
Angga mendengarkan cerita Nurul dan Rosa, seperti sebelumnya dia sama sekali tidak menunjukkan reaksinya. Rosa bercerita dengan sangat tenang sedangkan Nurul kebalikannya, dia bercerita seperti ingin memukul seseorang.
"Maaf karena kami tidak membantu apa apa" Rosa berucap dengan nada bersalah, Angga menggelengkan kepalanya.
"Tidak apa apa, Lily juga mencegah kalian kan?"
Rosa mengangkat pandangannya hanya untuk melihat seniornya, dia tidak bisa menebak apa yang ada di pikiran Angga. Rosa benar benar merasa bersalah tentang Lily, melihat bagaimana Lily tadi membuatnya tidak nyaman.
"Siapa nama orang tadi?" tanya Angga
"Rudi!" Nurul menjawab penuh kebencian.
Setelah mengatakan semuanya, Rosa dan Nurul pamit keluar. Mereka berdua kembali ke kamar Lily, di atas kasur mereka melihat Lily yang masih tidur dengan seorang anak kecil di sampingnya.
Angga duduk di depan mejanya, dia memegang ponselnya menimbang nimbang apa dia harus menelfon atau tidak. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, meletakkan ponselnya di atas meja.
Dia berdiri berjalan ke arah kamar mandi, setelah dari kamar mandi dia berjalan ke kamar Lily. Di dalam kamar itu masih ada Nurul dan Rosa, mereka berpindah tempat belajar di sana karena Lily sudah bangun.
Angga bersandar di ambang pintu kamar, sepertinya tidak ada yang memperhatikan dirinya di sana.
Tok tok
Angga mengetuk pintu mengintrupsi mereka, mereka bersamaan menoleh. Tanpa berkata apa apa lagi Angga melangkah masuk, dia duduk di samping Lily mengambil buku pelajaran mereka.
"Kakak tidak kerja?" tanya Lily, dia menatap Angga. Angga menggelengkan kepalanya dia melihat buku di depannya. "Kenapa?"
"Tidak ada pekerjaan penting!" jawab Angga dan tentunya itu bohong, di kantor dia punya setumpuk pekerjaan dan banyak pertemuan. "Apa ada yang kalian tidak mengerti?"
Nurul tidak menyia nyiakan kesempatan, dia menanyakan banyak pertanyaan sulit. Mereka bertiga sudah mendengarnya, pemilik nilai tertinggi saat kelulusan adalah Angga.
Sambil menjelaskan Angga beberapa kali melirik Lily, dia memperhatikan kalau Lily tidak seperti biasanya. Dia menghela nafas panjang, dia seperti melihat Lily saat mereka baru kenal dan tinggal bareng.
Di bawah meja, Angga meraih tangan Lily tapi gadis itu melepaskannya. Dia menopang dagunya dan melirik Lily, gadis itu terlihat dengan jelas sedang berpura pura fokus.
Angga meletakkan kembali meletakkan buku itu, dia berdiri dan berjalan keluar kamar. Lily menghela nafas panjang begitu Angga keluar, dia melirik ke pintu dimana Angga menghilang.
"Kita lanjut bahasa inggris!" Nurul mengeluarkan buku dari tasnya dan menempatkan di depan mereka. "Sekarang gue jadi gurunya. Anjirr keren banget gue kalau jadi guru!"
"Sebelum jadi guru sebaiknya perbaiki omongan lo!" Rosa mencibir ke arahnya, dia mengeluarkan bukunya juga.
"Sirik ya lo... Sirik ya sirik ya!" Rosa menepis tangan Nurul membuatnya meringis "Pedis Ca, tamparan lo."
"Oh, sengaja!"
Lily terkekeh pelan, dia selalu terhibur dengan perdebatan kecil kecilan mereka berdua. Mengingat kembali ucapan Rudi, Lily mengatupkan bibirnya menghilangkan senyumnya.
Angga kembali dengan setumpuk kertas, dia meletakkan di depan mereka "Itu soal soal pas gue kelas sepuluh, persiapan kenaikan kelas."
__ADS_1
Mata mereka membulat menatap tumpukan dan Angga bergantian, mereka tidak menyangka Angga menyimpan semuanya. Angga menepuk pelan kepala Lily dan kembali keluar, dia meminta mereka belajar dengan benar dan tenang.
Usai makan malam Nurul dan Rosa baru pulang, Lily melambaikan tangannya mengantar kepergian mereka. Setelah mengantar Lily langsung ke kamarnya, tapi begitu dia masuk, Angga sudah ada di sana membaca buku pelajaran Lily.
"Mereka sudah pergi?" Lily menganggukkan kepalanya, Angga menepuk sisi kosong di sampingnya.
Lily berjalan mendekat, tapi bukannya duduk di samping Angga Lily menarik kursi meja belajarnya. Angga berdiri di depannya meletakkan buku pelajaran di meja depan Lily, dia menunduk menatap gadis itu.
Lily mengalihkan pandangannya ke samping, dia menolak saling bertatapan. Untuk memastikannya Angga mengulurkan tangan ingin menyentuh kening Lily, tapi gadis itu memundurkan badannya.
Angga yakin, gadis itu menghindarinya.
"Kakak akan pindah minggu depan." ucap Angga tapi respon Lily hanya menganggukkan kepalanya. "Minggu depan loh, Li!"
"Apa ada barang kakak belum dikemas?" Tanya Lily, dia memainkan tangannya sambil menundukkan kepalanya.
Angga mengkerutkan keningnya dengan respon Lily, Angga menduga kalau ini masih ada hubungannya dengan siang tadi. Dia berjongkok di depan Lily, menggenggam tangan gadis itu.
Angga mendongak menatap wajah Lily yang muram "Kamu kepikiran sama Rudi?"
"Tidak!" Lily mengalihkan pandangannya. "Kak, Lily capek mau istirahat!"
"Ya sudah istirahat." ucap Angga tanpa berniat berpindah tempat, Lily menatapnya tapi hanya di balas cengiran. "Capekkan? Istirahat gih!"
"Kak!" keluhnya
"Kakak sudah meminta seseorang untuk membuka brankas Ayah."
"___"
Tidak ada respon sama sekali, Angga mengangkat kakinya memutar posisinya menatap Lily. Dia menyentuh lengannya, mencoba membalikkan badan Lily agar menghadapnya.
"Li!" Gadis itu berkeras "Kalau kakak salah kakak minta maaf."
Tubuhnya menegang mendengar kalimat Angga, dia tidak berfikir Angga melakukan kesalahan. Saat ini dia hanya merasa tidak pantas bertatapan dengannya, rasa percaya dirinya seperti tergerus air sungai.
"Kakak tidak salah apa apa." cicitnya
"Kalau begitu lihat, Kakak!" Lily menggelengkan kepalanya "Kenapa?"
"Lily mau sendiri dulu." balasnya.
Angga tidak menjawab, dia merebahkan dirinya di samping Lily. Lily menolehkan kepalanya ke arah Angga begitu tangan Angga melingkar di pinggangnya.
"Kak!"
"Sstt... Kakak ngantuk!" ucap Angga.
__ADS_1
"Kakak tidur di kamar kakak gih." Lily berkata dengan sangat lirih, Angga memejamkan matanya "Kak!"
"Kakak mau tidur di sini."
"Tapi Lily mau tidur sendiri."
"Kakak yang tidak mau sendiri." Angga membuka matanya, tatapan mereka bertemu tapi Lily kembali memalingkan wajahnya.
"Terserah!"
Angga menarik tangan Lily agar menghadapnya, dia mendongakkan kepala Lily agar bisa melihat wajahnya.
Angga mengelus kening Lily "Kalau ada yang mengganjal disini~" Angga menyentuh dada "Dan disini! Kasih tahu kakak. Kakak tidak punya indra keenam untuk bisa membaca pikiran, Li!"
"___"
"Kakak tidak suka kamu mendam Li, kalau ada masalah ayo selesaikan bareng bareng!" Angga menangkup sebelah pipi Lily "Kamu bisa cerita sama Kakak."
Mata gadis itu berkaca kaca "Kak!"
"Hm?"
"Lily ini pembawa si*l." air matanya mengalir keluar dari pelupuk matanya. "Karena itu, tolong jangan dekat dekat Lily!"
"Hei." Angga langsung duduk, dia menahan tangan Lily yang akan menghindar "Tidak ada yang namanya pembawa si*l."
Gadis itu terisak "Kalau bukan pembawa si*l lalu apa?"
"___" Angga tidak mengatakan apa apa, dia hanya bisa melihat mata basah Lily
"Ibu meninggal saat melahirkan Lily, sejak Ibu meninggal Ayah ngurus Lily sampai beliau sakit bahkan meninggal, lalu... Lalu~" suaranya tertahan oleh isakan "Begitu menikah dengan Kakak, Ayah kakak juga meninggal! APA NAMANYA KALAU BUKAN PEMBAWA SI*L?"
Angga menggeretakkan giginya menahan marah, seharusnya dia yang menjemput Lily tadi.
"Jangan dekat dekat Lily."
Angga memang tidak mengatakan apa apa, dia kembali berbaring membawa Lily ke pelukannya meski terus memberontak. Angga menenggelamkan wajahnya di pundak Lily, dia tidak tahu bagaimana menghibur orang lain.
"Itu tidak benar!" ucap Angga "Umur seseorang sudah diatur Li, bukan karena kamu pembawa si*l atau apapun."
Dia memundurkan tubuhnya hanya untuk melihat Lily, Angga mengulurkan tangannya menghapus air matanya "Kakak mungkin akan lari ke jalan yang salah, Li. Kakak berterima kasih sudah bersama kakak."
Lily tidak mengatakan apa apa lagi, dia hanya bisa menangis sekarang karena pikirannya lumayan kacau. Angga juga tidak mengatakan apa apa lagi, dia hanya bisa menepuk nepuk punggung Lily hingga gadis itu tertidur.
Rudi ya?
Angga menatap wajah lelap Lily, wajah gadis itu sangat sembab karena menangis. Angga menunduk mencium puncak kepalanya sebelum dia berlahan turun dari kasur Lily, dia sekali lagi menatap wajah Lily sebelum berlalu meninggalkan kamar itu.
__ADS_1