
Lily dan Farhan tengah bermain balok susun sedangkan Angga membaca buku di tangannya, mereka bertiga berkumpul di ruang tamu, ruangan yang paling besar di rumah itu.
"Sekarang atapnya!" Lily menunjuk balok segitiga berwarna hijau, Farhan mengambilnya dan menumpuknya di atas bangunan yang mereka bangun.
"Yeeyy..." Farhan bertepuk tangan, bangunannya sudah selesai.
Angga menutup bukunya dan bergabung, mainan balok itu dibelikan oleh Angga untuk Farhan saat mereka jalan jalan hari itu. Sebenarnya bukan hanya permainan balok, ada mainan yang lainnya.
Angga melirik ke atas meja, di sana sebuah rumah barbie yang cantik bernuansa merah muda. Tebak siapa yang punya! Yap itu punya Lily, dia benar benar membelinya untuk bermain.
Angga mencolek pinggang Lily "Apa sih Kak?"
"Itu kamu tidak mainin? Bereskan saja ya" Angga menunjuk ke meja dengan dagu, Lily meliriknya tidak suka dan tidak terima. "Hahaha... Bercanda cantik!"
Angga hanya diam saja, dia merasa ditinggalkan karena Lily hanya bermain dengan serius dengan Farhan. Dari sini, meski tubuh mereka membedakan usia, tapi melihat tingkah mereka Angga yakin jiwa Lily masih tiga tahun.
Angga naik kembali ke sofa, tangannya mengambil salah satu barbie di atas meja. Dia menatap mainan itu bolak balik, apa yang menarik dari gadis berambut blonde di tangannya? Dia tidak paham sama sekali.
"Rambutnya jangan di tarik, nanti rontok!" Lily berseru sambil berdiri berjalan ke arah Angga, dia mengambil bonekanya untuk memeriksa "Tuh kan ada yang rontok!"
Angga bersandar menatap Lily "Berarti kualitasnya kurang bagus."
Lily cemberut menutup rumah barbienya "Ini bagus, kakak saja yang main narik rambutnya." dia mendengus "Coba kakak yang di rambutnya pasti sakitkan?"
Angga melongo mendengarnya, tapi itu hanya mainan kan?
Dia melirik lagi ke rumah beserta mainan merah muda itu, sepertinya menuruti membeli mereka adalah pilihan salah. Angga membeli mainan itu karena melihat bagaimana mata Lily begitu berbinar, tapi siapa yang tahu kalau itu akan merampas perhatian Lily.
"Kakak Ibu, Aku mo main itu!" Farhan menunjuk mainan Lily, senyum Lily merekah. Baru akan menjawab, Angga mengangkat Farhan menjauh "Kakak bos?"
Angga menurunkan Farhan di tengah ruang tamu "Itu mainan cewek, kamu tidak boleh main itu." Angga mengambil bola, memantulkannya di lantai "Main bola saja ya."
Farhan menatap Lily yang cemberut, dia ingin bermain dengan Lily. Dia melihat Angga yang masih memantulkan mainan basket itu, dia juga mau main itu!
Farhan menghela nafas bingung.
"Sudah malam, Kak! Kasian kalau nanti Farhan harus ganti baju karena berkeringat. " Seru Lily
Angga menyipitkan mata ke arahnya, dia bisa dengan jelas melihat visi Lily mengatakan itu. Dia tau kalau Lily mau menarik Farhan untuk bermain barbie dengannya, tentu saja Angga tidak setuju.
Pada akhirnya Farhan memilih bermain dengan Angga, Lily memilih duduk di sofa menonton mereka berdua. Dia akan sesekali berseru saat Farhan berhasil memasukkan di ring mainan, keringatnya berkucur di dahinya tapi senyumnya tidak pernah hilang dari bibirnya.
Lily menopang dagunya dengan senyum merekah, melihat pemandangan di depannya mengingatkannya pada sang Ayah. Dia sangat ingat, saat masih sangat kecil selelah apapun Ayahnya, pasti akan tetap selalu meluangkan waktunya bermain dengan Lily.
"Hei.. Kenapa melamun?"
__ADS_1
Lily tersentak begitu Angga mengelus pipinya dengan telapak tangannya, Dia menatap Angga sebentar lalu ke belakang cowok itu.
"Farhan mana?"
"Lari ke dapur, haus kayaknya dia." Angga menghapus keringat di dahinya. Dia tidak menyangka bermain dengan anak anak lumayan menguras tenaga "Capek."
Angga menghempaskan dirinya di samping Lily, gadis itu tertawa tapi dengan sigap mengambil tisu di meja. Dia membantu Angga menghapus keringatnya, dia juga mengambil bantal sofa untuk mengipas Angga.
Angga mengambil bantalnya, dia bersandar di bahu Lily. "Sebenarnya kakak lumayan gugup!"
"Pengumuman besok?" Angga menganggukkan kepalanya "Kakak sudah melakukan yang terbaik, jadi jangan cemas."
"Benar juga." dia mengubah duduknya menghadap Lily "Besok kira kira om sama tante bisa hadir gak ya?"
Lily memang menghubungi orang tua angkatnya untuk datang mewakili Angga, meski hanya orang tua angkat, Lily tidak ingin Angga benar benar merasa sedih meski perasaan itu tidak mungkin tidak ada.
Dia merasakan kalau Angga menenggelamkan wajahnya di bahunya, mengeratkan pelukan di pinggangnya. Meski tidak mengatakan apa apa, Lily tau pasti Angga memikirkan orang tuanya.
"Kakak bos, ayo lagi."
Angga melepaskan dirinya dari Lily, dia terkekeh dan dengan cepat mengangkat anak itu menjauh. Lily meski hanya sekilas saja, dia bisa melihat mata Angga yang memerah dan sedikit berkaca.
"Oh tidak! Aku kalah lagi!"
Lily terkekeh bersamaan dengan Farhan melihat Angga yang dramatis, sangking dramatinya cowok itu sampai berguling guling di lantai.
Angga tertawa sambil berusaha bangun, tapi saat Farhan pura pura menembaknya, Angga kembali menjatuhkan dirinya.
"Uakhh... Aku bangun lagi." Angga bangun dengan cepat "Aku akan memakan tuan putri."
"Tidak tidak!" Farhan menjerit sambil berlari sekuat yang dia bisa ke arah Lily "Kakak Ibu lalii!" serunya
Lily yang tidak menyangka akan diikut sertakan mau tidak mau berdiri, dia hanya mengikut kemana lelaki kecil itu akan membawanya ke tempat yang tersembunyi.
"Dimana mereka, aku lapar!"
Angga berpura pura mencari mereka, padahal dia melihat mereka di balik sofa. Farhan memberi isyarat agar Lily diam, dia menempatkan tangan kecilnya di depan bibirnya.
Lily yang melihat wajah serius si bocah hanya mengangguk, wajah memerah penuh keringat di wajahnya, rasanya Lily ingin mencubit Farhan.
"Ini!" Lily menunduk melihat tangan Farhan yang kosong "Senjata!"
"Oh, oke!" Lily mengambil senjata imajinasi Farhan "Apa yang harus kita lakukan kapten?" Dia juga pura pura serius.
"Selaaaaaaaang!" Farhan berseru sambil berlari keluar dari persembunyiannya "Dol dol dol... Putli selang!
__ADS_1
Lily yang sudah membentuk tangannya layaknya pistol menganggukkan kepalanya "Menyerahlah monster!"
"Oh tidak bisa!" Angga berlari ke arah membuat dua orang besar dan kecil itu histeris dan berlarian di ruang tamu itu. "Aku akan memakan putri dulu."
"Tidak!" Farhan berdiri di depan Lily "Putli sembunyi!" dia mengarahkan tangannya ke Angga "Dol dol dol dol"
"Akhh... Tidak!" Angga kembali menjatuhkan dirinya, dia mengulurkan tangannya ke depan secara dramatis sebelum menjatuhkannya.
"Yey menang!!" Lily dan Farhan berseru sambil tos tangan.
"Aku tidak akan kalah semudah itu!" Angga kembali berdiri seolah kepayahan karena habis tertembak oleh mereka. "A..aku akan menangkap kalian!"
Keduanya menjerit kembali tapi sambil tertawa, Angga mengejar mereka. Dia menangkap Farhan lebih dulu membawanya ke gendongannya
"Tolong! Tolong! Tolong!"
Lily yang tadinya pura pura lari, melihat tatapan Angga yang penuh kejahilan membuatnya benar benar lari.
"Hahahaha.... Kejal tuan Putli!!"
Dalam hati mengeluh, bagaimana anak kecil itu pindah haluan dengan sangat cepat? Angga terkekeh saat berhasil memojokkannya, dia menyeringai kearahnya.
"Kak Angga!" serunya.
Angga melingkarkan tangannya di pinggang Lily, masih dengan Farhan dalam gendongannya.
"Anda tertangkap Putri!" ucap Angga, Farhan bertepuk tangan kecil.
"Little traitor (#1)" Lily mendengus melihat kegirangan Farhan. Angga tertawa sebelum mencium pipi Farhan yang masih berkeringat. "Aku menyerah."
"Lalu apa hadiahku?" Angga menaikturunkan alisnya "Kan aku menang, ya kan Han?" Dia meminta persetujuan anak kecil itu.
"Ya!"
Lily mengangkat alisnya "Kakak mau boneka barbie?"
"Kalau kamu siap melihat mereka botak besok, aku akan menerimanya." jawab Angga, Lily mencubit pinggangnya. "Mana hadiahnya?"
"Kakak mau apa?" Angga menyeringai sebelum menunjuk pipinya. "Tidak mau."
"Ya sudah, semalaman kita begini." Angga menarik Lily mendekat "Bagaima-"
"GA! KAMI DAT...ang!"
Lily dan Angga sama sama menoleh ke pintu yang di buka tiba tiba, diambang pintu mereka bisa melihat empat cowok berdiri dengan ekspresi berbeda beda.
__ADS_1
"Yo, selamat datang!"