Lily Untuk Angga

Lily Untuk Angga
Part 69


__ADS_3

Lyz masuk ke ruang kerja Angga begitu remaja itu mengatakan ingin berbicara dengannya, para orang tua sudah istirahat. Afiq dan Atar bermain game milik Angga sedangkan Azka juga memilih istirahat, Lyz tidak tahu apa yang akan dibicarakan Angga.


"Silahkan duduk!"


Lyz duduk di kursi tepatnya sofa single yang di tunjuk Angga, Angga juga duduk di sofa depan Lyz. Angga meletakkan beberapa benda di meja, dia menatap Lyz untuk melihat reaksinya.


Melihat itu Lyz hanya bisa tersenyum kecil, pandangannya penuh dengan luka. Cepat atau lambat dia pasti akan ditemukan, tapi dia tidak tau akan secepat ini.


"Apa yang ingin kamu aku lakukan?" Lyz meraih foto di atas meja, menatapnya penuh kerinduan.


Angga "___"


"Kamu menemukannya dengan cepat." ujar Lyz "Aku salut."


Angga menghela nafas "kamu ah tidak, Kakak yang tidak benar benar ingin menyembunyikannya." Lyz menatapnya "Aku juga punya teman yang bisa diandalkan mencari informasi, kami terbiasa dengan hal seperti ini."


Lyz menggaruk keningnya "Mungkin karena aku tidak pernah membayangkan kamu mencari tahu." dia bersandar di sofa "kapan kamu curiga."


"Saat Lily bilang, kalau kakak terlihat familiar. Jadi aku mulai memperhatikan dan Lily benar~" Angga menjeda sebentar dia melihat ke meja "Kalian berdua mirip, karenanya dia familiar."


Lyz "___"


"Pertanyaanku, bagaimana bisa Lily tidak tahu? Dan kenapa kakak tidak mengaku padanya?"


"Aku ingin mengaku." Lyz menopang dagunya matanya melihat kearah lain, Angga menatapnya menunggu lanjutan kalimatnya "Tapi, aku takut.


Tatapan pemuda dua puluh enam tahun itu menyendu, apa yang dia katakan adalah dari hatinya. Enam belas tahun ini dia menahan semuanya, dia merindukan keluarganya yang tersisa tapi pada akhirnya dia tidak berani.


Penyesalannya yang terbesar adalah kembali tidak tepat waktu, dia tau kondisinya dia tau keaadannya tapi dia tidak kembali. Saat ini hanya rasa penyesalan dan rasa takut ditolak yang dia rasakan, dia mendekat tapi tidak pernah berani mengaku.


Semenjak Ibunya meninggal enam belas tahun lalu, dia terpaksa mengikuti keluarga dari pihak Ibunya.


"Ibu sudah menderita tumor otak sejak aku berumur lima tahun, dan meninggal di saat aku berusia sepuluh tahun." ucapnya dengan nada sangat lirih "Hampir semua orang berfikir kalau adik perempuanku yang merebut nyawanya~" Lyz terkekeh pelan "Tapi sebaliknya, Adik perempuanku adalah alasan Ibuku bertahan, Ibu bahkan sudah di vonis dokter akan meninggal sebulan sebelum Ibu menyadari dirinya hamil."

__ADS_1


Angga diam dan terus mendengarkan, Lyz beberapa kali menjeda kalimatnya tapi tidak pernah menatap Angga. Memang tidak ada air mata saat dia bercerita, tapi dari raut wajahnya Angga tahu kalau sosok di depannya ini begitu terluka dan terpukul.


"Sehari setelah pemakaman Ibuku, kakekku datang dan menyumpahi adikku berfikir kalau dia membunuh putrinya~" dia sekali lagi menjeda kalimatnya "Setelahnya menarikku dengan paksa dari pelukan Ayah, memutus semua komunikasi dan akses untuk kami. Sampai aku tujuh belas tahun, aku tidak sengaja ketemu Azka yang mengikuti program pertukaran pelajar, dari sana aku tahu kabar Ayah tapi tidak berani bicara padanya."


"Karena itu Lily tidak tahu?" Tanya Angga, Lyz menganggukkan kepala.


"Kata Tante Naya, Ayah tidak memberitahu tentangku bukan karena lupa, Ayah hanya tidak ingin kehilangan kalau sampai berniat mencari tahu. Karenanya menyembunyikan informasi tentangku dan Ibu." dia melihat benda benda yang di atas meja, semua tentang dirinya dan sang ibu. "Tapi hanya dia keluargaku."


Angga menarik nafas memberanikan diri "Karena itu, kakak mengambil alih perusahaan kakek, kakak?"


Lyz terkekeh "Itu karena aku marah." Dia menatap Angga "Jadi apa alasan kamu ingin bicara denganku?"


Angga menunjuk informasi dan foto foto masa kecil Lyz, foto foto dan informasi yang ada dalam brankas Ayah Lily.


"Kakak ingin aku menyembunyikannya dari Lily juga? Tapi jujur saja, saya tidak berniat untuk itu." Angga mengambil diary yang berisikan perasaan sang Ibu untuk putra tercinta "Karena itu aku ingin mendengar keputusan kakak."


Lyz menatap kembali barang barang itu "Kalau aku bilang tidak?"


Lyz berdecih mendengar kata terakhir Angga, kalau saja dia bisa memutar waktu, dia akan mengambil adiknya. Angga terkekeh puas melihatnya, awalnya mereka hanya rekan kerja tapi siapa yang tahu? Dunia memang sempit.


"Jangan terlalu bangga, pernikahan kalian belum tercatat negara." dengus Lyz. Angga tetap terkekeh.


"Tapi sudah tercatat di depan Allah, aku hanya perlu menunggunya lulus dan membawanya kembali ke KUA." dia kembali tertawa puas sebelum berhenti "Jadi? Apa keputusannya?"


"Saat ini sembunyikan." kata Lyz "aku tidak berani mengaku pada Lily."


Angga tidak mengatakan apa apa lagi, dia hanya berdiri mengambil keranjang penyimpanan yang ada di sana. Angga memasukkan semua informasi yang berkaitan dengan Lyz untuk disimpan, sedangkan untuk informasi sang Ibu, Angga kembalikan ke brankas untuk dia berikan kepada Lily nanti.


"Aku sudah mendengar."


Lyz mendongak melihat Angga "Apa?"


"Terima kasih sudah menolong Lily kemarin." Angga menutup keranjang di depannya "Meski aku tidak tahu apa tujuan kakak ke sekolah Lily."

__ADS_1


"Apa lagi? Jalan jalan lah." jawab Lyz santai "Aku ingin melihat sekolah adikku, apa salahnya?"


"Tidak ada." Angga mengangkat keranjang itu untuk dia simpan "Apa tidak masalah kalau kakeknya Kakak tau soal Lily? Dengan kakak sering berada di sekitarnya... Siapapun bisa curiga."


Lyz sebenarnya sudah memikirkan tentang ini, meski begitu dia tidak terlalu khawatir. Selain kendali ada di tangannya, dia yakin remaja di depannya bisa diandalkan untuk menjaga Lily.


Lyz juga percaya diri untuk mengatakan kalau kakeknya tidak akan berani menyentuh Lily. Dia maupun Lily sangat mirip mendiang Ibu mereka, putri yang selalu dirindukan sang kakek.


"Dari pada itu, apa kamu bisa mengurus Rudi?" tanya Lyz, dia sengaja mengubah topik. Angga kembali dan duduk, dia menyandarkan lengannya di tangan sofa. "Anak itu benar benar kurang ajar!"


"Rudi?" Menyebut nama itu mengingatkan Angga pada Lily yang sekarang demam karena terbebani kejadian kemarin "Aku sudah mencari tau sedikit tentang dia."


Lyz mengangguk puas.


Angga "Kenapa kakak tidak membuatnya jera?"


"Siapa? Rudi?" Angga menganggukkan kepalanya "Aku ingin berurusan dengan orang tuanya, karenanya aku mau mengurusnya."


Pintu terbuka memperlihatkan Azka, pria itu tidak masuk tapi berhenti dan bersandar di pintu. Dia menatap mereka berdua dengan kening terangkat.


"Kenapa?" tanya Lyz.


Azka mengedikkan bahunya "Aku hanya bosan, mereka berdua terlalu berisik."


Lyz akhirnya keluar dari ruangan itu, Angga mengambil brankas dan ikut keluar juga. Dia berjalan ke kamar Lily, membuka pintu berusaha tidak menimbulkan suara meski itu mustahil.


Angga meletakkan brankas di atas meja belajar Lily, menulis sandi brankas dan menyelipkannya di bawah brankas agar tidak terbang dan menghilang.


Dia duduk di samping Lily, merapikan selimutnya yang sedikit berantakan. Angga menatap wajah Lily yang terlelap, tangannya terulur menyugar rambut Lily kebelakang memperlihatkan dahi Lily yang tidak lebar.


"Jangan menyerah padaku karena ucapan Sepupu pengecutmu." Angga berkata dengan sangat lirih.


Angga tidak dipilih oleh Juan kalau dia tidak pandai membaca situasi, melihat keadaan Lily dan beberapa kalimat gadis itu, membuat Angga sedikit khawatir.

__ADS_1


__ADS_2