
Angga kembali ke rumah lagi lagi di tengah malam karena pekerjaan, sekarang dia mengerti dengan keadaan ayahnya saat itu. Pekerjaan yang di serahkan Tio tadi benar benar memutar otaknya. Sebelumnya dia merasa dia cukup pintar tapi sekarang dia merasa bodoh.
Langkahnya berhenti saat melihat ke arah dapur yang lampunya masih menyala.
"Lily!"
Prang
Lily yang terkejut mendengar teguran di belakangnya jadi dia menjatuhkan panci untuk memasak mie.
Dia berlahan menoleh dan mendapati Angga di ambang pintu dapur melihatnya dengan kening mengkerut.
"Apa yang Lily lakukan di jam segini di dapur? Kenapa belun tidur?" Angga berjalan mendekat dia meletakkan tasnya di kursi makan.
Lily menunduk memungut pancinya, untung belum sempat dia isi air panas "Lily belajar tapi karena lapar jadi Lily turun mau masak mie"
Belajar? Di jam seperti ini?
"Lily tidak bisa tidur karena tadi siang tidur lama jadi.... Daripada tidak melakukan apa apa jadi Lily belajar untuk kuis besok" Jelas Lily karena melihat Angga mengkerutkan keningnya.
Angga menghela nafas dia menatap ke perut Lily yang tentunya di tutupi piyama tidur
"Bagaimana luka Lily?"
Lily juga menunduk menatap perutnya "Masih perih sedikit"
Angga menarik kursi karena merasa lapar jadi dia meminta Lily membuatkan satu porsi lagi untuknya.
Karena hanya mie instan jadi tidak butuh waktu lama, Angga berdiri mendekati Lily begitu gadis itu hendak mengangkat nampan ke meja.
"Biar kakak saja" Angga mengambil alih dan meminta Lily duduk di kursi lebih dulu.
Bekerja sampai larut membuatnya kelaparan meski dia sudah makan tadi, tapi siapa sangka kalau dia kembali rakus terlebih aroma mie instan sangat menggoda iman.
"Lily masaknya enak" puji Angga
"Bukan Lily yang masaknya enak tapi yang meresepkan bumbu mienya!" Angga tertawa mendengar jawaban Lily.
Dia menatap Lily yang menunduk menyeruput mienya, senyum Angga terangkat sedikit. Lily sudah mulai santai padanya tidak sekaku seperti awal bersama.
"Besok Lily kuis apa?"
"Fisika" Dia berdiri untuk mengambil air untuk mereka berdua.
"hm... Pak Rahmat?" Tanya Angga karena beliau adalah gurunya saat masih kelas sepuluh.
Lily kembali dengan dua gelas air, dia meletakkan di dekat mangkuknya dan satunya di depan Angga.
"Iya"
Angga meminum air sebelum berkata "Beliau guru lawak, saat kakak kelas sepuluh saat praktek beliau datang dengan gaya heboh, kostum spiderman dengan jubah dokter"
Lily yang tadinya hendak menyuapkan mienya berhenti "Iya?" Angga menganggukkan kepalanya "Tapi sekarang beliau terlihat lebih tenang!"
"Mungkin capek di tegur kepala sekolah" Jawab Angga "Tapi dengan gaya seperti itu sebenarnya membuat siswa enjoy saat belajar. Kami bahkan betah saat pelajaran beliau"
Mereka bertukar cerita sampai mereka selesai makan malam.
Lily menatap Angga begitu tangannya di tahan Angga saat dia hendak membereskan bekas makan mereka.
__ADS_1
"Lily tidur, biar kakak yang bersihkan"
"Tapi?"
"Sudah biar kakak. Begini begini kakak lumayan bisa diandalkan untuk cuci piring" Kata berkata sambil tangannya menumpukkan mangkuk membawanya ke wastafel. Lily menghela nafas mengambil tisu untuk membersihkan meja, kemudian mendekati Angga.
"Ngak, jangan bantu!" Seru Angga saat dia mendekat "Luka Lily tidak bisa kena air"
"Tidak akan"
"No!" Angga mendorong punggung Lily ke meja makan "Lily sudah memasak jadi biar kakak cuci piring."
Lily duduk menatap punggung Angga yang belum benar benar tegap layaknya orang dewasa itu merasa bersyukur karena di jodohkan dengannya.
Tapi apa dia bisa berharap lebih dengan pernikahan mereka ini?
Angga adalah sosok suami yang ia inginkan, dewasa dan pintar tapi dia tidak yakin dengan pendapat Angga tentangnya. Dia takut dia tidak seperti yang diharapkan Angga, dia takut dibuang. Meski hari itu dia mendengar pembicaraan Angga dan Melanie tetap saja Lily masih merasa kurang percaya diri untuk mendapingi Angga sekarang.
"Hei, memikirkan apa?" Lily terkejut merasakan tepukan di kepalanya, dia mendongak menatap Angga "Memikirkan apa?"
Dia menggelengkan kepalanya "Kuis besok"
"Tidak usah khawatir, pak Rahmat tidak sekejam pak Juan" ucap Angga dia mengambil ransel dan jas yang sempat ia sampirkan di punggung kursi sebelum makan tadi "Ayo, sudah larut dan besok masih harus sekolah."
Lily mengikuti Angga yang berjalan lebih dulu tapi sebelum dia naik dia menyempatkan mematikan lampu dapur.
"Lily langsung tidur saja" ucap Angga saat mereka di depan kamar Lily.
Gadis itu mengangguk dia berlahan membuka pintu mengucapkan selamat malam pada Angga sebelum menutup pintu kamarnya.
Angga terkekeh pelan sambil berjalan ke kamar.
Seperti biasa, selesai membersihkan dirinya Angga akan memeriksa buku sekolahnya. Setelah mengerjakan satu pr dia menutup buku dan beralih ke ponselnya yang dari tadi bunyi karena notifikasi masuk.
...
...
Niel : Gue punya tebak tebakan
Angga : Tidur woi, besok kalo lo terlambat bakal di amuk Afkar
Niel : Lo saja yang tidur sono.
Hari : Masih sore ini.
Dwi : Sore bapak lo peyang
Niel : Ngak boleh maen nama bapak, Suhardi!
Hari : Tau nih, lagian gue Y-Tim, mau gabung?
Angga : Bapak gue sudah ngegosip bareng bokap lo @Hari
Dwi : @Niel ngak usah nyebut nama bapak gue juga, Hartanto!
Dwi : @Angga Bareng emak gue juga tuh. Ngegosipin pelakor!
__ADS_1
Angga tertawa terbahak, pembahasan mereka kadang seperti ini.
...
...
Ezra : Ngegosipin pelakor? Mak tiri gue tuh!
Niel : Sumpah, candaan lo pada makin hari makin jadi.
Angga : Wkwkwkwk....
Hari : Alay lu Ga!
Niel : +1
Dwi : +2
Ezra : +3
Angga : Kamp*et! Gue mau tidur
Niel : woi jangan dulu lah, gue belum kasih tebak tebakan!
Ezra : Pasti garing!
Dwi : Renyah gak?
Niel : Di jamin mengocok perut.
Angga : Buru, gue mau tidur!
Niel : Hewan hewan apa yang kurang ajar? Ayo tebak
Angga : LO!
Hari : jawabannya ya lo lah.
Ezra : Daniel!
Dwi : Hahahahahahahaha..... Lah tentu saja orang yang bernama Dananiel Hartanto!
Niel : GELUT YUK SEMUA!
Read bye all
Niel : Ban*ke!
Angga meletakkan ponselnya di atas nakas, dia sudah akan tidur karena meladeni mereka sampai besok pun tidak ada habisnya.
Dia membaringkan tubuhnya di atas kasurnya menatap langit langit kamar samping menyandarkan lengan kanannya di keningnya.
Dia tidak tahu bagaimana dia bisa dekat mereka, selain Niel yang sudah menjadi temannya sejak kelas dua SMP yang lainnya mereka bertemu saat SMA. Padahal awalnya mereka hanya sering satu kelompok pas kelas sepuluh tapi makin kompak saat masuk OSIS pas kelas dua, yang awalnya akward saat berkumpul jadi gila gilaan
Terimah kasih pada Niel dan Hari yang setiap saat mencairkan suasana.
Meski mereka beda ekskul dan Dwi berada di kelas yang berbeda tapi mereka masih sering kumpul bersama dan membahas banyak hal.
__ADS_1
Dan nama grup WA mereka... Itu keisengan Hari meski awalnya di marahi oleh Ezra.
******