
Lily duduk diam di dalam mobil, dia hanya bisa menggenggam ujung pakaiannya erat erat. Dia belum bisa mencerna apa yang terjadi, ada apa ini?
Liz mematikan sambungan telfonnya, dia baru saja mengabari Angga soal Lily. Dia melirik Lily hanya diam, dia tahu kalau gadis itu sekarang kebingungan.
"Lily!"
"hah?" Dia menatap Liz bimbang.
"Kamu pasti kaget kan?" dia bertanya, Lily tidak menjawab tapi menganggukkan kepalanya. "Maaf!"
Lily "___"
Dia tidak tahu harus menjawab apa, Liz adalah keberadaan yang tidak dia ketahui. Sebagai orang yang berfikir dirinya yatim piatu dan tiba tiba mengetahui kalau masih punya keluarga, Lily tidak tahu harus berekspresi apa selain kaget.
Tak lama mereka tiba di sebuah perumahan, terlihat sangat jelas kalau itu bukan perumahan biasa. Dia terus melihat keluar jendela, rumah di sana berjarak jauh karena ukuran yang besar dan halaman besar.
Perumahan elit!
"Silahkan Nona." Supir membuka pintu mobil, berlahan Lily turun.
Dia menatap rumah di depannya, sangat besar sekali. Rumah itu jauh lebih mewah dan besar dari rumahnya. Dia seperti melihat rumah orang kaya yang ada dalam drama yang dia tonton, sesukses apa Liz?
"Ayo masuk!" ajak Liz yang berdiri di sampingnya.
Lily hanya menghela nafas panjang, dia mau tidak mau ikut masuk. Dia makin terkejut saat mereka di sambut lebih dari sepuluh pelayan, apa dia masuk ke sebuah drama korea?
"Dia adik perempuanku, Lilyana. Layani dia sebaik mungkin!" ucapnya menepuk bahu Lily "Er, bawa nona ke kamar atas."
"Baik tuan." dia menunduk sebelum menghadap Lily "Nona, silahkan ikuti saya."
Lily melangkah mengikutimya tapi baru sekitar enam langkah, dia menoleh ke arah Liz dengan ekspresi rumit.
"Aku tahu kamu punya banyak pertanyaan, tapi sekarang kamu istirahat saja dulu." ucapnya, dia memasukkan tangannya ke saku celana "Kita akan bicarakan nanti, aku akan menjawab rasa penasaranmu."
Mau tidak mau Lily menurut, dia juga sangat lelah sekarang. Saat sampai di lantai atas, matanya takjub melihat banyaknya ruangan di sana.
"Nona di sebelah sini." Pelayan yang di panggil Er tadi menuntunnya ke kamar nomor dua dari tangga. "Maaf, malam ini Nona bisa tidur disini, kami belum merapikan kamar yang akan Nona tempati."
"Lily."
"Ya?" Er terkejut mendengar Lily menyebut namanya sendiri.
"Nama saya Lily, bukan Nona. Panggil Lily saja."
Wanita itu hanya tersenyum kecil, "Maaf Nona, tapi ini perintah tuan muda." dia memasukkan kunci ke celah kunci dan membuka pintu "Silahkan Nona, semoga malam anda menyenangkan."
Lily menutup pintu kamar setelah kunci di serahkan padanya, tentunya setelah pelayan itu keluar dari kamar. Dia melihat kamar itu, sangat luas dan rapi.
Dia membuka lemari dan mendapati piyama wanita dan pria, bisa di jamin piyama piyama itu belum dipakai siapapun. Dia menarik salah satu dan membawanya ke kamar mandi, badannya gerah dan dia sudah sangat lelah karena kejadian hari ini.
__ADS_1
Selesai mandi dia langsung mengeluarkan ponselnya dari ranselnya, dia akan mengabari bude Sum kalau dia tidak akan pulang malam ini. Selesai mengabari orang rumah, dia menimang nimang apakah dia harus menghubungi Angga?
Tapi sudah malam, mungkin saja Angga istirahat atau sedang sibuk. Dia hendak meletakkan ponselnya begitu saja, tapi tiba tiba ada panggilan masuk.
"Kak Angga!" serunya saat sambungan terhubung.
Dari seberang terdengar kekehan Angga "Hai cantik. Kamu baik baik saja kan?"
Lily "___"
"Lily?"
"Kakak tahu kan tentang kak Liz?" tanya Lily lirih.
Angga diam sejenak sebelum menjawab "Iya, Kakak tahu."
Lily menggigit bibirnya, matanya berkaca kaca "Kenapa kakak tidak kasih tahu Lily?"
"Maaf." ucap Angga "Tapi kak Liz tidak mengizinkan untuk memberitahu Lily."
"Kenapa?"
"Akan lebih baik kamu bertanya pada Kak Liz." Angga diam sebentar "Maafkan Kakak."
"Kakak!"
"Kapan kakak pulang?" tanyanya.
"Kakak pulang seminggu lagi!"
Lily melihat keluar jendela "Kenapa lama?"
"Pekerjaan masih banyak, kenapa?"
"Ngak apa apa." jawabnya.
Mereka berbicara cukup lama sampai Lily tertidur.
Di tempat lain, Angga memutuskan sambungan telfon saat mendengar nafas teratur gadis itu. Matanya tertuju ke video yang di kirim Alga padanya, rekaman cctv yang sempat terambil sore tadi.
Dia menatap gambar itu nyalang, tangannya mengepal. Kalau Liz tadi tidak di sana, apa yang akan Rudi lakukan pada Lily tidak akan ada yang tahu.
***
Pagi pagi sekali Lily sudah terbangun, semalam dia ketiduran saat menelfon Angga. Maka dari itu, begitu bangun dia menghubungi Angga lagi sekaligus membangunkan Angga.
"Nona, saatnya sarapan." suara ketukan mengintrupsinya. "Mau makan di mana?"
Lily buru buru turun dari kasur masih dengan telfon di tangannya, dia dengan cepat membuka kan pintu. Pelayan semalam berdiri di sana dengan wajah yang sudah segar.
__ADS_1
"Saya akan makan di bawah, terima kasih."
Selesai menelfon dia ke kamar mandi untuk mencuci muka, sepertinya dia hari ini tidak sekolah lagi.
"Pagi!" sapa Liz melihatnya masuk ke ruang makan.
"Pa..pagi!"
Liz mempersilahkannya duduk, bertanya apa yang akan dimakan Lily untuk sarapan. Gadis itu hanya memilih bubur, dia sebenarnya tidak dalam nafsu makan yang baik.
Mereka makan dalam diam, hanya ada suara sendok yang beradu dengan piring. Tidak ada yang tahu harus berkata apa, Liz sendiri tidak ingin berkata apa apa yang mungkin merusak waktu sarapan.
"Kamu... Tidak ingin menanyakan apa apa?" tanya Liz saat Lily hendak naik kembali setelah sarapan.
Dia berdiri di anak tangga pertama, dia menatap Liz tidak tahu harus bagaimana.
"Aku akan menjawabnya."
"Kamu... Siapa?"
Liz menatapnya "Liz Laurent Anderson. Kakak kandungmu."
"Ke mana saja?" Lily menautkan jarinya, matanya berkaca kaca dan tanpa terasa air matanya jatuh "Ayah... kenapa tidak hiks... Ayah... Ayah udah gak adaa..."
Liz mendekatinya, menarik gadis ke dalam pelukannya.
"Lily pikir... Lily... Lily sendirian..." dia menenggelamkan wajahnya di bahu Liz, menggenggam erat lengan baju Liz "Kenapa tidak pernah nemuin Ayah? Kenapa? Ayah udah pergi... Ke mana saja?"
Liz tidak mengatakan apa apa, dia hanya menepuk punggung Lily untuk menenangkannya. Lily mengendurkan pelukannya untuk menghapus air matanya, Liz membantunya.
"Maaf" Lirihnya.
Dia menggandeng tangan Lily ke sofa, mendudukkan adiknya itu. Dia meminta pelayan untuk membuatkan minum untuk mereka, Liz memberinya tisu.
Dia duduk di samping Lily "Aku bingung mau mulai dari mana." gumam Liz, dia memandang ke depan. "Aku tidak bermaksud untuk menemui kalian, tapi aku tidak bisa."
Lily menoleh ke arahnya dengan kening mengkerut, apa maksudnya? Liz menautkan kedua tangannya, dia mulai menceritakan apa yang terjadi.
Dari awal dia di bawa paksa oleh kakek dari pihak sang ibu, sampai bagaimana dia bisa kembali. Selama ini dia selalu mencoba tapi sangat sulit, dia juga hampir putus asa.
"Aku benar benar ingin pulang." Lily bisa melihat dengan jelas mata Liz yang memerah, ada penyesalan dan kemarahan di sana. "Tapi saat sampai disini, aku hanya menemukan makam!"
Lily tidak tahu harus menggapi apa, dia pasti akan merasa gila kalau di posisi Liz.
Liz menghapus setitik air mata yang jatuh di pipinya "Karena itu, aku berusaha sekarang."
Dia mengatakan yang sebenarnya, selama ini dia diam diam membangun kerajaan bisnisnya sendiri sampai dia bisa mengakusisi perusahaan kakeknya. Dia berusaha siang malam hingga akhirnya dia berhasil, sayang sekali... Tempat yang harusnya menjadi tempatnya pulang malah meninggal lebih dulu.
Liz menepuk kepala Lily "Terima kasih kamu masih hidup." Lily menatapnya, air mata Liz jatuh dan Lily bisa merasakan sakit dari air mata itu "Terima kasih, karena kamu.... Kakak masih ada alasan untuk di sini."
__ADS_1