Lily Untuk Angga

Lily Untuk Angga
Part 45


__ADS_3

Lily berlari menuruni tangga Angga yang berjalan di belakangnya hanya bisa meringis, takut gadis itu menggelinding ke bawah. Angga menggelengkan kepalanya, membuang jauh jauh pemikiran buruk itu.


"Awas jatuh, Li!" tegur Angga, Lily hanya menoleh sekilas tersenyum ke arahnya. "Kenapa kamu terburu buru sekali"


"Bude kayaknya masak enak" jawabnya.


Dari awal bangun pagi tadi, Lily memang sudah mengeluh lapar. Angga juga memang mencium bau enak dari dapur, memang tidak salah mempekerjakan orang untuk membantu pekerjaan rumah.


"Pagi ganteng!"


Lily mencium pipi gembul Farhan yang memakan roti tawar sambil melihati neneknya memasak, Lily kemudian mendekati bude Sum untuk membantu sedikit. Angga juga menepuk kepala Farhan lalu duduk di sampingnya, dia juga mengambil selembar roti tawar memakannya sambil menunggu sarapan siap.


"Bude. Boleh tidak kami bawa Farhan keluar?" Tanya Lily sambil mencuci perabotan bekas pakai.


Lily dan Angga sudah membahas ini tadi, mereka berdua ingin keluar jalan jalan dengan membawa anak kecil itu. Entah kenapa, Lily merasa kasihan padanya karena terus berada dalam rumah dan tidak kemana mana.


"Nanti merepotkan, bu!"


"Tidak apa apa." Jawab Lily "Tidak akan repot, Farhan anteng kok bude"


Di tempat duduknya Angga hanya memperhatikan mereka berdua, dia membiarkan Lily yang meminta izin karena sesama perempuan akan lebih mudah berkomunikasi.


"Yaudah deh bu, hari ini saya juga ada yang ingin dilakukan" ucap Bude Sum pada akhirnya


"Terimah kasih, Bude!" Lily mengucapkannya sambil tertawa senang.


Selesai sarapan Lily kembali ke kamarnya untuk membereskan, mereka keluar agak siangan soalnya. Dia masukkan semua pakaian kotor miliknya dan Angga ke mesin cuci, sambil menunggu dia mengepel lantai kamarnya dan Angga.


"Kakak bantuin apa?" Angga bertanya karena melihat Lily yang bekerja dengan gesit. Lily menoleh


"Tolong lapin jendela sama perabotan ya kak, udah berdebu soalnya. Kain lapnya ada di ruang cuci, ada di jemuran."


Angga langsung turun dari ranjangnya setelah mendengar instruksi Lily, sebenarnya dia cukup bosan karena tidak melakukan apa apa. Dia malas bermain game, keluarnya pun nanti agak siangan karena menunggu Lily yang mau membersihkan. 


Selesai bebersih mereka berdua tepar di sofa, rumahnya besar jadi cukup melelahkan padahal mereka hanya membersihkan hanya bagian atas saja. Angga berfikir untuk mempekerjakan orang lain lagi, bude sudah bisa dipercaya jadi biarkan dia bertanggung jawab dilantai atas.

__ADS_1


Angga menolehkan kepalanya ke arah Lily, memberitahukan apa yang baru saja dia pikirkan. Lily baru saja akan menolak, Angga langsung membekap mulut Lily tanda tidak mau menerima penolakan.


"Kamu nyonya rumah. Aku tidak mau melakukan pekerjaan di rumah. Cukup mencuci pakaian kita sama merapikan kamar kita berdua, selebihnya kakak tidak setuju."


Lily cemberut ke arahnya, dia suka melakukan pekerjaan rumah tapi kenapa dilarang. Angga menekan pipi Lily gemas, kemudian meminta gadis itu mengikutinya ke kamar Angga.


Lily duduk di kursi meja belajar kamar Angga, menatap Angga yang mengambil sesuatu di lemari. Angga mendekati Lily menyodorkan berkas kepadanya, sebelum mengambilnya Lily mendongak ke arahnya.


"Ini sertifikat rumah Ayah yang beliau berikan untuk disimpan, kakak percaya kamu bisa mengamankannya."


Lily menunduk menatap berkas berkas itu, air matanya berkaca kaca perasaannya campur aduk. Ayahnya benar benar memikirkannya bahkan disaat sakitnya.


Angga mengusap kepalanya, Lily dengan cepat menghapus air mata yang sempat jatuh. Dia mendongak melihat Angga, mengucapkan terimah kasih.


Lily kembali menyodorkannya "Tapi kakak saja yang simpan, Lily tidak tahu mau Lily apakan kalau sama Lily" ucapnya.


Angga menggelengkan kepalanya, dia kembali mengambil kotak kecil berwarna merah dari lemari.


"Kakak mau semua barang dan berkas penting yang ada di rumah kamu yang simpan. Kakak percaya kamu bisa mengola dengan baik"


"Tidak, yang ini Lily tidak berani!" serunya.


Angga meraih tangan Lily meletakkannya lagi kotak itu "Ini semua milik Ibu, sekarang ini milik kamu!"


"Ini pasti berarti buat kakak, Lily tidak bisa diterima" ucapnya


Angga menggelengkan kepalanya "Ini hanya barang dunia. Ibu tidak bisa memilikinya lagi, dari pada hanya disimpan mending kamu gunakan atau tidak dijual saja."


Meski mengatakan itu, tatapan Angga tetap sendu. Lily mau tidak mau mengambilnya dan mengatakan kalau dia akan memakainya kalau ada kesempatan.


Angga mengulurkan tangannya membuka laci meja, dia mengambil dompetnya. Dia mengeluarkan sekitar tiga kartu bank dan salah satunya kartu hitam, dia meletakkannya di pangkuan Lily.


"Ini tabungan kakak dari SD" dia meletakkan kartu bank berwarna Abu-Abu "Ini kartu untuk menggaji pekerja di rumah" kartu bank berwarna biru. "Dan ini kartu gaji kakak di kantor" dia meletakkan kartu hitam.


"I..ini?"

__ADS_1


"Kakak mau kamu mengolah semuanya, untuk urusan rumah tangga kakak mau kamu yang urus. Bisakan?"


"Ini banyak sekali, Lily tidak tahu"


"Kamu pasti bisa Li" ucap Angga, dia tersenyum melihat wajah bingung Lily.


"Kakak kasih kartu ke Lily, terus Kakak bagaimana?"


Angga tertawa dia dengan gemas mengacak rambut Lily "Kakak masih ada kartu Ayah, isinya lumayan loh... Masih bisa bangun satu perusahaan."


Mata Lily membulat, tapi tak lama dia berekspresi biasa saja. Ayah mertuanya pengusaha, pasti tidak heran kalau punya uang banyak.


"kata Ayah, semenjak ibu meninggal dia tidak tahu harus memanjakan siapa lagi. Aku terlalu membosankan katanya" Angga terkekeh mengingatnya, meski demikian Lily tahu Angga tidak benar benar tertawa. "Ayah sayang banget sama Ibu, beliau akan mengomel kalau aku bercanda minta ibu baru."


"Kalau Ayah tidak pernah membicarakan Ibu pada Lily" Lily berkata, dia senyum ke arah Angga yang sepertinya kaget ke arahnya "Lily sedikit mengenal Ibu, itu karena mendengar cerita Mama."


"Foto?"


Lily menggelengkan kepalanya "Lily tidak punya, Lily takut Ayah akan sedih kalau membicarakan ibu" Lily menatap langit langit kamar, dia tidak pernah merasakan pelukan ibu kandungnya "Tapi Lily tidak masalah."


"Kenapa?"


"Karena Lily tidak mengenal ibu" dia menarik nafas "Lily sangat berterimah kasih karena melahirkan Lily dengan sehat bahkan sampai meninggal, tapi Lily tidak memiliki kesan tentang ibu."


Angga menatap Lily, terlihat jelas dimata gadis itu kalau dia bercerita dengan sangat tenang. Angga mengerti kondisi Lily.


"Tapi meski begitu Lily masih menangis kalau ke makam ibu, entah kenapa?" ucapnya jujur. Angga menghela nafas.


"Mungkin karena beliau Ibu kandungmu."


Lily mengangguk dan tertawa "Mungkin."


"Apa kamu tidak penasaran dengan wajahnya?" Lily menggelengkan kepalanya "Kenapa?"


"Karena kata Ayah, Lily ciplakan ibu banget. Jadi kalau penasaran Lily hanya perlu bercermin"

__ADS_1


__ADS_2