Lily Untuk Angga

Lily Untuk Angga
Part 100


__ADS_3

Angga menarik kursi di samping Rio, sialnya dia harus berdekatan juga dengan Vidya. Angga tanpa memikirkan apa apa langsung mengeluarkan alat tulis dan laptop, dia hanya ingi menyelesaikannya dengan cepat.


"Pesan makan dulu kali ya? Belum makan siang gue." Gina-cewek selain Vidya berseru.


"Gue juga!" yang lain menimpali jadi Angga mau tidak mau menurut saja, terlebih dia juga belum makan apa apa.


Alga yang sedang menganggur menghampiri meja mereka, dia mencatat semua pesanan yang di sebutkan teman temannya. Saat tiba di bagian Angga, cowok itu diam sebentar dan melirik ke arah dapur.


"Dia masih di luar!" ucap Alga seolah paham kediaman Angga. "Mau pesan gak nih, senior?"


"Nanti saja lah," Angga menopang dagunya dia melirik keluar "Lo mending kasih makan anak anak monyet yang diluar sana, kelaparan keknya mereka."


Alga mengikuti arah pandang Angga "Mereka selalu kelaparan, jadi biarakan saja."


Angga tidak mengatakan apa apa, dia masih melihat keluar dimana adik adik kelasnya dulu berkumpul.


"Jadi?" Alga kembali bertanya.


Angga melihatnya, telunjuknya dia ketuk ketukkan di meja. Alga menghela nafas panjang, menghadapi orang orang yang dilanda musim semi sangat merepotkan!


"Ya sudah, nanti gue kasih tahu dia buat masakin lo kalau datang."


Angga menyeringai puas, setelah memastikan pesanan mereka lagi barulah Alga pergi. Angga menyalakan laptopnya dan mulai membaca materi tugas, ada begitu banyak yang harus mereka cari.


Kayaknya sehari tidak cukup ini.


"Lo anaknya gak bisa santai sedikit ya?" Rio yang melihat Angga mencatat poin poin berkata.


"Tidak juga." dia menghela nafas masih fokus ke layar. Dia kemudian membagi tugas untuk mereka. "Sepertinya ini membutuhkan penelitian langsung, harus langsung turun lapangan." jelas Angga. "Siapa yang mau lakuin wawancara? Dua orang cukup!"


Aldi mslihat bagian yang di tunjuk "Biar gue saja, yang mau bareng siapa nih? Mil?"


Emil yang namanya di sebut menoleh "Kenapa gue? Ga, lo kan paham maksudnya kenapa bukan lo saja?"


"Gue kerja paruh waktu, sulit mengambil izin." jawab Angga asal, untuk seminggu ke depan jadwalnya full.


"Lo kerja dimana?" Vidya yang dari tadi diam bertanya "Gue bisa kok izinin lo, demi tugas."


"Erlangga Grup!"


Mereka semua menatap Angga tidak percaya, siapa yang tidak tahu perusahaan yang letaknya tidak jauh dari kampus itu? Sangat sulit masuk di sana, lalu apa kualifikasi Angga bisa masuk ke sana.


Satu yang mereka pikirkan, Angga pasti hanya omong besar.


"Sebagai apa?" Gina bertanya dengan nada sedikit tidak percaya.


"Cleaning Service!" ucap Angga, dia memang masih memiliki kartu karyawan CS di dompetnya.


Entah kenapa dia malas mengeluarkannya dari sana.


"Cleaning service?" Gina berseru "Padahal lo punya tampang memumpuni?"


"Hah?" Aldi mengkerutkan alisnya.


"Gue gak munafik ya, dia itu ganteng tau!" Gina menunjuk Angga "Lo sebenarnya bisa jadi model pakaian pakaian, lumayan penghasilannya loh. Kalau lo mau gue bisa kenalin ke beberapa orang kenalan gue."


Angga menatapnya sekilas "Terima kasih, tapi gue nyaman sama pekerjaan gue."

__ADS_1


Baru akan membalas perkataan Angga, pesanan mereka sudah sampai. Angga mengangkat alisnya sebentar karena dia juga mendapat piring, padahal dia belum memesan.


Dia mendongak melihat karyawan yang membawa pesanan, karyawan itu menunduk untuk berbisik padanya. Angga langsung melihat ke arah dapur, dimana mereka bisa melihat koki yang bekerja.


Dia melihat gadis mungilnya yang sekarang sibuk di dapur, dia mengangkat alisnya saat matanya dan Lily bertemu. Angga menyunggingkan senyumnya saat melihat Lily mengedipkan sebelah matanya, sejak kapan Lily mulai centil kepadanya?


Tapi dia suka.


"Lo kenapa?" Rio bertanya karena merasa aneh dengan ekspresi ramah, dia melihat ke arah pandangan Angga tapi tidak ada yang aneh.


"Coba ini, ini enak!" Vidya hendak meletakkan udang di piring Angga, tapi cowok itu langsung menjauhkan piringnya.


"Gue alergi seafood!" ucapnya dingin. Angga juga menepis tangan Rio yang hendak menyendok makanan miliknya "Makan makanan lo!"


"Pelit lo! Makanan lo kayaknya enak!"


Angga tidak mengatakan apa apa, dia tidak akan menyerahkan makanan yang dibuat Lily untuknya. Angga tersenyum melihat udang di piringnya yang tersembunyi di bawah nasi, Vidya yang melihat itu mengulurkan piringnya


"Lo bisa kasih ke gue."


Angga tidak mengatakan apa apa, dia malah langsung memasukkan udang ke mulutnya. Mereka semua menganga, bukankah dia bilang dia alergi seafood.


Di dapur melihat itu Lily mengkerutkan keningnya, siapa gadis di samping Amgga? Tapi melihat reaksi Angga yang dingin, Lily merasa sedikit tenang.


"Tidak mau samperin?" Alga bertanya, Lily menggelengkan kepalanya


"Kan masih kerja kak, lagi juga kak Angga bareng teman temannya." dia memasukkan bumbu ke kuali "Bukannya kakak yang harusnya ke tempat teman teman kakak?"


"Mereka bisa mengurus diri mereka sendiri," Alga menghela nafas panjang "Kuping gue sakit, mereka berisik seperti biasa."


Lily menopang dagunya di atas meja, dia menatap ke arah meja Angga yang masih terlihat berdiskusi dengan teman kampusnya. Sudah tiga jam mereka di sana, tapi yang membuat Lily kurang nyaman adalah tingkah Vidya yang terlihat jelas mencari perhatian.


"Kakak mendapat kiriman minuman." dia meletakkan jus di samping Angga, dia diam diam mengambil kaleng soda di depan Angga.


Angga menopang dagunya, dia menatap Lily dengan kening terangkat "Dari siapa?"


"Pacar Kakak!" ucap Lily sedikit ketus, dia melirik teman teman Angga sebelum kembali ke Angga "Dia juga bilang, NGAK USAH GANJEN! itu saja."


Angga melongo, dia tidak menyangka dengan reaksi Lily yang seperti itu. Sebenarnya Lily tidak menujukan kalimat itu pada Angga, tapi pada gadis di samping Angga yang motifnya terlihat jelas.


"Siapa?" tanya Rio tapi tidak mendapat tanggapan dari Angga


"Kerjakan ini saja!" perintahnya. Angga kembali menoleh ke halaman belakang, keningnya mengkerut dan bergumam "Anak anak itu betah banget disini."


"Anda tidak diterima di sini, silahkan pergi!"


"Lah itu bukannya Rudi ya?" tanya Emil yang melihat ke arah pintu masuk, Angga juga melihat kesana saat nama itu di sebut.


"MINGGIR!" Rudi mendorong karyawan itu sampai jatuh dan menyelonong masuk


Wajahnya sangat merah, terlihat jelas dia sedang marah besar. Matanya mencari sana sini sampai terkunci ke satu tujuan, dia berjalan mendekat kearah Lily.


"ANAK SIAL! PEMBUNUH IBU! LO KAN YANG SURUH KAKAK LO BUAT BERURUSAN SAMA KELUARGA GUE?"


Rio terkejut saat dia melihat Angga, cowok itu terlihat seperti binatang buas yang mengintai mangsanya.


"Lepaskan!" Lily berusaha melepaskan cengkraman Rudi di pakaiannya.

__ADS_1


"LEPAS? GUE BAKAL BUN*H LO HARI INI!"


Ctak!


Rio dan yang lainnya kaget saat Angga melempar pulpen ke meja, mereka bersiap mencegahnya tapi Angga meninggalkan tempatnya lebih dulu.


"Angga!" Vidya hendak menyusul tapi di cegah Rio "Apasih, cegah Angga sana, Rudi itu ba-"


Bukh!


Mereka menoleh dan mendapati Angga membogem Rudi, tanpa mengatakan apa apa dia mencengkram kerah baju pemuda itu dan menyeretnya keluar. Dia tidak peduli dengan langkah Rudi yang terseok seok, dia tetap terus menyeretnya.


Angga melempar Rudi ke tanah!


"Bangs*t siapa lo ikut campur urusan gu-akh!" Rudi tidak sempat menyelesaikan kalimatnya, Angga kembali memukul wajahnya.


Dia berlutut di atas tubuh Rudi dan memukulnya tanpa ampun, bisa dengan jelas terlihat kalau dia tidak menahan diri sama sekali. Tapi Rudi tidak seperti teman kampus yang pernah dia pukul sebelumnya, Rudi kuat dan membalasnya.


Angga berdecak, sebelum Rudi menendangnya dia menghindar lebih dulu. Dia tahu betapa kuatnya tendangan anak taekwondo, Angga juga mempelajarinya beberapa tahun.


"SIAPA LO HAH? LO JUGA BAKAL MATI HARI INI, ANJ*NG!"


Angga menangkap kakinya dan tanpa segan menyikutnya, tidak peduli patah tidaknya si Rudi. Dia mendorongnya mundur dan menendangnya di bagian ulu hati.


Rudi terduduk di tanah memegang bagian ulu hatinya, melihat itu Angga mendekat menarik rambutnya dan membenturkan kepala Rudi di tanah. Dia melakukannya dua kali, sebelum menghajarnya lagi.


"Woi Angga!"


Afkar yang kebetulan hendak pulang dengan temannya berlari ke arah mereka, dia menarik Angga sampai dia lepas dari Rudi.


"Gila lo ya?"


Angga hanya melihatnya sekilas, dia kembali berdiri hendak mendekati Rudi. Untungnya Aryan dan Alvin mencegahnya, mereka menahan tubuh Angga di kedua sisi.


"Lepasin!" gumam Angga


"Gila ya?" Afkar mencegah Angga dari depan "Lo bisa bikin dia mat*, mau masuk penjara lo?"


"Gila, tenaga senior kek Babon! Kuat banget." Aryan yang masih menahan Angga yang berusaha melepaskan diri.


"Apa sih Ga!" Afkar berseru melihat Angga yang masih berkeras "Dia sudah luka parah!"


"Apa urusannya denganku," dia melihat tajam Afkar "Mingg-"


Kalimat Angga terhenti saat ada tangan mungil menyentuh lengannya, dia menoleh ke samping menatap Lily. Gadis itu terlihat gemetar, tapi masih menatapnya tegas.


"Sudah!" lirihnya


Alvin dan Aryan menghela nafas lega, seniornya akhirnya berhenti berkeras. Tangan Lily turun menarik ujung baju Angga, dia menggelengkan kepalanya.


"Zain! Bawa dia ke rumah sakit!" perintah Afkar


"Kok gue? Kenapa gak si Aryan saja?" gerutunya tapi tetap manuk, dia mendekati Rudi yang tergeletak dengan wajah bersimbah darah.


Sepertinya saat Angga membanting wajahnya tadi, Zain menggelengkan kepalanya saat merasa orang yang akan dia bawa ke rumah sakit itu tidak bisa berdiri dengan benar.


"Punya pesan?" Zain melihat seniornya yang masih menormalkan emosinya.

__ADS_1


"Jangan menyentuh milik gue!"


__ADS_2