
"Sedang apa?" Angga berjalan menghampiri Lily yang terlihat serius mengerjakan sesuatu.
Lily menoleh sambil cemberut, dia sudah dari tadi berpaku pada benda di depannya tapi belum terbuka juga. Angga mendekat dan duduk di samping Lily di lantai, dia melihat Lily sibuk dengan brankas.
Dia ingat, itu brankas yang diambil di rumah Ayah Lily hari itu. Angga mengambilnya, memperhatikan dari semua sisi benda berbentuk kotak itu.
"Mau kakak bongkarkan?" tanya Angga, Lily diam "Atau mau kakak cariin orang yang bisa bantu buka biar tidak rusak?"
Angga bisa melihat dari air muka Lily, gadis itu tidak ingin benda itu rusak. Angga menunduk menatapnya lagi, benda itu terlihat kokoh tapi bukan berarti tidak bisa dibuka.
"Tanggal lahir kamu sudah coba?" tanya Angga, Lily menganggukkan kepalanya.
Lily sudah mencobanya, mulai dari tanggal lahir Ayahnya, Ibunya dan dirinya tapi tidak ada yang cocok. Dia juga mencoba tanggal pernikahan orang tuanya, tapi tetap saja tidak bisa.
"Ya udah deh, tolong ya Kak." kata Lily, dia setuju dengan usulan Angga untuk mencari orang lain untuk membuka brankas itu.
"Kakak bawa untuk sementara tidak apa kan?" tanya Angga, gadis itu menganggukkan kepalanya. "Ini... uang kali ya isinya?" Angga menebak, karena kotak itu lumayan ringan.
Lily mengedikkan bahunya, dia juga tidak tahu dan penasaran. "Tidak tahu, tapi menurut Lily, ini berkas yang Lily tidak boleh tahu."
Angga hanya bisa mangguk mangguk, setiap orang memang punya rahasia sendiri.
"Mungkin foto foto Mama." lirihnya, Lily menarik nafas panjang. Dia tidak tahu kenapa Ayahnya harus menyembunyikannya.
"Hm..." Angga hanya bergumam sebagai tanggapan, dia hanya tidak mau Lily membahas itu terlalu jauh dan membuatnya murung. "Kakak punya album foto waktu kecil, mau lihat?"
"Boleh?"
Lily mengangguk antusias, dia penasaran. Angga bergegas bangun membuka lemari yang tidak pernah di buka Lily, dia mengambil beberapa album foto membawanya ke depan Lily.
Dengan antusias Lily membukanya, memperhatikan foto foto itu.
"Imut!" Lily berseru sambil menunjuk foto Angga saat balita di dalam baskom mandinya.
Angga duduk di sampingnya menceritakan cerita di balik momen foto itu, dia mendengarnya dari ibunya dulu. Lily menunjuk foto Angga yang ada di ayunan, pemandangannya bagus sekali.
"Ini dimana kak? Tempatnya cantik."
Angga menunduk untuk melihat "Itu di vila Ayah, tempatnya memang bagus" Angga menunjuk ke benda di dalam foto itu "Ayunan ini masih ada sampai sekarang."
Saat liburan keluarga Angga memang sering liburan, salah satunya ke vila tempat favorit ibunya. Bahkan seminggu sebelum Ayahnya meninggal, Angga dan Ayahnya sempat kesana.
__ADS_1
Hari itu Ayahnya tiba tiba mengajaknya liburan, Angga awalnya merasa aneh karena tidak biasanya Ayahnya seperti itu. Saat tiba di vila pun Ayahnya menceritakan banyak hal, sebelum terdiam seperti memikirkan sesuatu.
Ayahnya juga tiba tiba bercerita tentang ibunya. Yang membuat Angga kaget yaitu, Ayahnya mengatakan kalau semua saham serta fasilitas sudah dibalik namakan menjadi namanya.
Belakangan ini baru dia sadar, mungkin saat itu tau kalau dia akan pergi untuk selamanya.
"Ini vila favorit ibu." Angga masih menatap foto itu sebentar, tak lama dia melihat ke Lily "Lain kali jalan jalan ke sana ya, kalau ada waktu."
"Boleh" seru Lily.
Dia membalikkan lagi halaman album itu, sambil terus bertanya tentang cerita di baliknya. Album foto dirinya, semua di simpan Mama angkatnya.
"Ini Ibu kan?" Lily menunjuk foto wanita muda yang tengah memangku bayi yang menangis. Angga mengiyakan "Ibu cantik!"
Angga tertawa. "Kata Ayah, dulu ibu salah satu primadona di kampus. Heran saja kenapa mau sama Ayah"
Lily memukul pahanya "Ih ngak boleh ngomong gitu.
Angga mengelus pahanya, tangan kecil Lily lumayan pedis saat memukul.
"Lah kenyataan." Lily kembali ingin memukul tapi Angga dengan cepat menghindar "Eits, ngak kena."
Lily mendengus, tangannya meraih bantal dan melemparnya ke arah Angga. Angga membuka bantal itu dari wajahnya, sambil menyeringai dia membalas Lily.
"Kamu yang mulai." Angga kembali duduk seperti pose awal. Dia menarik tangan Lily agar kembali mendekat, Angga menyodorkan foto ke Lily
"Menurutmu kakak mirip Ayah atau Ibu?"
Lily menunduk menatap foto bergantian melihat wajah Angga. Dia bisa melihat kemiripan wajah mereka, Angga mengikuti mata dan rambut ibunya sedangkan yang lain mirip Ayahnya.
"Lebih condong ke Ayah" Lily menjawab dengan jujur.
"Banyak yang bilang begitu sih." Angga meregangkan tubuhnya kemudian berbaring di lantai "Padahal aku lebih senang dibilang mirip Ibu!"
"Kenapa? Ayah kan keren."
Angga memiringkan badannya sambil menopang kepalanya "Jadi kerenan mana aku sama Ayah?" dia menaik turunkan alisnya ke arah Lily, Lily tersenyum
"Ayah!"
Angga mendengus kemudian tengkurap, dia membuka album yang lain. Lily melakukan hal yang sama, dia mengikuti Angga tengkurap yang sepertinya lebih nyaman.
__ADS_1
"Orang tua kakak kayaknya hobi motoin kakak" Melihat album yang menumpuk banyak, pernyataan Lily tidak bisa di elak.
"Ibu yang suka foto." jawab Angga.
"Ibu fotografer?" Angga menggelengkan kepalanya
"Dosen, beliau profesor di universitas yang mau kakak masukin."
Mata Lily membulat takjub, kalau misalnya dia teman Mama angkatnya berarti masih lumayan muda. Lily melirik Angga yang melihat foto fotonya sendiri, tidak heran anaknya pintar wong orang tuanya semua cerdas.
Merasa diperhatikan Angga menoleh, dia melihat mata berbinar Lily. "Kenapa?"
"Keren, Ibu keren." seru Lily "Sayang sekali Lily ngak sempat ketemu." lirihnya.
Angga menganggukkan kepalanya "Kakak juga merasa kalau Ibu sangat keren." dia menumpukan dagunya di lantai. "Kalau kamu ketemu beliau, kemungkinan besar kamu di unyel unyel."
"Heh?"
Angga terkekeh "Ibu kepengen punya anak perempuan, tapi belum sempat dilahirkan beliau meninggal."
Lily tertegun, dia kemudian memberanikan diri bertanya "Kenapa beliau meninggal?"
Angga tidak langsung menjawab, dia membalikkan badannya ke arah langit langit kamar, menutup wajahnya dengan lengannya sendiri.
"Ibu kecelakaan, dia di tabrak mobil saat menyebrang jalan, padahal mobilnya masih jauh." Angga diam sejenak "Padahal tinggal beberapa langkah lagi untuk sampai ke seberang."
Lily menatap Angga yang menceritakan detail kejadiannya, tanpa diberitahu siapapun Lily tahu posisi Angga. Dari cara dia bercerita, dari seraknya suara serta bagaimana tatapan Angga yang seolah kejadian itu selalu segar di kepalanya, Lily tahu.
Angga ada di tempat kejadian saat itu, dengan kata lain dia melihat bagaimana Ibunya meninggal.
Angga menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya "Padahal sebentar lagi Ibu lahiran. Dokter memprediksi adeknya Kakak itu cewek."
Lily hanya diam karena merasa menanyakan hal yang tidak seharusnya, melihat Angga sekarang dia tidak tahu harus melakukan apa.
"Maaf, Lily harusnya tidak tanya." lirih Lily pada akhirnya.
Angga melepaskan tangannya, dia memiringkan kepalanya untuk melihat ke arah Lily. Angga mengulurkan tangannya mengusap bawah mata Lily yang memerah, dia membuka mulutnya dan berkata lirih juga
"Tidak apa, kamu juga harus tau soal ini kan? Lagipula kejadiannya sudah lama, Kakak sudah lupa."
Lily hanya bisa berseru dalam hatinya, bohong sekali kalau dia bisa lupa.
__ADS_1
"Kamu punya Kakak kandung?" tanya Angga mengalihkan pertanyaannya, dia tidak suka ekpresi bersalah Lily.
"Kakak kandung?" Gadis itu berfikir kemudian menggelengkan kepalanya. "Selain sepupu Lily, serta Atar dan saudaranya... Lily tidak punya lagi."