Lily Untuk Angga

Lily Untuk Angga
Part 26


__ADS_3

Lily berjalan pelan ke arah lapangan basket wajahnya berseri seri. Ponselnya dia pelut erat di depan dadanya.


Matanya tertuju ke lapangan di mana pertandingan antar dua sekolah sedang berlangsung.


"Lily?" Lily menoleh ke samping dimana lima orang berjejer rapi dengan snack di tangan masing masing. Mereka lima seniornya, Angga, Niel, Hari, Ezra dan Dwi. "Lily nonton juga?"


Angga mendorong Niel yang kebetulan di sampingnya memberi ruang agar Lily duduk di sampingnya. Angga menepuk tempat kosong itu memberi isyarat agar dia duduk di sana.


Lily melihat sekilas ke lapangan dan duduk di antara Niel dan Angga.


Dia memberi snack ke pangkuan Lily "Makan sambil nonton jauh lebih seru." Bisik Angga.


"Iya deh iya... Kita mah cuman ngontrak doang!" Hari yang duduk di ujung mencibir Angga yang bersebelahan dengan Lily.


"Jangan lupa bayar kontrakan nya, jangan nunggak!" Balas Angga, Hari mengambil snack kentang dan melempar ke Angga.


"Berisik, gue gak bisa nonton!" omel Ezra karena Hari sudah mulai rusuh.


"Kelas sebelas paling rusuh noh" Dwi menunjuk ke bangku dimana rombongan 11 IPS 1 dan beberapa anak IPA tengah heboh untuk mendukung teman mereka bahkan ada yang membawa spanduk.


Mereka tertawa membaca tulisan di spanduk 'KALAH TRAKTIR SEKELAS!'


"Mereka tambah kasih beban" Niel tertawa terbahak sambil memegang perutnya.


"Muka Zain sama Baim jelas tertekan." Hari juga berkomentar.


Lily juga melihat ke arah kelas kakak kelasnya itu, dia sudah mendengar beberapa cerita tentang rumor yang mengatakan kelas unggulan IPA IPS adalah sarangnya orang gila dan sekarang dia melihatnya sendiri. Tapi di samping itu kedua kelas itu juga dengan nama lain, IPA 1 dikenal dengan kelasnya para Pangeran dan Putri karena kelas itu dikenal berisi anak anak Sultan terlebih mereka memiliki wajah yang tampan dan cantik sedangkan IPS 1 dikenal dengan kelas Visual.


Angga menggelengkan kepalanya karena fokus menonton, kening Angga mengkerut karena salah satu pemain dari sekolah lawan selalu melihat kearah mereka.


"Itu anak nomor punggung 5, lo pada tau siapa?" tanya Angga, mereka langsung melihatnya dan merasa di perhatikan cowok yang dimaksud Angga mendongak ke arah mereka sambil tersenyum.


Angga langsung menoleh ke arah Lily yang melambai kecil ke arahnya sambil tersenyum.


"Kamu kenal?" Lily menoleh ke Angga yang sekarang menyipitkan mata ke arahnya.


"Atar teman Lily dari kecil" jawab Lily


"Oh!" Angga kembali melihat ke lapangan, saat cowok itu kembali melihat ke arah mereka Angga tidak segan merangkulkan tangannya di bahu Lily tentunya Lily kaget.


Cowok itu langsung berbalik dan kembali main, Angga mendengus!


Empat temannya yang dari tadi memperhatikan langsung menyemburkan tawa mereka melihat sifak implusif Angga yang kekanakan.

__ADS_1


"Serius, lo kayak bocah" Ezra tertawa dan tidak segan memukul lengan Angga.


"Sakit ege!"


"Hahahaha..." Tawa mereka makin mengencang. Lily melihat Angga dengan kening mengkerut bingung


"Mereka gila jangan pedulikan" Angga mendorong pelan pipi Lily dengan telunjuk ke arah lapangan.


"Jago juga dia mainnya" komentar Niel melihat permainan cowok yang katanya adalah teman kecil Lily. Niel meletakkan makanan di bangku dan berdiri, menarik nafas sebelum berteriak "BAIM, ZAIN KALAU TIM KALAH ELO BERDUA GUE OSPEK ULANG!"


Di lapangan Zain dan Baim menoleh ke arah mereka dan dengan kurang ajarnya Zain mengangkat jari tengah ke arahnya sedangkan Baim hanya mendengus, hehe maklum Baim adalah Anggota osis ketua seksi bidang keagamaan jadi mustahil melakukan hal yang sama seperti Zain.


Angga menendang betis Niel memberinya isyarat untuk duduk lagi karena di belakangnya kumpulan cewek dan dengan tinggi badan Niel yang statusnya mantan kapten basket akan menghalangi orang di belakangnya. 


"Ceh.. Gentleman!" Ledek Niek tapi Angga tidak peduli malah asik memakan ciki yang tadi dia pangkukan ke pangkuan Lily.


Selang beberapa pertandingan selesai dengan hasil sekolah mereka menang dan yang banyak melakukan shoot adalah Zain dan Baim, mungkin efek dari teror kakak kelas dan teman sekelas mereka.


Angga mengajak Lily mendekat ke lapangan, mereka mendekati para pemain. Angga melemparkan handuk ke mereka sambil mengucapkan selamat ke adik kelas yang sudah berjuang. Ya memang seperti inilah nasib kelas dua belas, mereka hanya jadi penikmat karena tidak diberi izin lagi mengikuti kegiatan karena mereka sudah harus fokus ke ujian.


"Yana!" Lily menoleh mendengar panggilan yang sudah tidak dia dengar sejak hari kelulusan saat SMP. Teman temannya yang berasal dari sekolah yang menjadi lawan sekolah mereka tadI.


"Kenalanmu?" tanya Angga melihat ke tiga cewek dan dua cowok yang salah satunya bermain tadi.


"Sera, Gebi, Abel" Lily memeluk mereka "Kangen!"


"Kita juga kangen Kamu" Sera balas memeluknya


"Kita gak disapa nih? Kita juga mau dipeluk" Anis salah satu teman cowok diantara mereka berucap.


"Kepala lo!" Atar mencibir, Lily terkekeh dia mengangkat sebelah tangannya untuk tos dengan mereka. "Tim sekolah kamu jago jago mainnya"


"Um, aku tahu" mereka berdua tertawa tangan Atar terangkat mengacak rambut Lily.


"Hm, kayaknya ada yang hangus deh!" ledek Dwi melihat Angga yang melihat kearah Lily.


"Bau hati" Hari menimpali, Angga mendengus dia berbalik dan menginjak kaki kedua temannya membuat mereka menjerit.


Lily yang menoleh karena mendengar jeritan Niel. dia melihat Angga lagi lagi bercanda dengan temannya, entah celetukan apalagi yang membuat Angga kesal.


"Yana." Lily kembali mengalihkan perhatiannya ke Atar dan teman temannya.


"Kami sudah dengar soal Ayahmu" Lily menunduk mendengar ucapan Abel, matanya meredup.

__ADS_1


Sera memeluk Lily "Kenapa tidak kasih tahu kita?"


"Maaf "Lirih Lily.


"Kamu sekarang tinggal dimana?" Atar bertanya begitu Sera melepas pelukannya "Kami mengunjungi rumahmu saat mendengar kabar itu, tapi tidak ada orang" Atar menjelaskan.


"Ada, di rumah kerabat" Jawab Lily dia masih menunduk dia tidak mau membahasnya.


Teman temannya memeluknya sambil meminta maaf padanya karena tidak ada disisinya saat Lily sangat membutuhkan mereka.


"Tidak apa apa" ucap Lily sambil berusaha tersenyum.


"Lily" Angga berjalan ke arah mereka dia mengangguk ke arah teman teman Lily. Teman teman Lily melihatnya dengan kening mengkerut. "Mau makan?" tawarnya pada Lily


Gadis itu menggelengkan kepalanya, tangannya terangkat mengatur rambut Lily yang sempat di acak Atar.


"Tapi kamu belum makan" ucap Angga dengan suara pelan dia masih fokus ke rambut Lily.


"Nanti di rumah." Dia menunduk begitu mendengar suara Lily yang tidak benar, dia menatap wajahnya yang sekarang terlihat sendu.


Dia menghela nafas, sejak tadi dia melihat wajah tertawanya saat bertemu temannya tapi sekarang menyendu pasti karena mereka membahas Ayahnya lagi.


"Kamu siapanya Yana?" Abel yang bibirnya dari tadi sudah gatal akhirnya bertanya juga, dia bersedekap dada menatap lurus Angga.


Sepertinya Lily dan teman temannya memang tidak menggunakan bahasa lo-gue.


"Yana?"


Abel menunjuk Lily, Angga ber-Oh dan lagi lagi merangkul Lily


"Pacarnya" Angga bisa melihat wajah kaget mereka, Mereka langsung melihat Lily meminta kepastian dan gadis itu mengangguk.


Kalau Angga bilang apa dia hanya mengangguk menyetujui.


"Na! Ini dari nyokap" Atar mengeluarkan kotak dari tasnya menyodorkannya ke Lily.


"Ini...?" Lily menatap kotak yang sudah ada di tangannya.


"Gelang milik Ibu kamu, maaf Mama lupa kalau Ibu kamu sempat menitipkannya dan baru memberikannya padamu"


Lily mendekap kotak itu dan menganggukkan kepalanya "Terimah kasih"


****

__ADS_1


__ADS_2