
Melanie
...
...
Melanie? Bagaimana bisa dia melupakannya? Selama beberapa minggu belakangan dia sibuk mengurus Ayahnya yang sakit, saat Ayahnya dan Ayah Lily meninggal dia benar benar disibukkan dengan banyak hal, pernikahannya dengan Lily juga menghabiskan pikirannya, Lily dan perusahaan adalah mandat dan Amanah yang diberikan padanya dengan tiba tiba.
Dia seperti tidak diberikan ruang untuk mencerna satu persatu masalahnya, dan sekarang? Kenapa dia malah melupakan Melanie? Bagaimana dia bisa melupakan kalau dia punya pacar? Ini semua karena mereka tidak pernah komunikasi selama Melanie terbang ke Jerman.
" Kak... Kakak! " Angga tersentak mendengar panggilan Lily
" hah? Sudah? "
" iya " Lily menatap Angga yang diam dan seperti banyak pikiran, Lily mengedikkan bahunya karena enggan bertanya dia juga tidak mau dikatakan terlalu ikut campur.
Angga berdiri dan berjalan ke kasir untuk membayar pakaian Lily " mau makan? " Angga mengeluarkan kartu dan memberikan pada kasir
" apa kita bisa langsung pulang? Aku banyak tugas sekolah " jawab Lily
Angga hanya mengangguk, sebenarnya dia juga sudah tidak mau kemana mana lagi, dan baru ingat kalau dia punya tugas juga.
Dia mengangkat tangannya melihat jam yang melingkar disana, sudah jam sembilan malam dan malam juga semakin dingin. Harusnya tadi dia bawa mobil saja.
Lily terkejut karena Angga menyampirkan jaket dibahunya. " dingin "
" kakak bagaimana? " Angga hanya memakai kaos hitam biasa dan tidak ada lagi lapisan luarnya " kakak saja, bajuku panjang ini "
" pakai " titahnya
Diperjalanan mereka berdua sama sekali tidak bicara, Angga yang sibuk dengan pemikirannya sendiri sedangkan Lily sibuk memandangi Angga yang hanya diam. Dia ingin memulai obrolan tapi Lily tidak tau membuka topik pembicaraan.
Saat sampai rumah pun mereka langsung menuju kamar masing masing. Angga duduk dikasurnya sambil melihat hpnya. Bagaimana kali ini?
Melanie
...
...
Besok? Dia sudah janji dengan Lily akan mengantarnya mengambil sesuatu di rumah lamanya, dia tidak mungkin membatalkan karena sebelumnya dia yang kekeh mau mengantarkan!
...
__ADS_1
...
Angga melemparkan hpnya ke kasur begitu saja dia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.
****
Sepulang sekolah Lily langsung berganti pakaian dia akan kembali ke rumah lamanya untuk mengambil barang barang yang belum sempat dia bawa.
Sebenarnya dia tidak tau berapa lama dia akan tinggal bersama Angga dan berapa lama Angga akan menampungnya, sadar mereka menikah hanya karena permintaan orang tua tanpa sempat mengenal satu sama lain, dia baru kelas satu SMA belum berani membuka hati untuk laki laki dan dia juga tidak yakin akankah Angga akan punya perasaan padanya karena mungkin saja suaminya itu memiliki orang yang di sukai atau mungkin kekasih sebelumnya.
"Kakak yakin mau ngantarin?" dia sekali lagi bertanya, bukan apa apa... Lily tidak ingin terlalu banyak merepotkan Angga.
Angga menatapnya kemudian menganggukkan kepalanya.
Karena akan mengambil beberapa barang, Angga membuka garasi dan mengambil salah satu mobil ayahnya untuk dia pakai. Ayah Angga pecinta mobil jadi beliau memiliki beberapa mobil di garasinya yang otomatis Lily adalah milik Angga dan Lily.
"kamu mau ambil apa?" Tanya Angga dia memasang sabuk pengamannya sendiri, dia menoleh ke arah Lily yang sudah anteng.
"Pakaian dan beberapa keperluan" cicit Lily.
Angga mengangguk memperbaiki letak cermin agar memudahkannya melihat kendaraan dibelakangnya.
Dalam perjalanan mereka berdua terdiam, karena merasa bosan Angga memutar musik dan sesekali mengikuti lagi yang menurutnya enak di telinga.
"Kenapa?" Angga bertanya menyadari dia di pandangi oleh Lily, gadis itu menggelengkan kepala "suaraku jelek ya?"
Lily hanya senyum canggung dan menjawabnya "sedikit"
Tak lama mereka sampai di rumah Lily, sebelum membuka pagar Lily menarik nafas panjang. Dadanya masih sesak melihat rumahnya rasa kehilangan sangat terasa hanya dengan melihat bangunan di depannya.
Angga melihatnya mengangkat tangannya menepuk pundaknya
"Kalau Lily belum siap, lain kali kakak antar lagi" kata Angga, Lily menggelengkan kepalanya dan berlahan membuka pagar dan masuk secara berlahan.
Angga bisa melihat dengan jelas tangan Lily yang gemetar saat mencoba membuka kunci rumahnya, dia juga mendengar isakan tertahan dari Lily.
Diraihnya tangan Lily yang terus gemetar, Angga mengambil kunci dan membuka pintu lebar mempersilahkan Lily masuk lebih dulu
"LILY!" Langkah Lily berhenti padahal sebelah kakinya sudah masuk ke dalam rumah.
Mereka berdua menoleh bersamaan, seorang wanita dengan seorang anak di tangannya berjalan tergesa tergesa ke arahnya.
"Tant-"
PLAK
Angga yang berdiri di samping Lily kaget tidak menyangka, begitu berdiri di depan mereka Dia akan langsung menampar Lily
Reflek Angga menarik Lily ke belakang tubuhnya, dia berdiri menjulang diantara Lily dan wanita itu.
__ADS_1
"Apa maksud anda menampar Lily di depan saya?" Tanya Angga, wanita itu, wanita berkecak pinggang
"Siapa kamu? Jangan ikut campur"
Baru akan bersuara Lily menahan Angga, dia menggelengkan kepalanya.
"Lily" Wanita itu menarik kasar tangan Lily dari belakang Angga "kemana saja kamu Hah? Ayah kamu baru meninggal dan sekarang kamu bawa laki laki pulang, mau jadi apa kamu? Mau jadi perempuan tidak benar hah?"
Angga mengkerutkan keningnya dia tidak suka mendengarnya.
"Bukan begitu.." cicit Lily "kak Ang-"
"Ah sudahlah!" Wanita itu mengibaskan tangannya tangannya bahkan sebelum Lily selesai "dimana sertifikat rumah Ayahmu, biar tante pegang! Kamu terlalu kecil untuk memegang berkas penting."
Angga memasukkan tangannya ke dalam saku celananya dia berdecih dalam hati, Lily mengkerutkan keningnya.
"Lily tidak tau tante, Ayah tidak pernah kasih tahu Lily soal itu" jawab Lily
Wanita itu menghela nafas dia mengecakkan sebelah tangannya
"Jangan bohong kamu" Lily menggelengkan kepalanya, dia benar benar tidak tahu perihal seperti itu, wanita itu meraih tangan Lily mengelus punggung tangannya "Lily... Ini demi kebaikanmu, bahaya kalau barang seperti itu kamu pegang"
"Lily benar benar tidak tahu tante" katanya
"Mungkin ada di dalam, kamu masuk cari dan kasih ke tante!" Ucapnya dia melepaskan tangan Lily ada nada cibiran dalam ucapannya.
Lily kembali terhenti saat akan masuk ke dalam rumah karena di tahan Angga
"Memang menurut Anda Lily anak kecil yang berumur Lima tahun? Dia bisa mengurus barangnya sendiri." Ucapnya
"Lily ini pacar kamu?" Wanita itu menatap Angga dari atas ke bawah dan kembali ke atas lagi "dia bukan laki laki baik putuskan dia."
Angga menyeringai
"Saya anak bosnya" Ucap Angga dia menyentuh kedua bahu Lily menghadapkannya ke wanita itu "Ayah Lily meminjam uang dari keluargaku dan rumah ini jaminannya."
Lily menoleh kaget, dia tidak tahu itu. Bukankah Ayahnya dan Ayah Angga baru bertemu setelah lama berpisah? Kapan Ayahnya meminjam uang?
"Kamu pikir saya bodoh" Wanita itu mendekati Angga "kakak saya selalu di rumah sakit menurutmu apa mungkin dia meminjam uang da-"
"Menurut anda dari mana biaya rumah sakitnya?" Tanya Angga dia bisa merasakan tatapan Lily tapi dia tetap bersikap seolah tidak tahu.
"LILY!" Wanita itu berseru dia kembali ingin menarik Lily tapi Angga lebih dulu "Kamu!"
"Dia juga jaminan, sampai dia bisa membayar saya lagi dia menjadi pengurus rumah tangga saya dan itu sudah dalam kontrak"
Lily tanpa sadar menganga, dia benar benar tidak tahu kapan dia menandatangani kontrak!
****
__ADS_1
TBC