Lily Untuk Angga

Lily Untuk Angga
Part 92


__ADS_3

"Senangnya pulang ke rumah!"


Lily melemparkan dirinya ke atas kasurnya, Angga berjalan di belakang Lily meletakkan ransel Lily di meja. Dia berlahan mendekat dan duduk di tepi kasur, tangannya memukul pelan betis Lily.


"Ganti baju, kita makan!"


Lily membalikkan badannya dan menatap Angga "Kakak mau makan apa? Lily masakin."


Angga mengangkat sebelah kakinya, menyandarkan tangannya di atas lutut kepalanya dia miringkan ke arah Lily. Dia menatap sambil tersenyum kecil membuat Lily memerah, Angga terkekeh melihat reaksinya.


Dia menyampirkan anak rambut Lily yang baru saja menutupi wajahnya, dia menyugarnya ke belakang telinga gadis itu.


"Kakak mau makan apa?" Lily mengulang pertanyaannya.


"Makan kamu boleh?"


Lily langsung mengangkat kepalanya, keningnya mengkerut bingung "Hah?Kakak kanibal?"


Pffffttt


Angga langsung terbahak, dia merasa lucu dengan ekspresi Lily yang kaget dan bingung. Dia memegang perutnya sambil terus tertawa bahkan membantingkan dirinya ke kasur, Lily melihatnya semakin merasa aneh.


"Hahaha.... Istri gue kenapa polos banget sih?" dia menyeka air matanya yang sempat jatuh karena terus tertawa.


Tanpa sadar Lily langsung menepuk lengan Angga, wajahnya di tekuk karena dia merasa dirinya di ledek oleh Angga. Melihat itu makin membuat Angga makin tertawa


"Kakak ihh..."


"Hahaha..." Angga menahan tangan Lily "Hahaha... Iya iya! Kakak berhenti tertawa."


Angga menarik nafas perlahan, berusaha untuk berhenti tertawa. Tapi saat melihat Lily yang masih cemberut, dia kembali tertawa.


"Tau ah!" Lily turun dari kasur berjalan ke arah lemari, dia mengambil baju ganti dan menghilang di kamar mandi meninggalkan Angga yang masih tertawa.


Angga sudah berhenti tertawa, matanya menatap lurus ke langit langit kamar setelah mengubah posisinya menjadi telentang. Dia perlahan duduk di atas kasur menurunkan kaki yang sempat dia angkat tadi, perutnya sudah mendemo minta makan.


"Sudah selesai tertawanya?" tanya Lily dengan nada mencibir begitu keluar dari kamar mandi, dia berjalan ke balkon di mana dia menyimpan jemuran handuk. "Kakak mau makan apa?" dia kembali bertanya

__ADS_1


"Apa saja." Angga menjawab, dia berdiri meregangkan badannya.


Lily berjalan masuk, menepuk punggung Angga "Kakak mandi sana!"


Angga menolehkan kepalanya "Oke cantik!" dia menunduk mencium pipi Lily dan berjalan keluar dengan senyum merekah.


Puss


Lily bisa merasakan uap keluar dari kepalanya, wajahnya memanas dan memerah bahkan sampai ke telinga. Belakangan ini dia merasa kalau Angga semakin dekat dengannya, tapi Lily masih merasa malu.


Dia menggelengkan kepalanya dan berjalan ke dapur, dia mendekati bude Sum meminta tolong mengeluarkan bahan masakan dari dapur. Saat bude Sum ingin membantunya memasak, Lily dengan sopan menolaknya.


"Terima kasih bude, tapi Lily pengen masakin buat kak Angga." ucapnya sambil tersenyum.


Bude Sum melihatnya, dia wanita yang berumur dan melihat berbagai macam manusia, dari bagaimana dia bisa melihat majikannya ini. Bude Sum bisa memastikan adanya musim semi diantara mereka, dia berharap mereka akan selalu seperti ini.


Melihat kesenangan nyonya nya, dia pamit untuk melakukan hal yang lain.  Tak lama Angga turun dengan penampilan yang segar, melihat Lily memasak dia memilih untuk duduk tanpa menganggu.


Tak berselang lama tiga hidangan lauk siap di atas meja, tumis kangkung, ayam goreng geprek beserta sambelnya juga orak-arik telur dan nasi yang masih mengepul. Angga menarik kursi di sampingnya dan meminta Lily duduk di sampingnya.


"Kayaknya besok Lily minta tolong ke Bude buat beliin ikan asin." gumam Lily, Angga menoleh ke arahnya.


Lily mengangguk sekali sambil menyendokkan nasi ke piring Angga "Tapi Lily lebih suka pete sih."


"Kenapa?"


"Karena jengkol ribet buatnya." jawab Lily "Kakak mau apa?"


"Tumis kangkung sama orak-arik." Lily mengambilkannya dan menyimpannya di depan Angga.


Setelah menyiapkan untuk Angga, dia mengambil untuk dirinya sendiri. Mereka makan sambil tanya jawab soal kegiatan mereka selama dua minggu ini.


"Dari kapan kakak tahu kalau kak Liz itu kakak kandungnya Lily?" dia mendongak menatap Angga yang merangkulnya sekarang.


Mereka sudah selesai makan dan beristirahat di depan tv, Angga bersandar di sofa sedangkan Lily di samping kanannya.


Angga memainkan tangan Lily, memijit-mijit jarinya. "Saat perbaiki brankas Ayah. Kakak tidak sengaja menemukan akta dan buku hamil ibu kamu."

__ADS_1


Lily menundukkan kepalanya "Kenapa kakak tidak kasih tau Lily?" entah kenapa dia merasa sedih, tanpa sadar dia menjauhkan dirinya dari Angga.


Angga tidak menahannya, tapi tetap mengawasinya yang sudah memasang wajah redup. Angga menopang kepalanya dengan tangan yang dia sandarkan di sofa, menatap Lily.


Gadis itu menoleh dan balas menatapnya "Kalau Lily tidak sengaja mengetahuinya, sampai kapan kakak berencana menyembunyikannya?"


"Sampai kak Liz siap." jawab Angga


Lily tidak mengatakan apa apa tapi menatapnya dengan tatapan bingung, dia tidak mengerti. Angga menegakkan duduknya dan meraih tangan Lily, menariknya perlahan agar kembali mendekat.


"Kamu sudah mendengarnya kan dari kak Liz tentang pengalamannya?" Lily diam, melihat itu Angga melanjutkan "Dia memiliki rasa bersalah padamu, dia juga tidak percaya diri dan merasa kurang baik menjadi kakakmu."


"Lily tidak berfikir begitu, cukup tahu kalau Lily masih punya keluarga.. Lily sudah senang."


"Kakak tau, tapi kak Liz punya fikirannya sendiri dan kakak harus menghormati itu." dia mengelus bawah mata Lily yang seolah mencegah air mata jatuh dari mata Lily yang berkaca kaca, "Kakak sama sekali tidak bermaksud menyembunyikannya dari kamu, kamu berhak tau tapi sebelum itu kakak juga butuh memikirkan kak Liz."


"Aku mengerti."


Angga menghela nafas, meski gadis itu mengatakan mengerti tapi dia masih terlihat sedih. Angga melingkarkan tangannya di bahu Lily, mencium puncak kepalanya.


"Kalau pun Kak Liz bukan kakakmu, kamu tidak boleh mengatakan kamu tidak punya siapa siapa," dia menepuk-nepuk pundak Lily "Kita sudah menikah, Suami-Istri yang berarti sekarang kita keluarga. Kamu juga punya Atar dan keluarganya, Mengerti?"


"Iya, Lily mengerti."


"Beneran ngerti?" goda Angga, Lily menganggukkan kepalanya. "Ngerti ngak?"


"Ngerti" ucap Lily, dia menghindari tangan Angga yang akan iseng. "Dah ah, Lily mau siap siap ke tempat kerja!"


Pandangan Angga mengikuti gerakan Lily yang sudah berdiri "Kakak ditinggal gitu Li?"


Lily mengangguk dan berjalan ke arah kamarnya.


"Kakak beneran ditinggalin Li?" goda Angga lagi, Lily menoleh ke arahnya sambil menyeringai "Wah... Tega kamu sama suami ini!"


"Biarin! Lily juga sering ditinggal" Dia mendengus ke arah Angga, cowok itu hanya bisa tertawa "Tapi kakak anterin Lily, ya!"


"Iya."

__ADS_1


Setelah mendengar jawaban Angga, Lily ke kamar tanpa mengatakan apapun lagi. Angga merebahkan dirinya di sofa, dia berencana akan istirahat setelah mengantar Lily ke tempat kerjanya nanti.


__ADS_2