Lily Untuk Angga

Lily Untuk Angga
Part 95


__ADS_3

Lily, Rosa dan Nurul masuk ke sebuah pusat perbelanjaan, dengan rencana awal yaitu mencari makan terlebih dahulu. Karena diantara mereka yang sering pergi mall adalah Nurul, jadi Lily dan Rosa hanya mengekor kemana dia pergi.


Mereka bertiga makan di restourant yang ada di lantai tiga, tempatnya nyaman dan ramah kantong remaja. Di sana juga banyak menyediakan beberapa fasilitas buat bersua foto, pelanggannya kebanyakan remaja di sana.


"Ini referensi bagus kalau buka restourant," gumam Lily melirik seisi ruangan "Siapapun betah pasti."


"Lo ada rencana mau buka restourant?" Nurul yang mendengar itu bertanya, Lily dengan cepat menggelengkan kepalanya "Kenapa?"


"Karena rencananya aku mau jadi dokter," jawab Lily "akan merepotkan kalau buka restourant juga."


Nurul mengamgguk-anggukkan kepalanya, jujur saja dia iri dengan kedua temannya. Rosa maupun Lily sudah menentukan kemana mereka akan melanjutkan studynya sedangkan dia? Lily ingin menjadi dokter, Rosa katanya mau menjadi Jaksa, tapi Nurul? Dia masih terlalu banyak bermain.


"Habis ini nonton ya, ada film yang baru rilis." ajak Nurul


"Oke" Lily berseru setuju


Rosa menelan pasta yang dia masukkan ke dalam mulutnya sebelum berkata "Setelahnya ke toko buku."


"Ngak enek apa lo baca buku mulu?" Nurul memutar mutar pasta yang ada di piringnya dengan garpu "Perasaan lo tiap keluar beli buku mulu."


Rosa menghela nafas, dia melihat temannya itu "buku ngebantu gue tahu banyak hal, kalau enek singkirkan saja sebentar."


"Tapi benar sih, tidak ada salahnya baca buku." timpal Lily, berbeda dengan Rosa, Lily tidak terlalu suka baca buku dia lebih senang mengerjakan soal matematika.


Tapi bukan berarti dia tidak membacanya.


Selesai makan siang bersama, mereka bertiga lanjut untuk menonton bioskop. Seperti sebelumnya, Nurul yang ekstrovert yang mengurus semuanya dan mereka berdua hanya bisa menunggu.


Sebenarnya tadi Lily menawarkan bantuan, tapi Nurul menolak dengan alasan dia yang mengajak mereka jalan jalan. Dia juga merasa tidak enak pada Lily, karena ajakannya gadis itu harus menunda pekerjaannya.


"Oh, Afgan!" Nurul menoleh mendengar suara itu, cowok yang menertawainya saat bernyanyi kemarin.


Dengan cepat dia memalingkan wajahnya, dia buru buru mendekat ke loket tiket. Dia memesan tiga kursi, setelah membayar dia buru buru meninggalkan tempat itu.


Dia masih malu!

__ADS_1


"Kak Melanie!" Lily berseru saat seseorang menepuk pundaknya.


Melanie tertawa kecil melihat antusiasme Lily "Kamu kesini sama siapa?"


"Sama teman teman Lily kak," dia menoleh ke arah Rosa "satunya lagi beli tiket. Kakak sendirian?"


Melanie menggelengkan kepalanya "Aku kesini dengan sepupuku, nah itu dia."


Lily dan Rosa sama sama menoleh ke arah yang di tunjuk Melanie, mereka hanya melihat Nurul yang berjalan cepat ke arah mereka. Tak lama Melanie mengatakan kalau adiknya adalah cowok yang berjalan santai di belakang, cowok dengan kacamata tanpa lensa, kemeja hitam berlengan pendek yang kancingnya sengaja di buka memperlihatkan kaos hitamnya, di pergelangan tangan yang sebelah kiri terdapat jam tangan, dia juga memakai jeans hitam pendek di padukan dengan sepatu putih.


"Kapan kakak datangnya?" tanya Lily, Melanie mengangkat dua jarinya "Dua hari?"


"Dua minggu lalu," jawabnya "sebenarnya aku mau menghubungimu tapi hp ku hilang, mau ke rumahmu juga aku ada urusan yang tidak bisa di tinggal."


"Dua minggu Lily juga tidak di rumah," Melanie mengangkat sebelah alisnya "aku tinggal di rumah kakakku."


"Kakak?" Melanie menatap Lily bingung, jujur saja belakangan ini mereka dekat dan dia tahu kalau Lily tidak punya saudara "Saudara angkatmu itu? Angga kemana emang?"


"Kak Angga ada dinas keluar kota," jawab Lily, dia menoleh ke arah Nurul yang bersembunyi di belakang Rosa "Kenapa?"


"Minumnya mana, dek?" Melanie bertanya pada sepupunya yang berdiri di samping Melanie "Kamu tidak beli?"


"Lupa, soalnya tadi aku ketemu Afgan."


"Afgan?" Mereka melihat sepupu Melanie, kecuali Nurul.


"Dimana? dari tadi kita berdiri tapi tidak lihat." kata Melanie, kepalanya dia tengok tengokkan tapi tidak melihat orang yang dimaksud.


"Aku salah lihat." ucap cowok itu, tapi ada nada geli dari suaranya. "Lo pacar baru Angga?"


Dia menatap Lily seksama, Lily hanya menganggukkan kepalanya dan berkata iya. Melihat tingkah adik sepupunya, Melanie menepuk lengannya dan memelototinya.


"Mana tiketnya?" Melanie mengulurkan tangannya ke adik sepupunya, cowok itu menyerahkannya "kamu sekarang beli minum sama popcorn sana."


"Beli sendiri kenapa?"

__ADS_1


"Kamu budakku seminggu ini ingat?" cowok itu mendengus "Makanya jangan kalah taruhan."


"Ayo kita masuk saja." Nurul menarik tangan kedua temannya, Rosa dan Lily hanya bisa mengikuti mereka.


"Pelan pelan! Kak kami masuk duluan." pamit Lily pada Melanie, gadis itu mengangguk.


Sepeninggal Lily, Melanie menatap sepupunya


"Valen! Apa maksud kamu tadi menatap Lily seperti itu?" dia menatap tajam sepupunya "Dia itu anak baik baik ya."


"Kalau baik, dia tidak akan ngerebut pacar kamu!" Valen balas menatap sepupunya "Aku tidak lupa ya, kamu menangis seminggu begiti putus dari cowok banci itu."


"Dia tidak tahu apa apa," Melanie menyampirkan rambutnya ke belakang telinga matanya menyendu "kami memang harus putus, itu pilihan paling tepat. Angga bukan banci atau apapun jenis buruk yang kamu sebutkan, dia orang bijak mengambil keputusan."


"Kalau begitu kenapa kamu tangisin dia?"


Melanie menghela nafas panjang "Yang namanya putus pasti sedihlah, tapi aku tidak pernah menyesal apalagi nyalahin orang lain. Malah kalau mempertahankan, maka akulah yang jadi perusak."


"Hah? Maksudnya?"


"Ngak usah kepo, kamu beli minum sana." usir Melanie, Valen mencibir tapi menurut juga.


Yang dia katakan memang benar, kalau dia bertahan maka dia yang akan jadi pihak yang salah. Apapun hubungannya dengan Angga sebelumnya mereka tetap belum dalam hubungan yang sah, sedangkan Lily adalah pasangan Angga yang sah.


Lily duduk diam menatap ke depan, film belun karena masih ada lima belas menit lagi. Dia tidak merasa tersinggung dengan pandangan adik Melanie tadi, tapi biar bagaimana pun dia kepikiran juga.


"Siapa cewek tadi?" Rosa bertanya karena merasa tidak nyaman dengan kediaman Lily. "Dia mantan cowok lo ya?"


"Eh?"


Rosa yakin tebakannya benar begitu melihat ekspresi Lily, "Kayaknya gue benar."


Lily hanya tersenyum kecil tapi tidak menyangkal, tapi melihat Lily seperti itu Rosa tidak bertanya lagi. Dia merasa tidak berhak banyak tanya, kalau memang mau Lily bisa bercerita pada mereka.


Merasa ada yang aneh, Lily dan Rosa mengalihkan pandangan mereka ke arah Nurul. Gadis itu terlalu diam yang sangat bukan dirinya, pasti ada sesuatu terjadi padanya.

__ADS_1


__ADS_2