
"Na, kenapa tidak kasih tau sih?" Atar menatap Lily sedikit kesal.
Lily menatap Atar dengan datar "Lalu? Apa yang mau kamu lakuin? Cindy benar benar hanya datang minta maaf."
"Itu..." Atar menggaruk kepalanya karena memang bingung mau mengatakan apa "Lo tidak kenal dia dengan baik, Na."
"Kamu benar, Aku memang tidak mengenalnya dengan baik. Tapi," Lily memutar badannya menghadap Atar "Dia datang minta maaf dengan sopan, jadi dia berhak mendapat maaf."
Atar diam, dia menghela nafas dan jongkok begitu saja. Menggaruk kepalanya yang tiba tiba gatal, dia menatap Lily yang menepuk bahunya.
"Tar, aku juga mau minta maaf."
"Hah?"
Lily ikut berjongkok, dia menopang dagunya sambil menatap ke arah lain.
"Hubunganmu dan Cindy jadi seperti sekarang karena aku, hari itu aku hanya kesal. Tidak ada maksud bikin kalian putus." jelas Lily.
"Aku memang mau putus dari dia," Atar menghela nafas panjang "Aku merasa hubungan kami tidak benar, kami juga masih remaja kan? Tidak butuh komitmen, jad-akhhh"
Lily dengan sadar menjambak rambut Atar, entah kenapa dia kesal dengan ucapan kekanakan saudaranya itu.
"Sakit, Na! Kamu kenapa sih?" kesal Atar, dia menahan tangan Lily yang ingin menjambaknya lagi.
"Kamu pacaran itu apa tujuannya?" Lily bertanya marah, pipinya ikut memerah karena kesal.
"Hah?"
"Kamu pacaran tujuannya apa? Kalau tidak punya tujuan mending gak usah! Kamu hanya membuang waktu anak orang." dia berdiri dan hendak pergi "Kalau cuman mau main-main, mending mainin barbie sana."
Atar terganga di tempat, dia menatap punggung Lily yang sudah menjauh.
Lily berjalan dengan sedikit menghentakkan kakinya, dia kesal karena Atar. Lily menghentikan langkahnya dan menarik nafas berlahan, dia tidak bisa membandingkan orang lain dengan Angga.
"Ngapain lo bengong di situ?" teriak Nurul di ambang pintu, sampingnya ada Rosa yang bersedekap dada "Buruan masuk."
Dia dengan cepat melangkah ke kelas, meski hari ini tidak belajar tapi tak satupun diizinkan bolos sekolah. Lily masuk ke dalam kelas, berbeda saat kelas sepuluh, kali ini banyak yang mengajak mereka bicara.
"Kamu berbeda dari rumor." ucap salah satu dari mereka.
"Rumor?" Lily dan Rosa berucap bingung, memang sejak awal masuk mereka lebih senang sendiri.
__ADS_1
"Hm, kamu tidak tahu?" Lily menggelengkan kepalanya "Banyak yang bilang kalau kamu itu sombong, kasar sama itu... Suka main cowok"
"Aku baru tau sekarang." lirih Lily
"Yang di drop kemarin, katanya karena lo." mereka menatap Lily.
Rosa menepuk meja "Mereka keluar karena ulah mereka sendiri."
Nurul menganggukkan kepalanya dan menimpali "Mereka ketahuan sekolah membully banyak sisiwa, well terima kasih pada Lily. Kalau bukan karena dia, mereka akan tetap merajalela sekarang." Nurul mengedikkan bahunya "Lily juga korban, untung dia melawan."
"Beneran?"
Nurul mengangguk antusias "Pertamanya gue juga kemakan gosip, tapi setelah kenal, kami baik sampai sekarang. Iya gak Li?"
Lily "___"
*****
Angga meregangkan lehernya sambil berjalan keluar, dia baru saja selesai rapat. Kali ini membahas tentang projek yang sementara berjalan, beberapa perusahaan ingin bekerja sama.
Sebagai pemula yang baru terjun di dunia bisnis, Angga tergolong berhati hati tapi nekat. Tio yang bekerja untuk membimbingnya merasa takjub dengan bakat alami Angga, tidak banyak orang yang memilikinya.
"Jadwal selanjutnya?" tanya Angga pada sekretarisnya. Dia ingin cepat duduk di depan meja kerjanya, malas rapat.
"Persingkat jadi dua hari." perintahnya, sekretaris itu mendongak.
"Tapi pak? Kalau di percepat akan ada beberapa pertemuan yang akan bapak tinggalkan."
"Batalkan saja."
"Pak ini pertemuan pen-" dia menghentikan ucapannya saat Angga tiba tiba berhenti, sektretaris itu menelan ludahnya gugup karena takut. "Ini sudah di jadwalkan dari beberapa hari yang lalu Pak."
"Majukan jadwalnya jadi besok, akhir pekan saya tidak ingin melakukan apa apa."
"Ah benar, bapak akan masuk kuliah." Seru Tio.
Dia mengerti kenapa Angga berkeras, butuh banyak persiapan untuk kuliah. Terlebih awal awal kuliah sangat merepotkan, mereka harus melakukan ospek yang sebenarnya tujuannya tidak diketahui untuk apa.
"Saya mengerti pak."
Tak lama asisten pribadinya mendekatinya, memberi tahu Angga kalau ada yang menunggunya.
__ADS_1
"Siapa?"
"Pak Liz."
Liz? Untuk apa kakak iparnya itu datang ke kantornya.
***
"Oh, sepertinya lo sibuk!" ucap Liz begitu Angga muncul, Angga tidak mengatakan apa apa dan hanya langsung duduk.
Sebenarnya tanpa bertanya pun, Liz tahu kalau dia sibuk. Karena dia salah satu investor di perusahaan Angga, dia tahu dengan jelas. Apalagi belakangan ini Angga mengerjakan proyek yang lumayan besar, memerlukan usaha dan pikiran yang tidak muda.
Sebelum sekretaris dan asistennya keluar, Angga memintanya untuk membuat minum. Semalam dia tidak tidur dan pagi pagi sekali, dia langsung pergi ke sekolah Lily.
"Kakak Ipar sedang apa di sini?" tanyanya, Angga berusaha tidak menguap. "Apa ada yang penting."
Liz diam dan hanya menperhatikan ruang kerja Angga. Menurut Liz itu sedikit kuno dan tua, mungkin Angga belum siap mengubahnya.
"Kak?"
Liz menatapnya sebentar, dia mengambil amplop dari sakunya dan menyerahkan ke Angga. Meski tidak tahu apa isinya, Angga tetap menerimanya.
"Beberapa hari yang lalu, kakekku mencari tahu siapa adikku." Angga mendongakkan pandangannya menatap Liz "Sembunyikan informasi tentangnya."
Angga mengalihkan pandangannya ke amplop itu, dia berlahan membukanya untuk melihat isinya. Angga sedikit terkejut karena isinya tidak lain adalah informasi tentang Lily.
Informasi sejak kelahiran Lily sampai sekarang, informasi yang bahkan Angga pun tidak berniat menanyakannya. Dia meletakkan amplop itu di meja, Angga benar benar tidak habis fikir pemikiran orang dewasa.
"Bagaimana dengan orang yang akan memberikan informasi ini?"
"Kamu tidak perlu memikirkannya, fokus saja menghapus informasi Lily." ucap Liz.
Mereka berhenti bicara saat ada OB yang mengantar minuman ke ruangannya, Angga kembali membaca informasi yang di serahkan Liz.
"Kenapa Lily yang mereka incar?" tanya Angga pada akhirnya
"Seperti yang kukatakan, kakekku membenci Lily karena kematian Ibu," dia menyesap tehnya "dan untuk mengambil kembali posisi dari tanganku, mereka ingin menggunakan Lily sebagai ancaman."
"Tapi menurutku, kakak ipar lebih ahli dalam menyembunyikan informasi orang." ucap Angga, dia punya intuisi tentang itu "Jadi, kenapa bukan kakak saja?"
"Sejak tahu adikku masih hidup, kakekku menyewa seseorang untuk memata mataiku. Sangat sulit melakukannya, jadi aku minta tolong padamu."
__ADS_1
"Aku paham." Angga bersandar di kursi, dia mengenal seseorang yang mampu melakukannya.