Lily Untuk Angga

Lily Untuk Angga
Part 10


__ADS_3

Brak


Lily kaget karena mejanya tiba tiba di gebrak oleh salah satu teman sekelasnya.


"Heh, Yatim Piatu!" Lily mendongak dan beberapa gadis sudah berdiri di samping mejanya. "apa hubungan lo sama kak Angga? Lo itu sudah ngak punya orang tua gak usah sok deh. Belajar saja yang benar biar bisa dapat beasiswa supaya lo lanjut gak jadi pengemis!"


"dih... Malah melototin lagi, nantang lo?" telunjuk orang itu mendorong kepala Lily jadi dia hanya bisa menunduk


Dia tidak melawan bukan karena dia takut tapi saat ini dia tidak punya siapa siapa dan kalau membuat masalah, Angga akan kerepotan.


"kalau di tanya itu jawab!" gadis dengan gelang kuning ikut mendorong kepalanya.


Lily tetap diam ekor matanya melirik teman sekelasnya yang hanya diam tidak ada yang berniat menghentikan mereka bahkan mereka semua malah mengambil kegiatan agar tidak melihat ke arahnya


Gadis berbando mengangkat wajah Lily "muka melas lo gak mempan sama kami. Me-akhh!" gadis itu di tarik ke belakang sambil memegang rambutnya


"Rosa!" mereka berseru


Rosa melihat Lily yang kebetulan melihat ke arahnya, dia mendengus dan menatap segorombolan gadis itu.


"gue belajar, gak lihat?" Rosa menunjuk bukunya "mau gue beliin kacamata? Sampah, minggir" Dia mendorong orang orang itu


Mereka semua terdiam, di dalam kelas itu siapa yang tidak mengenal Rosa? Keluarganya mempunyai pengaruh besar dalam sekolah dan politik, menyenggolnya hanya akan menyusahkan diri mereka.


"Terimah kasih" ucap Lily tanpa suara, Rosa hanya meliriknya sinis dan duduk kembali.


Lily sebenarnya sudah lama di ganggu di kelas itu karena hanya dia satu satunya murid beasiswa yang beruntungnya lagi mendapat nilai tinggi.


Sebenarnya semenjak SMP sudah ada beberapa sekolah kenamaan lainnya menginginkan dia masuk di sekolah mereka tapi dia dengan yakin menolak karena jarak rumah sakit yang jauh dari sekolah dan rumah.


Dan sekarang mau pindah pun pasti akan sedikit menyusahkan karena tidak ada walinya, sekolah juga tidak tahu kalau Angga adalah walinya.


Dia menopang dagunya mencatat tugas yang belum sempat dia selesaikan, benar yang dikatakan gadis gadis itu.


Dia harus belajar lebih keras membuat prestasi agar tidak sulit memasuki universitas yang ia idamkan dengan beasiswa seratus persen. Meski Angga mengatakan kalau Ayahnya menyiapkan persiapan biaya pendidikan untuknya tapi dia tidak berniat menggunakannya, dia hanya berniat menabungnya agar saat ada hal tidak terduga dia tidak akan kelabakan.


Meski pernikahannya dengan Angga adalah permintaan terakhir orang tua mereka tapi Lily tidak tahu perasaan Angga, dia perlu mempersiapkan dirinya kalau mereka suatu hari akan berpisah terlebih mereka baru menikah siri dan belum di catat negara jadi berpisah tidaklah sulit.

__ADS_1


Lily menyimpan buku tugasnya mengambil buku lain dan mulai mengkalkulasikan biaya ke depannya, biaya rumah dan sebagainya. Dan untuk semua biaya yang sebanyak itu dia harus bekerja, tapi dia masih di bawah umur dan masih SMA pekerjaan apa yang bisa dia lakukan? Satu satunya skill yang dia punya adalah memasak dan belajar.


Haruskah dia mencari rumah makan dan melamar pekerjaan paruh waktu? Tapi rumah makan apa?


Angga hari ini sudah mulai bekerja, dia juga ingin membantu setidaknya uang sayur di rumah tidak harus Angga berikan.


Dia harus bekerja.


***


"jadi lo sudah mau gantiin bokap lo" Hari memutar buku tulis di ujung jarinya seperti basket. Angga hanya menganggukkan kepalanya masih serius dengan buku di depannya


"pantesan tugas minggu depan lo kerjain duluan!" kata Niel.


Angga mengacak rambutnya sedikit pusing "bisa gak sih gue langsung lulus saja?"


"tinggal putus sekolah saja kalau stress" Angga menendang kaki Hari


"I_TA lo" ucap Angga dia menatap kesal temannya yang sekarang mengaduh kesakitan.


"sumpah ya, tendangan lo kenapa sakit banget sih?"


Hari kembali berdiri mengambil bukunya lagi dan ikut belajar, orang tuanya mempunyai harapan yang tinggi padanya.


Hari fokus pada pelajarannya sampai sesuatu melintas di kepalanya, dengan cepat dia melihat Angga


"Ga!"


"hn?" Angga menjawab tanpa melihatnya


"bukannya lo pacaran sama Melanie?''


Angga meletakkan pulpennya dan menatap Hari yang memandangnya dengan wajah bodoh


Sepertinya bukan hanya dia saja yang lupa kalau dia punya pacar sebelumnya.


"putus!"

__ADS_1


"hah kapan?" Angga hanya melihatnya tanpa menjawab tapi mampu membuat Hari diam.


Dia mengerti Angga sedikit banyak, Angga memang supel dan gampang bergaul dengan siapa saja tapi dalam dirinya ada binatang buas yang tertidur lelap, pernah sekali dia melihat Angga marah dan sejak itu dia tidak berani membuatnya marah lagi.


"kalau gue magang di tempat lo gak dipersulitkan?" Hari bertanya acak


"selama persyaratan yang diminta lo penuhi gak bakal ada masalah" Angga menutup bukunya dan mengambil buku lain "gue juga belum terlalu mengerti soal ini karena itu bagian HRD setau gue" jawabnya.


"oh! Tapi lo kan bosnya nanti"


Angga menghela nafas "ya itu benar, tapi gue juga tidak bisa seenaknya terlebih gue masih baru" katanya.


Hari tertawa karena dia juga sangat tahu akan hal itu dan lagi dia juga tidak berniat bekerja di sebuah perusahaan karena dia sudah berencana menjadi seorang arsitek di masa depan.


Angga menopang dagunya melihat keluar jendela di mana lapangan basket bisa langsung terlihat. Banyak siswa yang berkumpul disana karena sepertinya tim basket sedang latihan.


Niel yang baru masuk meletakkan dua botol kopi yang baru dia beli dia juga melihat ke arah lapangan


"minggu depan anak basket sekolah kita dan sekolah 01 Bina Karya akan tanding." kata Niel menjelaskan meski tidak ada yang bertanya. "kalau bukan kelas dua belas, gue juga pengen main."


Angga dan Hari mendengus bersamaan


"fokus saja ke ujian yang tidak lama lagi" kata Hari.


Mereka bertiga terdiam tapi masih melihat ke samping ke arah lapangan.


"gue masih penasaran dengan anak yang namanya Kennan, kayak tidak asing di telinga gue" ucap Niel tiba tiba


"nama Kennan banyak, wajar kalau lo sering dengar " ucap Angga, dia juga penasaran sebenarnya dengan Kennan siswa yang memiliki nilai full di ujian kemarin mengalahkan nilai Hanin dan Aryan yang melengserkannya tahun kemarin.


Apa anak anak zaman sekarang memang cerdas cerdas?


Perasaan iri sebenarnya ada tapi tidak banyak, sama seperti Hari dia juga penasaran dengan Kennan itu.


"bukan begitu, tapi... entahlah dia hanya terasa tidak asing" ucap Niel "lupakan, tapi lo pada belajar apaan dah serius amat"


"tugas, gue lupa ngerjain kemarin gara gara pekerjaan yang pak Juan kasih" keluh Angga.

__ADS_1


********


__ADS_2