
Menarik nafas panjang Angga keluar dari mobil sambil memperbaiki jas yang dia kenakan. Dia mendongak menatap gedung tinggi di depannya, gedung hasil jerih payah kakeknya dan dipertahankan serta dikembangkan menjadi luas oleh Ayahnya.
Mampukah dia mempertahankannya?
Meski terlihat percaya diri, Angga tetaplah remaja yang bahkan belum lulus SMA pengetahuannya belum seberapa dan tentunya ada keraguan dalam dirinya.
Di pintu masuk, asisten pribadi Ayahnya sudah menunggunya.
"siang om Tio" salamnya, pria kepala empat hampir lima itu tersenyum ke arahnya yang mengingatkan Angga pada almarhum Ayahnya
"selamat siang, Pak! Silahkan ikuti saya"
Angga mengangkat sebelah keningnya melihat sifat formal Asisten Ayahnya yang tiba tiba, Angga menarik nafas lagi dan berjalan masuk ke dalam.
Terakhir kali dia ke perusahaan adalah saat dia SMP kelas 7 dan saat dia datang lagi sudah begitu banyak perubahannya.
Hampir di setiap langkah mereka, karyawan menyapa om Tio dan menatapnya dengan tatapan penasaran, tapi Angga yakin beberapa dia antara mereka sudah menebaknya.
Angga diantar hingga ke depan pintu ruangan Ayahnya.
Dia berdiri di depan pintu dengan perasaan campur aduk, biar bagaimana pun ruangan itu salah satu saksi hidup Ayahnya, hampir separuh hidup Ayahnya dihabiskan di ruangan itu.
Dia dilema dalam perasaan siap dan tidak siap.
Dengan tangan sedikit gemetar dia memegang gagang pintu dan berlahan membukanya. Kalau Om Tio tidak di sampingnya mungkin dia akan menangis, aroma ruangan itu penuh dengan aroma Ayahnya.
Dan melihat ke samping dia berujar pelan "bisa tinggalkan saya sebentar Om?"
Tio menatap punggung yang belum dewasa itu, dia mengerti perasaan Angga dan berjalan mundur secara berlahan setelah memberitahu kalau beberapa menit kemudian Angga harus menghadiri rapat.
Angga luruh ke lantai begitu dia menutup pintu, jiwanya tidak siap dengan amanah yang begitu besar ini.
Setelah merasa sedikit tenang, Angga menghapus air matanya dan berlahan bangkit. Dia berjalan ke meja kerja Ayahnya.
Senyumnya terangkat saat melihat bingkai foto di atas meja, ada tiga foto. Foto keluarga, foto ibunya dan foto dirinya saat masih anak anak. Sepertinya dia harus menambahkannya nanti.
Angga duduk di kursi kebesaran Ayahnya menarik berkas yang di depannya, berkas yang katanya menjadi materi rapat nanti. Keningnya mengkerut bukan karena dia tidak paham tapi karena merasa ada yang salah dengan materi itu.
Tidak lama dia mendengar suara ketukan di pintu dia dengan cepat menyuruh masuk. Di ambang pintu berdiri perempuan tiga puluhan dengan pakaian rapi
"Pak, rapat akan segera di mulai lima menit lagi." ucapnya
__ADS_1
Angga mengangguk dan berterimah kasih padanya, dia berlahan berdiri mengambil materi itu dan berjalan ke arah ruang rapat yang di tentukan.
Keningnya mengkerut begitu tiba di ruang rapat yang kosong, dia melirik sekretaris itu juga om Tio dan bisa dengar kalau Asisten Ayahnya juga kesal.
Tanpa mengucapkan apa apa Angga berjalan ke arah kursi meletakkan berkas materi dan duduk diam di sana. Matanya tertutup rapat setelah melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Dia tahu ini berbeda dari saat dia jadi ketua osis, tapi ini juga bukan pertama kalinya dia memimpin rapat.
Tio berdiri di samping Angga dia memperhatikan remaja yang hanya diam sambil menutup mata itu, meski hanya diam Tio bisa merasakan kalau remaja itu menahan marah sekarang. Dia hanya berharap kalau Angga tidak berfikiran pendek dan mengamuk seperti remaja pada umumnya. Dia melihat jam di pergelangan tangannya, sudah lebih sepuluh menit dan mereka belum datang.
Telinga Angga terbuka lebar saat mendengar derap langkah dari luar dan suara kekehan ala bapak bapak bergerombol masuk, mereka bahkan tidak repot meminta maaf dan langsung mengambil kursi untuk duduk.
"sepertinya pimpinan kita datang lebih awal dan ketiduran"
Setelah merasa kursi penuh barulah Angga membuka matanya, Tio yang berdiri paling dekat tertegun dengan tatapan dingin Angga yang sangat mirip dengan pimpinan sebelumnya.
Angga tetap diam sedangkan mereka yang baru datang terus bercerita dan bahkan sesekali bertanya padanya seolah tidak membuat kesalahan
Apa mereka meremehkannya?
Sepertinya mereka memang meremehkannya!
"13 menit 25 detik" ucap Angga dingin membuat mereka menatapnya. "kalian meremehkan saya?"
"hemm..." Angga tersenyum dan sedikit tertawa. "Om Tio!"
"ya pak?"
Angga berdiri dan bersiap berjalan "persiapkan promosi untuk menempatkan kepala baru setiap departemen. Dan saya menolak materi dan proposal itu"
"Pak!" mereka berseru tapi Angga hanya berlalu seperti tidak ada yang terjadi.
Tio dan Linda sekretarisnya hanya berjalan di belakang Angga menatap punggung remaja itu. Sebenarnya mereka juga memang tidak terlalu menyukai mereka sejak lama tapi pimpinan lama meski terkesan dingin tapi memiliki hati yang lembut dan sering memaafkan kesalahan mereka.
Angga melihat jam lagi, merasa waktunya tidak cukup jadi dia membuang ide yang ada di kepalanya, dia hanya meminta berkas lainnya.
Dia menghempaskan dirinya di sofa ruangan itu, melonggarkan dasi di lehernya. Baru hari pertama dan dia sudah mau memindahkan beberapa orang yang tidak disiplin.
Dia merogoh sakunya mengambil ponsel yang dari tadi dia mode diam saat rapat karena tidak ingin mengganggu tapi pada akhirnya rapat dia batalkan.
Tangannya dengan lancar mencari nomor Lily yang dia tinggalkan di rumah.
__ADS_1
"halo kak" suara Lily terdengar saat sambungan terhubung.
"oh hai, sudah sampai rumah?" tanyanya
"sudah"
Angga menyandarkan dirinya di sofa "malam ini kakak pulang larut, Lily tidak masalahkan?"
"tidak. Kakak lembur?"
"hem" dia melihat jari tangannya "Ayah meninggalkan banyak pekerjaannya, jadi kakak harus menghandle. Mungkin kakak akan sering lembur."
"hem... Kakak sudah makan? Besok Lily siapin bekal?"
Senyum Angga terpatri mendengar pertanyaan itu "di sini ada kantin kantor." dia melihat asisten dan sekretaris Ayahnya masuk dengan banyak berkas "sudah ya, kakak ada kerjaan. Kamu hati hati di rumah, kalau ada apa apa hubungi kakak"
"ehn"
Angga memutuskan sambungan telfonnya dan mengambil berkas yang bertumpuk di depannya. Melihatnya satu persatu, dia menghela nafas panjang karena merasa ini lebih sulit dari matematika.
Dia menggelengkan kepalanya, matematika jauh lebih susah apalagi buatan pak Juan.
"Om, saya minta laporan karyawan juga" kata Angga, dia berniat memeriksa karyawan karyawan kantornya, tapi saat hendak keluar Angga menghentikannya karena memiliki ide langsung.
Karyawan belum ada yang mengenalinya sebagai pimpinan kan?
"bapak yakin?" tanya Tio setelah mendengar ide Angga
"ya, saya sudah sering melakukannya" dia merogoh sakunya lagi mengambil hp dan menelfon seseorang.
"Niel, Besok lo kosongkan, pulang sekolah?" tanya Angga saat dia selesai basa basi dengan temannya "gue butuh bantuan lo"
"apaan? Ada gaji gak? Bokek gue?"
Angga mendengus mendengar pertanyaan temannya "an.jir sama gue perhitungan banget lo. Ntar gue kasih contek tugas yang dari pak Juan"
"nah gitu dong, oke kalau begitu"
Angga memutar bola mata jengah sebelum mematikan ponselnya.
Tio hanya menatap Angga yang kembali ke mode serius
__ADS_1
Apa anak Almarhum atasannya punya dua kepribadian?
*****