
Setelah sejam di dalam bioskop, akhirnya mereka berlima keluar bersama. Tiga orang dengan mata sembab, dua lainnya dengan ekspresi biasa saja.
Rosa menatap kedua temannya dengan tatapan datar, dia bingung dengan apa yang mereka tangisi. Sejak awal nonton sampai akhir dia hanya bosan, kalau bukan demi keduanya mungkin dia akan keluar lebih awal.
"Sebenarnya apa yang kalian tangisi?" Valen yang sama dengan Rosa akhirnya bertanya, Melanie menatapnya tajam "Apa?"
"Dasar hati beku, tidak berperasaan, manusia tak berhati," dia menarik tisu dan membaginya ke Nurul dan Lily "Cih, pantas tidak punya pacar!"
Valen memutar bola matanya "Apa hubungannya?" dia melihat Rosa yang sama bosan dengannya "Bukan begitu?"
Rosa "___"
Nurul hampir saja menyemburkan tawanya, reaksi Rosa tidak meleset dari perkiraannya. Rosa adalah cewek yang sangat jarang merespon saat laki laki bicara, dia terlalu dingin dengan lawan jenis.
"Sekarang kita bisa pergi ke toko buku?" tanya Rosa pada akhirnya "Atau lo berdua mau menguras air mata sampai habis?"
"Pergi, aku pergi! Ada buku yang mau aku beli," kata Lily dia meremas tisu dan membuangnya di tempat sampah yang kebetulan di sampingnya "Kak Melan mau ikut?"
"Okelah, mumpung aku punya budak yang bisa bawa belanjaan." ucapnya dan mengajak mereka ke toko buku yang ada di mall itu.
Di belakang Valen hanya bisa pasrah, salahnya yang mau saja bermain taruhan dengan Melanie. Dia memperhatikan empat gadis di depannya, sangat menyebalkan menjadi cowok satu satunya diantara cewek cewek.
Pandangannya tertuju pada sepupunya, sebenarnya dia tidak mengerti dengan sikapnya. Bukannya Melanie harusnya sakit hati pada Lily? Kenapa dia malah sangat akrab dengan gadis itu?
Cewek memang sulit ditebak.
"Li, lo mau cari buku apa?" Tanya Nurul antusias, sepertinya moodnya sudah kembali seperti semula, "Tempat ini bau buku sekali."
"kamu berharap bau apa di toko buku?" tanya Rosa dia melangkah lebih dulu.
"Kan biar ada topik, Ca!" Nurul mengikuti Rosa tentunya dengan terus mengoceh ini dan itu.
"Temanmu punya sifat berlawanan," komentar Melanie menatap mereka berdua, Lily hanya mengangguk setuju "kamu juga beda dari mereka."
"Berteman tidak harus punya sifat yang sama." ucap Lily, Melanie tersenyum setuju "Kakak juga mau cari buku?"
"Iya, kayaknya banyak novel baru. Kamu mau cari apa?"
"Buku kedokteran, Kak."
Melanie menatapnya "oh iya ya, kamu kan mau jadi dokter," Melanie menoleh ke arah lain "Aku cari novel dulu, nanti kita ketemu di kasir."
Akhirnya mereka berpencar, Nurul juga sama karena capek mengikuti Rosa yang hanya fokus pada buku buku hukum, jadi dia meninggalkannya.
Lily mencari buku yang berhubungan dengan kedokteran, menatap beberapa buku membuatnya menghela nafas panjang, dia bingung yang mana lebih bermanfaat. Dia mengangkat kepalanya saat sebuah buku disodorkan di depannya, matanya membulat melihat siapa yang memberinya.
"Dokter Libra?" serunya.
Pria berambut pirang bermata biru itu tersenyum "Lama tidak ketemu, kamu cari bukukan?"
__ADS_1
"Iya, Dok!" jawab Lily antusias dia bahkan tanpa sungkan menerima buku yang diulurkan padanya "Dokter juga cari buku?"
"Tidak, temani nih anak cari perlengkapan sekolah." Libra melirik ke belakang dimana keponakannya berdiri menatap mereka "Bagaimana kabarmu? Sehatkan?"
Lily mengangguk sambil tersenyum, dia senang bertemu dengan dokter yang berjasa merawat Ayahnya dulu. Dia juga orang yang dikagumi Lily dari dulu, bisa dibilang dia mengidolakannya.
"Kamu sepertinya tertarik dengan kedokteran," ucap Libra dia menarik beberapa buku dari rak "butuh rekomendasi buku?"
"boleh dok?"
Libra tertawa kecil dengan antusiasme Lily, gadis kecil itu sepertinya sudah pulih dari kesedihannya. Dia mengambil sekitar enam buku yang lumayan tebal, meletakkannya di tangan Lily membuat gadis itu kepayahan.
"Itu hanya sedikit dasarnya," ucap Libra "Untuk menjadi seorang dokter, kamu harus banyak olahraga. Dokter butuh banyak tenaga yang banyak!"
Lily mendengarkannya dengan seksama, dia tahu kalau Libra memberinya nasehat dan masukan padanya. Libra melihat gadis itu sambil mengangguk kecil, dia bisa melihat kesungguhannya.
"Papi, Daddy bilang jangan suka pacaran!" Bocah yang dari tadi memperhatikan akhirnya bicara "Darrel lapor ke grandma!"
"Dih yang pacaran siapa? Kamu jangan suka cepu, masih kecil juga." kata Libra, keponakannya itu hanya melihatnya dingin "Akh! Bocah ini, kamu banyak bicara Papi gak beliin buku."
"Aku tinggal lapor Daddy dan Aunty Leonia!"
"Ya sudah bilang saja! Papi juga bisa lapor ke Mommy sama Daddy kamu, kalau kamu suka dedek Asla!"
"Papi!"
Lily tertawa kecil melihat interaksi paman dan keponakan itu, mungkin karena wajah ayahnya sama dengan dokter Libra jadi mereka terlihat mirip. Bocah delapan tahun itu melihat pamannya sengit, Libra tidak mau kalah.
Libra menegakkan dan menganggukkan kepalanya, tangannya memegang kepala Darrel meminta ponakannya mengucapkan selamat tinggal.
"Darrel, kamu mau jadi dokter kan seperti kakek dan Papi?" Libra bertanya kepada ponakannya, Darrel menganggukkan kepalanya "Kamu harus punya keseriusan seperti kakak itu."
Darrel menatap punggung Lily yang menjauh dari mereka, jalannya sedikit kepayahan karena buku tebal yang dibawanya. Darrel mendongak menatap pamannya lalu ke arah Lily lagi, tak lama dia menganggukkan kepalanya.
"Wow!" seru Nurul saat melihat Lily datang dengan tumpukan buku tebal.
"Lo serius?" tanya Rosa.
Lily meletakkan buku itu di meja, lengannya pegal "Tadi aku tidak sengaja bertemu dengan dokter yang merawat Ayah dulu," Lily menepuk bukunya "Beliau yang merekomendasikan buku ini."
"Lo bisa baca semua?" Nurul masih menatap buku buku itu takjub, Valen yang memang menunggu mereka mengambil membaca judul buku.
"Ini masih dasarnya."
Lily menganggukkan kepalanya "Dokter Libra mengatakan itu."
"Gue punya jilid dua sampai empat, lo bisa pinjam kalau mau!"
"Eh?" Lily menatap Valen kaget, Melanie menepuk lengan sepupunya sambil tersenyum
__ADS_1
"Anak ini juga mau jadi dokter, dia juga dari keluarga dokter."
"Benar?" Valen mengangguk pelan masih melihat lihat buku Lily "Sepertinya yang merekomendasikan ini, dokter yang hebat."
Sebagai anak keluarga dokter, Valen tentunya bisa tahu mana buku biasa dan mana yang benar benar membantu. Lily menganggukkan kepalanya setuju dengan Valen, matanya berbinar saat bercerita soal dokter dokter hebat.
"Dokter siapa tadi?"
"Dokter Libra, Libra Al-Fattah!"
"Ah, dokter Al-fattah. Tidak heran kalau beliau."
"Kamu kenal, Dek?" tanya Melanie, dia tidak mengenal banyak dokter.
"Yang terjun dalam dunia kedokteran pasti tau siapa beliau, saat kuliah beliau lulusan kedokteran terbaik," Valen mengangkat sudut mulutnya, Lily menebak kalau dia juga pengagumnya, "Beliau juga sudah bisa mendiaknosis pasien jauh sebelum mendapat gelar dokternya. Mungkin sekali itu orang bisa mengira kebetulan, tapi ini bukan sekali dua kali beliau mendiaknosis hanya dengan melihat gejalanya."
"Dokter Libra juga dikenal dengan dokter jenius." sambung Lily.
"Gue akan bayar buku." cetuk Rosa seolah mengingatkan mereka, Lily buru buru mengangkat bukunya lagi dan membawanya ke kasir.
Sebenarnya bukan hanya dia yang membeli banyak buku, Melanie membeli tujuh novel dan Rosa membeli lima buku hukum. Tapi diantara mereka bawaan Lily lah yang paling berat, buku yang dia beli tebal tebal. Nurul membeli novel secara acak, Valen tidak membeli sama sekali.
"Wihh... Kartu lo banyak banget." seru Nurul saat melihat Lily membuka dompetnya, ada sekita lima kartu bank disana "Tunggu! Jangan bilang ini black card?"
Rosa dan Melanie ikut menoleh ke arah dompet Lily, gadis itu langsung salah tingkah. Salahnya yang tidak menyimpan kartu itu di rumah, padahal biasanya dia tidak membawanya.
"Ini punya kak Angga." cicitnya.
Nurul dan Rosa menatapnya dengan mata menyipit, Melanie mangguk mangguk mengerti. Tidak akan mengherankan kalau Lily punya itu, Angga sedikit ceroboh dan Melanie tahu itu.
"Hubungan lo sama Angga ngak mungkin hanya pacaran biasa kan? Jujur!" Nurul memegang tangan Lily, Lily menutup rapat mulutnya "Wahhh... Gak seru lo!"
Melanie yang melihat itu hanya terbahak, dia menebak kalau Lily belum mengatakan apa apa. Rosa menatap Melanie yang sepertinya tahu sesuatu, dia menarik Nurul dan melarangnya untuk berisik.
"Lo gak penasaran?" protes Nurul yang ditarik Rosa
"Gue bukan lo!"
"Cih tidak seru lo berdua." Dia bersedekap dada sambil cemberut, "besok besok gue gak mau ngasih tau rahasia gue."
"Tidak ada yang penasaran!" jawab Rosa seperti biasa, Nurul mendengus. "Seriusan lo berdua gak asik, ngak bisa diajak gibah!"
Rosa mendengus dan memberikan bukunya ke kasir, setelah membayar dia menatap Nurul sebelum menyeringai
"Apa?" tanya Nurul masih kesal.
"Orang yang lo suka, baru kemarin jadian di belakang sekolah!"
"Hah?" kaget Nurul, Rosa mengambil buku Nurul yang masih syok membayarnya dan berlalu "wah.. Apa? Dari mana lo tau?"
__ADS_1
Rosa "___"