
Masuk di kamarnya Angga mandi sebelum mengeluarkan berkas berkas dari tas.
Tangannya menyentuh sebuah file yang selama berhari hari ini dia selidiki. Dia menyeringai menatap berkas tersebut.
Angga mengambil resiko yang cukup besar kali ini, dia berencana memecat beberapa orang. Pekerjaan mereka sangat bagus tapi mereka malah menyalahgunakannya dan Angga memiliki karakter tidak cukup baik.
Dia menepuk berkas berkas itu dan beralih ke buku pelajarannya. Dua bulan lagi dia akan ujian dan sekarang dia tengah mencari informasi kampus yang cocok untuknya.
Meskipun terasa berat, Angga yakin kalau satu persatu akan selesai pada waktunya. Angga menatap ke arah foto keluarganya, mengusapnya dengan berlahan sambil tersenyum kecil.
"Angga kuat sekarang, jadi tidur saja dengan tenang."
Dia menghela nafas panjang, menunduk ke arah file yang sempat dia singkirkan.
"Kak?" Dia menoleh dimana Lily hanya menjulurkan kepalanya di ambang pintu. "Mau ambil baju kotor."
Angga melirik keranjang kotornya, dia mempersilahkan Lily masuk untuk mengambilnya.
"Kamu tidak belajar?" tanya Angga, dia menarik kursi dan duduk.
"Tugasnya sudah Lily selesaikan di sekolah tadi." Lily memilih milih baju Angga, memisahkan pakaian yang berwarna dan yang putih polos. "Kakak berapa hari tidak nyuci?"
"hm. Semingguan mungkin." Angga menopang dagunya di sandaran kursi belajarnya. "Sibuk"
"Kenapa tidak suruh Lily nyuciin?"
Angga menatap Lily sebentar, dia berdiri membawa keranjang yang lain agar Lily tidak kepayahan mondar mandir ke kamarnya.
"Lily juga sibuk, jadi Kakak tidak mau nyusahin. Lagian hanya nyuci baju." Angga mengedikkan bahunya.
Mereka menuju ruang cuci yang memang ada di lantai dua, Ayah Angga sengaja membuat satu di sana agar dia dan Angga tidak perlu repot ke bawah. Di ruangan itu juga di siapkan setrikaan, terasnya di buat jadi tempat jemuran.
Angga duduk di kursi yang ada di sana, memperhatikan bagaimana gadis itu mencuci. Cewek dan cowok memang beda, Angga mencuci langsung saja dimasukkan semua, sedangkan Lily masih memilah ini dan itu.
Bukannya itu terlalu lama?
Sambil menunggu pakaian yang di mesin cuci, Lily mengambil pakaian kotor lainnya yang gampang melar untuk dia kucek pakai tangan. Toh pakaiannya juga Angga tidak benar benar kotor.
Angga berdiri mendekat "Kakak bantuin"
Lily mendongak menatap Angga dan menganggukkan kepalanya. "Kakak kucek ini, Lily mau nyetrika baju" Dia menunjuk pakaian yang baru dia buka dari jemuran.
__ADS_1
Mereka berdua bertukar posisi, Angga menatap tangannya yang sekarang penuh busa.
Kenapa juga dia harus mengerjakan ini? Padahal mereka sudah punya ART.
Tapi mengingat ucapan Lily dia hanya bisa menghela nafas panjang. Toh hanya pakaian mereka berdua saja. Dia menatap Lily, meski tubuhnya kecil gadis itu sangat lincah.
Mungkin karena selama ini yang mengurus rumahnya hanya dia seorang. Mengingat ibunya yang sudah meninggal, Ayahnya juga sakit.
"Lily nanti kuliah, mau ambil jurusan apa?" Tanya Angga, dia mengambil pakaian lain.
"Kedokteran" jawab Lily, dia melipat dengan sangat rapi. Dia mengambil baju lain untuk dia setrika lagi.
"Dokter?" Angga mendongak melihat Lily yang hanya memperlihatkan punggungnya. Lily menganggukkan kepalanya, tanpa Angga lihat mata Lily menyendu.
"Iya" Lily menjawab sebiasa mungkin "Mungkin karena beberapa tahun belakangan Lily selalu berbaur dengan dokter".
Angga bergumam sambil mencuci tangannya, dia berdiri untuk mengeluarkan pakaian yang ada di mesin cuci yang sudah selesai.
"Sebenarnya Kakak juga awalnya mau mengambil kedokteran" ucap Angga tiba tiba "Tapi sekarang tidak lagi."
Lily menoleh ke arahnya "Karena kakak harus kantor?"
"ngekos"
Angga menganggukkan kepalanya "Jaraknya tidak jauh dari kantor, jadi kakak akan ngekos di antara kampus dan kantor agar lebih mudah".
Lily diam tidak merespon "Jarak dari rumah ke kampus akan sedikit jauh, memakan waktu banyak~" jelas Angga "~kakak akan selalu pulang juga, Lily juga bisa ke sana kalau Lily tidak sibuk."
"Kakak sudah menemukan kosannya?"
Angga menganggukkan kepalanya "Ya itu kalau kakak keterima saja sih"
Lily menatap Angga yang kembali fokus mencuci. Angga itu pintar dan Lily yakin dia akan di terima, hanya saja entah kenapa dia merasa tidak nyaman setelah mendengar Angga akan pindah ke kos kosan begitu kuliah.
Tidak butuh waktu lama, mereka berdua sudah selesai mencuci. Mereka berdua berjalan ke kamar sambil membawa keranjang yang mereka tempati pakaian kotor ke kamar lagi. Angga berhenti sebentar, dia menoleh ke arah Lily
"Mau tidur bareng lagi?" tawar Angga, Lily menggelengkan kepalanya "Kenapa?"
"Kakak masih harus kerjakan? Lily takut ganggu" jawabnya, Angga terkekeh melihat wajah Lily yang memerah, dia mencubit pipi Lily pelan.
"Kakak bercanda. Kakak juga tidak berani selalu ngajak kamu tidur bareng, takut lepas" katanya, ya Angga adalah laki laki yang masih dalam tahap pertumbuhan. Hormon remaja tidak bisa di percaya.
__ADS_1
Muka Lily makin memerah, bahkan sampai ke telinga dan lehernya. Dia menundukkan kepalanya, Angga langsung tergelak
"Sudah, kamu istirahat duluan"
Tanpa mengatakan apa apa, Lily langsung masuk kamarnya. Angga menggosok tengkuknya sambil melihat ke pintu yang tertutup, dia menghela nafas panjang karena merasakan wajahnya juga memanas.
Angga memukul pipinya sendiri sambil bergumam "Lo masih SMA, fokus belajar saja"
**
Pagi pagi Angga sudah bangun, sepertinya belakangan ini dia sudah terbiasa dengan jadwal tidurnya yang berubah drastis. Selesai mandi, dia langsung turun ke bawah.
Begitu sampai di dapur, dia bisa mendengar suara gelak tawa Lily dan Farhan. Angga mendekati mereka, menepuk pundak Lily.
"Pagi kak" Sapanya
"Pagi" Angga membalas, tangannya terulur mengambil roti tawar untuk mengganjal perut karena sepertinya sarapan belum siap "Kamu kenapa bangun pagi sekali?"
"Selesai subuhan, Lily tidak bisa tidur lagi" jawabnya. Lily mengelus kepala Farhan yang ada di pangkuannya, anak itu melihat Angga.
Merasa di perhatikan Angga balas menatap Farhan, dia mengulurkan Rotinya "Mau?"
Farhan mendongak ke arah Lily seperti meminta persetujuan, begitu melihat Lily tersenyum dia menganggukkan kepalanya. Angga sambil menggigit roti di tangannya, dia membuatkan satu lagi untuk Farhan.
Setelah sarapan selesai di buat mereka berdua melahapnya, adapun Farhan, dia sudah di ambil neneknya untuk mandi. Lily melirik tanggannya yang tidak dia gunakan untuk makan di bawa Angga ke pangkuannya.
Lily sudah memperhatikan ini, Angga tipe orang yang suka melakukan skinship. Entah itu hanya menempelkan lengan saat duduk berdampingan, merangkulnya atau menggenggam tangannya.
Awalnya dia risih, tapi setelah mengetahui alasannya Lily memaklumi. Angga selalu melakukan skinship padanya hanya untuk memastikan kalau dia benar benat nyata, dia takut ditinggalkan lagi. Dia takut kalau dia tidak bisa menyentuh orang di sekitarnya, sama seperti orang tuanya saat ini.
Angga mengatakan, kalau dia akan merasa lega setelah memastikan Lily nyata dan masih bisa dia sentuh.
"Kenyang?" tanya Angga saat melihat Lily mendorong piringnya berlahan, padahal masih ada sisanya.
Lily menganggukkan kepalanya, Angga mengambil piring Lily dan memasukkan isinya ke piringnya sendiri.
"Kak, itu sisa Lily"
"Lalu kenapa?" Angga dengan lahap memakan sarapannya "Kitakan suami-istri, jadi tidak apa apa"
Lily tidak menjawab lagi, dia memilih menuangkan air untuk Angga.
__ADS_1