Lily Untuk Angga

Lily Untuk Angga
Part 74


__ADS_3

Angga melirik Lily yang berjongkok tidak jauh dari tempat dia mereparasi beberapa motor yang dia diamkan di garasi, karena sore nanti dia akan pindah jadi dia ingin membersihkan beberapa. Hari ini dia sangat sibuk memperhatikan apa saja yang salah di rumah, alhasil Lily yang merasa tidak ada pekerjaan rumah mengekorinya sepanjang hari.


Angga menarik tempat duduk kecil menyerahkannya ke Lily "Pakai ini, kaki kamu nanti kram kalau kelamaan jongkok!"


Lily melihat bangku itu sebentar dan menariknya untuk dia duduki, matanya melirik Angga yang kembali fokus ke motor motornya. Dia menopang dagunya sesekali bercelotah hanya untuk menarik perhatian cowok itu, Angga hanya bisa menahan kekehannya saat Lily bertingkah seperti orang yang bukan dirinya.


"Kakak sekalian tidak mau bersihin mobil sekalian?" Lily bertanya sambil menunjuk jejeran mobil mahal koleksi Ayah mertuanya.


"Yang itu nanti kakak panggilkan orang yang sudah profesional buat ngebersiin! "Jawab Angga dia berdiri untuk mengelap spion motornya.


"Motor kesayangan ya Kak?" tanya Lily.


Angga "____"


Sebenarnya tanpa Angga menjawab pun Lily bisa menebaknya, dilihat dari bagaimana Angga menyentuh dan mengelapnya berlahan seolah itu keramik yang mudah hancur siapapun akan menebak hall yang sama seperti Lily.


"Iya." Angga mengelus kepala motornya dengan lembut "Ini hadiah terakhir Ibu."


Motor itu tidak lain adalah hadiah ulang tahunnya yang ke empat belas, motor yang harganya sangat fantastik dihadiahkan padanya oleh orang tuanya. Karena usianya saat itu masih empat belas tahun jadi orang tuanya tidak mengizinkannya untuk mengendarainya.


Lily mengangguk mengerti, pantas saja Angga lebih menyayangi barang itu ketimbang motornya yang lain. Di hadiahkan Ibu ya? Lily sama sekali tidak tahu bagaimana perasaan diberi hadiah oleh wanita yang melahirkannya, apakah dia akan menyayanginya seperti itu juga?


"Mungkin." gumamnya


Angga menoleh "Kamu mengatakan sesuatu?"


"Ha?" Lily menggelengkan kepalanya "Enggak ada. Tapi kak, kenapa kakak tidak pakai motor itu saja? Kenapa malah beli motor yang siap masuk bengkel?" tanya Lily mengingat motor yang Angga beli dua minggu lalu.


Lily melirik motor yang setiap hari mereka pakai ke sekolah sebelumnya, motor itu masih bagus dan karena selalu dirawat jadi selalu terlihat baru. Lily mendengus kecil, Angga tipe orang yang lebih memperhatikan motor ketimbang penampilannya sendiri.


Angga tertawa geli mendengar Lily menyebut motor barunya "Hahaha..., motor siap masuk bengkel." dia menghapus air mata yang jatuh karena tertawa "Kakak beli lain karena mau tampil beda."


"Kakak seperti ingin tampil kayak orang susah! Aneh." ucap Lily, padahal banyak orang di jaman sekarang yang tampil seperti orang kaya. "Kakak aneh!"


"Biar saja!"


"Kak! Lily boleh pakai motor itu gak ke sekolah?" Lily menunjuk motor yang mereka pakai sebelumnya, Angga melihat arah yang dia tunjuk.


"Sendirian?" Lily menganggukkan kepala "Tidak! Kakak tidak izinkan!"

__ADS_1


"Kenapa?"


Angga meletakkan lap di bibir ember, dia mendekati Lily dan jongkok di depannya. "Kakak tidak mau kenapa kenapa di jalan, bahaya naik motor sendirian Ly!"


"Tapi Lily dulu selalu naik motor sendirian, alhamdulillah ngak kenapa kenapa." jelas Lily "Boleh ya?"


"Ke market depan kompleks boleh, tapi ke sekolah ngak boleh!" putus Angga, Lily cemberut dia kurang terima. "Ly, jarak rumah sama sekolah lumayan jauh. Kakak ngak bisa ngizinin."


Lily mau tidak mau mengangguk, toh itu memang motor milik Angga jadi dia tidak bisa memaksa. Seperti tau apa yang ada di kepala gadis itu, Angga mengangkat tangannya dan menjitak dahinya.


"Aduh!" Lily dengan cepat mengusap dahinya, sentilan Angga lumayan keras seperti menyuruhnya sadar "Sakit kak!"


***


Angga memasukkan kopernya satu persatu ke mobil, sedangkan Lily cemberut di samping mobil melihatnya. Angga hanya meliriknya sekilas dan kembali sibuk, dia tidak bisa menunda lebih lama lagi di rumah.


"Lily libur semester nanti, boleh main ke sana kan?" tanya Lily setelah Angga memasukkan koper terakhirnya.


Angga menutup bagasi mobil, dia bersandar di kap dan menatap Lily yang masih cemberut bahkan dari sejam yang lalu. Dia meraih tangan gadis itu agar mendekat padanya, Angga tidak bisa pergi kalau dia terus saja memasang wajah seperti ini.


"Tidak boleh ya?" gadis itu menatapnya dengan mata yang sangat sedih..


"Iya." cicitnya.


Lily sepertinya sudah sangat terbiasa dengan Angga, semenjak kepergian orang yang paling penting di hidupnya, sebagian dari jiwanya, Lily menjadikan Angga sebagai orang yang paling dia andalkan.


"Lily bolehkan main ke rumah Mama?" tanya Lily dia mendongak menatap Angga, pemuda itu mengangguk


"Boleh, tapi kasih tahu kakak dulu."


"Oke."


Dia memegang dua sisi lengan Lily, memundurkan agar dia leluasa melihatnya. Dia juga melirik jam yang melingkari pergelangan tangannya.


"Kakak harus pergi sekarang." ucap Angga yang kembali menatap Lily, mata gadis itu makin menyendu. Angga dengan cepat menangkup wajah gadis itu "Jangan pasang muka begitu ah, kakak tidak bisa pergi kalau kamu begini terus."


"Tapi Lily sendirian."


Angga menatapnya serius bukan karena dia tidak mengerti kondisi Lily, Angga hanya ingin memberi diri mereka ruang untuk memikirkan kondisi mereka. Status mereka yang berubah dalam sekejap sebenarnya cukup membuatnya syok, di tambah kepergian orang tua mereka, Angga hanya ingin membuat ruang untuk berfikir jernih tapi bukan untuk berpisah.

__ADS_1


Angga memeluk gadis itu setidaknya untuk menenangkannya karena gadis itu sudah menangis.


"Olimpiade kamu nanti, kakak akan usahain datang." bisik Angga, Lily mengangguk mengeratkan pelukannya "Jangan menangis! Kakak berat perginya Ly."


Sebenarnya Lily tidak ingin menangis seperti ini, hanya saja melihat Angga mengatur barang barangnya membuat perasaannya murung dan sedih. Angga menepuk punggungnya menenangkannya, setelah puas menangis Lily menjauhkan dirinya dari Angga.


"Sudah lebih baik?" tanya Angga dia membantu Lily menghapus air matanya.


"Lily mau ikut ke sana, tidak menginap kok!" ucapnya.


"No cantik, No!" dia menepuk kepala Lily "Kalau kamu ke sana Kakak bakal ngak ngizinin kamu pulang."


"Lily hanya mau bantuin ngatur barang kakak di sana."


Angga menggelengkan kepalanya "Libur semester minggu depan kan? Kakak janji kakak bakal jemput kamu. Kamu menginap di sana bareng kakak."


"Oke." jawab Lily lemas.


"Sekarang kakak bisa pergi kan?" tanya Angga, dia menatap Lily lembut. "Bisa kan?"


"hn." gumam gadis itu sebagai jawabannya.


Angga terkekeh pelan, tangannya kembali terulur untuk meraih gadis itu ke pelukannya. Angga akan mengisi daya untuk satu minggu ke depan.


"Kak?" Lily memanggil karena Angga tidak melepasnya "Kakak!"


"Sebentar lagi, kakak lagi nge-charger dulu." Angga akhirnya melepaskan Lily menangkup wajahnya lagi dan mencium keningnya "Kakak berangkat oke!"


"Iya, hati hati." ucapnya lemas


Angga hanys menggelengkan kepalanya, dia mendekati mobil dan membuka pintu mobil. Lily mengangkat sebelah keningnya saat Angga belum masuk ke mobil juga, dia makin terkejut saat Angga melangkah mendekat.


"Kakak kelupaan sesuatu?" tanya Lily, Angga tidak mengatakan apa apa dia hanya menatap Lily "Kakak?"


"Iya."


"Kakak lupa apa?" Lily bersiap masuk ke dalam rumah untuk mengambil barang Angga yang tertinggal.


Angga menahan tangannya, Lily mengkerutkan keningnya bingung lagi. Angga menunduk dan mencium pipi Lily membuat gadis itu kaget, biar bagaimana pun ini pertama kalinya karena Angga hanya sering mencium dahi dan kepalanya saja.

__ADS_1


"Itu yang kakak lupa." ucapnya terkekeh.


__ADS_2