
"Kenapa?"
Lily bertanya karena heran melihat Angga yang termangu di depan cermin, dia menoleh ke Lily dengan senyum yang tidak sampai di mata. Angga mengangkat dasi abu abu yang sudah melilit di lehernya, dia merasa aneh sekarang.
"Setelah beberapa saat memakai jas, Kakak merasa aneh pakai seragam sekolah." jawab Angga, Lily mengangkat keningnya
"Merasa tua ya, Kak?"
"Kamu-" Angga menahan dirinya, dia tidak tahu harus berkata apa. Lily semakin hari semakin berani.
Lily tertawa terbahak, dia mengingatkan agar Angga bergegas dengan segera atau mereka akan terlambat. Angga mengambil tasnya yang dia letakkan di atas kasur, sebenarnya sudah tidak masalah kalau tidak membawa apa apa.
Selesai sarapan mereka langsung menuju sekolah, Angga yang merasa sudah beberapa saat meninggalkan sekolah merasa senang. Dia meminta Lily ke kelasnya sedangkan dirinya menuju gedung kelas dua belas, tidak ada yang berubah.
Hehe... Angga tertawa sendiri, tentu saja tidak ada yang berubah, ini hanya beberapa minggu dia tidak sekolah. Angga menatap sekelilingnya, hari ini sepertinya hanya dia yang sekolah.
"Serem juga." Dia bergidik, sendirian di gedung bertingkat dua dan besar serta banyak ruangan, siapa yang tidak bergidik? Terlebih tidak ada suara selain langkahnya sendiri.
Angga dengan cepat mengambil tasnya, lebih baik menunggu di kantin sekalian bisa makan. Dia berlari keluar kelasnya buru buru, Angga memang lumayan takut dengan hal mistis dan setiap sekolah pasti ada cerita mistis mereka masing masing.
"Pagi Bitin!" sapa Angga berjalan masuk.
Bitin adalah panggilan akrab Angga dan teman temannya, karena memanggil Bibi Kantin terlalu panjang jadi mereka menyingkatnya. Angga meletakkan tasnya di tempat kosong, dia merebahkan tubuhnya di meja panjang yang ada di pojokan. Karena masih pagi, Kantin masih sunyi jadi nyaman untuk memejamkan mata.
"lah den Angga tidak ikut upacara?" Bitin bertanya karena Angga tidak bergerak padahal sudah berbunyi.
Angga mengubah posisinya menyamping "Saya kelas dua belas sendirian, aneh kalau berbaris seorang diri!" Jawab Angga, dia menutup mulutnya yang menguap dengan tangan "Jam istirahat, bangunin ya, Bitin!"
"Terus ngapain ke sekolah, Den?"
Angga menopang kepalanya dengan lengan, dia menjawab santai "Di panggil Pak Ajuandra!" Angga memejamkan matanya, dalam lima menit dia benar benar tertidur bahkan sangat pulas.
Di sisi lain, upacara baru saja dibubarkan dan semua menuju kelas masing masing.
"Jadi kalian mau nemuin kak Kennan?" Nurul bertanya sambil mengibaskan pet topi di depan wajahnya, mereka berjalan ke kelas.
"Iya, disuruh pak Juan." Jawab Lily, Nurul langsung merangkulnya dan Rosa.
Rosa mendorong tangganya "Panas, minggir!"
"Gue ikut dong!" Nurul berseru dia tidak memperdulikan penolakan Rosa "Gue pengen lihat Pangeran Vampir langsung, katanya ganteng ya!"
Rosa mendelik menatap Nurul, dia dengan sengaja mendorong muka Nurul yang memasang wajah genit. Lily bukannya membantu, Lily memilih menertawai mereka.
"Kesempatan langkah, jangan disia siakan." cengir Nurul. Rosa akan menjawabnya tapi Lily langsung melerai "Li, lo gak penasaran gitu? Kali aja nyantol!"
__ADS_1
Lily menggelengkan kepalanya, sejak awal sejak rumor paras seniornya itu beredar dia tidak pernah tertarik.
"Ngak asik lo berdua." Seru Nurul, Rosa mencibir sedangkan Hana hanya tertawa "Tapi gue boleh ikutkan? Lumayan lah, cuci mata."
"Iya" Lily berkata dengan nada super lembutnya itu.
**
Jam istirahat mereka bertiga bersiap ke gedung kelas sebelas, tapi baru saja keluar kelas, Lily melihat Angga yang bersandar di salah satu tiang di depan kelasnya.
"Kakak!"
"Memang kelas dua belas sekolah?" tanya Nurul sambil berbisik pada Rosa begitu Lily berjalan lebih dulu ke arah Angga.
Rosa mengedikkan bahunya "Tidak tahu!"
Nurul hanya bisa mencibir, temannya satu ini benar benar cuek. Dia melihat kembali ke arah Lily dan Angga, dia semakin yakin kalau dua orang itu bukan saudara.
"Urusan kakak sudah selesai?" tanya Lily begitu di depan Angga. Dia memperhatikan penampilan cowok itu yang sedikit berantakan, terlihat baru bangun tidur.
"Belum, nanti baru ketemu sama pak Juan. Tadi beliau ada kelas." Angga menunduk, dia melihat buku di pelukan Lily "Kamu mau kemana? Sudah makan?"
"Mau ke tempat kak Kennan dulu, habis itu makan!" jawab Lily, Angga mengangguk sambil sekali lagi menguap "Kakak tidur dimana tadi?"
"Kantin!"
"loh Nan, tumben lo ke gedung kelas 10" Angga bertanya begitu cowok itu berada tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"Gue disuruh pak Juan ketemu sama anak kelas 10 yang nanti mau ikut OSN" jawab Kennan, dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Lily yang berdiri di samping Angga mendongak menatap orang yang bicara dengan Angga, benar benar seperti yang teman temannya bilang. Orang di depannya benar benar ganteng, terlebih tatapannya sayu dia melirik Angga yang meliriknya, Lily hanya senyum kecil ke arahnya.
"Kakak, Kak Kennan Rajendra?" Lily bertanya, cowok itu mengangguk sambil melihatnya. Lily menelan salivanya, bukan terpesona tapi dia sedikit tertegun karena tampang dinginnya "A..anu, saya yang ikut OSN Lilyana"
"Ah, iya hai" sapa Kennan, tapi tidak ada perubahan di wajahnya.
Angga yang berdiri di memperhatikan rasanya ingin memukul kepalanya, Kennan sama sekali tidak berekspresi saat bicara dengan orang lain.
Saat pertama kali bicara dengannya pun, Angga diberi ekpresi dan tatapan yang sama seperti sekarang dia melihat Lily.
"Yang satu lagi, Rosa kan?" Lily menganggukkan kepalanya "kapan kira kira kalian bisa mulai bimbingannya?"
"eh? I..itu" Lily langsung menoleh ke arah Rosa yang tidak jauh dari mereka, gadia itu memberi isyarat terserah Lily. "Kakak saja yang tentuin" ucapnya pada akhirnya, dia tidak tahu jadwal kakak kelasnya jadi dia meminta Kennan yang menentukan.
Kennan memasukkan tangannya ke saku mencoba berfikir "Jum'at-Sabtu di aula jam istirahat, tidak masalahkan?"
__ADS_1
"iya kak tidak masalah" Lily mengangguk, dia tidak ada kegiatan di sekolah jadi kapanpun bisa.
Kennan menganggukkan kepalanya "sudah dealkan?" Lily menganggukkan kepalanya "Kak, gue duluan" Kennan pamit pada Angga yang tadi hanya bersandar di pilar mendengar percakapan mereka berdua.
"Kyaaaa...." Nurul berseru sambil memukul lengan Rosa karena gemas. "Kak Kennan ganteng banget" serunya
Lily yang mendengar kehebohan Nurul menoleh, di samping Nurul ada Rosa memasang tampang kesal. Rosa terlihat seperti menahan dirinya agar tidak memukul Nurul, tapi orang yang gembira itu tidak merasakan bahaya di sampingnya.
"Bagaimana?" tanya Angga, Lily menatapnya
"Hah?"
"Bagaimana?"
"Apanya?"
Angga melihat ke arah dimana Kennan pergi tadi "Dia ganteng kan?"
"Kak Kennan?" tebak Lily, Angga tidak merespon yang berarti tebakannya benar "Iya. Tapi orangnya muram, jadi biasa saja"
"woii..!" Nurul yang mendengar itu berseru, dia mendekati Lily mengguncang lengannya "Mata lo juling ya? Darimananya kak Kennan biasa saja?"
"Biasa saja" Rosa juga bersuara "Tampang playboy"
"Wah...wah...wah-" Nurul tidak tahu harus berkata apa, dia heran dengan kedua temannya itu.
Angga menegakkan berdirinya, dia menunduk untuk berbisik di telinga Lily "Kakak mau ketemu pak Juan dulu"
Lily menganggukkan kepalanya, Angga melirik jam di tangannya.
"Iya"
"Habis ini kakak langsung pulang, kamu dijemput supir kantor, tidak apa kan?" tanya Angga lagi. "Nanti kamu bisa langsung diantar ke tempat kerja."
"Kak, Lily mau naik taksi saja, bisa?" tanya Lily, dia merasa akan merepotkan orang kalau harus di jemput. Angga menggelengkan kepalanya "Kenapa?"
"Kakak hanya mau mastiin kamu tidak kenapa kenapa." jawab Angga. "Dijemput ya?"
Lily menghela nafas dan mengangguk pasrah, Angga tersenyum dan berterimah kasih karena mau mendengarkannya.
"Kalian ini bisik bisik, kalau gosip bisa bagi kali, Kak!" Nurul berseru menyadarkan mereka kalau jarak mereka terlalu dekat.
Angga menatap adik kelas yang mengintrupsinya itu, Nurul tanpa sadar mundur. "Mau gue salamin ke Kennan?" mata Nurul berbinar dan mengangguk "Ah, tapi Kennan punya pacar."
Angga menyeringai melihat wajah melongo Nurul, sambil bersiul kecil dia meninggalkan gedung kelas satu.
__ADS_1
"WHAAAT?"