Lily Untuk Angga

Lily Untuk Angga
Part 101


__ADS_3

Angga duduk di bangku depan resto Alga, terlihat jelas amarah di wajahnya belum reda sama sekali. Lily berdiri tidak jauh dari dia duduk, gadis itu juga menenangkan jantungnya yang berdebar karena panik.


"Minum!" Hanin mengambil air yang diberi Baim dan menyerahkannya ke Lily "Tidak apa apa, kak Angga sudah tenang."


Lily menerima botol mineral itu, dia melirik Angga yang duduk dengan rahang mengeras "Terima kasih, Kak!"


"Sama gue gak Li?" canda Baim, Lily hanya tersenyum kecil dan mengucapkan terima kasih. "Coba saja anak kelas kayak Lily, adem kelas"


Plak


Baim memegang kepalanya yang baru saja kena tabol Sasya, cowok itu mendelik "Nah baru juga gue bilang!"


"Berisik Boim!" Seru Ciara.


"Siapa tadi yang pergi dengan Zain?" Afkar bertanya karena malas mengabsen satu persatu dari mereka.


"Budi, Chaka sama Miya." jawab Fadly setelah melihat sekeliling menghitung temannya.


"Toa masjid ngapain ke sana juga?" Aryan bertanya, dia benar benar bingung apa fungsi Miya ikut ke sana. "Bisa ganggu pasien!"


"Yang paling tau urus mengurus seperti itu si Miya, ngak usah protes lo!" tegur Hanin.


Tak lama Alga muncul dengan kotak p3k, dia bertanya siapa yang akan membantu.


"Biar gue saja." Vidya hendak mengambilnya, teman teman kuliah Angga memang masih ada di sana.


"Saya bisa mengurusnya!" Lily mengambil kotak di tangan Vidya, di belakang anak IPS langsung berseru.


"Kamu?"


Lily tidak mengatakan apa apa, dia hanya langsung mendekati Angga. Tangan Angga terluka karena memukul bagian tulang Rudi, wajahnya juga memar karena terkena pukul tadi.


Dia meletakkan kotak di lantai, sedangkan Lily berlutut di depan Angga. Dia mendongak menatap Angga yang masih diam, tatapan mereka bertemu dan tanpa mengatakan apa apa Lily mengangguk.


Dia tahu Angga mengkhawatirkannya.


Dia membuka kotak mengambil kapas dan alkohol, dia akan membersihkan luka Angga "Tangan!"


Angga mengulurkan tangannya, memperlihatkan punggung tangannya yang terluka. Lily tidak mengatakan apa apa lagi, dia mulai fokus pada luka Angga, setelah membersihkan barulah dia mengaplikasikan obatnya.


Lily berdiri dan mengangkat kotak itu ke pangkuan Angga, dia mendongakkan kepala Angga.


"Akh!" ringisnya saat Lily tidak sengaja menekannya sedikit kuat.


"Maaf," ucapnya, dia dengan hati hati membersihkan sudut bibir Angga juga pipinya "Masih sakit?"


Angga menggelengkan kepalanya.


"Kakak masih marah?" Lily bertanya dengan suara sangat pelan, hanya mereka berdua yang mendengarnya

__ADS_1


"Masih, tapi tidak semarah tadi." Jujurnya.


Setelah semuanya selesai, Lily menegakkan berdirinya dan merapikan kotak itu. Dia mengembalikannya ke Alga, tidak lupa dia mengucapkan terima kasih. Sebenarnya dia malu dan merasa tidak enak pada Alga, ini kedua kalinya resto kacau karena dirinya.


"Kak, saya minta maaf!" ucapnya sungguh sungguh.


Alga hanya mengibaskan tangannya "Tidak apa apa, jangan pikirkan." meski berkata demikian, Lily tetap merasa tidak enak. "Gue serius."


Saat Angga menoleh ke arah teman kuliahnya, tiga dari mereka mengacungkan jempol ke arahnya. Siapa yang berani melawan Rudi sebelumnya? Mereka tidak bahkan tidak berani menolak keinginan laki laki itu karena takut berurusan dengannya.


Tapi melihat Angga menghajarnya membuat mereka puas, mereka sudah menunggu momen itu. Tanpa mengatakan secara gamblang, mereka mengatakan dalam hati kalau mereka akan membaik baiki Angga.


Tapi, beda cowok beda juga dengan cewek. Saat cowok berfikir untuk berteman, mereka malah berharap berada di samping pemuda itu.


"Bubar bubar!" Afkar berseru, dia juga mengajak teman temannya untuk pulang.


"Kamu mau pulang ke rumah atau ke tempat kak Liz?" Angga bertanya pada Lily yang masih setia menatap Angga.


"Rumah." cicitnya


"Kakak antar kamu pulang, kasih tahu supir untuk tidak usah menjemputmu."


"Tapi?"


Angga hanya menggelengkan kepalanya, Lily langsung mengerti dan setuju dengannya. Toh dia tidak bisa menolak permintaan Angga, dia juga harus mengawasi Vidya.


Mereka kembali ke dalam, situasi di dalam juga sudah kondusif atas sikap tangkas Alga. Lily pamit dan meminta izin untuk kembali melakukan pekerjaannya, Angga melanjutkan pekerjaannya dengan teman temannya.


"Berisik!" Angga meliriknya tajam, dia merasa kepalanya sedikit berdenyut. Jujur saja masih ada emosi yang tinggal di kepalanya.


"Lo gak takut bakal di cegat sama kelompok Rudi?" Emil bertanya setelah berfikir, dia tahu Rudi tidak akan diam.


"Mereka tidak akan sempat!" gumam Angga.


"Gue bisa minta bantuan kakak gue, dia punya banyak teman yang bisa diandalkan." seru Vidya. "Dia salah satu petinggi Anjing Gila!"


"Eh siapa?" Rio bertanya


"Dero! Kalian tahu kan?" tanya Vidya dengan bangga, Angga mendengus.


"Tidak perlu!"


"Tapi kam-"


Tak!


Mereka kaget saat seseorang meletakkan sedikit kesal, Angga mengangkat kepalanya dan mendapati Lily di sana. Angga menyengir melihatnya.


"Silahkan dimakan!" ucapnya, dia melotot ke arah Angga.

__ADS_1


"Terima kasih," kata Angga, dia menarik pelan tangan Lily untuk berbisik "Kamu tambah cantik kalo cemberut!"


Tanpa sadar Lily memukul lengannya, dia dengan cepat meninggalkan meja itu. Angga terkekeh pelan melihat tingkah Lily, tingkah yang menurutnya lucu.


"Jangan bilang dia cewek lo?" Rio menebak, Angga tidak mengatakan apa apa tapi hanya tersenyum misterius. "BENERAN CEWEK LO?"


Angga menyodorkan kertas ke arahnya "Kerjakan itu, tidak usah banyak tanya."


"Ini gak bisa diselesaikan besok ya?" Gina yang kepalanya mulai mengepul, Angga benar benar menyebalkan. "Lo tegas banget sih! Ini bisa di selesaikan besok."


"Gue kerja besok!" katanya dan lanjut mengetik, dia sudah mengumpulkan beberapa materi. "Gue bakal bawa pulang sisanya, kalian mengerjakan yang gue suruh saja."


"Ini serius? Banyak loh ini." kata Aldi, Angga hanya menganggukkan kepalanya yakin "Atau kami ke rumah Lo?"


"Tidak usah, kosan gue ada jam malam!" tolak Angga "Rumah gue jauh."


Dia mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan ke Afkar, dia harus berterima kasih padanya bukan?


"Jadi anak SMA tadi siapa? Kayaknya kenal banget sama lo."


Angga mengangkat pandangannya menatap Aldi "Lo tertarik ya sama gue?"


Aldi langsung terdiam, Angga sama sekali tidak seru. Dia merasa Angga sengaja membangun tembok antara mereka, sepertinya Angga tidak berniat untuk dekat dengan orang lain.


Lebih tepatnya anak kampus.


Jam delapan mereka baru bubar, Angga melihat menunggu di Lily pulang. Saat gadis datang dia langsung menegakkan berdirinya, Lily langsung menghampirinya.


Angga merapikan rambut gadis itu saat dia tiba di depannya, Lily menatapnya sebentar dan ke motor Angga.


"Kenapa?"


"Lily gak mau ikut kak Angga," Angga mengangkat sebelah alisnya bertanya "motor kakak jelek!"


"Sejak kapan kamu jadi lihat cowok dari motornya?"


Lily menyeringai "Dari saat Lily tahu kalau suami Lily orang kaya."


Angga terbahak mendengar jawaban Lily, dia dengan gemas mencubit pipi gadis itu gemas. Angga memberinya helm yang tentunya langsung menerimanya, dia hanya bercanda sebelumnya.


"Pegangan." Angga memegang tangan Lily saat gadis itu naik ke motor.


Lily yang merasa posisinya sudah pas, melingkarkan tangannya di pinggang Angga. Keningnya mengkerut karena merasa berbeda, rasanya Angga mengecil.


"Kakak tidak makan teratur lagi!" kesal Lily, "Kenapa kakak keras kepala sekali sih dibilanginnya!"


"Oke cantik!"


"Kakak!"

__ADS_1


Angga sekali tertawa sambil terus melajukan motornya


__ADS_2