Lily Untuk Angga

Lily Untuk Angga
Part 17


__ADS_3

Angga bergerak dengan gelisah di tempat duduknya, dia menunggu pesan dari Tio tentang keputusan sekolah.


"kamu kalau mau pipis ke kamar mandi, jangan menganggu dengan bergerak seperti cacing"


Angga menyengir begitu kena tegur, teman sekelasnya juga langsung tertawa.


"sana keluar!"


"ok Bu!!" Angga berdiri dan berjalan keluar kelas. Dia langsung berlari pelan begitu dia meninggalkan pintu kelas


"benar benar kebelet pasti" suara tawa teman sekelasnya kembali terdengar mendengar gurauan sang guru.


Angga yang izinnya ke wc berbelok menuju gedung kantor guru, saat sampai disana bersamaan dengan Lily dan Tio yang baru keluar dari ruang guru.


"Lily, Om Tio!" Angga berhenti di depan mereka, dia menatap Lily yang juga melihat kearahnya "bagaimana?"


"kenapa kakak disini?"


"Kakak khawatir, Li. Jadi bagaimana?" dia menatap tidak sabar, terlihat jelas dia gelisah.


"Karena nyonya korbannya, nyonya tidak mendapatkan sangsi berat, Nyonya hanya diminta membuat surat pernyataan karena biar bagaimanapun dia memukul teman sekelasnya"


Angga mengangguk lega "lalu yang lain?"


"mereka di drop-out, ini bukan kasus pertama mereka, banyak video yang di dapatkan pihak sekolah yang memperkuat hukuman mereka"


"sistem keamanan sekolah memang bagus, meski beberapa bisa lolos dengan mudah" keluh Angga dia menepuk lengan Lily "Lily kembali ke kelas gih"


Lily mengangguk dia mengucapkan terimah kasih terlebih dahulu sebelum pergi ke kelasnya. Angga juga melakukan hal yang sama karena dia hanya meminta izin ke kamar kecil sebelumnya, kalau terlalu lama dia bisa kena omel guru mata pelajaran yang ada di kelasnya.


Jam istirahat dia lagi lagi ke gedung kelas sepuluh hanya untuk memastikan kalau Lily baik baik saja. Di kelas Lily sibuk menulis surat pernyataan yang akan dia berikan pada pak Juan.


Angga mengangkat alisnya saat dia melihat Rosa yang bertampang jutek begitu dia masuk. Teman sekelas Lily yang kebetulan berada dalam kelas langsung kicep melihat Angga yang masuk kelas itu, dia menarik kursi ke samping Lily.


"sudah makan?" tanyanya dengan nada bisikan, dia mengambil kertas yang ditempati Lily menulis pernyataan, menoleh ke Lily karena tidak mendapat jawaban. "kenapa?"


Lily menggelengkan kepalanya dia mengeluarkan kertas yang diberikan Angga beberapa hari lalu, kertas pendaftaran klub untuk masuk ekskul persiapan OSN.


Angga menerimanya dan melihat nama Lily terpampang jelas di sana.


"kamu serius? Matematika?" Lily menganggukkan kepalanya "kamu yakin? Pembimbingnya pak Juan loh" tanya Angga sekali lagi


"dari dulu Lily suka matematika, jadi tidak masalah." jawab Lily

__ADS_1


Angga menatapnya kemudian mengangguk paham, dia sudah memeriksa nilai ujian masuk Lily dan nilai tertingginya memang matematika.


"oh benar disinikan?" Mereka menoleh di pintu Niel dan Hari menunjuk Angga "Heh monyet kalau mau keluyuran itu ngomong kek!" seru Niel sambil berjalan masuk menghampiri Angga


"gue ada urusan, kenapa?" tanya Angga


"nah, noh si Kenzo nyariin lo" ucap Hari menyebutkan nama ketua osis sekarang. Angga mengernyitkan keningnya "ngapain sih lo disini?"


"ngapain nyari gue?" dia berdiri, dia menoleh ke Lily "ini aku bawa ya!" ucapnya


Lily menganggukkan kepalanya


Angga berjalan ke arah dua temannya, mendorong punggung mereka


"kalau mau berisik jangan di kelas orang!" ucapnya


Setelah Angga keluar Lily berniat melanjutkan menulis tapi kembali mendongak karena suara Angga kembali terdengar padahal tadi sudah keluar


"di kelas ini ada yang niat mau masuk persiapan OSN tidak?" dia mengibaskan kertas yang dipegangnya "kalau ada nanti gue kasih formulirnya"


Rosa melihat Lily "Lo ikut?"


Lily menganggukkan kepalanya dan mengatakan kalau formulir yang dipegang Angga itu miliknya


"oh ok, nanti gue kasih formulirnya." kata Angga, sebenarnya formulir tidak penting hanya saja mereka butuh formalitas "ada lagi?"


Tidak ada yang menyaut ataupun angkat tangan jadi dia pamit pergi.


***


Mereka masuk ke ruang Osis langsung ke ruangan Kenzo, ketua osis baru terlihat memijat keningnya


Angga mengetuk daun pintu yang memang terbuka lebar, Kenzo mendongak dan mempersilahkan para senior masuk.


"kenapa lo nyari gue?" tanya Angga dia duduk di depan Kenzo.


Kenzo mengulurkan surat resmi dari SHS, keningnya terangkat.


"SHS meminta sekolah kita adu cerdas cermat" jelas Kenzo karena Angga hanya menatap surat itu


"hah? Kok bisa?" tanya Niel yang juga ikut masuk. 


"noh biangnya!" Kenzo menunjuk ke belakang mereka membuat mereka menoleh dan melihat Afkar yang santai menyesap kopi panas di tangannya "tanya dia"

__ADS_1


"kok lo bisa berurusan sama anak SHS?" Angga bertanya, Afkar berjalan mendekat dan duduk di sofa


"gak sengaja." jawabnya enteng. "Kemarin kelas gue sama kelas IPA 1 nongkrong bareng, anak SHS tiba tiba datang ngacau, ya kira jabanin"


Angga menghela nafas, dia juga mungkin akan melakukan hal yang sama, anak SHS dikenal banyak preman meski mereka sekolah elit.


"terus?" Angga kembali ke Kenzo yang menatapnya


"kakak mau tidak berpartisipasi? Mereka akan memakai kelas 3nya mereka" tanya Kenzo, Angga menyandarkan punggungnya dan menggeleng kepalanya "senior.." keluhnya


"gue banyak tugas malas banget sama adu cerdas cermat sama SHS yang liciknya tidak ketulungan.'' dia menghela nafas "lagian yang berseteru dengan mereka kelas 11 IPA IPS 1, unggulan ada di dua kelas itu kalian tidak membutuhkan senior menyelesaikan masalah kalian."


"anak kelas gue belum tahu ini" ucap Afkar dia melirik surat dari SHS sambil mendengus "mereka kurang kerjaan apa bagaimana sih?"


"kalau lo tidak jabanin tidak bakal begini bambang!!" sahut Niel, Afkar mengedikkan bahunya


"ya kalau mereka tidak mulai mana mau gue buat masalah." kata Afkar "ah lo tau gak, selebgram dari SHS itu? Apa hubungannya dengan Kennan ya?"


"tumben ada yang lo gak tahu" Hari menguap karena memang hawa di ruangan itu sejuk, enak buat tidur.


"gue gak cari tahu"


"Keana maksud lo?" tanya Kenzo


"itu kali, Kennan sampai marah hari itu." ucap Afkar "lo tau"


"Keana sepupu gue" jawab Kenzo membuka file sementara Afkar melongo tidak percaya


"Eh An.jir serius lo." Kenzo menganggukkan kepalanya dia melihat kearah Angga yang memejamkan matanya.


"Senior, lo serius gak mau ikut? Lo kan anggota OSN."


Angga menggelengkan kepalanya, "Gue banyak urusan."


Meski merasa kecewa Kenzo tetap memaklumi karena dia juga sudah mendengar kalau seniornya itu harus bekerja menggantikan Ayahnya yang baru saja berpulang.


"Saran gue, Kennan, Hanin, Aryan. Kalian pakai tiga anak itu! Antisipasi saja, tau sendiri SHS bagaimana" Angga berdiri berjalan ke dekat jendela, dia melihat pemandangan keluar


Dia ingin cepat cepat pulang ke rumah, sayang saat pulang nanti dia harus langsung bekerja.


"Bilang saja lo kapok karena pernah di curangin." sahut Niel dia menyusul Angga berdiri, Angga mendelik ke arahnya dan karena takut dimarahi Niel mengubah topik "Anak basket serius banget, padahal cuman latih tanding"


"Memang harus begitu kan?"

__ADS_1


*****


__ADS_2