
Lily menghempaskan tubuhnya di kasur, akhirnya hari ini adalah hari terakhir ujian sekolah. Dia membalikkan badannya ke samping menatap meja belajarnya yang berantakan, sudah waktunya bersih bersih.
Dia berganti pakaian dengan cepat kemudian meninggalkan kamarnya, dia beralari ke kamar Angga. Seperti dugaannya, di atas kasur sudah ada beberapa koper Angga yang penuh pakaian.
Besok Angga resmi pindah.
Lily berbaring di kasur Angga, saat ini pemiliknya masih di kantor. Dia melirik koper di sampingnya sambil tangannya memainkan kunci koper, melihat koper koper itu perasaannya tiba tiba terasa sedih.
Dia sudah terbiasa dengan keberadaan Angga di sekitarnya, dia pasti akan merasa sedih karena akan sulit bertemu karena kesibukan mereka. Dia harus fokus pada sekolah dan pekerjaan sampingannya pun dengan Angga, pasti sangat sulit mengatur waktu untuk ketemu.
Sambil berusaha memulihkan perasaannya dia perlahan menutup mata dan jatuh tertidur.
***
Angga sambil melonggarkan dasinya sambil berjalan masuk ke rumah, hari ini dia memilih pulang lebih awal karena harus bersiap siap untuk pergi.
Dia mengedarkan pandangannya saat merasa rumah sepi, dia berjalan ke dapur tapi orang yang dia cari tidak di sana.
"Bude, di mana Istriku? Kok gak ada suaranya?" tanyanya pada bude Sum yang sibuk memasak.
"Dari pulang sekolah Ibu tidak pernah turun, tuan."
Angga mengkerutkan keningnya bingung, soalnya Lily tidak biasanya seperti itu. Dia dengan cepat melangkah ke kamar Lily, tapi orang yang dicari tidak ada di sana.
Angga dengan cepat masuk ke dalam kamar Lily, mencari ke setiap sudut sampai ke kamar mandi tapi hasilnya nihil. Memikirkan tempat di mana gadis itu pergi, Angga keluar dari kamar Lily menuju ruang mencuci, saat tiba di ruang cuci Lily tidak di sana juga.
Dia membuka ponselnya siapa tahu Lily menghubunginya tapi tidak dia lihat, tapi tetap saja tidak ada. Angga menggaruk kepalanya yang tidak gatalĀ perasaannya tiba tiba khawatir, Lily saat akan keluar pasti akan minta izin padanya.
Dia kembali turun ke bawah "Bude, Lily tidak di atas."
"Saya tidak tahu, Tuan!"
"Dia tidak ada izin gitu ke Bude?" Wanita paru baya itu menggelengkan kepalanya, dia menjelaskan kalau dia benar benar tidak melihat Lily sejak pulang dari sekolah siang tadi. "Dia juga tidak mengangkat telfonnya!" keluh Angga.
Dia terus menghubungi Lily tapi hasilnya masih sama, tidak ada yang menjawab panggilannya. Angga baru akan menelfon salah satu teman Lily tapi dia urungkan, dia dengan cepat berlari ke atas saat mengingat ada satu ruangan yang belum dia periksa sama sekali.
Dia menghela nafas lega begitu dia membuka pintu kamarnya, Lily sedang terbaring di kasurnya masih pakai seragam. Dia berlahan mendekatinya untuk memdastikan itu benar benar Lily, dia mengulurkan tangannya menyentuh pipinya.
Angga menangkup wajahnya sendiri sambil terkekeh "Kamu buat kakak panik, Li!". Dia benar benar panik tadi, berfikir kalau Lily meninggalkannya.
__ADS_1
Dia berjongkok depan kasur Lily, membaringkan kepalanya berbantal tangan kiri sedangkan tangan kanannya menyentuh wajah Lily. Bagaimana gadis itu bisa tertidur pulas sampai jam segini? Sepertinya ulangan kali ini menguras semua tenaga dan pikiran gadis mungil itu.
"Nghh.." Angga dengan cepat mengangkat tangannya, takut gadis itu terbangun.
Lily mengubah posisinya menjadi telentang, Angga yang di sampingnya hanya terus memperhatikan tanpa berniat membangunkan.
Lily mengedip ngedipkan matanya membiasakan matanya dengan cahaya, perlahan dia membuka matanya sambil mengumpulkan nyawanya. Keningnya mengkerut saat melihat langit langit kamar yang tidak seperti miliknya tapi tidak asing, matanya langsung membulat saat dia menyadari di mana dia tidur.
Dengan cepat dia duduk, belum sepenuhnya dia duduk dia sudah terdorong kembali ke kasur.
"Jangan buru buru." ucap Angga.
Lily menoleh dan wajah Angga yang pertama dia lihat, tanpa sadar dia mundur dan dia menabrak koper!
"Aduh!"
"Hati hati!" Angga dengan cepat meraih kepala gadis itu mengusapnya "Maaf kakak bikin kamu kaget."
Masih dengan kepala yang sakit Lily menggelengkan kepalanya "Kakak dari tadi pulangnya?" tanyanya.
"Tidak juga." Dia membantu Lily duduk "Tidak biasanya kamu tidur di sini."
Wajah gadis itu langsung memerah, dia juga tidak mengerti kenapa dia bisa tidur di kamar Angga. Melihat itu. Angga hanya terkekeh pelan melihat reaksi Lily, berpindah posisi menjadi duduk Angga kembali menarik kepala Lily untuk di periksa.
"Masih sakit?"
"Tidak!" Dia mendongak menatap Angga "Kakak kenapa tidak bangunin Lily kalau pulangnya dari tadi?"
"Kamu tidurnya nyenyak banget, sampai ngorok!" mata gadis itu membulat dia menatap Angga, wajahnya kembali memerah "Keras lagi. Capek banget ya?"
"Beneran kak?" Angga berusaha menahan tawanya melihat wajah panik Lily, gadis itu memicingkan matanya "Kakak bohong!"
"Ngak, emang benar kamu ngorok!" Angga terkekeh terlebih saat dia mendapat pukulan dari Lily "Kamu ngorok kayak gini, grok grok grok."
"Bohong!" Dia terus memukul lengan Angga yang terus tertawa karena memang dia berbohong "Kakak bohong!"
Angga terus tertawa sampai dia terjatuh ke kasur, dia dengan cepat mencegah tangan Lily yang terus memukulnya. Meski tidak sakit tapi kalau terus terus di pukul dia juga akan kesakitan.
"Hahahaha... Iya kakak bohong!" Angga menyerah pada akhirnya. Dia menarik nafas panjang dan menarik Lily berbaring di sampingnya. "Maaf oke."
__ADS_1
Mereka berdua akhirnya berbaring dalam diam, mereka merasa ini situasi damai saat ini. Angga membalikkan badannya menghadap Lily pun dengan gadis itu, mereka hanya menatap dalam diam.
"Li."
"hm?"
"Masih marah?" Gadis itu menggelengkan kepalanya "Beneran?"
"Lily tidak marah." ucap gadis itu "Lily hanya malu kalau beneran ngorok tidurnya."
Angga tertawa pelan dan menarik gadis itu ke pelukannya, Angga hanya bisa mencengram erat pakaian Angga.
"Tadi kakak pikir kamu pergi gak bilang bilang." Ucap Angga pada akhirnya, dia menunduk saat merasakan Lily mendongak menatapnya "Kakak khawatir?"
"Tidak mungkin Lily keluar tidak bilang kakak dulu." Lily cemberut, Angga mengangkat tangannya menyentuh wajah Lily
"Iya kakak tahu itu. Kakak tadi langsung ke kamarmu dan kamu tidak di sana, kakak cari sampai ke kamar mandi dan ruang cuci tapi kamu tidak ada~" Angga menjeda sebentar "Kakak telfon juga tidak di angkat."
"Hape Lily kayaknya masih di tas." ucap Lily "Kakak tidak lihat tas Lily?"
"Lihat!" Lily mengkerutkan keningnya, lalu kenapa dia masih panik "Kakak tidak lihat kamu makanya kakak panik."
"Maaf kalau Lily bikin Kakak khawatir." Angga menggelengkan kepalanya dan mengatakan tidak apa apa.
Mereka diam kembali, Lily menunduk memainkan kemeja Angga. Angga juga tidak mengatakan apa apa soal perilaku Lily, dia entah mengapa berfikir kalau ada yang salah dengan gadis itu.
"Kenapa?" tanya Angga, dia menahan tangan Lily. Dia menjepit dagu gadis itu dengan ibu jari dan jari telunjuknya, mendongakkan gadis itu agar menatapnya "Kenapa?"
Lily melirik koper di belakang Angga "Kakak beneran pindah besok?"
Angga mengangguk "Iya. Kamu jaga diri di rumah ya."
Wajah gadis itu langsung kembali murung, dia tidak tahu kenapa seperti ini padahal mereka sudah membahasnya lebih dulu. Dia kembali menunduk dengan bibir cemberut.
"Lily kit~"
"Iya Lily tahu." Dia mendekatkan dirinya pada Angga "Tapi kenapa Lily dilarang ngantar ke sana?"
"Itu..." Angga menggaruk pipinya salah tingkah, gadis itu menatapnya penasaran "Itu... Kakak tidak yakin bakal ngizinin kamu pulang."
__ADS_1