
Angga memegang tengkuknya yang terasa pegal sekali, seharian menunduk rasanya lehernya akan patah.
Jam satu malam dia baru sampai di rumah. Semua lampu sudah di matikan oleh Lily yang sepertinya juga sudah tidur.
Dia naik ke kamarnya untuk istirahat karena besok masih harus kembali ke Sekolah, sekarang dia sangat lelah dan dia maklum akan hal itu, setelah beberapa waktu ke depan dia akan terbiasa melakukannya.
Meletakkan tas di samping meja kerja, dia mengambil rokok dan berjalan ke arah balkon.
Menatap langit malam dia menghela nafas lagi, setiap hari Ayahnya melakukan pekerjaan ini beliau tidak pernah protes sedangkan dia terkadang mengeluh karena perhatian dari Ayahnya sedikit kurang meskipun terkadang dia sadar kalau Ayahnya sudah berusaha semampunya untuk dirinya.
Angga menertawai dirinya sendiri sekarang, menyesal karena tidak memberi perhatian lebih pada Ayahnya.
Ah... Penyesalan memang selalu datang belakangan ya!
Angga menghembuskan lingkaran asap rokoknya, menjadi sebatang kara secara tidak terduga memang membuat mental dan fisiknya sedikit lelah tapi dia masih bersyukur karena di luar sana banyak orang yang mengalami hal yang sama tapi jauh lebih sulit darinya. Meski dia langsung diberi amanat yang berat, seorang gadis belia dan sebuah perusahaan.
Hahhh...
Dia mematikan rokoknya dan berjalan masuk, dia mengambil handuk untuk membersihkan dirinya.
sambil menggosok rambutnya yang basah setelah mandi, Angga berjalan ke arah meja untuk memastikan tidak ada tugas karena sekarang dia sangat lelah. Dia tersenyum lega karena tidak ada tugas.
Dengan asal dia melemparkan handuknya dan menghempaskan tubuhnya di atas kasur yang empuk.
Angga membuka matanya kaget karena pintu kamarnya di ketuk. Padahal rasanya dia baru tidur selama lima menit
Dengan sedikit malas dia membuka pintu dan mendapati Lily yang sudah lengkap dengan pakaian sekolahnya, alisnya sedikit mengkerut
"kakak gak sekolah?" tanya Lily
Angga tidak menjawab karena masih setengah sadar
"sekolah?" gumamnya "Se-" dia langsung berdiri tegak menatap Lily "jam?"
"tidak lama lagi setengah tujuh"
"ugh.. Da*n it!" dia langsung berbalik memungut handuk yang dia lempar asal semalam.
Lily menggelengkan kepalanya memilih langsung ke dapur untuk menyiapkan sarapan yang sudah di buatnya.
Tak lama Angga turun masih dengan pakaian yang berantakan, baju belum di masukkan ke celana dasinya juga masih dia pegang di punggungnya ada tas yang tersampir dan rambut berantakan.
"Li, tolong!" Angga mengulurkan dasinya ke arah Lily, mengerti maksudnya Lily mengambilnya dan mulai memasangkan dasi sedangkan Angga sibuk dengan bajunya yang belum masuk celananya.
Lily tersadar dengan apa yang dia lakukan, seketika wajahnya memerah.
"kenapa?" tanya Angga menyadari Lily yang langsung menundukkan kepalanya, kening Angga mengkerut "kamu sakit? Mukamu merah sekali"
"ti..tidak apa apa" ucap Lily dia mengambil piring sandwich dan menyerahkannya ke Angga
"Kalau sakit Lily jangan maksain ke sekolah" dia mengangkat tangannya untuk memeriksa suhu badan Lily tapi gadis itu menghindarinya.
"sudah hampir terlambat, kakak buruan makannya"
"ah oh!" Angga menggigit sandwichnya "Lily ini bekal siapa?" tanya Angga menunjuk bekal yang di depannya
__ADS_1
"punya Kakak untuk dibawa ke kantor"jelas Lily, Angga meliriknya sambil tersenyum dia menepuk pelan kepala Lily
"terimah kasih"
"uhn"
Sebenarnya Lily membuat itu karena merasa dia berhutang banyak pada pemuda itu, semenjak mereka bersama Lily tidak pernah kelaparan karena uang Angga di serahkan padanya, dia juga akan merasa tidak enak kalau Angga akan makan makanan kantin setiap hari padahal di rumah dia selalu memakan makanan enak dan kebetulan saja dia juga bisa memasak.
Selesai sarapan mereka langsung keluar berbarengan, Lily menatap Angga yang bukannya mengeluarkan motor malah mengeluarkan mobil.
"kakak mau naik mobil ke kantor nanti" jelasnya.
Lily menganggukkan kepalanya paham, dia dengan cepat masuk sebelum terlambat.
Di dalam mobil mereka hanya diam karena memang tidak memiliki topik, tapi melihat lingkaran hitam membuat keningnya mengkerut
"kakak, jam berapa pulangnya semalam?"
"hn?"
"pulang jam berapa tadi malam?" ulangnya
"larut" Angga menggaruk keningnya yang tiba tiba gatal "mungkin nanti malam juga begitu. Banyak harus yang kakak selesaikan dan kakak juga masih harus beradaptasi dengan lingkungan kerja"
Lily menatapnya dengan tatapan takjub.
"kakak, kalau Lily kerja paruh waktu boleh?" tanyanya.
Angga menghentikan mobil karena lampu merah, dia berbalik menatap gadis yang sekarang juga melihatnya.
Gadis itu menggelengkan kepalanya.
"terus?"
Gadis itu menatapnya sedikit ragu, Angga tersenyum.
"kalau Lily tidak bilang, Kakak tidak akan tahu mau ngizinin atau tidak"
"Lily bosan di rumah, sebelumnya Lily pasti selalu ke rumah sakit jadi tidak bosan" lirihnya
Angga menganggukkan kepalanya kemudian menjalankan mobil sedikit cepat karena memang mengejar waktu agar tidak terlambat.
"kalau itu alasan Lily... Kakak tidak mungkin menolak kan? Tapi... " Angga mengetukkan jari telunjuknya di kemudi mobil "Lily bisa mengatur waktu belajarnya? Kakak tidak mau Lily kerjanya setengah setengah, karena kita harus bertanggung jawab atas apa keputusan kita." jelas Angga.
Lily menundukkan kepalanya memainkan jari tangannya.
"Memang Lily mau kerja apa?" tanya Angga dia sudah memelankan mobilnya karena sudah dekat dengan sekolah. Dia menghentikan mobilnya saat melihat masih ada waktu lima menit sebelum gerbang di tutup
"Lily juga tidak tahu kak" Angga mengangkat alisnya mendengar jawaban Lily "tapi Lily pengen kerja di dapur memasak"
"Chef?" Lily menganggukkan kepalanya "mau kakak bantuin cari?"
"ng..ngak usah kak, nanti ngerepotin" ucap Lily buru buru, biar bagaimanapun Angga sudah terlalu banyak pekerjaan.
"Lily!" Angga menahan tangan gadis itu menatapnya serius "Kakak suami kamu, aku hanya ingin memastikan tempat kerja Lily aman untuk Lily. Tidak merepotkan"
__ADS_1
"tapi Lily mau belajar mandiri"
"it- " kalimat Angga terputus karena jendela mobilnya di ketuk.
Dia membukanya dan pandangan yang dia lihat adalah wajah menyebalkan Afkar, pemuda itu menunjukkan jam di pergelangan tangannya
"urusan rumah tangga silahkan selesaikan di rumah, kalian akan terlambat"
"ganggu lo" Angga mendengus ke arah Afkar yang malah tertawa puas melihat wajah kesal seniornya
"ck gak usah protes, ini tugas gue senior, salah lo yang nempatin gue disini" Afkar menyeringai.
Sebelum Afkar terlalu banyak bicara Angga menutup jendela mobilnya dan berlalu
"kakak dekat dengan kak Afkar?" tanya Lily dia melihat ke arah Afkar yang tertawa ke arah mobil mereka.
"tidak terlalu, dia menyebalkan"
Lily turun dari mobil begitu mobil sudah di parkir dengan aman
"Lily!" gadis itu menoleh mereka sudah sama sama keluar dari mobil milik Angga
"ya?"
Angga berjalan ke arah Lily menyodorkan kertas, gadis itu mengkerutkan keningnya bingung.
"di sekolah kita semua siswa wajib ikut ekskul, itu pendaftaran untuk ekskul persiapan OSN. Kalau kalau kamu tertarik"
"Kakak ikut ekskul ini?"
Angga tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya.
"kapan Lily ngumpulinnya? sama siapa?"
"di kelas 12, kamu kasih ke kakak saja. Kalau kamu setuju"
"iya"
"ya sudah Lily ke kelas gih, tidak lama lagi kita bakal berbaris"
Lily menganggukkan kepalanya dan berlalu tapi tidak lama dia kembali ke depan Angga
"ada yang ketinggalan?"
Lily mengeluarkan bekal dari tasnya dan memberinya ke Angga.
"panas dulu sebelum kakak makan, tenang saja bahan tempat bekalnya bisa di masukkan di microwife jadi aman." jelasnya.
"terimah kasih"
Lily mengangguk sebelum berlari ke kelasnya, kali dia tidak berbalik lagi.
Angga menatap bekal di tangannya, kapan terakhir kali dia di kasih bekal?
SD? SMP? yang jelas sebelum ibunya meninggal.
__ADS_1
*****