
"Beuhhh.... Yang katanya seminggu!" seru Ezra saat melihat Angga yang memasuki ruangan, kebetulan mereka mengambil satu mata kuliah yang sama.
Angga menatapnya sinis "Cot lo!" Angga menendang pelan meja Ezra saat melewatinya, "Yang gue mintai tolong sama lo, lo udah dapat belum?"
Ezra mengacungkan jempolnya dengan muka sombong "Tentu saja, lo pikir gue siapa?"
"Anak bokap lo!"
"Ban*ke lo Ga!" Angga tertawa puas sambil berjalan ke kursi kosong yang tidak terlalu jauh dari tempat Ezra duduk.
Ezra memutar badannya ke arah Angga, melihat temannya itu yang mengeluarkan buku dari tasnya. Merasa di perhatikan Angga mendongak
"Main catur?" tanya Ezra padanya, Angga menggelengkan kepalanya "Kenapa woi?"
"Cari duit buat bini gue." jawab Angga kemudian menunduk.
Saat mengatakan Bini semua menoleh, tapi melihat ekspresi Angga mereka menganggapnya pasti bercanda. Bahkan banyak yang diam diam menggelengkan kepalanya, berfikir cara panggil Angga ke pacarnya agak norak.
"Istirahat kali, Ga! Cari duit mulu lo." ucap Ezra yang sekarang berjalan ke arahnya meletakkan flashdisk "Istirahat bro!"
"Gue kerja biar tua nanti gue tinggal ongkang-ongkang kaki." jawab Angga meraih flashdisk di mejanya, dia menatap Ezra "Apa ini?"
"Yang lo minta sama gue selama lo cuti," dia menunduk dan berbisik pada Angga "Salah satu dari mereka itu, senior yang lo pukul di hari pertama ospek."
Angga mengangguk mengerti, pembullyan di tinggkat kuliah sedikit lebih parah dari pada saat SMA. Tapi Angga maupun Ezra bukanlah orang yang gampang di bully, mereka berdua akan balas memukul saat dipukuli.
Tak lama dosen masuk dan mulai mengajar, Angga menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bangku kuliah dan SMA benar benar beda, dosen tidak sama dengan guru yang akan sabar menangani siswa.
"Tugas yang saya berikan sekarang, kumpulkan tiga hari lagi. Satu lagi, saya tidak menerima tugas yang diketik. Saya mau kalian menulis tangan di kertas hvs, harus rapi dan tidak ada bekas coretan ataupun hal kotor lainnya. " dosen itu menutup bukunya dan berjalan keluar, seolah tidak memberi mahasiswanya kesempatan untuk bertanya.
"Lo kayaknya susah mengikuti kecepatan dosen tadi," ucap Ezra "Makanya jangan bolos dua minggu!"
Angga tidak menjawab, dia kembali menunduk menatap bukunya dan membacanya lagi. Dia bukannya tidak bisa mengikuti, Angga bahkan membuat catatan penting selama dosen itu mengajar, Angga hanya sedikit kaget dengan bagaimana dosen itu mengajar.
Ezra menunduk melihat apa yang dibaca Angga, catatan selama dosen tadi mengajar, hampir semua yang dikatakan dosen tentang materi tadi di catat Angga. Dia harusnya tidak kaget lagi sebenarnya, tapi Angga tidak kelihatan kesulitan.
Terus kenapa mukanya seperti orang yang tidak mengerti apa apa?
__ADS_1
"Tidak keluar lo?" tanya Angga karena Ezra masih berdiri di depannya.
"Lo gak keluar?" Ezra balik bertanya, Angga menggelengkan kepalanya
"Mata kuliah gue selanjutnya masih di ruangan ini."
Ezra keluar dengan cepat karena Mahasiswa yang menggunakan kelas itu sudah masuk, dia juga masih harus mencari kelasnya setalah ini. Dia keluar setelah mengatakan pada Angga kalau mereka harus ketemu setelah mereka ada jam kosong, Angga hanya mengangguk mengiyakan.
"Oh! Hai!" Angga yang mengulas kembali catatannya tadi mendongak.
Seorang gadis dengan baju berwarna putih di lapisi outfit hitam serta rok pendek hitam berdiri di depannya. Angga tidak menunjukkan ekspresi apapun tapi di kepalanya bertanya tanya, siapa cewek sok kenal di depannya ini?
Angga kembali menunduk membuat gadis di depannya cemberut, dia duduk di depan Angga dan meliriknya tapi Angga tidak mengangkat kepalanya se-sentipun. Dia mengkerutkan keningnya tapi saat akan bicara dosen sudah masuk, melihat kedatangan dosen, Angga buru buru memasukkan bukunya dan mengeluarkan buku lain.
"Lo ingat gue?" Angga yang bersiap keluar dari kelas karena sudah selesai di hadang pintu, dia melangkah ke jalan yang tidak di tutupi tapi gadis di depannya juga melakukan hal yang sama "Lo serius gak ingat gue?"
"Memang lo penting?" Angga bertanya dengan dingin, Angga melanjutkan langkahnya dan gadis itu hanya diam.
Vidya berbalik menatap punggung Angga dan berteriak "Suatu hari gue bakal jadi orang penting buat lo! Camkan omongan gue!"
Angga terus berjalan tidak peduli, dia malah memasang earphone ke salah satu telinganya dan menjawab telfon dari kantor. Tujuan Angga sekarang ke ruangan BEM untuk menyerahkan flashdisk, dia harus menyelesaikan orang orang yang merusak motornya.
Angga membuka pintu ruang BEM setelah mendengar persetujuan dari dalam, di dalam ruangan dia bisa melihat beberapa Anggota BEM di sana. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan, tapi dia sama sekali tidak melihat Indra di mana pun.
"Lo nyari siapa?" salah satu dari mereka bertanya.
"Kak Indra!" jawabnya
"Dia keluar sebentar, kalau ada keperluan lo bilang saja nanti di sampaikan."
Angga melihat mereka, tidak tajam tapi teliti. Angga tersenyum kecil "Ah, nanti saya datang lagi."
Dia dengan cepat pamit dan keluar dari sana, dia tidak bisa dengan muda mempercayai siapapun di sana. Belum berapa jauh dia berjalan, dia langsung berpapasan dengan Indra dan Bakti.
"Oh! Anak baru!" Bakti berseru, Angga melirik ke arah tangan mereka yang penuh tumpukan kertas, sangat sibuk rupanya. "Lo ngapain di ruang BEM?"
Angga tidak langsung menjawab, dia hanya melihat Indra yang sudah terlihat stress.
__ADS_1
"Sepertinya kalian sibuk!" hanya itu yang Angga ucapkan, dia memasukkan tangannya ke dalam saku celananya.
"Tentu saja, namanya juga BEM. Kalo lo pernah ikut OSIS, ini lebih sibuk dari itu." ucap Bakti lagi
Angga hanya bisa tersenyum kecil, ya memang benar yang dia ucapkan. Tapi itu hanya untuk SMA yang normal, tidak seperti SMA tempat dimana dia menjadi ketua OSIS.
"Lo ada perlu sama gue?" tanya Indra yang dari tadi hanya diam menatap mereka.
"Ya." Dia mengeluarkan flashdisk dari saku celananya, memperlihatkan pada dua petinggi BEM itu. "Di sini video orang orang yang doyan ngerusakin motor gue."
Indra menghela nafas "Lo bisa serahin itu ke keamanan!"
"Gue tidak percaya mereka." ucapnya "Bahkan lo sekalipun!"
Bakti mengertakkan giginya "Kalau begitu kenapa lo cari Indra?"
"Karena ini tanggung jawab ketua BEM, sebagai ketua dia harus mengarahkan anggotanya, tapi
sepertinya dia malah di perbudak anggota."
"Gue ti-"
"Gue baru dari ruangan BEM dan tidak satupun yang bekerja di sana." Angga melirik tumpukan di tangan Indra, tentu saja dia paham maksudnya.
"Sudah gue bilang, kampus ini beda." Indra siap melangkah tapi terhenti saat mendengar perkataan Angga.
"Ketua yang lemah hanya akan membuat organisasi lemah juga." Dia berjalan mendekati Indra "Gue akan menyelesaikan masalah gue, mungkin mereka akan berakhir seperti orang yang beberapa minggu lalu berurusan sama gue."
Angga melangkah melewati mereka.
"Lo bicara seolah lo pemimpin organisasi." cibir Bakti, Angga menoleh ke arahnya. "Apa?"
"Tidak, hanya merasa lucu saja."
"Apa apaan anak baru itu?" tanya Bakti saat sudah tidak melihat Angga di depan mereka.
Indra menghela nafas dan berkata pada Bakti "Sepupuku ada yang bersekolah di tempatnya, katanya dia mantan ketua OSIS yang disegani di sekolah. Gue juga dengar kalau dia berhasil menghentikan geng geng sekitar sekolahnya saat dia menjabat."
__ADS_1
"HAH?!!"