Lily Untuk Angga

Lily Untuk Angga
Part 50


__ADS_3

Angga masuk ke ruang BK, matanya terangkat melihat orang orang di dalam sana. Pak Juan, Ketua osis, wakil osis serta seluruh ketua Sekbid ada disana.


Angga melenggang masuk, dia menarik kursi di samping Pak Juan yang tengah memeriksa entah apa di tangannya. Dengan muka mengantuknya dia menatap adik adik kelasnya sambil bertopang dagu.


"Ini kenapa kumpul di sini? Bukannya ruang osis?" tanya Angga heran, padahal ruang osis jauh lebih besar.


"Hanya ruangan ini yang kedap suara." Kenzo menjawab, dia meletakkan plastik kecil berisi bubuk putih yang seperti MSG di tengah meja.


"Lagi?" tanya Angga


Afkar yang tengah ongkang ongkang kaki menoleh, dia meletakkan berkas di depan Angga.


"Kami siap mau jalan!" ucap Afkar "Badan gue sakit karena kurang gerak."


"Kalian tetap di sekolah!" suara berat dan Pak Juan terdengar, Angga mengangguk menyetujui.


"Tapi pak k-"


"Afkar!" Angga menegur. "Gue setuju sama pak Juan, kalian tetap di sekolah. Masalah orang dibelakang siswa ini, serahkan pada orang dewasa."


Mereka diam, mata Angga menatap mereka satu persatu sampai dia berhenti ke Aryan. Aryan memang sejak tadi tidak mengeluarkan pendapat apapun tidak seperti biasanya, tapi Angga melihat dengan jelas di mata Aryan ada pemberontakan.


"Kalian jangan lupa, kalian hanya perangkat sekolah. Melangkah lebih jauh dari ini hanya akan menyulitkan sekolah dan orang tua, jadi jangan lakukan apapun di luar urusan sekolah." Angga kembali melihat Aryan "Utamanya lo Yan."


"Gue tau."


Angga berhenti bicara, dia memberi kesempatan untuk yang lainnya bersuara. Pak Juan juga menyampaikan beberapa hal, dia tidak mengintrupsinya lagi.


"Pak, saya mau narik Kennan jadi orang saya" Kenzo berucap tiba tiba.


"Kennan? Kalau tidak mengenal karakternya sebaiknya jangan" Pak Juan memberi jawabannya, sebagai wali kelas dia cukup mengenal siswa nomor satu di sekolah itu.


"Saya cukup mengenal karakternya, selama tidak ada yang mengorek kehidupannya, tidak akan masalah."


"Terserah padamu, ketua."


Kenzo tersenyum mendengar keputusannya, sekarang dia menoleh ke Afkar.


"Bisa gue pinjam anak cewek dari kelas lo? Yang bisa dipercaya, kita butuh anggota perem-"


"TIDAK!" Seruan Aryan, Zain dan Baim membuat mereka kaget, Angga bisa melihat kalau mereka bertiga benar benar menolak gagasan ini.


"Jangan coba coba libatkan anak di kelas gue." Aryan menatap Kenzo tajam

__ADS_1


"Anak cewek IPS 1 polos semua Zo, osis terlalu rumit." j


kata Baim, dia menegakkan duduknya


"Cari anak kelas lain sana, yang lebih mengerti situasi." ucap Zain


Angga mengangkat sebelah keningnya, dia baru tahu anak kelas itu cukup kompak.


"Dengarkan? Gue gak bisa." Afkar tersenyum ke arah Kenzo.


"Jangan lirik IPA 1 juga, kelas kami sangat ceria jadi jangan diganggu gugat." Radi berkata saat Kenzo meliriknya "Mereka hanya tau makan, main, heboh, drakor, jadi jangan lirik ke mereka."


"Bagaimana dengan Alisa?" Angga bertanya.


"Tidak!" seru Radi dan Aryan. 


"Princess Alisa anak kelas gue, enak saja." ucap Radi tidak terima.


Aryan menganggukkan kepalanya sangat setuju. Angga menatap mereka, matanya menyipit.


"Alisa tidak selemah itu." Angga mengangkat tangannya, menarik jari kelingkingnya pelan "Waktu SMP tangan gue dipatahin sama dia."


"Tidak ada yang bilang dia lemah." Aryan menopang dagunya, tangannya mengetuk ngetuk di meja "Hanya... Jangan Alisa. Yang ngelibatin Alisa, berarti cari ribut sama gue."


Selesai membahas masalah mereka, Angga keluar lebih dulu karena masih harus kerja. Dia menghela nafas panjang, menatap pemandangan sekolah yang akan dia tinggalkan tidak lama lagi.


"Makanya jangan cepat cepat lulus." Angga melihat ke samping, Alisa berjalan kearahnya.


Alisa berdiri di samping Angga, melipat kedua tangannya menatap ke lapangan sekolah. Angga memutar bola mata jengah, padahal dia baru saja di bahas di ruang BK tadi.


"Masih pengen SMA kan lo?" tanya Alisa, Angga mengedikkan bahu.


"Pengen cepat kelar gue" ucap Angga, dia melangkah ke depan untuk menumpukan tangannya di beton pembatas. "Lagian lo betah banget sekolah."


"Iyalah." Dia melakukan hal yang sama dengan Angga "Melanie gimana kabar?"


"Kayaknya baik deh" Alisa melihatnya dengan tatapan menghina "Apa apaan muka lo? Gue ini kakak kelas lo kamp*et!'


Alisa berdecih. "Pacar apaan lo, kabar cewek sendiri gak tau." Dia menendang kaki Angga "Kalau kakak kelasnya elo, gue gak takut."


Angga dan Alisa seumuran, mereka bahkan sempat sekelas saat SMP dulu. Angga tidak tahu kenapa, saat lulus SMP Alisa memilih menganggur setahun.


"Gue putus sama Melanie."

__ADS_1


"Hah? Kok bisa? Pasti lo kan yang aneh aneh?" tunjuk Alisa, Angga menepis tangan adik kelasnya itu "Ngaku lo!"


"Ada keadaan yang bikin gue sama dia gak bisa bareng bareng, putus pilihan paling tepat!" jelas Angga, dia menunduk menatap siswa main basket.


"Paling lo yang selingkuh!"


pletak


"Woi.." Alisa memegang kepalanya yang baru saja kena tabok Angga, tidak keras tapi lumayan sakit "Lo kalau mau gelud, ngomong!"


"Ngapain gelud sama singa betina." Angga mendengus pelan "Beberapa hari lalu, gue ketemu Rega, dia nanyain lo."


"Oh."


Angga melihat Alisa "Hanya oh?"


"Terus gue mesti apa? Dia tidak penting! Hanya mantan pas SMP."


"Alahh... Tidak penting gitu juga lo bucin sama dia." Alisa mendengus, giliran dia yang menoyor Angga. "Heh!"


"Ya maklum lah, namanya juga pacar pertama, lo juga gitukan?" tudingnya, Angga menyilang tangannya membentuk X sambil menggelengkan kepala. "Dusta sekali anda!"


"Biasa saja gue sama Melan dulu!" Angga kembali menumpukan tangannya di balkon "Setelah dipikir pikir... SMP itu pacarannya masih bocah banget."


"Makanya gue bilang tidak penting." saut Alisa. "Sekarang lo sama siapa?"


"Ada, anak kelas sepuluh." Angga menjawab sambil tersenyum, Alisa hanya bisa mencibirnya sebelum berseru


"Pedo!"


"Seriusan Lis, kenapa lo jadi makin nyebelin sekarang? Ketularan Aryan lo?"


Alisa menghadapnya mengedipkan sebelas matanya "Karena orang cantik mah bebas."


"Huek!" Angga memasang wajah mau muntah, Alisa tertawa dia mengibaskan rambutnya ke belakang. "Lo sendiri?"


"Iya gue sendiri!" Angga menghela nafas, dia mendorong Alisa agar menjauh darinya. Alisa tertawa terbahak "Gue lagi suka sama dokter tempat Om gue di rawat."


Alisa mengacungkan jempolnya, bangga pada dirinya sendiri. Angga menatapnya malas, dia kemudian melihat jamnya lagi.


"Gue duluan ya Lis, gue mau kerja." Angga menepuk pundak mantan teman sekelasnya itu, Alisa melihatnya.


"Sok lo! Jangan rajin rajin amat kali, Ga!"

__ADS_1


Angga tertawa dia menolah ke arah Alisa dan berucap "Harus rajinlah, ada bini yang mesti gue kasih makan."


__ADS_2