Lily Untuk Angga

Lily Untuk Angga
Part 65


__ADS_3

Angga menarik kursi di depan Afkar, mereka berdua sudah janjian akan bertemu di kantor Angga sepulang dari sekolah. Afkar menyodorkan brankas, Angga meminta bantuannya untuk mencari seseorang yang bisa membukanya.


"Sandinya sudah di ganti jadi 000000, senior bisa mengubahnya!" ucap Afkar.


Angga menganggukkan kepalanya mengerti, dia mengambil brankas itu dan menyimpannya di laci.


"Thanks!"


"Bilang sama si Alvin kalau itu, dia yang buka soalnya." jawab Afkar dia menopang dagunya dan mengeluarkan kertas ke arah Angga "Dan ini yang senior minta."


Angga membuka berkas yang di depannya membacanya dengan cermat, tak lama dia tersenyum puas karena tebakannya benar. Dia juga memasukkan berkas yang baru saja dia dapatkan, nanti dia akan bertemu dengan orang itu.


"Bagaimana senior bisa menebaknya?"


"Insting!" dia menautkan kedua tangannya "Informan lo ini... Lo gak mau kasih tau?"


Afkar menggelengkan kepalanya "Dia yang menolak untuk di ketahui siapapun. Dia senang dengan keadaanya sekarang."


Padahal Angga berfikir ingin bekerja sama dengannya, dia membutuhkan informan yang kompeten. Sebelumnya dia memiliki teman temannya untuk membantu pun sebaliknya, tapi saat ini mereka sama sama sibuk dan akan berpencar hanya Ezra yang pasti tidak berpisah.


Mata Afkar menatap sekeliling ruangan Angga, dia berfikir untuk mengubah suasana ruang kerjanya yang kata Hanin membosankan itu.


"Ini ruangan suram amat!" celoteh Afkar, Angga mengangkat kepalanya ikut menatap sekelilingnya. "Tambahin tanaman kek Senior, tempat istirahat lo ngak ada kayaknya."


Angga menunjuk ke salah satu pintu "Di sana, tapi gak pernah gue pake."


"Ruangan kerja gue banyak berubah, Hanin suka bawa segala macam barang kesana." Afkar menghela nafas "Senior beruntung dapet yang kalem."


Angga tertawa "Lo ngak tahu saja, kosan gue yang mau gue tempatin mirip rumah barbie." dia menopang dagunya "Pink semua, Lily suka pink soalnya."


Tak lama Afkar pamit pulang, dia tidak mau kena omel Hanin karena pulang terlambat pulang tanpa alasan. Angga hanya menertawainya dan meledeknya, Afkar hanya bisa mendelik dan berlalu.


Sepeninggal Afkar, Angga mengambil kembali brankas yang diberikan Afkar. Dia membukanya dan seperti dugaan Lily, isi brankas itu tidak lain foto foto seorang perempuan yang dia yakini Ibunya Lily.


Di dalamnya juga terdapat buku nikah dan beberapa foto bayi, dia mengambil dan menatapnya cukup lama. Tidak ada barang yang mencurigakan, Angga mengambil buku panduan ibu hamil juga beberapa catatan saat kehamilan.


Angga bersandar sambil menatap dua foto bayi di depannya, semua terlihat menggemaskan. Dia kembali melihat foto Ibu Lily, Angga bisa menebak penampilan Lily saat dewasa nanti, pasti tidak jauh berbeda dengan Ibunya.

__ADS_1


"Ini bukan sesuatu yang harus di sembunyikan." gumam Angga.


Dia kembali melihat ke dalam brankas, masih ada dua buku. Angga mengambilnya tapi tidak berani membukanya, dia merasa tidak berhak membacanya karena itu buku diary ibunya Lily saat sedang hamil.


Angga menoleh saat mendengar ponselnya berdering, dengan cepat dia mengangkatnya karena itu dari supir yang menjemput Lily. Selama supir itu bicara, Angga tidak sekalipun menyelanya.


"Dimana Lily?" tanya setelah cerita supir selesai, dia menatap barang barang di depannya "Saya tahu, terima kasih sudah mengantarnya dengan selamat."


Angga mematikan sambungan telfonnya, dia bangun mengumpulkan semua barang barang itu dan memasukkannya kembali ke tempatnya. Dia menghela nafas panjang sebelum mengambil jasnya, dia akan keluar.


"Pak, hari ini rapat den-"


"Batalkan!"


"Tapi pak in-" Sekretaris itu diam tidak berani melanjutkannya karena Angga meliriknya tajam. "Saya mengerti Pak!"


Dia dengan cepat berlari ke parkiran, mengambil helmnya menaiki motor dan bersiap pergi. Dengan kecepatan di atas rata rata, dia melintasi jalan hanya untuk cepat sampai di tempat tujuannya.


Angga meletakkan helmnya begitu saja, dia berlari ke dalam rumah dengan cepat. Begitu dia masuk ke dalam rumah yang dia dapati hanya Nurul dan Rosa yang siap belajar, tanpa menyapa dia dengan cepat berlari ke lantai dua, tepatnya kamar Lily.


"Akh!"


Lily yang sedang berganti pakaian langsung berlari ke kasur, melilitkan tubuhnya dengan selimut.


"M..maaf!" Angga reflek menutup matanya dengan tangan, tak lama dia membuka telapak tangannya dan menatap Lily. "Kamu... Tidak apa apa?"


"___"


Angga melangkah mendekati gadis yang menutupi dirinya dengan selimut itu, tangannya terulur untuk mengangkat wajah Lily yang menunduk. Lily tanpa sadar kembali membuang muka, entah kenapa dia teringat kalimat Rudi yang mengatainya anak Si*l.


"Li.."


"Lily tidak apa apa." cicitnya, dia mendorong pelan Angga "Kakak keluar dulu, Lily mau ganti baju." lirihnya.


"Kakak disini."


Lily menatapnya memelas "Kak, please! Teman Lily sudah nungguin."

__ADS_1


Angga masih diam, tapi melihat raut wajah Lily yang benar benar memintanya pergi, mau tidak mau Angga keluar dari kamar itu. Tapi bukan Angga namanya kalau dia benar benar patuh, meski keluar dari kamar dia tidak benar benar pergi, dia menunggu di samping pintu kamar Lily sambil bersandar di dinding.


Di dalam kamarnya Lily sudah membuka lemari, tapi dia tidak terburu buru memilih pakaian. Dia melamun entah menatap apa, pikirannya terus tertuju pada ucapan Rudi.


Bagaimana kalau dia benar benar pembawa si*l? Bagaimana... Bagaimana kalau dia juga membawa kesia*an untuk Angga?


Kakinya lemas dia langsung jongkok di depan lemari pakaiannya, kepalanya berdenyut keras sekarang. Ibunya meninggal begitu dia dilahirkan, Ayahnya juga sakit sakitan saat merawatnya sampai akhirnya meninggal, Ayah Angga yang meninggal begitu dia menikah dengan Angga.


Apa dia benar benar pembawa sial?


Dia menggigit bibir bawahnya, menahan agar dia isakannya tidak terdengar keluar. Rasanya ingin dia menghilang saja.


Lily terkejut saat badannya tertarik ke belakang, ke pelukan seseorang. Kapan Angga masuk kamarnya lagi? Kenapa dia tidak mendengar?


Merasakan pelukan hangat dari seseorang yang selalu ada untuknya, Lily tidak bisa lagi menahan tangisnya. Dia menangis seperti anak kecil yang kehilangan mainannya.


Dia hanya pembawa si*al, dia tidak pantas menerima perlakuan hangat siapapun. Lily menggenggam erat lengan kemeja Angga, dia takut kalau dia juga membawa kesialan untuk Angga.


Angga tidak mengatakan apa apa, dia hanya bisa mengusap punggung Lily yang masih dilapisi selimut. Dia menunduk mencium puncak kepala Lily cukup lama, dia tidak tahu apa yang terjadi tapi saat ini dia marah.


Nurul dan Rosa yang mendengar suara Lily, mereka berdua langsung menghampiri meski tahu kurang sopan masuk kamar orang tanpa izin. Dari ambang pintu, mereka hanya bisa melihat Lily menangis dalam pelukan Angga.


Angga mengangkat kepalanya merasakan kehadiran dua orang itu, dia hanya memberi isyarat untuk tidak bersuara karena tangisan Lily sudah mereda. Angga menundukkan kepalanya saat hanya mendengarkan isakan kecil, genggaman Lily juga sudah mengendur.


Dia tidur.


Angga dengan sangat hati hati mengangkat Lily, memindahkannya ke kasur gadis itu. Angga memperbaiki letak selimut Lily, gadis itu hanya memakai baju dalamnya saja.


"Tolong pakaikan dia baju." lirih Angga, dia berjalan ke arah lemari Lily, mencari pakaian yang mudah di pakai.


Nurul dan Rosa baru berani masuk, mereka menatap wajah Lily yang masih basah dan berantakan. Mereka mengingat bagaimana Lily di bully sebelumnya, tapi ini kali pertama mereka melihat Lily sampai gemetar seperti tadi.


Angga menyodorkan baju yang langsung di terima Nurul, Angga menatap lekat wajah Lily. Angga mengusap kening Lily yang saling bertaut, sepertinya dia gelisah dalam tidurnya. Tak lama dia permisi keluar lebih dulu.


"Bisa kita bicara nanti?" Angga bertanya saat sampai di depan pintu "Soal hari ini?"


Dua gadis itu hanya mengangguk dan mengiyakan Angga.

__ADS_1


__ADS_2