Lily Untuk Angga

Lily Untuk Angga
Part 33


__ADS_3

"Lo tadi dapat paket soal nomor berapa?" Niel meluruskan kakinya sambil bersandar di dinding, mereka duduk di koridor depan kelas.


Hari ini, hari terakhir mereka melakukan ujian nasional yang di laksanakan selama empat hari. Untuk mengantisipasi bocornya soal ujian serta kerja sama siswa, pemerintah berinisiatif membuat lembar soal jadi beberapa paket, tepatnya lima paket.


"Paket tiga" Angga menjawab sambil memejamkan matanya, dia mengantuk dan lelah. Beruntungnya itu hari terakhir sehingga nanti dia bisa pulang untuk istirahat. "Perasaan baru kemarin kita ospek"


"Ho'oh, perasaan baru kemaren kita di kerjain abis abisan sama senior sengklek" Hari yang baru keluar menimpali, dia menendang pelan kaki Ezra yang sudah tepar di lantai kepalanya berbantalkan paha Niel. Hari duduk di samping Angga.


"Tabok juga nih anak" Gerutu Ezra karena kakinya kena tendang Hari.


"Yang dapat paket tiga siapa tadi?" Dwi yang baru keluar dari kelasnya bertanya sambil berjalan ke arah mereka.


Angga yang menutup matanya, membuka berlahan kemudian mengangkat tangannya.


"Lo ngerti gak sih soal tiga puluh dua? Gue kesulitan di situ." Dia bersandar di tiang menatap temannya yang lesehan serta berbaring di koridor.


"pertanyaannya memang berputar putar, tapi inti pertanyaannya ide pokok paragraf" jelas Angga


"Jawaban lo?"


"D, kurang yakin juga sih gue" jawabnya asal.


"Gue gak sendiri kalau begitu" Dwi menghela nafas panjang


"Jawabannya B" Mereka menoleh dan mendapati Nia yang juga sudah berdiri di sana. Gadis berjilbab pengurus UKS itu tersenyum kecil. "B dan D memang opsi yang mengecoh, tapi kalo kita telaah lagi, jawabannya B." jelas Nia.


Angga diam sebentar mencoba mengingat pertanyaan sebelumnya, tak lama dia mengerang sendiri.


"Akh... Iya itu B" serunya


"Sekarang sudah selesai" Hari menimpali "Jangan di bahas lagi, rasanya gue mual kalau mengingat soal"


"Hari benar" Ezra langsung duduk "Mau jalan jalan sebagai peringatan selesainya UN?"


"Ya ini gue suka nih" Niel menepuk pundak Ezra tapi langsung di tepis. "Tapi mau kemana?"


"Gue cuman mau pulang tidur" Angga menguap lebar, matanya terdapat air mata sangking mengantuknya.


"Sebentar doang, Ga! Diantara kita duit lo paling banyak soalnya" Jawab Niel enteng, Angga mendengus.


"Gue mau ngumpulin buat resepsi nikahan gue"


Mereka langsung mencibir mendengar jawaban Angga yang asal menurut mereka.

__ADS_1


"Cewek lo bahkan belum ber-KTP" Dwi akhirnya ikut duduk mungkin karena capek berdiri.


"Adek yang tersiram sup panas waktu itu?" Nia bertanya, dia menggantikan Dwi bersandar di tiang. Angga menganggukkan kepalanya "Gue kira adek lo"


"Cewek gue" jawab Angga dia melihat Dwi "Empat bulan lagi dia sudah tujuh belas"


Dwi menghitung dengan jari jarinya "Dua tahun lagi baru legal, sabar ya boss"


Angga hanya menyeringai tanpa berkata apa apa pada mereka, melihat itu mereka hanya bisa melongo bingung.


"Ngapain bahas ceweknya si Angga, mending cari makan. Lapar gue" Ezra berkata dan berdiri lebih dulu. Dia menarik tangan Angga, mereka akan memerasnya untuk makan.


Karena kelas dua belas ujian dan adik kelas liburkan, jadi kantin yang buka tidak sebanyak saat hari sekolah. Beruntungnya kantin langganan mereka masih buka, kalau tidak mau tidak mau mereka makan di luar sekolah.


"Pendaftran masuk univ sudah dibuka kan?" Nia bertanya sambil menyendok nasi di mulutnya


"Sudah" Ezra yang menjawab "Beberapa univ bahkan sudah buka dari sebulan lalu."


"Yang lo incar sudahkan Ga?" tanya Dwi, Angga mengangguk saja karena mulutnya mengunyah bakso. "Pengumumannya kapan?"


Angga meminum air lebih dulu, mengambil tisu mengelap tetesan kuah di depannya. "Mungkin dua minggu lagi, mudah mudahan saja sih keterima"


"Terus opsi kedua lo?"


"Eh kampret, dimana mana Oxford itu adalah opsi pertama" Hari tanpa sadar melemparkan tisu kearahnya, mereka memang kadang tidak mengerti jalan pikiran mantan ketua osis satu ini.


"Dipikir masuk Oxford mudah" Niel menghela nafas panjang, Angga tertawa


"Makanya gue jadiin opsi kedua"


"Sinting" Ezra mencibir "Yang namanya Opsi kedua itu, tempat dimana lo bisa langsung masuk kalau opsi pertama lo gagal."


"Gue cukup percaya diri untuk keterima. Dan lagi opsi pilihan gue bukan cuma dua universitas" Angga sekali lagi menguap padahal mereka sedang makan "Ini pulangnya kapan sih? Ngantuk bener gue"


"Lo belajar sampai jam berapa emang?" Nia bertanya


Angga menoleh ke arahnya sebelum menggelengkan kepalanya "Gue tidur cepat semalam, tapi belakangan ini gue sibuk banget."


"Tapi lo kok malah tambah berisi ya?" tanya Nia lagi, dia menatap lurus ke arah Angga.


"Dia dapat gizi dari ceweknya" cibir Dwi, memang tiga hari belajar ini, Lily tidak absen mengirimkan makan padanya.


"Kenyang makan pekerjaan gue" jawab Angga.

__ADS_1


****


Pada akhirnya Angga membawa teman temannya ke tempat kerja Lily.


"Bilang saja lo mau ngapel kan?" tuding Hari.


Mereka berenam berdiri di depan resto milik Angga. Nia tanpa di persilahkan masuk lebih dulu, makan gratis siapa yang mau nolak.


"Lo semua cuman mau berdiri di situ?" tanya Nia yang sudah membuka pintu "Jadi gak sih ini?"


"Jadi" Angga memperbaiki letak tas di pundaknya, dia berjalan masuk.


Alga yang kebetulan ada di meja kasir menatap kedatangan mereka yang masih berseragam.


"Sudah selesai, Kak?" tanyanya pada Angga yang kebetulan berdiri di depan mejanya.


Angga hanya mengangkat jempolnya tanda kalau mereka sudah selesai.


"Lily mana?"


"Dapur, mau gue panggilin, Kak?" tanyanya lagi. Angga menggelengkan kepalanya, berkata kalau dia tidak mau mengganggu pekerjaannya.


Sambil menunggu pesanan mereka, mereka berenam kembali membahas soal UN yang mereka lakukan tadi.


Angga tidak sengaja melihat ke arah pintu resto yang terbuka, seorang wanita sekitar umur empat puluhan masuk. Di samping wanita itu Atar berjalan bersamanya.


"Dia anak basket teman Lily bukan?" Hari yang kebetulan melihat ke arah yang sama bertanya.


"Iya."


Angga memperhatikan mereka yang sekarang bicara dengan Alga, tak lama Alga meninggalkan tempatnya dan masuk ke dalam. Sekitar tiga menit dia kembali keluar dengan Lily.


Lily?


Angga masih diam di tempatnya, dia memperhatikan bagaimana harunya wanita itu melihat Lily yang seperti patung di tempatnya.


Siapa wanita itu? Angga bertanya tanya dalam hatinya.


"Sayang!" Wanita itu menghampiri Lily dan memeluknya erat, tak lama dia melepaskan Lily kemudian memegang pipinya "Kamu kok kurusan?"


Nyess


Dada Angga berasa di tumbuk mendengar ucapan itu terlontar dan di tujukan pada Lily. Dia seperti tertusuk kenyataan, mendengar pertanyaan itu membuatnya seolah olah tidak becus merawat Lily.

__ADS_1


Lily tersenyum kecil sambil berkata kalau dia tidak apa apa, dia juga meminta wanita itu untuk duduk. Lily sepertinya tidak menyadari kehadiran Angga dan kawan kawannya.


__ADS_2