Lily Untuk Angga

Lily Untuk Angga
Part 104


__ADS_3

Angga memutar bola matanya jengah, dari awal masuk ke kosan miliknya sampai saat ini, ketiga temannya belum berhenti tertawa. Dia hanya bisa duduk diam memperhatikan mereka, tangannya sibuk bermain ponsel.


"Belum puas lo nertawain gue?" tanya Angga, Hari melihatnya masih sambil tertawa


"Hahaha.... Pink Ga, Pink! kocak lo!" dia memegang perutnya akibat banyak tertawa.


Angga menopang dagunya "Kalau istri gue nangis gara gara ini, lo semua tau akibatnya."


Mereka bertiga berhenti tertawa, tapi giliran Ezra yang menertawai mereka yang kicep.


"Si kamp*et!" Niel yang berdiri dan berjalan ke arah kulkas dengan sengaja menginjak Ezra.


"Akh, Ban*ke lo!" umpatnya.


"Wah... Parah ini, masa kulkas orang kaya gak ada isi," Niel yang membuka kulkas menoleh ke arah Angga "Ga, laper nih."


Angga mengangkat kepalanya "Lah makan lah, punya duitkan? Sono beli sendiri."


"Ngeledek ini anak, mahasiswa kek kita mana ada duit. Kita kemari memang cuman buat numpang makan kali."


Angga berdiri meregangkan ototnya, "Gue juga cuman dijatah per bulan sama bini gue, berhemat buat menabung."


Angga tertawa puas sambil berjalan masuk ke kamarnya, dia mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menulis pesan. Setelahnya dia mengambil handuk dan berjalan ke kamar mandi, badanya sudah cukup gerah.


Saat dia keluar dari kamar mandi, bertepatan dengan sampainya pesanan makanan yang dia minta. Angga dengan cepat keluar, membayar makanan dan membawanya masuk.


"Angga who are you?" Hari bertanya dengan dramatis "An Angel!!"


Dia memutar bola matanya jengah, meletakkan makanan di depan mereka. Dengan cepat mereka bergerak ke dapur mengambil alat makan, Niel mengambil piring, Hari mengambil kobokan, Ezra mengambil gelas dan Dwi mengambil air.


Untung mereka tahu diri.


"Orang tadi seriusan anjing gila?" tanya Dwi sambil mengambil sebungkus nasi padang dari kresek.


"Benar!" Jawab Angga, dia menekan nasi di depannya sebelum membuka bungkusnya, tangannya memisah-misahkan lauknya "di kampus banyak anak Anjing gila keknya."


"Lo gak takut di kroyok, Ga? Sebisa bisanya lo berkelahi, kalau mereka rame pasti lain cerita." tanya Hari, mencubit ayam dan memasukkan ke mulutnya "Lo mau masuk rumah sakit lagi? Kayak waktu kelas sepuluh."


"Ingat Ga, lo ada Lily." Ezra mengingatkan.


Angga menuang air ke gelasnya "Gue sudah lapor ke pak Juan, urusan lainnya biar beliau yang urus," dia menenggak isi gelasnya "Gue juga tidak benar benar sendiri, karena posisi gue sekarang jadi sangat mustahil gue gak minta pengawalan."

__ADS_1


"Bener juga sih, tapi gue gak pernah lihat." gumam Ezra, Angga mengangkat bibirnya tersenyum


"Mereka gue minta suruh awasi dari jauh, sangat mencolok kalau mengekor gue terus. Di samping itu... Kakak ipar gue juga ngirim orang orangnya."


"Kakak Ipar?"


Mereka menoleh ke arah Angga, dia menganggukkan kepalanya.


"Iya, gue juga baru beberapa bulan ini tahu kalau Lily punya kakak kandung." Angga kembali minum setelah makanannya habis "Di banding itu, hadiah kalian buat Lily mana? Dia berhasil menang olimpiade."


"APA?" mereka berempat berseru


Angga mengangkat sebelah alisnya "Ada apa dengan reaksi lo pada? Ngak berharap istri gue menang gitu?"


"Bukan begitu," Hari menggaruk kepalanya "Gue lupa soal itu."


"Besok deh gue kasih, belum nyari gue." Kata Ezra diangguki Niel dan Dwi. "Dia suka apa? Lily."


"Gue beliin cincin nikah deh," Angga langsung melirik Niel tajam "Ya elah Ga, bercanda kali Ga."


"Dia suka masak, bagus lagi kalau lo pada beliin dia toko."


"Kami juga masih butuh duit!" Angga terbahak mendengar seruan teman temannya.


"APA? MENIKAH?" Nurul dan Rosa berseru bersamaan, Lily dengan cepat memberi isyarat untuk mereka memelankan suara.


"Jangan berisik!" ucapnya panik.


Sekarang mereka berada di resto Alga, kedua temannya datang dan berkunjung untuknya. Lily yang di dapati senyam senyum sambil melihat ponselnya diseret untuk diintrogasi, Nurul sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya.


"Kapan?" Rosa yang rasa keterkejutannya sudah hilang bertanya.


"Beberapa jam sebelum Ayah meninggal." cicit Lily, raut wajahnya berubah menjadi sedih.


Sejauh ini dia memang merasa bahagia dengan pernikahannya, tapi mengingat hari pernikahan mereka pasti selalu mengingatkan pada kesedihan yang teramat. Lily yakin bukan hanya dirinya yang berfikir demikian, sekuat kuatnya Angga pasti ada kesedihan yang tertanam saat mengingatnya.


"Sorry, Li" ucap Nurul, Lily menggelengkan kepalanya dan mengatakan tidak apa apa.


"Maaf tidak memberitahu kalian lebih awal." kata Lily


Rosa menepuk lengannya dan berkata "Urusan seperti ini, memang siapa yang akan menceritakannya ke orang luar, kecuali kalau lo sudah tidak terikat dengan pendidikan."

__ADS_1


"Bener tuh," Nurul mengangguk menyetujui perkataan Rosa, "Jadi gimana?"


"Gimana apa?"


"Gimana? Lo udah gitu gituan gak sama kak Angga?" Nurul menaik turunkan alisnya ke arah Lily.


Lily "___" wajahnya langsung semerah tomat


Plak


Nurul langsung mengelus kepalanya yang kena geplakan dari Rosa, Rosa menatapnya tajam


"Gak sopan nanya nanya soal urusan pribadi suami-istri, bahkan jika dia saudara lo sekali pun" omel Rosa


Masih dengan mengelus lengannya, Nurul berkata "Ya kan penasaran, Ca! Kata orang orang itu en-akhh iya iya gue diem!" serunya karena Rosa sudah mengangkat tangannya untuk mencubitnya.


Lily yang melihat itu langsung tertawa.


"Kalau memang penasaran, coba saja sendiri!" ucap Rosa melihat tajam temannya.


"Gimana caranya? Gue kan belum menikah, Ca!"


Rosa mendengus "Maka dari itu, mending lo belajar dengan benar. Nilai lo hampir paling rendah di kelas." cibir Rosa.


Nurul memegang dadanya, seperti orang yang baru tertembak "Suer, Ca. Lo kalau ngomong kenapa bisa sepedas emak gue?"


Rosa memutar bola mata jengah, dia malas meladeni Nurul yang bertingkah dramatis. Dia kembali melihat ke arah Lily, gadis terus tertawa ke arah mereka.


"Lo gak apa apa kan? Menikah di umur lo sekarang pasti beban buat lo."


Lily tersenyum canggung, "Terbebani pastilah, biar bagaimana pun aku masih sekolah." dia mengetuk ngetukan jari di meja "Tapi selama itu di tanggung berdua, bakal ringan dengan sendirinya. Kak Angga juga sejauh ini dia sangat bertanggung jawab atasku."


"Bagus deh," Rosa bersandar di sandaran kursi masih menatap Lily "Tapi lo jangan jadi orang bodoh, kalau dia nyakitin lo, lo harus buat keputusan sebijak mungkin."


Lily menganggukkan kepalanya, dia senang berteman dengan Rosa. Dia akan menegurnya jika dia dan Nurul salah, tapi tidak pernah meninggalkan mereka.


"Iya aku akan ingat." ucap Lily masih sambil terus tersenyum.


"Ca, lo gak ada niat gitu mau cari pacar?" Rosa langsung mendelik ke arah Nurul "Gue nanya doang Ca, nanya doang!".


"Apa pentingnya pacaran? Kita masih di bangku sekolah. Pacaran hanya akan buang buang waktu, numpuk dosa juga."

__ADS_1


Lily dan Nurul tanpa sadar berseru bersamaan, mereka takjub dengan pemikiran teman mereka yang satu itu.


__ADS_2