Lily Untuk Angga

Lily Untuk Angga
Part 79


__ADS_3

Angga yang baru keluar dari ruang rapat terburu buru ke ruangannya, dia sudah meninggalkan Lily cukup lama sendirian. Dia tidak menyangka rapat akan berlangsung sangat lama, padahal tadi dia hanya memprediksi tidak lewat dari sejam.


Untung saja sebelum ke kantor tadi, mereka berdua sudah sempat makan siang, kalau tidak... Pasti gadis itu sangat kelaparan sekarang. Dia membuka pintu ruangannya yang tertutup.


"Lily, kamu ti-" Kalimatnya terputus melihat orang di dalam ruangan itu, di mana Lily?


"Angga!" wanita parubaya itu mendekat ke arahnya, hendak memeluk tapi dengan sadar Angga mundur. "Angga?"


"Tante Rina." Lirihnya. Dia mengangkat kepalanya mencari keberadaan Lily "Lily mana?"


"Lily siapa?" dia menggandeng tangan Angga "Ah Angga, ini Anita. Kamu masih ingatkan? Itu loh anak sepupu tante yang sering main sama kamu dulu."


Angga tidak mengatakan apa apa, dia mengangguk sebagai sapaan tidak lebih. Dia merogoh sakunya mengambil hapenya, dia akan menelfon Lily menanyakan di mana dia pergi.


"Kamu sibuk sekali ya?" tanya Rina, Angga hanya menganggukkan kepalanya. Wanita itu menghela nafas panjang sambil memegang pipinya sendiri, raut wajahnya sedih "Hah... Bagaimana Kak Setya meninggalkan begitu cepat, kamu pasti sangat menderita."


Angga mengkerutkan keningnya, apa ini tiba tiba? Angga melihatnya Rina mengusap pipinya seperti dia menangis, apa ini benar wanita itu.


Angga hampir menelefon tapi dia urungkan karena melihat hape Lily di rak buku, berarti gadis itu tidak pergi jauh dan mungkin hanya mencari angin karena suntuk sendirian.


Tapi daripada itu, sejak kapan orang orang itu di sini? Siapa yang mengizinkan mereka masuk seenaknya di ruangannya? Angga duduk di sofa menghadap ke arah mereka, dia ingin tau tujuan mereka.


Rina menatap ponakannya yang terus diam, dia memasang senyumnya penuh luka. "Ini pasti sangat sulit buatmu, kamu masih anak anak. Kamu juga terlalu naif."


Angga tidak tau apa tujuannya mengatakan itu, tapi langkah terbaik adalah diam.


"Angga apa kamu tidak terlalu santai?" Anita yang dari tadi diam bersuara, Angga melihatnya "Tadi saat aku dan tante masuk, ada karyawan yang santai santai di sini. Kamu harus tegas!"


"Ha?"


"Iya, tante kaget." Rina mendekat dan meraih tangan Angga "Coba saja kami terlambat, dia bisa mencuri data penting! Siapa yang tahu."


Angga menarik nafas panjang, dia sepertinya mengerti situasinya. Melihat reaksi Angga, sepertinya Rina salah paham.


"Tante tau, kamu pasti marahkan? Kamu jangan cemas Anita memintanya untuk membuat minum, jadi dia tidak sempat melihat hal yang penting!"


Angga menoleh melihat Anita, gadis itu tersenyum ke arahnya dengan wajah memerah malu. "Aku ingin membantu, meski sedikit!"


Begitu pintu terbuka Angga langsung berdiri, dia dengan cepat mengambil alih nampan di tangan Lily. Dia tahu gadis itu menatap ke arahnya bingung, tapi Angga saat ini sedang menahan diri.


"Angga apa yang kamu lakukan? Biarkan dia melakukan pekerjaannya!" tegur Rina, Angga tetap mengambil alih. "KAMU! Bagaimana bisa kamu membiarkan bos melakukan pekerjaan ren-"


"Tidak ada pekerjaan rendahan." Angga melihatnya dan memberi isyarat agar dia duduk, Lily menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Kenapa kamu masih berdiri di sana? Cepat keluar!" Rina bersedekap dada mengusirnya "Dia benar benar tidak sopan, bagaimana dia bisa seenaknya santai d-"


"Sayang! kemari sini."


Angga mengulurkan tangannya ke arah Lily yang tetap diam, Angga menganggukkan kepalanya meminta Lily menggapai uluran tangannya. Lily pada akhirnya melangkah pelan mendekat, dia meraih tangan Angga dan pemuda itu menariknya duduk.


Dia sebenarnya masih kaget, bagaimana pun ini pertama kalinya Angga memanggilnya seperti itu. Angga menyentuh pipi Lily dengan punggung tangannya, tidak panas sama sekali, lalu kenapa wajah Lily memerah padam.


"Angga?" Rina menatapnya bingung, dia menatap mereka bergantian "Siapa sebenarnya gadis ini? Apa asal usulnya?"


"Apa itu penting?" Dia meraih tangan Lily menggenggamnya erat "Saya tau tante ke sini ada urusan lain, tolong katakan saja." ucapnya


Rina melirik Anita yang hanya diam menatap Lily yang diperlakukan manis, Rina menggenggam tangannya. Dia berdehem meminta perhatian dua anak di depannya.


"Angga, sebenarnya tante ke sini mau minta tolong." dia menepuk tangan Anita. "Bisakan kamu menerima dia jadi sekretaris kamu? Dia bisa diandalkan dalam banyak hal.


Angga merasakan Lily menggenggam erat tangannya, tapi saat dia meliriknya gadis itu tidak menunjukkan ekspresi apa apa, hanya tangannya yang mengerat.


"Maaf tante, kalau soal itu saya tidak bisa." Angga membalas genggaman Lily.


"Kenapa? Kamu kan bos di sini? Apa karena dia tidak mau posisinya di ganti?" dia menunjuk Lily


"Saya punya sekretaris yang berkompeten meski saya atasannya saya tidak bisa semena menah memasukkan orang lain ke kantor." jelas Angga sedikit berbohong, apa yang tidak bisa dilakukan? Dia menepuk bahu Lily"Dan tante salah, dia bukan karyawan apalagi sekretaris saya. Dia bos saya."


"Apa?"


Lily mendongak menatap Angga, dia sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakan Angga. Apa maksudnya bos? Paham bisnis saja, Lily tidak.


"Ayah mengatakan langsung padaku!"


"Bohong!"


Angga berdiri dari duduknya, dia melangkah ke meja kerjanya mengambil berkas di sana. Angga meletakkan berkas itu di meja agar mereka melihatnya, dia hanya ingin memperjelas.


"Gadis ini pemilik saham sebanyak empat puluh persen, saham yang ditinggalkan Ayah yang untukku hanya dua puluh sembilan persen. Selebihnya adalah investor." jelas Angga, dia menarik pelan rambut Lily saat gadis itu hendak bersuara, mengisyaratkannya untuk diam.


"Ayah memang pendiri perusahaan, tapi Ayah tidak memiliki banyak saham." ucapnya, Rina mencebikkan bibirnya "Jadi maaf, permintaan tante saya tidak bisa membantu. Dan lagi sekretaris di perusahaan kami, minimal harus S1 jurusan bisnis."


Angga dan Anita memang hampir seumuran, Angga pernah mendengar kalau Anita karena suatu hal dia tertinggal dan sekarang seletingan Angga. Jadi melamar sebagai sekretaris itu mustahil baginya, mereka punya pengaturan sendiri di perusahaan.


*


Angga menghela nafas lega, akhirnya tamu yang tidak diundang itu pergi. Dia merebahkan kepalanya di pangkuan Lily, dia ingin beristirahat sejenak.

__ADS_1


"Siapa orang tadi?" tanya Lily.


"Tante Rina?" Lily mengiyakan "Bisa dibilang dia sepupu Ayah, kalau kamu bertemu lagi dengannya, abaikan saja."


Lily menunduk menatapnya "Kenapa?"


Angga diam sejenak, dia memijit pangkal hidungnya karena kepalanya berdenyut. Melihat itu, Lily mengulurkan tangannya memijit kepala Angga.


"Bisa di bilang kakak tidak suka dengan keluarga itu."


"Kenapa?"


Angga membuka matanya dan menatap Lily yang sudah menunduk melihatnya "Kenapa? Mungkin sama seperti kamu tidak suka keluarga Rudi."


Angga berusaha duduk, dia bersandar di sofa sambil menatap Lily lembut. Lily menundukkan kepalanya, dia memainkan sudut pakaiannya.


"Sebenarnya Lily bukan tidak menyukai keluarga Rudi, Lily hanya merasa sedih saja. Biar bagaimana pun kami keluarga, Lily tidak bisa mengabaikan fakta itu."


"Kakak tahu kamu anaknya tidak tegaan Li, yang kamu katakan itu memang benar. Biar bagaimana pun keluarga adalah keluarga, tapi apa mereka memiliki pemikiran yang sama?" Lily yang mendengar itu hanya bisa menunduk, Angga menepuk kepalanya "Terkadang manusia harus tega, itu bentuk ketegasana."


"Lily sudah mencoba, tapi tidak bisa dan pada akhirnya kembali menoleh ke mereka."


Angga mengerti maksud Lily, karena dulu dia juga berfikir seperti itu. Tapi setelah melihat sedikit banyaknya manusia lain, dia melihat banyak sifat mereka dan dia tidak bisa terus menerus menjadi anak naif.


Dia bisa di makan berlahan tanpa dia sadari, belakangan dia semakin memahaminya.


"Jadi kenapa Lily harus menghindari tante Rina? Apa dia orang jahat?"


Angga terkekeh "Tidak ada orang yang jahat Li, mereka hanya kelebihan pikiran negatif terhadap orang lain." Angga menghela nafas panjang "Kenapa kakak tidak suka mereka? Anggap saja kalau kakak ini kekanakan?"


"Hah?"


Angga menarik Lily dan memeluknya, dia ingin mengisi daya setelah mereasa stress.


"Kakak hanya tidak bisa melupakan masa lalu." Dia mengeratkan pelukannya "Keluarga kakak dulu pernah susah Li. Perusahaan di ambang bangkrut, mengandalkan gaji Ibu yang tidak seberapa, itu sama sekali tidak cukup."


"Dan keluarga mereka tidak membantu saat dimintai tolong?" tebak Lily, Angga mengangguk.


"Kakak tahu kita tidak bisa memaksa seseorang untuk membantu, hanya saja... Apa harus mendapat hinaan? Meski saat itu kakak masih lima tahun, kakak mengerti dan sialnya ingatan Kakak bagus jadi saat dewasa kakak memahaminya." Angga mengepalkan tangannya "Kakak kekanakan kan?"


"Hahaha...mungkin!" dia menyandarkan kepalanya di bahu Angga, cowok itu masih memeluknya. "Kakak masih marah ke mereka?"


"Masih!" dia jujur. "Apa kamu tidak suka laki laki dendaman seperi kakak?"

__ADS_1


"Selama kakak baik sama Lily, Lily pikir tidak masalah." Dia menegakkan duduknya dan menatap Angga lagi. "Selain mereka siapa lagi?"


"Selain mereka... Rudi!"


__ADS_2