
Angga berjongkok di taman sambil mengacak rambutnya yang cepak, karena aturan saat menjadi Maba adalah berambut cepak jadi dia memotongnya. Rencananya untuk menjadi mahasiswa biasa saja, sepertinya akan sulit dia lakukan.
Apa dia ancam saja ya orang orang tadi? Dia bisa meminta mereka untuk tutup mulut, tentunya dengan sedikit ancaman.
"Jangan b*go!" Angga makin mengacak rambutnya.
Bukankah dia akan makin terlihat seperti preman? Tapi kan preman harus di selesaikan dengan cara preman juga, Angga menggelengkan kepalanya.
Dia bukan baj*ngan!
Lalu apa yang harus dia lakukan? Dia benar benar tidak bisa melihat pembullyan, dia selalu teringat anak anak korban bully.
Tidak ada yang bagus soal pembullyan! Dari pembullyan bisa menciptakan pembullyan juga, anak anak yang terbiasa dibully akan tanpa sadar memperlakukan orang lain sebagaimana dia diperlakukan. Mereka yang selalu terbully tanpa sebab, akan merasa kalau semua itu hal normal dan dilakukan semua orang.
Karena itu, Angga sangat benci dengan mereka!
Meski tidak bisa memutus rantainya, Angga tetap akan mencoba menghentikan setidaknya satu atau dua. Karena itu melihat kejadian tadi, dia benar benar tidak bisa diam begitu saja.
Tanpa Angga ketahui, Indra dan Bakti-Senior yang tadi (Dia juga wakil Indra) mengikutinya dari belakang. Mereka berdiri memperhatikan Angga yang tampak frustasi sendiri, benar benar konyol.
"Lihat baji*gan ini!" Mereka melihat seseorang mendekati Angga, dia menyenggolnya dengan lutut.
"Jrak, kalau lo gak diem, gue pukul kepala lo."
Indra dan Bakti hanya memperhatikan mereka, mereka dengan jelas melihat Angga tapi kenapa tidak memukul orang yang menyenggolnya. Dan orang itu bukannya takut, dia malah terbahak seolah sudah biasa.
"Mereka sepertinya teman," komentar Bakti, Indra mengangguk setuju. "Anak itu itu dari SMA mana?"
"Ya lo bertanya dengan orang tepat," cibir Indra "Ya mana gue tau lah."
Angga berdiri dan menatap Ezra "Lo tadi ngeliat ya?" dia tertawa tapi tidak menyangkal "Eh Ban*ke! Kenapa lo diam kalo lihat gue!"
Ezra yang melihat Angga kesal dengan cepat menjaga jarak, dia tidak mau kena tendangan gratis. Angga memicingkan mata ke arahnya, tapi lagi lagi Ezra hanya tertawa.
"Sudah lama soalnya tidak melihat lo kayak tadi!" Dia bertepuk tangan mengejek "Seperti yang diharapkan dari Angga Erlan-akhh..."
Angga mendorong pinggangnya dengan kaki, dia mendengus kesal.
"Eh ban*ke! Ini baju gue kotor!"
"Apa gue peduli" ucapnya mengejek,Ezra balas melakukan hal yang sama "Woi!"
Ezra menepuk nepuk pakaiannya yang kotor "Gue itu gak punya emak buat nyuciin baju, Ban*ke!"
"Lo pikir gue punya?"
"Lah iya ya, lo sama gue kan gak ada emak!" Mereka berdua saling melihat dan langsung tertawa.
Indra dan Bakti yang tadinya ingin memisahkan mereka, menghentikan langkah.
__ADS_1
Meski melihat keduanya tertawa, tapi siapapun yang melihat akan tahu, 'Mereka tidak benar benar tertawa'. Indra menatap Angga dan Ezra, entah kenapa dia merasa mereka semakin menarik.
"Lo kenapa belum balik?" tanya Angga tersadar, biasanya Ezra selalu pulang lebih dulu.
"Gue?" Angga menunjuk dirinya sendiri "Gue kan mau nebeng motor butut lo!"
"Yang mau nebengin lo siapa?" Angga berjalan lebih dulu, "Sana balik sendiri sana!"
"Tega lo sama anak tak beribu ini?"
"Tega lah! Lagian lo kan punya emak lain." Angga menyeringai membuat Ezra mengumpat. "Serius, ngapain lo mau ikut gue?"
"Mereka datang! Gue tidak mau seatap dengan mereka." Ezra menghela nafas "Gue nebeng di kosan lo!"
Angga tidak mengatakan apa apa lagi, dia hanya terus berjalan. Mereka berdua terdiam sampai di parkiran, Angga lagi lagi hanya bisa menghela nafas panjang.
Motornya rusak lagi!
Dia melihat sekeliling tapi tidak melihat siapa siapa, padahal dia harus ke kantor terlebih dahulu. Dia berjongkok membuka rantai motornya, membukanya dalam diam.
Ezra yang berdiri di belakangnya juga melihat sekeliling, suasana sunyi yang dibuat Angga membuatnya kurang nyaman.
"Ezra!" Angga memanggil tanpa menoleh
"Hem.."
"Tentu saja."
Angga melihatnya "Cari tau siapa yang iseng disini?"
Ezra menyeringai puas, sudah lama rasanya dia tidak mendapat tugas seperti ini. Biasanya Angga mengandalkan Afkar mencari informasi, tapi kali ini dia memintanya melakukan pekerjaan yang paling dia sukai.
Ya, cita cita Ezra adalah menjadi Informan yang menyukai catur.
"Bisa sih... Tapi lo harus ngalahin gue main cat-"
"Ngak gue kasih tumpangan lo." Angga langsung mendorong motornya, Ezra yang di tinggal langsung berseru.
"Woi... Bercanda woi!!"
Karena motor yang rusak, Angga terpaksa kembali ke bengkel yang tidak jauh dari kampus. Saat melihat kedatangan Angga sang pemilik bisa menebak apa yang terjadi, Angga bukanlah orang pertama.
"Ganti aja kali, Ga." ucap Ezra yang duduk disampingnya sambil main game catur di hapenya.
Dia tidak mengatakan apa apa dan malah mengambil ponselnya yang berdering, senyumnya mengembang begitu melihat nama Lily tertera. Ezra yang melihat itu memasang wajah jijik, temannya benar benar di mabuk cinta.
Eh... Benar cinta gak sih? Ya itu bukan urusannya, entah itu Cinta atau bukan yang pasti mereka menikah.
"Woi ini motor lo mau gue gantiin ga-akhh" Ezra memekik diakhir kalimatnya, Angga baru saja melemparinya dengan kardus kosong yang entah dia dapat darimana.
__ADS_1
Pemilik bengkel itu hanya tertawa melihat interaksi mereka, dia juga punya teman yang seperti itu. Angga sudah berjalan keluar sambil menelfon meninggalkan Ezra sendirian, cowok itu terus mencibiri temannya.
"Mengganti kendaraan tidak semudah itu, dia pasti kesulitan." ucap pemilik bengkel saat Angga keluar.
Ezra menunjuk Angga "Dia?" Ezra mengibaskan tangannya dan berkata "Mobil pun dia bisa gonta ganti kalau mau."
"Eh?" Pemilik bengkel itu mendongak menatap Ezra.
"Kenapa?" Angga bertopang dagu "Dia hanya tipe orang yang tidak suka mencolok."
"Dia bukan anak beasiswa?"
Ezra tertawa terbahak dan mengatakan tidak. "Dia malah menyerahkan beasiswa ke orang lain, dia bukan orang susah yang sialnya punya otak encer."
Pemilik toko itu melirik Angga yang menelfon sambil tersenyum di luar, benar benar berpenampilan biasa. Anak muda biasanya akan memakai barang mahal, tapi dia terkecoh dengan penampilan Angga.
Dia bahkan memakai ponsel yang casingnya retak, ponselnya juga merek buah yang digigit ulat favorit anak muda.
Tak lama Angga masuk dengan wajah serius, dia mengambil tasnya bersiap pergi.
"Heh? Lo mau kemana?" tanya Ezra, dia juga mengambil tasnya
"Kantor, istri gue nunggu di sana."
"Ngapain dia di sana?"
"Nganter makan, soalnya gue bilang pulang cepat hari ini." jelas Angga, dia menoleh ke pemilik bengkel "Mas, motor saya nanti diambil sama Asisten saya saja."
Setelah mengatakan apa yang dia katakan, Angga bergegas keluar di susul oleh Ezra.
Istri?
Asisten?
Pemilik bengkel itu hanya bisa melongo, siapa sebenarnya anak muda itu? Bukannya dia baru akan masuk kuliah?
******
Ps : Hei hei hei....
Saya mau minta maaf sebelumnya, maaf banget kalau kata kata saya nanti akan membuat tersinggung. Tapi saya mesti bilang, demi kebaikan mood saya.🙏🙏
Saya benar benar minta maaf tapi, kalau komen bisa jangan yang -Lanjut... Lanjut dong kak- bukannya saya tidak suka, saya suka ada yang menantikan cerita saya sungguh!
Tapi sama seperti saat kita semangat mau nyapu tapi langsung di suruh nyapu rasanya itu langsung kek gimana... mood yang tadi yang semangat langsung down.
Saya benar benar minta maaf kalau menyinggung!🙏🙏🙏 tapi serius... Terkadang komentar seperti itu menurunkan mood apalagi pas semangat semangatnya. Maaf banget!! Tapi saya beneran senang kalau cerita saya di tunggu tunggu.
Sekali lagi saya minta maaf🙏🙏🙏
__ADS_1