Lily Untuk Angga

Lily Untuk Angga
Part 88


__ADS_3

Setelah mematikan telfon, dia berlari keluar untuk membantu. Dia mengambil celemek untuk pelayan, dia tidak membantu di dapur karena sudah tidak ada tempat lagi.


"Maaf ya, Li. Lo harus kerja padahal lo lagi istirahat." ucap Alga saat Lily mengambil pesanan di dapur.


"Tidak apa apa," Lily mengangkat nampannya "Saya kerja jadi ini bukan masalah."


"Oke, Terima kasih, Li!"


"Sama sama, Bos!"


Lily tidak tahu kenapa malam ini terlalu ramai, seperti malam minggu saja. Lily mengedikkan bahunya tidak peduli, toh Angga juga mau keluar kota dan mereka tidak bisa bertemu.


"Selamat datang!" sambutnya begitu ada yang masuk. Dia sedikit terkejut karena yang datang adalah Liz.


Liz hanya melewatinya bersama temannya, seolah dia dan Lily tidak saling mengenal. Lily juga tidak peduli dan kembali melayani yang lain, menerima pesanan dan membersihkan meja yang sudah kosong.


"Ya, mau pesan apa?" Tanya Lily yang sekarang ada di meja Liz, dia meletakkan menu di meja. "Silahkan.."


Dia mencatat semua menu yang mereka pesan, setelah mencatat dia membaca kembali untuk memastikannya. Dia melirik Liz yang hanya diam, entah kenapa Lily sedikit merasa aneh.


Dia berpindah ke meja lain setelah menyerahkan catatan ke Alga, dia sudah sedikit lelah. Tak lama Rora yang baru datang juga ikut membantu, mereka bisa sedikit menyimpan tenaga. 


"Lo bukannya harus istirahat, ya?" tanya Rora


Lily menggelengkan kepalanya "Lagi ramai begini, Kak. Mana bisa aku istirahat sendirian."


Rora menganggukkan kepalanya, dia dengan cepat mengambil nampan berisi piring kotor dari tangan Lily.


"Sepertinya ada tamu yang baru datang, kamu layani gih!"


Lily mengangguk dan mengeluarkan catatan untuk menu, dengan semangat dia menghampiri meja tersebut.


"Mau pesan ap...a?" Nada suaranya merendah saat sadar siapa yang mengisi meja itu.


Sebuah keluarga duduk mengelilingi meja, ada Kakek, Ayah, Ibu, satu anak perempuan dan satu anak laki laki. Siapa yang menyangka Lily akan bertemu mereka di sini, Lily tanpa sadar mundur selangkah.


"Silahkan membuat pesanan." ucapnya setelah menangkan diri.


"APA BEGINI CARA KAFE INI MELAYANI PELANGGAN!" anak lalo laki yang tidak lain adalah Rudi itu berseru "Tidak sopan!"


Lily berdiri di tempatnya, dia sekarang menjadi pusat perhatian.


"Maaf, tapi apa yang saya lakukan kurang sopan?" meski merasa gugup dan takut Lily tetap bertanya.


"Lo gak tahu?" Rudi berdiri membuat Lily mundur selangkah lagi, dia melirik ke arah meja di mana keluarganya duduk, mereka sama sekali tidak berniat menghentikan Rudi.


Dia mendorong kepala Lily "Melototi pelanggan itu tidak sopan!"


"Kapan say-"


"Menjawab?" Rudi makin mendorong kepala Lily, meski sakit Lily tidak menunjukkannya.

__ADS_1


"Seharusnya lo yang harus jaga sikap!" Rudi berhenti dan menoleh ke asal suara.


Alga berdiri bersedekap menatapnya "semua orang tidak buta, cewek itu sama sekali tidak ngapa ngapain."


"Siapa lo?" Dia berjalan ke arah Alga, "Apa semua karyawan disini tidak memiliki sopan santun? PANGGIL MANAGER LO?"


"Ada urusan apa?" Alga menegakkan berdirinya


"APA BEGINI CARA KARYAWAN DI SINI BERSIKAP? PANGGIL MANAGER! GUE MAU KOMPLAIN AGAR LO DAN DIA DI PECAT!"


Alga terkekeh "Itu tidak akan terjadi."


"Hah arogan sekali, PANGGIL MANAGER LO!"


"Gue disini sejak tadi." ucap Alga.


"Apa?"


"Lo cari manager di tempat ini kan? Gue managernya." Alga bisa melihat wajah terkejut Rudi "Lily, layani tamu lain, kita tidak membutuhkan tamu yang seperti dia."


Lily mengangguk dan berpindah ke meja lain, meski takut dia tetap harus bekerja.


"Silahkan keluar." ucap Alga "Semuanya kembali bekerja."


Rudi mengepalkan tangannya dan berbalik, dia terburu buru berjalan dan


Plak


"Gue diam tapi kayaknya lo makin jadi!" Liz berdiri di depan Lily, dia membantu gadis itu berdiri. Dia menggeram melihat wajah gadis itu memerah dan tubuhnya gemetar "Da*n."


"Ka..kamu! Apa yang kamu lakukan terhadap putraku!" wanita yang dari tadi diam berseru "Kurang aj-"


"Kenapa? Tidak terima?" Liz berjalan ke arah meja keluarga Rudi "Saat anak Babi itu memukul wajah gadis itu kalian diam kan? sekarang harusnya kalian diam juga."


"Siapa kamu?" pria tua yang sedari tenang mengeluarkan suaranya. "Kupikir ini urusan keluarga, gadis itu sepupu dari cucu laki lakiku jadi wa-"


"Jadi wajar saja dia memukulnya?" Liz memotong kalimatnya "Dari mana kewajaran itu? Kalau dia sepupunya berarti gadis itu juga cucu anda, atau karena dia tidak ada hubungannya sama sekali karena itu anda diam?"


Liz berdiri tegak menatap mereka


"Omong kosong apa yang kamu bicarakan? Dia keluarga kami!" Ayah Rudi berseru "Rudi marah hanya karena dia tidak pulang selama berbulan bulan mak-"


"Tapi tadi dia memarahinya bukan seperti itu." Liz melirik Rudi dan kembali ke mereka. "Karena dia tidak pulang, atau karena dia menolak memberikan apa yang kalian minta."


"Siapa kamu?" Pria tua itu kembali bertanya


"Saya?" Liz terkekeh "Anda sungguh tidak mengenal saya?"


Di belakang Lily berdiri bingung, apa keluarganya mengenal Liz? Apa karena itu dia merasa tidak asing padanya? Apa mereka pernah bertemu saat dirinya masih kecil.


Alga yang merasa ini bukan urusannya lagi, meminta karyawan memindahkan pelanggan keruangan lain. Sembari meminta maaf karena ketidak nyamanan mereka, tadi seorang mendatanginya dan mengatakan akan membayar semuanya karena ketidaknyamanan juga.

__ADS_1


Pasti orang yang memukul tamu tadi.


"Terima kasih atas pengertiannya!" pria dengan pakaian serba hitam itu berucap, Alga hanya mengatakan tidak apa apa.


Untung dia baru menambah bangunan.


Rudi berdiri dia berjalan ke arah Liz, tapi baru dua langkah dia kembali di dudukkan oleh pria berjas hitam.


Liz duduk dengan santai menatap mereka.


"Selama enam belas tahun ini kalian sepertinya bersenang senang." dia mengetukkan jarinya di meja "Bukan begitu, Eyang?"


Enam belas tahun ini? Eyang? Siapa sebenarnya Liz ini? Lily terus menatap punggungnya, ada perasaan aneh tiba tiba menjalar dalam hatinya.


"KAMU!?"


Pria tua itu menatap Liz dengan seksama, wajah yang tidak asing langsung melintas di kepalanya.


"Sepertinya Eyang belum pikun!" dia menyilangkan kakinya, tangannya bersedekap dengan dagu terangkat.


"Tuan muda Liz!" salah satu pengawalnya mendekat dan berbisik, Liz hanya mengangguk dan mengatakan untuk mereka saja yang menyelesaikannya.


"UEN!" Seru mereka.


"Ya, ini aku! LIZ LAURENT" dia melirik Lily dan melanjutkan " ANDERSON!"


Degh!


Lily menatapnya dan bergumam "Anderson?"


Di keluarganya hanya Ayahnya yang bermarga Anderson, dia juga tidak tahu kenapa demikian. Dia menatap Liz, kalau dia juga Anderson... Siapa Liz sebenarnya?


"Putra sulung, Edowardo Anderson!"


Duk!


Lily terjatuh ke lantai, kepalanya pusing mendengar informasi mendadak.


Selama ini dia punya kakak? Kakak kandung? Tapi kenapa...?


"Ini peringatan terakhir saya, jangan muncul di hadapan Lily!" dia berdiri dan berjalan ke arah Lily, membantu gadis kebingungan itu berdiri, dia melirik ke arah meja ke arah anak perempuan yang dari tadi diam karena takut "Kalian mempunyai anak perempuan ya?"


Mama Rudi Spontan memeluk putrinya, ada rasa takut dari pertanyaan Liz. Dia merasa seperti baru saja diancam, dia menatap Liz garang!


Liz berdecih dan berlalu dengan Lily di rengkuhannya.


"Tuan muda, bagaimana dengan orang yang memukul Nona?" tanya pengawalnya sambil membuka pintu mobil pada mereka. "Selamat malam nona!"


Lily masih ngeblank "__"


"Itu bukan wewenangku, biar dia ditangani oleh orang yang tepat." dia membantu Lily masuk mobilnya. "Beritahu orang yang menjemput Lily untuk pulang, malam ini adikku akan menginap di mansionku, katakan padanya kalau aku sendiri yang akan menelfon atasannya."

__ADS_1


"Saya mengerti, tuan muda!"


__ADS_2