Lily Untuk Angga

Lily Untuk Angga
Part 18


__ADS_3

Lily yang sesudah belajar karena bosan memilih membersihkan rumah, dia juga tidak mau terus menonton tv dan kalau dia hanya duduk tanpa melakukan apapun dia pasti akan teringat Ayahnya lagi dan berakhir dengan mata bengkak karena terus menangis.


Dia mengkerutkan keningnya saat bel pintu berbunyi, masih dengan celemek yang menggantung di tubuhnya dia berlari ke arah pintu, tapi sebelum itu dia mengintip dari jendela.


Seorang gadis yang sangat cantik berdiri di depan pintu, gadis berambut panjang dengan gaun bermotif kupu kupu selutut berwarna pink muda sangat serasi dengan kulitnya yang putih. Lily menggigit bibirnya bingung, haruskan dia membuka pintu?


Pada akhirnya dia membuka pintu karena merasa kalau gadis cantik di depan pintu itu tidak berbahaya.


"Maaf, mbaknya cari siapa ya?" Tanya Lily begitu dia membuka pintu, dia bisa melihat gadis itu terkejut melihatnya


"Kamu...?" Gadis itu menatapnya dengan tatapan penasaran, Lily tersenyum kecil. Gadis itu balas tersenyum membuatnya terlihat semakin cantik, gadis itu menyampirkan rambut ke belakang telinganya. "Aku temannya Angga, Angga nya ada?"


Setelah mengatakan kalau dia teman dari Angga, Lily membuka pintu lebar.


"Kak Angga keluar, ah silahkan masuk." Lily mempersilahkan gadis itu.


"ah, Saya Melanie" Melanie mengulurkan tangannya ke arah Lily.


"Lily" Dia memimpin Melanie masuk ke dalam rumah mempersilahkan Melanie duduk. "Tunggu sebentar, Lily telefon kakak dulu" pamitnya, Melanie menganggukkan kepalanya.


Sepeninggal Lily, Melanie mengedarkan pandangannya ke rumah itu, tidak ada yang berubah dari terakhir kali dia berkunjung.


Lily masuk ke dapur dia meninggalkan ponselnya di sana karena harus membersihkan tadi. Dia mencari kontak Angga dan mendialnya.


"Lily?" Suara Angga langsung terdengar setelah deringan kedua.


"um.. Halo, Kak!" sapa Lily merasa tidak enak karena harus menelfon duluan, biasanya Angga yang melakukannya.


"Kenapa Li? Lily mau sesuatu?"


Lily menggelengkan kepalanya padahal Angga tidak melihatnya juga "Ah, tidak"


"Lily baikkan?" Tanya Angga yang dijawab Ya oleh Lily, di seberang Angga mengkerutkan keningnya.


"Ada teman kakak datang." Ucapnya pada akhirnya


"Teman?"


"iya, Namanya Melanie" beritahu Lily dan untuk beberapa menit Angga terdiam "Kak?"


"Ah ya! Kakak akan pulang" jawab Angga.


Setelah mengucapkan beberapa kata mereka mengakhiri sambungan telfonnya.


Lily keluar dengan nampan berisi minuman dingin karena membiarkan tamu duduk tanpa ada suguhan terasa kurang sopan bagi Lily.


"Ya ampun, padahal tidak perlu repot" seru Melanie, dia membantu Lily mengambil nampan dan menaruhnya di meja.


"Tidak repot kok, Kak!" ucap Lily dia melihat Melanie, semakin dilihat Lily makin mengagumi Melanie.


Melanie melihat Lily yang tampak canggung duduk di sofa depannya.


"kalau boleh tahu, kamu dan Angga... Kamu kerabatnya?"


"Eh?" Lily balas menatap Melanie, sebenarnya dia juga tidak tahu harus menjawab apa, meski sebelumnya alasan kerabat mereka gunakan saat di sekolah, tapi beberapa orang pasti mengenal Angga pun keluarganya jadi sulit menggunakan alasan itu. "Ah itu... Li-Saya.."

__ADS_1


"Tidak perlu di jawab" Melanie mengatakannya dia memperhatikan Lily lagi "ahhh... Kamu sangat imut!"


"Eh? Ya?" Lily membulatkan matanya kaget mendengar ucapan Melanie, dia tanpa sadar mengendur membuat Melanie tertawa.


"Maaf maaf, kamu pasti merasa aneh." Dia mengibaskan tangannya di depan wajahnya menghilangkan kecanggungan karena cetukannya yang tiba tiba. "Mata kamu hitam di tambah pipi kamu kemerahan mengingatkanku pada boneka, ah itu... Kuharap tidak tersinggung"


Lily menggelengkan kepalanya cepat "Tidak, dibandingkan kakak... Kakak sangat cantik"


Melanie sekali lagi tertawa "Hahaha, aku tahu aku cantik banyak yang bilang begitu."


***


Angga menatap hpnya dengan pandangan bingung, dia baru saja selesai menerima telefon dari Lily


Untuk apa Melanie ke rumahnya?


Dia berdecak sambil melirik jam yang terpajang di dinding, jam pulang masih lama. Dia menghela nafas dan meminta Tio bantuannya dulu karena akan izin pulang.


Beruntungnya hari ini dia ke kantor dengan motor, jadi dia tidak perlu terlalu berdesakan dengan pengguna mobil lain.


Meski sempat terhambat macet beberapa saat, dia bisa sampai di rumah dengan cepat. Dengan terburu buru dia berjalan ke masuk ke rumah.


Angga mengkerutkan keningnya mendengar suara tawa dari dalam rumah. Dengan pelan dia membuka pintu dan mendapati dua gadis yang mengobrol dengan santai.


"Assalamu'alaikum"


Lily dan Melanie berhenti bicara karena intrupsi itu, Lily berdiri


"Wa'alaikum salam" jawabnya "in-"


Melanie menghela nafas, dia melihat Angga dari atas ke bawah dia terlihat lebih berisi dari beberapa hari yang lalu saat mereka bertemu.


"Li, bisa tolong ambilkan kakak minum?"


Lily melihat mereka berdua sekilas sebelum berdiri dan berjalan ke dapur, Dia yakin mereka berdua bukan hanya sekedar berteman.


Dia meninggalkan berdua juga karena yakin mereka hanya ingin bicara berdua, adapun apa yang mereka ingin bicarakan Lily sebenarnya tidak peduli, toh hubungannya dengan Angga tidak lebih dari keterpaksaan atas permintaan orang tua mereka dan Lily tidak mau berharap banyak dari kebaikan Angga.


Angga melihat ke arah dapur dimana Lily sudah menghilang, dia kembali melihat ke arah Melanie.


Gadis itu bersedekap menatapnya "sejak kapan kamu melihara perempuan di rumah?"


"Melihara?" Nada suara Angga terdengar sensi, Melanie menunjuk dapur dengan dagunya. "Tidak usah melantur, sebenarnya mau apa lo kesini?"


Melanie menatapnya sebelum menghela nafas "It's her?"


"She is!" jawab Angga


"Are you crazy? Dia masih kecil!" seru Melanie tapi dengan suara pelan karena tidak mau sampai terdengar ke dapur "You was cheating with a child? "


"Tunggu! Lo kira Lily umur berapa?" tanya Angga, dia tidak mau di sangka pedofil karena memacari anak kecil.


"Sebelas atau dua belas" jawab Melanie


"Dia enam belas tahun" jawab Angga dia berseru tidak suka "Apa anak umur sebelas dua belas bisa nyambung ngomong sama lo?"

__ADS_1


Melanie diam sebelum menjawab "Anak jaman sekarang cepat dewasa" jawabnya "Angga, jawab aku! Kamu bukan tipe yang bakal selingkuh hanya karena alasan LDR, what happend?" Melanie melihat dengan lembut ke arahnya dan Angga hanya diam saja "besok aku akan kembali ke luar negri, aku tidak akan tenang kalau masalah kita belum kelar."


"Memang apa yang lo pengen dengar?" Angga menarik nafas panjang dia menatap lurus ke gadis itu. Melanie masih menatapnya bibirnya tersenyum tipis tapi matanya sendu


Melanie menghela nafas sebelum berkata "Kebenarannya! Aku tahu kamu, Ga! Aku bakal mundur kalau kamu jujur sama aku." Angga diam "You love her?"


Angga bergerak gelisah tapi tidak menjawab.


"Aku hanya mau kamu jujur sama Aku, apa itu sulit?"


"Kami sudah menikah" jawab Angga akhirnya, dia menatap Melanie gadis itu terlihat kaget


Ya siapa yang tidak terkejut?


"Atas permintaan Ayah dan Ayahnya Lily, karena itu gue tidak mau ada orang lain dalam pernikahan kami" jawab Angga "Maaf"


Angga menatap penuh penyesalan ke arah Melanie, gadis tampak berkaca kaca sebelum menunduk.


"You love her?" tanya Melanie lirih, dia kembali mendongak dan Angga masih menatapnya


" I don't know" jawab Angga jujur. "Tapi, gue berusaha untuk itu."


Tanpa mereka tahu kalau Lily berdiri di balik dinding pembicaraan mereka.


"Do you love me?" Melanie bertanya matanya berkaca kaca dia menggigit bibir bawahnya.


"I like you but i am sorry. Aku milih pernikahanku." Angga menjawab dia menghela nafas, dia sebenarnya tidak mau seperti ini karena biar bagaimana pun Melanie memang pernah jadi pacarnya "Melanie, Maaf!"


Melanie menganggukkan kepalanya, menarik nafas sebelum menghela nafas berlahan menahan air matanya agar tidak jatuh.


"Tidak apa apa" Dia memalingkan pandangannya mengibaskan tangannya di depan wajahnya "Dia sangat imut kamu tahu, jaga dia baik baik karena aku yakin diluar sana banyak yang suka dia"


"Aku tahu dan aku akan!" suaranya penuh penegasan.


Mereka diam sebentar, Melanie berusaha menstabilkan perasaannya.


"Lily anak yang ceria" ucap Melanie, Angga melirik dapur dan melihat Melanie bibirnya melengkung tipis.


"Terimah kasih!"


Melanie melihatnya "Untuk?"


"Semenjak Ayahnya meninggal, ini kali pertama gue dengar dia tertawa, terimah kasih"


Melanie melihat Angga kali ini dia mengkerut mendengar nada bicara mantan pacarnya itu.


"Lily bukan adikmu" ucap Melanie, Angga mengkerutkan keningnya dan berkata dia tahu itu. "Tapi dari cara kamu bicara, seolah dia hanya adik. Jangan seperti ini! Kalian pasangan sakral beda saat kamu sama aku"


Angga terkekeh kecil dia memang tidak tahu bagaimana memperlakukan Lily.


"Gue masih belajar." ucapnya


Melanie menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa "ahhh.... Aku cemburu! Selama sama aku kamu tidak pernah senyum bodoh seperti ini." serunya meski tidak keras, Angga tertawa.


*****

__ADS_1


__ADS_2