
"Apa sih?" Lily bertanya saat merasa Atar memperhatikannya bahkan dengan kening mengkerut.
"Mama nih kelihatan banget udah tua, matany" Cetuk Atar, dia mencubit pipi Lily "Bakpao begini dibilang kurus"
plak
Lily menampar tangan Atar, dengan kesal dia menggosok pipinya yang sedikit sakit.
"Kamu tinggal di mana sayang? Kenapa tidak pernah nengokin Mama? Hm?" Wanita itu meraih tangan Lily, tangan bayi mungil yang dulu sempat dia gendong begitu ibu kandungnya meninggal. "Mama sama Papa sedih karena tidak tahu soal Ayah kamu"
Lily hanya menundukkan kepalanya dan meminta maaf sekali lagi.
"Lupakan soal itu, kamu harus ke rumah Mama, oke"
Lily lagi lagi hanya tersenyum dan menjawab dengan suara pelan "Yana bakal usahain, Ma."
"No no, pokoknya kamu harus datang" wanita itu menoleh ke putranya "Atar, kamu pokoknya jemput Yana"
"Kenapa Atar? Atar juga tidak tahu Yana tinggalnya dimana. Lagian Mama mau dia ditemuin Rudi sama tante Mira?"
Plak
Atar meringis mendapat tamparan di lengan atasnya oleh sang Ibu.
"Kamu kira Mama sama Papa ngak bisa jagain Yana? Lagian apa gunanya kamu?" omelnya
Atar mendengus kemudian berbalik ke Lily "Lihatkan? Mama makin galak. Kamu tidak usah ke rumah"
"Atar!" sekali lagi sebuah pukulan mengenai lengannya.
Lily yang sudah lama tidak melihat pemandangan seperti itu hanya tertawa, dari dulu Atar memang senang membuat kesal Mamanya.
Saat masih sangat kecil, ketika Ayahnya pergi kerja, Lily memang selalu di titipkan di tempat Atar.
"Pokoknya kamu ke rumah Mama oke, kak Azka juga sudah mau balik dari singapura" Mama Atar kembali menggenggam tangan Lily. "Kalau kamu lulus boleh tuh nikah sama Azka"
"Eh? Anu Yana it-"
Atar merangkul Lily "oh tidak bisa!" dia menyeringai ke Mamanya "Yana sudah ada pacar"
Wanita itu memicingkan matanya ke arah putranya "Kamu sama Yana tidak boleh bareng, kalian tahu itu kan?"
Atar mengangguk kuat "Tau, Atar ada pacar kok." Dia mengacak rambut Lily "Yana juga punya pacar, jadi Mamaku sayang, Mamaku cantik... Kak Azka ngak bisa nikah sama nih si bantet"
"Atar!" Lily berseru kesal karena merasa gerah dirangkul oleh pemuda itu.
"Yana ada pacar?" Gadis kecil itu menganggukkan kepalanya "Tapi jodoh siapa yang tahu? mereka masih bisa putus. Toh masih pacaran"
__ADS_1
Teman teman Angga berusaha menahan tawa mendengar ucapan Mama Atar, juga karena melihat wajah kesal sahabat mereka.
"Tapi pacar kamu baikkan? Ganteng mana dari kak Azka?" Lily langsung menyenggol kaki Atar begitu pertanyaan Mama Atar di lontarkan.
"Apa sih Ma?" ucap Atar "Mama bikin Yana gak nyaman tuh"
"Lah Mama kan nanya? Mama ngak mau ya kalau Yana pacaran sama orang yang gak bener. Yana itu anak Mama juga." wanita menyerocos
Lily tersenyum sebelum memeluk lengan Mama angkatnya itu, dia menyengir dan berkata "Yana juga sayang sama Mama."
Wanita itu menjepit hidung Lily "Yaudah, jadi mantu Mama mau?".
"Tapikan anak Mama berarti saudaranya Yana. Masa kakak adek nikah?"
"Saudara kamu kan cuman Atar doang" Wanita itu tersenyum ke arah Lily "Kamu ngak suka ya sama Kak Azka."
"Iyalah, bangkotan gitu" Atar menyaut dia menarik Lily "Jangan dekat dekat Mama, kamu nanti dinikahin sama kak Azka atau ngak sama Kak Afiq"
"Kamu ini ada dendam apa sama Mama?" wanita itu menatap putranya tajam, Atar mendengus. "Kamu ngak mau apa Yana jadi saudara kamu beneran?"
Atar menepuk kepala Lily sambil menyeringai "Yang benar itu, Yana dari dulu adalah adikku. Mana mau aku dia jadi saudara ipar, enak saja."
Lily tertawa kecil tapi saat ekor matanya melihat Angga, dia berhenti tertawa, dia dengan spontan menoleh. Di tempatnya, teman teman Angga dadah dadah ke arahnya.
Matanya melihat Angga yang bersedekap dada, menatap lurus ke arahnya sambil bersandar. Kening Angga terangkat dan Lily hanya bisa senyum tipis.
Angga berdiri dan berjalan ke arahnya, Lily mendongak saat cowok itu berdiri di sampingnya.
"Kakak kapan di sini? Bagaimana ujiannya?" tanya Lily.
Angga mengangguk sopan ke arah Mamanya Atar, sebelum menunduk menatap Lily.
"Dari tadi, Ujiannya Alhamdulillah lancar." Angga mengacak rambut Lily "Jangan khawatir."
"Kita ngak ditanyain Li?" Hari bertanya dari tempat duduknya "Kita juga habis UN, bukan cuman Angga doang."
Lily tidak menjawab tapi Angga yang melotot ke arah mereka.
"Kamu siapa?" Angga kembali menoleh ke arah Mama Atar. Lily menyuruh Angga duduk.
Angga duduk di kursi depan Lily, karena kedua sisi sudah diisi oleh ibu dan anak itu.
"Maaf saya terlambat memperkenalkan diri. Nama saya Angga tante, saya pacarnya Lily"
"Lily?" kening wanita itu mengkerut.
"Maksudnya dia Yana Ma. Mama tidak lupa nama lengkap Yana kan?" Atar menjelaskan, wanita itu mengangguk mengerti sekarang.
__ADS_1
Angga berusaha santai saat dia ditatap dari atas ke bawah oleh Mamanya Atar.
"Kamu... Pekerjaan orang tuamu apa?" Mamanya bertanya, Lily yang hendak bicara tapi terhenti karena Angga menggeleng ke arahnya.
"Ibu dulunya kerja jadi guru, Ayah saya punya usaha kecil kecilan" jawab Angga.
"Kamu kelas tiga kan?" Angga menganggukkan kepalanya, dia berasa diintrogasi calon mertua. "Kamu pacaran sama anak perempuan saya satu satunya, memang apa yang bisa kamu kasih ke anak saya? Kamu saja belum tentu lulus."
Lily meringis mendengar pertanyaan itu, sedangkan Atar hanya menopang dagunya di atas meja. Dia tau ibunya tidak bermaksud buruk, hanya saja Lily memang kesayangan keluarganya, bahkan dari dulu. Lily adalah prioritas dari pada dia dan saudara saudaranya.
Makanya saat kematian Ayahnya dan mereka tidak diberitahu, Atar sedikit kecewa padanya. Tapi dia juga bisa memaklumi keadaan mental Lily saat itu, yang pasti kebingungan sekali.
Dia juga menatap Angga tanpa niat memberitahu ke ibunya tentang orang tua Angga yang sudah meninggal. Siapa yang suruh dia mengambil Lily tanpa izinnya.
"Saya cukup percaya diri dengan kemampuan akademik saya." jawab Angga "Saat ini, saya tengah membantu pekerjaan Ayah saya. Dan apa yang bisa saya kasih ke Lily, saya tidak bisa menjanjikan apa apa. Saya juga tidak ingin berjanji apa apa, tapi saya sudah berjanji pada Ayahnya, kalau saya akan menjaga putri beliau setelah kepergiannya."
"Kamu kenal sama Edo?"
Angga menganggukkan kepalanya "Beliau Ayah yang hebat. Kebetulan, Ayah saya sahabat beliau."
"Siapa nama Ayahmu?"
"Setya Erlangga" jawab Angga.
"Kamu anaknya Setya sama Erin?" wanita menutup mulutnya tidak percaya, dia menatap Angga lagi. Pantas saja dia merasa tidak asing dengan wajah Angga.
"Iya tante"
"Kabar orang tuamu bagaimana?"
Angga diam, wanita itu mengkerutkan alisnya. Angga kemudian tersenyum kecil tapi tidak sampai ke mata
"Mereka sudah meninggal tante."
Wanita itu makin menutup mulutnya tidak percaya. Dia meraih tangan Angga menepuknya
"Kapan?"
"Ibu meninggal saat saya masih SMP, sedangkan Ayah... Dua jam setelah Ayah Lily meninggal. Di rumah sakit yang sama."
Atar melirik Lily yang juga menundukkan kepalanya, tangannya terangkat menepuk punggung temannya itu. Lily meliriknya dan mengatakan kalau dia tidak apa apa.
"Kalian berdua harus datang berdua ke rumah Mama." Seru Mamanya Atar "Setya itu sahabat suami saya juga, kamu harus ketemu dia."
"Kenapa Mama jadi semangat sekali? Padahal tadi sinis sekali" cibir Atar.
Wanita itu melotot "Diam kamu!"
__ADS_1