang punya dan bicarakan dengan beliau, siapa tahu lo bisa gunakan tempat itu."


Ezra sudah tidak mengatakan apa apa lagi, dia membuka game catur dan mulai bermain. Meski terlihat tidak tertarik, sebenarnya Ezra memikirkan apa yang dikatakan Angga.


Angga juga tidak mengatakan apa apa, dia tahu Ezra memikirkan apa yang dia katakan. Angga memilih fokus ke pekerjaannya yang sekarang butuh perhatiannya, proyek besar akan dia lakukan nanti.

__ADS_1


Tapi yang menjadi kendala Angga saat ini, dia masih melaksanakan ospek di kampus. Sepertinya dia tidak perlu ikut ospek, dia harus melakukan perjalan bisnis keluar kota.


Besok dia akan meminta salah satu asistennya ke kampus, memintanya untuk langsung menemui rektor dan meminta izin untuknya. Tapi tadi dia memukul senior di kampus, mungkin dia hanya akan dianggap melarikan diri karena takut.


Lalu apa dia peduli? Tentu saja tidak!


Adapun siapa yang merusakkan motornya, dia bisa meminta Ezra menanganinya. Ezra sangat bisa diandalkan soal itu, dan dia tidak mengecewakan.


Ezra juga bagian dari OSIS sebelumnya, OSIS saat itu lebih parah dari sekarang. Saat dia kelas satu SMA dia masih sangat ingat, ada kejadian yang viral saat itu, seorang tenaga pengajar ditemukan meninggal dengan pisau di perut.


Pelakunya siswa SMA yang belum cukup umur, jadi dia hanya dimasukkan ke penjara anak. Dan baru di lepaskan saat dia kelas dua SMA, makanya Angga setuju untuk masuk OSIS yang di tawarkan oleh Juan.


Yang dia sesali sekarang, dia menyesal pernah ikut Osis. Kalau saja dia tidak pernah ikut, mungkin dia bisa santai saja terhadap pembullyan yang sekarang makin parah.


Ya selain karena lingkungan yang mendukung, mereka juga banyak meniru tingkah yang mereka lihat di sinetron dan sosial media. 


"Tapi Ga, kenapa lo biarin Lily kerja?," Dia menoleh ke Angga lagi "Kalau mau di pikir pikir, dengan pekerjaan lo yang sekarang kalian tidak akan kekurangan finansial."


"Jadi?"


Ezra berbaring di sofa "Kenapa lo masih biarkan dia kerja? Semahal apapun barang yang dia inginkan, lo pasti tidak kekurangan uang untuk mengikuti kemauannya."


"Benar," Angga menandatangani berkas dan mengambil berkas lain "Tapi Lily masih muda, dia masih harus mencari pengalaman hidup. Dan lagi... Gue tidak bisa melarang apa yang dia suka, kesukaannya juga bukan hal yang negatif."


Menutup berkasnya Angga berdiri menghadap jendela "Lo tau juga latar belakang keluarganya, Lily tidak berdiam diri dan berpangku tangan. Dia juga bukan pecinta barang mahal."


Ezra menghela nafas "Ya kalian bisa kaya sampai tujuh turunan."


"Kenapa begitu?"


Ezra kembali bangun dan melihat punggung Angga "Pertama, lo itu tidak peduli barang yang lo pakai palsu apa bukan dan di jamin harganya murah, Lily juga sama sepertinya. Kedua, kalian sama sama suka kerja, pasti kalian akan kaya tujuh eh tidak deh delapan turunan."


Angga tertawa mendengar omong kosong Ezra, dia meregangkan tubuhnya sebelum kembali ke meja kerjanya. Dia memberitahu asisten dan sekretarisnya untuk meminta mereka pulang lebih dulu, dia masih banyak harus di lakukan.


Besok dia akan keluar dinas, tapi sebelum itu dia memberitahukan Lily lebih dulu. Awalnya Lily sedikit kesal karena dia memberitahunya mendadak, tapi setelahnya biasa saja, gadis itu bahkan berceloteh banyak hal tentang barang yang akan dia bawa keluar kota.

__ADS_1


__ADS_2