
"Pak, pertemuan dengan pihak BN Grup lima belas menit lagi."
Angga dengan lemas membaringkan kepalanya di meja kerjanya, sejak tadi pagi yang dia lakukan rapat sana-sini membuatnya kelelahan. Karena dia selalu sibuk mengurus persiapan kuliahnya, pekerjaannya jadi menumpuk dan beruntung saja tempat tinggalnya sudah dekat.
"Sekarang Lily ngapain ya?" dia bergumam begitu memikirkan gadis yang menangisi kepergiannya kemarin.
"Pak?" sekretarisnya kembali bersuara untuk mengingatkannya.
Dengan sedikit malas malasan, dia bangkit berdiri mengambil jasnya dan berjalan keluar lebih dulu memimpin jalan menuju ruang rapat. Dia masuk ke dalam ruang rapat dan mendapati semua karyawan yang ikut rapat berkumpul, tinggal menunggu tamu yang sepertinya sedikit terlambat.
Sejujurnya setelah perombakan karyawan beberapa bulan kemarin, saat rapat dilaksanakan, para karyawannya selalu datang on time. Sepertinya mereka takut di pecat dan di turunkan jabatannya, karena itu mereka sangat disiplin.
Dia meraih ponselnya dan mengirim pesan ke Lily, adapun karyawannya terserah mereka mau mengerjakan apapun, bercerita sekuat apapun asal diam saat dia mulai bicara nanti saat rapat di mulai.
"Sepertinya pihak BN sudah datang, Pak!"
Dengan sadar Angga mematikan ponselnya dan memasukkannya ke dalam saku, dia berdiri sambil merapikan jasnya dan siap menyambut tamu yang berkunjung. Tak lama pihak yang mengajukan kerja sama tiba di ruang rapat, dengan penuh tatakrama Angga menyambutnya dan mempersilahkannya duduk.
Setelah beberapa bulan bekerja, Angga akhirnya mulai terbiasa berbicara dengan orang dewasa berbagai jenis. Tak ada lagi keraguan seperti awal awalnya. Selang beberapa jam pertemuan selesai, Angga menghela nafas panjang karena memang sudah lelah, dia juga masih memiliki beberapa pertemuan setelahnya.
"Sejujurnya saya tidak berharap kalau penerus pak Setya semuda anda." Angga mengangkat kepalanya mendengar pernyataan itu "Jangan salah paham."
"Tidak, lagian anda bukan yang pertama." jawab Angga sambil menutup berkas di depannya dan menyerahkannya ke asistennya
"Hahaha... Anda mengingatkan saya dengan pimpinan Narendra company sepuluh tahun lalu." pria dewasa itu tertawa dia mengetukkan tangannya di meja "Baru tujuh belas tahun tapi mampu melebarkan sayap perusahaan lebih baik dari Ayahnya."
Angga memang sering mendengar itu.
Mengingat beberapa saat lalu dia pernah melihatnya secara langsung, dan tidak ada mencolok darinya tapi meski begitu aura dan pembawaannya tidak bisa dianggap remeh. Arsyad Narendra, pengusaha yang terkesan sangat sederhana tapi berada di puncak dalam dunia bisnis, disusul beberapa perusahaan yang katanya masih ada hubungan dengannya.
Dia juga sempat mendengar dari kepala sekolahnya yang lama, Arsyad adalah siswa cerdas saat itu dan terbukti saat beliau datang membuat soal saat anak SHS menantang sekolah mereka. Soal yang dibuat empat puluh lima menit sebelum pertandingan berlangsung, tapi mampu membuat SHS dan perwakilan sekolahnya kewalahan.
***
__ADS_1
Angga meletakkan kantongan berisi camilan di atas meja, dia mengambil posisi duduk dekat Niel. Padahal dia ingin langsung pulang ke rumah tidur, tapi mereka mengiriminya pesan dan memintanya datang.
"Ngumpul begini mau ngapain?" Angga bertanya melonggarkan dasinya, dia belum sempat berganti baju karena langsung ke tempat ini. "Potter, lo bukannya sudah di luar kota kemaren?"
Hari mengedikkan bahunya dan mengambil camilan di depannya "Nyokap manggil, mumpung belum kuliah ya balik lah gue."
"Pulang ngabisin beras emaknya dia." timpal Niel, Harri mendengus dan menendang kakinya "Tapi bener kan gue?"
"Diam lo anak keluarga cemara!" Harri menoleh ke yang lainnya "Ga, anak dari keluarga layangan putus bilang lo tampil gembel di kampus."
"Keluarga layangan putus?" beo Angga, dia tidak mengerti. Dwi yang di sampingnya menjelaskan tentang serial yang baru disebutkan Harri.
Ezra yang juga baru paham langsung menampar kepala belakang Harri, tapi kemudian tertawa terbahak karena merasa itu benar. Awalnya juga dia tidak mengerti dan hanya terus mendengarkan ucapan Harri seperti orang melantur.
"Bener gak?" tanya Harri lagi
"Apa?"
"Oh.." Angga mengangukkan kepalanya "Kalau tampil seperti yang lain gue mesti mikirin hari ini pakai baju apa, besok apa. Kalau tampil sederhana cucian gue tidak bakal numpuk banyak."
"Hanya karena itu?" tanya Dwi, Angga mengangguk kepala "Aneh lo."
"Sementara ini gue tinggal sendiri ya, bini gue tidak ada sama gue kalau gue tampil keren nanti ada cewek kepincut bagaimana?"
Ezra memukul kepalanya "Itu tergantung bagaimana lo menanggapinya bang*at! Kalau lu bukain pintu ya masuklah mereka!"
"Ini cara gue menutup pintu."
"Persis lo ganteng saja" timpal Niel, Angga menyeringai "Apa?"
"Gue ganteng, buktinya gue laku duluan dari kalian kalian yang mengaku tampan!"
"Si kam*ret!" mereka berseru dan mulai melakukan penyiksaan mereka, Angga tertawa terbahak.
__ADS_1
Angga berucap dalam hati kalau momen momen seperti ini harus dia ingat, sebelum mereka benar benar menjadi orang dewasa sesungguhnya. Karena saat mereka benar benar menjadi dewasa, jangankan bermain bersama bertemu pun mungkin akan sulit.
"Rasanya gue mau jadi anak amak terus saja." Ezra merebahkan dirinya di lantai, yang lainnya mengikutinya.
"Jadi orang dewasa mengerti situasi benar benar menyebalkan." Harri menimpalinya.
Angga yang satu satunya tidak berbaring menatap mereka, yang mereka katakan memang benar. Seandainya waktu bisa di putar kembali, dia ingin kembali saat kedua orang tuanya masih ada, bermain dan menghabiskan waktu lebih banyak bersama mereka.
"Lily bakal ikut olimpiade selepas libur semester, lo pada mau lihat gak?" tanya Angga, dia ingin mengubah suasana yang tiba tiba suram itu.
"Gue sudah balik ke luar kota." jawab Harri
Niel bangun "Temannya yang ketus itu gak? Gila tuh anak, judes banget."
Angga tertawa "Bukan cuman lo, kayaknya hampir semua cowok di judesin sama tuh anak." ucapnya "Ya, dia juga ikut olimpiade! Anaknya pintar."
"Rosa kan?" tanya Ezra, mereka menganggukkan kepalanya "Dia kalau gue gak salah ingat, pas ujian masuk kemarin nilainya tepat di bawah Lily."
"Lily nya Angga?" tanya Dwi
"Iya, Lily masuk ke sekolah kita dengan nilai hampir sempurna." Jelas Ezra, tak lama dia mencibir "Laki-Bini penguasa nilai, mau sepintar apa anak lo berdua nanti?"
Angga tidak mengatakan apa apa, dia takut salah bicara dan jatuhnya takabur dan sombong. Dia juga berharap kelak anaknya menjadi cerdas seperti mereka, tapi rasanya sekarang belum pantas memikirkannya.
Angga masih hanya ingin berdua saja dengan Lily, mereka juga masih sama sama muda dan mereka tidak mau terburu buru. Soal anak mereka akan membahasnya saat usia mereka sedikit lebih dewasa lagi, di saat mereka siap.
"Minggu depan gue nginap tempat lo ya Ga!" ucap Ezra "Males gue di rumah. Orang itu datang."
Angga menatapnya, Ezra memang tidak tinggal dengan orang tuanya melainkan di tempat neneknya. Dan orang yang dia maksud akan datang, tidak lain dan tidak bukan adalah keluarga baru Ayahnya.
"Kalau lo gak masalah jadi obat nyamuk sih. Soalnya gue sudah janji sama istri gue, kalau gue bakal jemput dia dan nginap tempat gue." jelas Angga.
Ezra menghela nafas "Ya udah deh, gak jadi! Males banget lihat orang mesraan gue."
__ADS_1