Lily Untuk Angga

Lily Untuk Angga
Part 43


__ADS_3

Angga yang baru saja selesai melakukan meeting, dia menghela nafas lega. Sambil berjalan ke arah mobil, dia melonggarkan dasinya yang sedikit membuatnya tercekik.


Angga membuka laptopnya, matanya berbinar melihat email yang masuk. Email yang sudah di tunggunya sejak beberapa hari, dia sampai gugup saat hendak membukanya.


Dia meraih handphonenya yang berdering. "Kenapa?" Angga mengangkat sebelah keningnya mendengar kekehan dari Ezra


"Gue lolos njirr!" suara seruan dari seberang hampir saja memekakkan telinganya.


"Gue juga!" Angga menyugar rambutnya ke belakang, dia berfikir kalau hari ini adalah hari baiknya.


Angga dan Ezra memang berencana masuk di universitas yang sama.


"Kuy rayakan!" ajak Ezra.


Angga diam sebentar, dia meraih buku catatan kecilnya untuk melihat jadwalnya. Hari ini dia akan sibuk sekali.


"Sorry jrak, gue sibuk hari ini, tapi kalo lo mau... Malam minggu di rumah gue, gue traktir deh" usul Angga


"Serius lo" tanya Ezra yang hanya di balas gumaman oleh Angga. "Gue kabarin anak anak lain! "


Angga menatap telfonnya, Ezra dengan kurang ajarnya mematikan secara sepihak. Rasanya Angga ingin meneriaki temannya itu, tapi ya sudahlah.


Meski hari ini dia menganggap kalau dia hari baik, tapi tetap saja berurusan dengan orang dewasa yang cukup licik membuat sakit kepala.


"Apa bapak mau ke tempat lain dulu?" tanya supirnya, Angga mendongak


"Ke pusat perbelanjaan dulu."


"Baik pak!"


Tak lama mereka sampai ke pusat perbelanjaan, Angga langsung menuju ruang VVIP. Dia meminta untuk memanggil penanggung jawab perbelanjaan itu.


Angga membaca berkas file, tidak ada yang salah. Dia hanya memberi sedikit instruksi sebelum meninggalkan ruangan ini.


Dia menghentikan langkahnya di depan sebuah toko khusus pakaian.


"Pak?"


Angga tidak mengatakan apa apa, dia hanya langsung melangkah masuk. Para pelayan toko langsung masuk menyambut, Angga meminta mereka untuk tidak terlalu mendekat.


Angga mendekati tempat khusus perempuan, memilah pakaian yang menurutnya cocok untuk Lily. Angga memperhatikan satu persatu, dia tidak tahu ukuran Lily. Angga berencana membalas budi pada gadis itu, Angga baru mengingat kalau dia membelikan Lily pakaian baru dua kalI.


Karena bingung, Angga hanya menarik beberapa pakaian yang sekenanya muat pada gadis itu. Masalah muat tidaknya itu urusan belakang, dia bisa menukarnya lagi.


Meski main tarik saja, Angga tetap memilih pakaian yang tertutup. Melihat keseharian Lily, sudah sangat jelas dia tidak menyukai pakaian pendek dan terbuka.


Dia melirik pakaian yang sudah dia pilih di tangan karyawan toko, Angga mengangguk puas. Dia sengaja membelinya tanpa Lily, gadis itu soalnya punya sifat tidak enakan meskipun padanya yang sudah berstatus suami sejak beberapa bulan belakangan ini.


Setelah selesai dia memberinya pada beberapa karyawan ikut bersamanya, tanpa sadar dia membeli banyak. Dia melirik karyawannya, seharusnya tadi dia minta pendapat mereka.

__ADS_1


Angga langsung ke kantor setelahnya, banyak pekerjaan yang menunggunya. Dia melirik paperbag di sampingnya kemudian menepuknya ringan, senyumnya merekah kecil.


Sambil masuk ke dalam ruangannya, Angga membuka dasinya. Dia melemparkan belanjaan di atas sofa, sedangkan dia langsung ke kursi kebesarannya.


***


Lily menatap Angga yang datang menjemputnya, cowok itu masih memakai pakaian tadi pagi tanpa dasi dan coatnya.


"Wih... Senior makin cakep aja" Mereka berdua menoleh ke belakang, ada Afkar dan beberapa teman sekelasnya.


"Jangan dibebasi Li, buaya itu" Timpal Zain, Angga menatapnya sebelum mendengus


"Gue bukan sebangsanya Afkar" cibirnya


"Gue anak baik baik ya, senior! Anda jangan menuduh"


Angga memasang wajah ingin muntah, dia merangkul Lily "Gue mau balik, capek!"


"Meski capek, harus jemput Ayang dulu ye?" Aryan menatapnya dengan tatapan meledek, wajah Lily memerah mendengarnya.


"Iyalah, gue bukan Baim, ngak ada ayang!"


"OI... KENAPA JADI GUE?" Seru Baim merasa tidak terima karena diikut sertakan padahal dia hanya diam bermain game dengan Caka.


"Siapa suruh jomblo!"


Aryan mendorong kepala Baim, dia tersinggung sedangkan Afkar hanya tertawa puas melihatnya.


"Ye... Dibilangin" Baim mendengus


"Gue balik, bye"


Angga menggandeng tangan Lily untuk masuk ke dalam mobil.


Lily mengangkat sebelah alisnya menatap paperbag di kursi yang harusnya menjadi tempat duduknya. Dia menoleh menatap Angga, Angga membalas menatapnya dengan tatapan polos miliknya.


Angga melihat apa yang dilihat Lily, dia dengan cepat memindahkannya ke belakang. "Masuk!"


Lily menurut, dia masuk tanpa bertanya ini dan itu. Angga menutup pintu mobil bagian Lily


"WOOO... GENTLEMAN!"


Angga menoleh, dia mengacungkan kepalan tangannya ke arah Aryan, Baim dan Zain yang berseru. Angga memutar dan membuka pintu di sisi lainnya.


"Bagaimana hasilnya?" tanya Angga begitu mobil sudah jalan, Lily melihatnya


"Apa?"


"Hasilnya? Apa kamu ikut OSN nanti?" tanya Angga memperjelas.

__ADS_1


Lily tersenyum cerah "Iya. Lily dan Rosa berhasil ikut."


Angga bergumam paham. Rosa? Ah... Apa cewek ketus teman Lily?


"Hari senin, Lily di suruh belajar sama Kak Kennan."


Angga langsung menoleh "Kennan? Kennan Rajendra?"


"Iya, anak walinya pak Juan!" jawab Lily


Angga mendengus, dia langsung bersandar di kursi. Lily hanya bisa memiringkan kepalanya bingung, tingkah Angga sedikit aneh.


"Kamu tahukan Kennan siapa?" tanya Angga, dia menyipitkan matanya ke arah Lily


"Orang yang punya nilai paling tinggi sesekolah" Jawab Lily. "Lily juga tidak pernah lihat" Dia hanya selalu mendengar rumornya.


"Dia ganteng loh" Ketus Angga


Lily menganggukkan kepalanya "Teman teman juga bilang begitu"


"Dia punya pacar sekarang, jangan dilirik ya!"


Lily langsung mendelik ke arahnya, suaminya ini berfikir apa sih? Bagi Lily, selama karakter dalam drama belum keluar ke dunia nyata, dia akan sulit suka sama orang lain.


"Tidaklah Kak" seru Lily.


Angga menyandarkan kepalanya di pundak Lily, dia sedikit lelah sekarang. Lily hanya diam, dia menoleh ke luar jendela.


"Hari senin nanti, kakak mau ke sekolah." Lily menoleh dia menatap puncak kepala Angga. "Ada urusan yang kakak mau selesaikan di sekolah" Angga menjelaskan tanpa diminta.


"Urusan?"


"Hm" Jawab Angga "Pak Juan tadi ngehubungin, suruh ke sekolah"


"Kantor?"


"Ada om Tio." Lily mengangguk mengerti, Om Tio memang sangat bisa diandalkan. "Tidak ada masalah kan akhir akhir ini di sekolah?"


Lily menggelengkan kepalanya, semenjak kasusnya selesai beberapa bulan kemarin, dia merasa nyaman di sekolah.


"Lily sudah lumayan berteman" jawabnya.


Angga menegakkan duduknya, dia melirik Lily. Senyum Angga berlahan terbentuk melihat wajah ceria Lily. Dia mengacak rambut Lily membuat gadis itu mengeluh.


"Rambut Lily rusak, capek ngikatnya!" protes Lily


"Sengaja, memang kakak mau rusakin" ledek Angga, dia sekali lagi mengacak rambut Lily. "Istri siapa sih ini? Ngegemesin banget!" gantian pipi Lily yang diremasnya.


"Kakak!"

__ADS_1


__ADS_2