
"Apa ada yang bernama Angga di ruangan ini?" salah satu mahasiswa mendatangi ruangan di mana Angga belajar.
Angga mengangkat tangannya, keningnya mengkerut bingung.
"Lo di panggil sama ke ruang rektor!"
Angga menggaruk tengkuknya, dia bingung kenapa dia di panggil. Dia melihat ke arah dosen, dosen itu mengangguk dan mengizinkannya keluar.
Angga menarik nafas panjang kemudian berdiri, meski masih bingung dia kenapa harus ke ruang rektor. Sambil memikirkan kesalahan apa yang dia perbuat, dia mengikuti langkah orang yang memanggilnya tadi.
"Lho Ga, bukannya lo bilang ada kelas?" tanya Rio yang kebetulan berpapasan dengannya, kebetulan hari ini mereka tidak ada kelas yang sama.
"Rektor manggil gue."
"Kenapa?" Angga hanya mengedikkan bahunya sebagai jawaban.
Begitu sampai di ruang Rektor, Angga langsung mengetuk pintu ruangan itu. Dia masuk setelah mendengar seruan yang mempersilahkannya.
Saat masuk dia melihat Rektor itu duduk di sofa dengan beberapa orang di sana, salah satu diantaranya ada Dero dan Vidya di sana. Tapi bukan itu yang menjadi pusat perhatiannya, Angga menatap orang yang duduk di samping Vidya.
Seorang pria dewasa bertubuh gempal, pakaiannya rapi dan berdasi. Dia juga menatap Angga dari atas ke bawah, keningnya mengkerut saat Angga tidak memberi respon apapun saat dia melihatnya.
"Kamu silahkan duduk!"
Angga menganggukkan kepalanya, dia berjalan ke arah sofa dan mencari ruang kosong untuk duduk. Dia duduk tepat depan rektor, hanya ada meja kopi yang memisahkan mereka.
"Ada apa ya, Pak? Kenapa saya tiba tiba di panggil ke sini?" tanya Angga dengan nada sopan
Melihat kehadiran Dero di ruangan itu, seharusnya dia sudah menebaknya. Tapi Angga tetap bertanya sebagai pembuka pembicaraan, dia bahkan tidak melirik orang orang yang ada di ruangan itu.
"Apa kamu serius masih bertanya?" Angga mengalihkan pandangannya dan menatap pria gempal yang baru saja berbicara.
"Ya, tentu saja," Dia mengubah posisi duduknya lebih berwibawa "Saya di panggil ke sini, tentu saja saya harus bertanya."
Pria itu mengkerutkan wajahnya, Angga terlihat sangat tenang saat ini. Dia berdehem dan kembali menatap Angga, tapi anak muda itu tidak terlihat tertekan.
"Kamu tahu siapa saya?"
Angga tersenyum kecil dan mengangguk sekali, "Tentu saja, Bapak adalah salah satu perwakilan rakyat. Apa ada alasan saya tidak bisa mengenali anda, Pak?" dia melirik Dero dan Vidya yang duduk berdampingan, "Anda juga wali dari mereka."
"Anggara," Rektor memanggil dengan nada pelan tapi tegas, Angga melihat ke arahnya "Saya mendapat laporan, kamu memukul Dero?"
"Benar, lebih tepatnya saya menendangnya, Pak." jawab Angga mantap, se-mantap saat dia menjawab soal yang jawabannya sudah dia hafal di luar kepala.
__ADS_1
"Bagus kalau kamu mengakuinya," Ayah Dero berkata, dia mengangkat dagunya dan menatap Angga "Bagaimana bisa kampus membiarkan ada mahasiswanya melakukan kekerasan pada mahasiswa lain, sebagai orang tua saya tidak terima."
Dia meletakkan ponsel di depan Angga "Saya sudah melihat bagaimana kamu menendang putra saya."
Angga melihat ponsel itu, dimana dia menendang Dero. Dia melirik ke samping dan melihat Dero menyeringai ke arahnya, seolah berkata kalau Angga tidak akan lepas.
"Bapak serius mengatakan itu pada saya?" Angga menggaruk keningnya "Apa sudah melihat cctv? Saya yakin ada cctv di tempat parkiran."
"Untuk apa saya melihat cctv? Bukti sudah di depan mata, kamu memukuli putra saya." dia melihat ke arah rektor "Saya mau dia di keluarkan dari kampus, dia bisa menjadi contoh buruk dari mahasiswa lainnya, saya juga mendengar kalau dia memukuli mahasiswa lain di hari sebelumnya."
Angga mendengar itu tanpa sadar terkekeh, dia merasa mereka sedikit lucu.
"Apa yang lucu?"
"Ah maaf maaf," Angga dengan ekspresi jenaka menatap Ayah Dero "Saya mengira bapak sedang melawak."
"Kurang ajar!" Dero hendak berdiri menantangnya, tapi terhenti saat melihat Ayahnya melotot ke arahnya.
"Apa bapak bertanya apa alasan saya menendangnya?" Tanya Angga, dia masih berusaha menahan tawa
"Apa perlunya? Kamu tidak lebih dari preman kampus, anak saya bukan anak yang akan memulai perkelahian."
Sekali lagi Angga tertawa "Bukan pembuat masalah?" dia berhenti tertawa dan menatap serius. "Sayang sekali, bukan itu yang saya dengar dan lihat."
"Saya juga bukti untuk membela diri saya," Angga meletakkan ponsel itu di meja "Silahkan dilihat."
Di dalam video yang di rekam iseng oleh Dwi, tidak lebih dari kejadian kemarin. Dari Angga berjalan ke arah parkiran, bertemu Dero dan menolak tawarannya, sampai di mana Dero melayangkan pukulan lebih dulu ke Angga.
Ayah Dero diam, Angga mengambil kembali ponselnya "Adapun sehari sebelum itu, alasan saya memukul mahasiswa yang bapak maksud, itu karena dia lebih dulu mengganggu pacar saya."
"Saya dengar kamu yatim piatu?" Ayah Dero tiba tiba berkata, Angga mengangguk
"Benar, saya memang yatim piatu."
"Kamu bekerja sendiri untuk membiayai sekolahmu?" Angga mengangguk lagi, pria itu menyeringai "Kalau begitu ikuti hukuman sekolah kalau kamu masih mau sekolah di sini."
"Kenapa saya harus?"
Pria itu menatap putranya "Dia akan masuk ke dunia politik ke depannya, tidak boleh ada catatan buruk dalam masa kuliahnya." dia beralih ke Rektor "Kamu bisa mengurus ini untukku kan? Saya akan menambahkan beasiswa anak ini."
"Kalau saya menolak?" Angga mengintrupsi "Akan kah beasiswa saya dicabut?"
"Kamu cukup cerdas menganalisis keadannya, jadi.."
__ADS_1
"Saya menolak!" Angga berkata tegas.
"Kamu!" dia menampar meja "Kamu tidak ingin kuliah? Saya bisa mencabut beasis-"
"Darimana anda berpendapat kalau saya masuk di sini dengan Beasiswa?" Angga terkekeh
"Lo bukan?" Vidya bertanya, Angga mendengus "Tapi lo ka-"
"Apa gue pernah bilang kalau gue masuk karena beasiswa?" dia menoleh dan menatap Ayah Dero "Apa begini cara anda membungkam orang orang yang berkaitan dengan mahasiswa yang meninggal dua tahun lalu?"
"Jangan bicara omong kosong?"
Angga menatap Rektor "Bapak serius menyelesaikan masalah seperti ini? Berapa yang diberi untuk menutup mulut orang orang?"
Rektor itu menghela nafas "Kamu jangan salah paham, ini demi reputasi kamp-"
"Reputasi kampus pak? Lalu bagaimana jika kejadian dua tahun lalu kembali di angkat? Bapak menyembunyikan kriminal dengan sangat apik."
"Bac*t" Dero berdiri dari duduknya, mengepalkan tinjunya dan melayangkan ke Angga.
Angga dengan sigap menangkapnya, memutarnya ke belakang tubuh Dero. Dia dengan cepat mendorong kepala Dero ke atas meja, matanya melirik Ayah Dero.
"Bapak tadi mengancam saya kan?" Angga bertanya.
"PANGGIL WALI MU KESINI!" Ayah Dero berseru "Aku akan mengajarimu melewati Walimu."
"Saya wali untuk diriku sendiri," dia mendorong Dero ke samping, kurang sopan berkelahi di ruang Rektor. "Kalau ada yang ingin di katakan, katakan padaku!"
"Kamu!" Ayah Dero berseru, tapi dia juga menahan dirinya "Kamu punya pacar kan? Bagaimana kal-"
"Bapak mulai menjabat dari tiga tahun di salah satu partai merah putih," Angga bergumam "di tahun kedua anda menjabat anda pergi ke dewata dengan seorang diploma membahas tentang projek 41 trilyun untuk sebuah gedung olahraga, jumlah to-"
"KAMU MAU MENGANCAM SAYA?"
Angga mengangkat pandangannya ke arah anggota Dewan itu "Anda yang berniat mengancam saya, saya hanya melakukan hal yang sama." dia menatap Dero "Kasusmu bukan hanya tentang dua tahun lalu kan? Kejadian dua minggu kemarin, di sebuah rumah kosong! Gue bisa mencobloskan lo ke penjara kalau gue mau, sebaiknya lo diam dan jangan banyak tingkah sampai bermain playing fiktif."
Angga keluar dari ruang rektor dengan emosi, jujur saja dia tidak setenang penampilannya. Langkahnya terhenti saat tidak sengaja berpapasan dengan Indra, ketua BEM itu entah dari mana.
"Lo dari ruang rektor?" Indra bertanya karena melihatnya dari sana, "Jangan bilang kalau Dero?"
"Senior tidak perduli, lakukan saja seperti biasa senior lakukan, bungkam."
Setelah mengatakan itu, dia langsung berjalan melewati Indra. Indra menatap punggung Angga yang semakin menjauh, semenjak dia bertemu dengannya entah kenapa rasa bersalah Indra kembali bermunculan.
__ADS_1
"Hahh.." Dia menghela nafas panjang dan melanjutkan perjalanannya.