Lily Untuk Angga

Lily Untuk Angga
Part 39


__ADS_3

"Jadi, apa yang kau punya sampai berani menikahi anak saya?"


Deg


Angga dan Lily menelan ludah bersamaan, kapan mereka mengatakannya?


"APA?" tiga pemuda yang duduk di depan Angga langsung berdiri.


"Pa!" Afiq dan Atar berseru bersamaan, mereka menatap Ayah mereka meminta penjelasan.


Pria dewasa itu menatap Angga yang diam. Angga kaget begitu leher jaketnya di tarik oleh Afiq.


"woi ban*sat! Apa yang lo lakuin ke adek gue?"


"Kak Afiq!" Lily berdiri hendak mendekat, tapi langkahnya berhenti mendengar suara berat Azka.


"Yana duduk!"


"Ah saya cuman menebaknya" pria tua itu tertawa, semua melihat ke arahnya.


Afiq yang mendengarnya hanya bisa menganga, sejak kapan ayahnya suka bercanda? Dia melepaskan tangannya dari kerah Angga.


Lily menghela nafas lega. Angga duduk kembali, dia memperbaiki posisi jaketnya.


"Om tidak salah menebak" ucap Angga.


"APA?" Empat pria itu berseru.


Angga menarik nafas, dia menatap lurus ke arah mereka. Lily yang duduk langsung menunduk.


"Saya dan Lily memang sudah menikah secara siri, karena kami masih sekolah"


Kembali kerah Angga ditarik, tapi kali ini Azka yang melakukannya. Wajahnya memerah marah.


Bagi Azka, Lily benar benar keajaiban dan kebahagiaan di keluarganya. Saat Atar yang awalnya di prediksi perempuan, tapi malah terlahir cowok membuatnya sebagai kakak pertama kecewa.


Kedatangan Lily yang seperti adik kandungnya itu, menghilangkan kekecewaan yang melekat padanya pun dengan Afiq. Lily sudah jadi adik kesayangan mereka, mereka akan mengabulkan apapun yang diinginkan Lily meskipun gadis itu tidak mengatakan apa apa.


Sedangkan untuk Atar, Lily adalah tameng untuknya. Selama dia selalu ada di sekitar gadis itu, dia akan aman dari omelan orang tua dan kakak kakaknya.


Atar menghela nafas panjang, dia berdiri dan menarik Lily. Dia merangkul gadis itu "Yok cari makan diluar"


"Tap-"


"Sudah, ayo!" dia menyeret Lily, tapi begitu sampai di ambang pintu dia menoleh kan kepalanya.


Sebagai anak laki laki bungsu di rumah, dia cukup pandai membaca situasi.


Lily yang di tarik keluar tidak bisa melakukan apapun, dia menggigit bibir bawahnya cemas. Ini yang Ayahnya minta pada Angga, tapi kenapa malah Angga yang terlihat seperti seorang pencuri?


"Jangan khawatir, SUAMI kamu tidak akan dibunuh" ucap Atar menekankan kata suami. Dia berkata demikian karena melihat kekhawatiran Lily.

__ADS_1


Lily mendengus tapi tetap mengikuti Atar "Tau begini, aku tidak akan mengajak kak Angga ke sini."


"Berusaha menyembunyikan selamanya?" Atar berhenti, dia menatap Lily serius. "Lily, kamu tahu itu tidak bisa kan? Bagainana bisa kamu melakukannya? Kamu masih harus bebas Na. Kamu terlalu kecil untuk it-"


"Dan kalian pikir kak Angga mau?"


"Apa?" Bingung Atar. Lily mengangkat wajahnya menatap Atar


"Kamu tahu kapan kami menikah? Itu di hari Ayah meninggal" Ucap Lily "Yang merenggut kebebasan itu Aku, Tar."


"Tetap saja, di-"


"Pacar kak Angga itu cantik sekali, dia juga terlihat dewasa dan anggun" beritahu Lily, dia kembali menatap Atar yang hanya diam "Tapi Kak Angga mutusin karena milih menjaga pernikahan kami"


"Sudah seharusnya kan?"


Lily tersenyum "Mungkin, tapi jika itu orang lain, belum tentu mereka melakukannya." Dia menatap lurus ke jalan "Aku benar benar merasa bersalah mereka. Kak Angga menjagaku dengan sangat baik."


"Jauh lebih baik dari kami?" tanya Atar, Lily terkekeh


"Aku tidak tahu. Kalian tidak bisa dibandingkan dengan orang yang baru beberapa bulan bersamaku. Tapi yang pasti, selama beberapa bulan ini, dia sangat baik."


Atar menghela nafas panjang sebelum berbicara dengan lirih "Apa dia bisa menjagamu dari keluarga Rudi?"


"Aku tidak tahu." Lily terkekeh "Aku belum pernah melihat mereka bertemu."


"Tapi kamu tahukan... Rudi sangat kasar. Terlebih setelah dia mendapat sabuk hitam. Dan dari yang kudengar... Dia punya geng sekarang."


"Oh, ceweknya Angga!" Mereka berdua menoleh dan mendapati cowok dan cewek yang bergandengan tangan.


"Kak Aryan" sapa Lily, dia melihat ke samping Aryan. Dia pernah melihat perempuan itu, tapi di mana? Tapi yang jelas kakak kelasnya. "Sore kak"


"Lo kenal Yan?" cewek itu mengangguk sambil tersenyum lebar ke arah Lily


"Taulah, dia cewek kak Angga plus adek kelas." jawab Aryan "Tapi ngapain lo disini?" Aryan kembali melihat Lily, dia mengkerutkan keningnya melihat Atar.


"Cari makan" Atar yang menjawab, Aryan hanya meliriknya sekilas. Lily mengangguk mengiyakan ucapan Atar.


"Oh" Hanya itu tanggapan Aryan. Dia kemudian berbalik dan bersiap pergi.


"Kak Aryan!" panggil Lily tiba tiba, Aryan menolehkan kepalanya "S..saya boleh tanya?"


"Apa?"


Lily menggigit bibir bawahnya "Kak Angga... Apa dia bisa berkelahi?"


Aryan kembali menghadapnya, alisnya terangkat sebelah "Yang pastinya, orang di sampingmu bukanlah apa apa untuk Angga"


"Eh?" Lily dan Atar saling menatap. Kenapa Atar? Atar memang tidak terlalu bisa berkelahi.


"Bukan dia, dia kakak saya" ucap Lily menunjuk Atar.

__ADS_1


Aryan menghela nafas "Angga bisa berkelahi, sebagai mantan ketua osis dia berkewajiban untuk bisa berkelahi. Setidaknya ada beberapa geng abal abal yang dia bubarkan seorang diri selama masa jabatannya."


Lily berjongkok, entah kenapa dia merasa lega mendengarnya.


"Jangan mengkhawatirkan Angga. Lo mungkin tidak tahu, Angga bersama mantan anggota osis lainnya, mereka sedikit gila." ucapnya "Meski tim Afkar jauh lebih gila."


"K..kalau begitu osis sekarang?"


Aryan menyeringai "Seperti yang ada di kepala lo. Sudah ah, gue mau kencan. Titip salam buat Angga" Dia melambai ke arah Lily sambil menggandeng pacarnya pergi.


*


Angga sudah duduk dengan tenang, pakaiannya sudah tidak di tarik siapapun. Meski pun begitu, punggungnya berkeringat karena gugup.


Angga tidak pernah segugup ini, bahkan saat penentuan osis dulu dia sama sekali tidak merasakan apa apa.


Sambil menautkan tangannya, Angga dengan tenang mulai bercerita. Matanya terlihat hampa, meski masih menyakitkan saat mengingat hari itu, Angga tetap tenang.


Naya yang sejak tadi diam, dia mendekati Angga menepuk tangannya yang saling bertautan. Dia bisa merasakan, remaja di depannya tengah menahan diri.


Melihat kepala Angga yang semakin tertunduk tanpa sadar, Naya menariknya ke pelukannya menepuk punggungnya.


"Jangan lanjutkan." ucap Naya.


"Terimah kasih, tante" Angga melepaskan dirinya, dia tersenyum kecil. Naya tahu itu bukan senyum dari dalam hatinya.


Naya bisa melihat, betapa kuatnya remaja di depannya ini. Matanya menyendu, tapi tidak ada tanda tanda air mata akan jatuh.


"Saya punya satu permintaan" Angga menatap lurus ke mereka "Tolong, jangan mengungkit kematian Ayahnya. Lily sudah terlalu banyak menangis. Saya akan menjelaskan semuanya, tapi tolong, jangan tanyakan apapun padanya." lirihnya.


"Tetap saja gue gak bisa maafin lo, dia adek gue" seru Afiq. "Akhh.... Ngapain coba ayahnya pake jodoh jodohin Yana? Diakan masih kecil."


Angga menatapnya sebelum berkata "Dia memakai seragam sekolah datang kesini untuk memperlihatkan kalau dia sudah besar. Dia anak yang jauh lebih dewasa, meski bertubuh anak anak."


Angga memang tidak pernah menyangkal, dia juga kadang menganggap Lily anak kecil. Tapi, Lily cukup dewasa saat di ajak bicara.


Pria tua itu hanya bisa menghela nafas, dia tidak habis pikir apa yang ada di kepala teman lamanya itu. Lily masih sangat kecil, setidaknya di mata mereka.


"Apa kamu berencana berpisah dengannya?"


"Tidak!" Angga menjawab dengan sangat tegas.


"Apa kamu mencintai Yana?" Afiq bertanya, Angga diam "Kalau tidak lepaskan adikku"


"Saya belum mengerti apa itu mencintai seseorang, tapi saya menyukai Lily." Angga menjawab jujur "Saya tidak punya keberanian mengatakan cinta, saya juga tidak tahu apa yang dipikirkan Lily"


"Kalau begitu lepaskan dia, ban*sat!"


Angga menatap lurus, tepat ke mata Afiq. Afiq yang ditatap merasa tidak nyaman, pandangan Angga bukan tatapan anak remaja labil.


"Kami tidak sedang pacaran. Hubungan kami sakral." ucap Angga "Saya tidak akan melepaskan Lily, sampai dia memintanya sendiri. Jangan mengatakan hal konyol."

__ADS_1


"Sudah sudah!" Naya berseru, dia menatap pria pria posesif di depannya. "Mama tahu kalian sayang sama Yana, tapi ini keputusan mereka. Meminta seseorang mengakhiri pernikahan, Afiq Mama tidak pernah mengajarkan kamu ini. Dan Papa! Berhentilah, ini bukan sesuatu yang harus kalian menyudutkan anak ini" Dia menepuk bahu Angga "Dia dan Yana berada di posisi yang sama. Jangan melimpahkannya pada Nak Angga. Kenapa kalian konyol sekali."


__ADS_2