
Lily kembali menghampiri Angga yang sekarang terlibat obrolan dengan pak Juan, karena tidak ingin mengganggu dia menunggu tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Bagaimana soal tadi?" Lily hampir saja jatuh ke belakang karena Kennan tiba tiba berdiri di sampingnya, beruntung Kennan punya reflek yang bagus.
"Kak Kennan?"
Kennan "___"
Lily menggaruk keningnya "Sangat sulit, tapi saya menjawab semuanya."
"Tidak masalah jawabanmu salah." Kennan merogoh saku celananya dan mengeluarkan lembar soal "Ini! Gue sudah mengerjakan jawabannya, pak Juan juga memastikan jawabannya benar semua. Kamu bisa membandingkan dengan jawabanmu."
Mata Lily membulat, benar semua? Lalu kenapa bukan Kennan saja yang ikut olimpiade?
"Olimpiade terlalu merepotkan!" ucap Kennan seolah membaca pikiran Lily.
Lily hanya bisa tersenyum malu, dia tidak menyangka Kennan akan mengetahui apa yang dia pikirkan. Dengan tangan yang sedikit gemetar dia mengambil lembar soal di tangan Kennan, dia gugup sekali sekarang.
Melihat kertas itu sama saja melihat bagaimana nilainya nanti, melihat itu pasti dia akan tahu berapa salahnya. Dia mengambilnya tapi tidak membukanya, lebih baik melihatnya di rumah.
"Saya akan lihat di rumah, boleh?"
Kennan melihat ke samping dan mengatakan kalau itu terserah Lily, gadis kecil itu mengkerutkan keningnya, sepertinya ada yang salah dengan seniornya ini.
Kennan memang terkesan jarang bicara, tapi hari ini dia lebih dingin dari biasanya. Ada kesuraman di wajahnya, bukan hanya suram tetapi juga terlihat sangat cemas.
"Kenapa tidak menemui kakak kalau bicaranya sudah selesai?" tanya Angga yang berjalan ke arah mereka, dia melihat kertas di tangan Lily "Kunci jawaban yang dibikin Kennan?"
"Iya." jawab Lily tersenyum, dia mendongak menatap Angga sudah berdiri di depannya "Sudah selesai bicara dengan pak Juan?"
Apa Angga bertambah tinggi lagi?
"Sudah." dia juga melihat Kennan yang sudah melihat ke arah lain. "Nan, lo seriusan gabung di OSIS?"
Kennan mengangguk "Dipaksa."
Angga mengambil kertas yang ada di tangan Lily, memang beberapa bulan belakangan ini Kenzo berkeras memasukkan Kennan ke OSIS. Dia melirik adik kelasnya itu lagi, yang dia tahu Kenzo menginginkan kemampuan Kennan.
Kennan bagus dalam komputer, tapi sepertinya bukan itu saja yang diinginkan Kenzo. Dari yang di katakan Aryan, daya ingat Kennan tidak bisa dianggap remeh, dia bisa mengenali seseorang bahkan saat tidak memperhatikan orang itu.
Bisa dibilang, Kennan tidak gampang lupa sama orang yang pernah dia temui.
"Ya sudah senior, gue duluan!" Kennan mengangguk ke arah Lily dan berlalu begitu saja.
Lily memegang lengan Angga "Kak Kennan kenapa ya, Kak? Kayak gak semangat begitu."
__ADS_1
"Oh itu!" dia melihat jawaban Kennan di kertas, kalau dia pasti masih ada yang salah jawab "Hari ini katanya, ceweknya balik Jepang!"
"Hah?" Lily melepaskan tangannya dari lengan Angga "Kak Hana balik Jepang!" dia melihat ke arah Kennan menghilang "Pantesan."
Angga mengangkat sebelah alisnya mendengar ucapan Lily. "Kamu gitu ngak kalau Kakak ngak ada?"
Lily tidak menjawab dan hanya menatap Angga, berlahan dia memalingkan wajahnya "Ngak!"
Angga tertawa terbahak, rasanya dia ingin meremas wajah Lily yang sekarang memerah. Tapi Angga harus menahan diri dulu, mereka berdua masih di lingkungan sekolah dan banyak siswa di sekitar mereka.
Dia berdehem untuk meredakan tawanya, kasihan juga melihat Lily yang terus memerah. Angga menepuk nepuk kepala Lily dan berkata
"Kamu ke kelas gih, kakak mau langsung ke kantor."
Lily hanya menganggukkan kepalanya, dia mendongak menatap Angga saat teringat sesuatu "Kakak kapan ngampusnya? Kok lama?"
"Minggu depan." Angga menghela nafas panjang, dia sama sekali tidak berniat hadir untuk Ospek MaBa. "Kamu fokus belajarnya, kakak akan pulang akhir pekan nanti."
***
Lily masuk ke dalam kelas barunya, dia sekarang resmi menjadi kelas sebelas. Seperti yang dia harapkan semenjak kelas sepuluh, dia benar benar di kelas unggulan, IPA 1.
Anak perwalian pak Juan!
Dia dengan cepat menuju bangkunya, tadi Nurul sudah menyimpan tempat untuknya dan Rosa yang melakukan olimpiade.
"Lama banget, Li! Noh si Oca sudah datang dari tadi." Seru Nurul menunjuk Rosa yang ke asikan menyesap teh kotak. "Habis ketemuan ya lo!"
Lily hanya tersenyum, dia melepas tas dari punggungnya dan menyimpannya di meja. Dia dengan sangat lembut duduk di bangkunya.
"Beneran?"
"Gue sudah bilang!" Rosa meletakkan tehnya di meja Lily "Bagaimana soal tadi? Susah?"
"Iya, aku tidak yakin dengan beberapa jawabanku." Lily mengambil kertas dari tasnya dan menyerahkannya ke Rosa. "Itu jawaban kak Kennan dan di jamin jawabannya benar. Kata kak Angga, kak Kennan ngerjainnya saat kita dalam ruangan."
Rosa menerima kertas itu takjub, dia suka lelaki cerdas. "Kalau kak Kennan memang sepintar ini, kenapa bukan dia saja yang ikut?"
"Katanya itu merepotkan!" Lily menggeleng tidak habis pikir. "Dia bisa mendapat banyak peluang padahal."
"Orang jenius memang kadang rada rada aneh." Timpal Nurul, dia melompat dan duduk ke meja Lily "Katanya ada murid pindahan di kelas sebelah. Kalau gak salah namanya Ataka? Atasya? Atau Hata ya? Apa Atta Aur-"
"Atarasya" Lily membenarkan
"Nah yang i-eh?" Nurul melihat Lily kaget "Lo Kenal?"
__ADS_1
Lily "___"
"Wah parah nih anak!" dia menunjuk Lily dramatis "Kok lo bisa tahu?"
"Dia yang katanya kakak lo itu?" tanya Rosa, dia ingat pembicaraan mereka sebelum libur. "Ngapain dia pindah ke sini?"
"Iya, itu dia." jawab Lily, dia bertopang dagu dan tidak menjawab pertanyaan Rosa yang lainnya.
Dia tahu kalau Atar pindah karena perihal tentang dia, tentang kejadian Rudi saat itu. Kejadian saat itu benar benar membuatnya down, wajar saja kalau mereka khawatir.
"Yang mana? Kakak yang di maksud Farel?" Lily menganggukkan kepalanya "Kakak kali ini beneran kakak kan? Bukan kakak kakak kan kayak Angga?"
"Saudara satu susu! "Jawab Lily "Dia sempat ikut pertandingan basket persahabatan beberapa bulan lalu."
"Eh? Masa sih? Yang mana?"
"Aku lupa nomor punggungnya, tapi tingginya hampir sama dengan Kak Zain, putih, matanya agak sipit dan rambutnya ikal hitam." jelas Lily yang sedikit berfikir cara menjelaskan, dia sedikit sulit mendiskripsikan orang.
"Tinggi dong! Kak Zain kan tingginya kebangetan." seru Nurul dan Rosa mengangguk setuju. "Ganteng gak?"
Lily memiringkan kepalanya, keningnya mengkerut berfikir keras "Ngak tahu. Aku terbiasa sama mukanya jadi gak tahu."
"Yang namanya Lilyana ada yang nyariin."
Mereka bertiga menoleh ke asal suara, Lily melihat ke ambang pintu dan melihat Atar di sana. Cowok itu mengangkat sebelah alisnya dan memberi isyarat agar dia keluar, Lily menggelengkan kepalanya menolak.
"Apa dia orangnya?" tanya Nurul, Lily mengiyakannya. "Cakep Li!"
Lily menatapnya lekat lekat, dia terbiasa dan sudah melihat Atar dari lahir. Dia sama sekali tidak menemukan letak 'Cakep' Atar, dia tidak tahu ada dimana itu.
Terlihat Atar bicara sebentar dengan orang yang memanggil Lily tadi, setelahnya dia melangkah masuk dan mendekati Lily.
"Apa?"
Atar melihat dengan seksama gadis yang katanya adiknya itu, dia baru saja mendapat kabar dan langsung ke kelas Lily. Lily mengkerutkan keningnya heran
"Kenapa?"
Atar menghela nafas panjang, dia memicing ke Lily "Tadi Cindy nemuin kamu?" Lily menganggukkan kepalanya "Kenapa kamu tidak bilang?"
"Karena tidak ada apa apa." Lily menatap Atar serius "Kami hanya bicara sebentar, dia minta maaf."
"Cindy tidak mu- Hei aku belum selesai!" Atar berseru karena Lily menyeretnya keluar.
Tidak etis membicarakannya di depan umum!
__ADS_1
"Kita bicaranya di luar!"