
"Kita beli jajan dulu." ucap Lily sambil memasang ranselnya.
Hari ini dia dan kedua temannya akan belajar di rumahnya, tapi sebelum pulang Lily berencana untuk membeli snack. Rosa dan Nurul hanya menganggukkan kepalanya, karena mereka juga ingin membeli perlengkapan pribadi.
Masuk ke supermarket mereka langsung berpencar, Lily berjalan ke arah snack. Lily membeli banyak, selain untuk mereka dia juga membeli untuk persiapan dirinya dan Farhan saat bermain bersama.
"Apa kamu mau jualan?" Lily menoleh dan mendapati pria bersandar di salah satu rak. Lily hanya diam tidak menanggapi. "Mau aku traktir?"
"Terima kasih, tapi tidak perlu merepotkan kak Liz." Lily mengangguk pelan dan memilih pergi ke rak lain.
Lyz mengambil acak snack dan memasukkannya ke keranjang Lily, baru akan menolak Lyz menatapnya memelas. Mau tidak mau Lily menerimanya, dia mengangguk dan meninggalkan Lyz.
Lyz menggaruk keningnya "Susah juga."
Lily menghampiri teman temannya yang berdiri di depan rak kosmetik, mereka sepertinya sedang memilih skincare mereka.
"Banyak banget, Li?" Nurul menatap keranjang Lily takjub "Duit lo ngak habis nih?"
"Kita di traktir!" Lily melirik Lyz yang masih berjalan di belakangnya, Rosa dan Nurul bersamaan memiringkan kepala mereka melihat Lyz.
"Hai!" sapa Lyz
"Mukanya tukang tipu, jangan dekat dekat orang seperti dia." kata Rosa menatap Lyz antisipasi "Balikin apa yang dia kasih, jangan mau dibodohi seperti anak kecil."
Lyz menggertakkan giginya, siapa anak kecil yang sembarangan menilainya ini? Dia berjalan mendekat tetap di depan Rosa, tapi apa yang dia lihat? Rosa sama sekali tidak bergeming bahkan menatapnya menantang.
"Tidakkah kamu berbicara terlalu sarkas dek?" tanya Lyz masih tersenyum, Rosa mengernyit dia tidak suka label itu. "Kamu tidak tahu siapa saya dan kamu berbicara sembarangan!"
"Oh benarkah?" Rosa bersedekap dada, dagunya terangkat "Kenapa gue harus kenal lo dulu? Terserah gue mau menilai lo apa."
Wajah Lyz menghitam, baru kali ini dia bertemu dengan anak kecil yang bermuka tebal. Dia menoleh ke arah Lily tapi gadis itu malah menatap takjub temannya, dia menghela nafas panjang dan membiarkannya.
"Yang mana saja yang dia belikan buat lo?" tanya Rosa menoleh ke Lily, baru akan menunjuk ke arah keranjang Lyz mengambil keranjang itu membawanya ke kasir.
Lyz membayarnya dan menyerahkannya ke Lily "Kalau kamu tidak suka, aku akan menagih bayarannya ke Azka."
Mendengar nama itu, Lily mengambilnya karena tidak mau mendengar omelan Azka karena dia tidak sopan pada temannya. Lyz menoleh ke arah Rosa menyeringai, gadis itu mendengus.
"Kenapa lo ambil?"
"Sebenarnya dia teman kakakku." jawab Lily, Lyz menatapnya sebentar.
"Kamu punya Kakak?" tanya Nurul kaget, bukan apa apa yang mereka tahu Lily anak tunggal.
"Kakak angkat"
Lyz menepuk kepalanya dan berlalu, membiarkan remaja remaja itu sendirian karena dia sudah akan ke kantor.
__ADS_1
"Kak Lyz!" Lyz menoleh "Terima kasih!"
Begitu Lyz keluar mereka tetap disana, karena camilan sudah banyak Lily ikut melihat lihat skincare dan beberapa kebutuhan kecantikan yang selama ini jarang dia kenakan.
"Ini cocok sama warna kulit lo" Nurul memperlihatkan lipstik ke arahnya, Lily melihatnya. "Kulit lo putih banget, jadi warna pink cocok sama lo."
Lily tersenyum malu "Sebenarnya aku tidak terlalu pandai memakai make up, bisa tolong di ajari?" cicitnya, dia menunduk.
"Kayaknya Oca pintar." Nurul menunjuk Rosa yang memilih brush mendengar namanya di sebut dia menoleh "Kan Ca?"
"Apa?"
"Lo bisa make up kan? Ajari kita dong!" Wajah Rosa langsung memerah, Nurul dan Lily menatapnya lekat karena ini pertama kalinya. Nurul menyeringai "heh... Jadi beneran bisa"
"Ngomong lagi, gue sumbat mulut lo!" Ancamnya dan berbalik memunggungi mereka.
"Oh siapa ini? Tsundere-chan?" Mereka bertiga menoleh
"Kak Hana!" sapa Lily, Hana menyengir dibelakangnya ada Kennan yang memainkan hpnya.
"Kak Kennan!" sapa mereka, cowok itu hanya mengangguk sebagai balasan.
"Kalian belanja Make up? Gue juga ikutan dong!" serunya
Kennan menghela nafas "Katanya tadi lo cuma mau beli ice cream!" katanya.
"Tapi gue mau make up juga." ucapnya "Sebentar ya!"
"Oke bye bye!" Kennan hanya menggelengkan kepalanya sambil berjalan keluar.
Tak lama mereka selesai, Kennan dan Hana pamit lebih dulu sedangkan mereka baru akan langsung ke tempat Lily.
"Ketemu!"
Tubuh Lily kaku melihat orang yang tiba tiba berdiri di depannya, kakinya langsung mundur satu langkah. Cowok jangkung dengan goresan di pipi bekas luka, dia menyeringai ke arah Lily.
"Rudi" cicitnya, Lily memegang pergelangan tangannya. "Nga...ngapain kamu di sini?"
"Menurut lo." dia berjalan mendekati Lily, Rosa dan Nurul yang menyadari keanehan Lily berdiri di depannya. "Minggir gue gak ada urusan sama lo berdua!"
Rosa dan Nurul tetap berdiri, melihat itu Lily meraih lengan mereka menariknya agar tidak menghalangi. Rudi itu bren*sek, dia tidak mengenal lawan jenis kalau mau memukul orang.
Lily mungkin bisa berkelahi meski sedikit, tapi tidak berlaku pada cowok di depannya. Dia sejak kecil di ganggu olehnya dan dia takut sejak saat itu, Rudi memiliki trauma tersendiri untuk Lily.
Yang memperkuat rasa takut Lily adalah siapapun yang membantunya akan babak belur oleh Rudi, Atar dan Anis bukti nyatanya. Belum ada yang pernah mengalahkan Rudi di depan Lily, karena itu melihat Rudi adalah hal terakhir yang ada di list hidupnya.
"Mana?" Rudi mengulurkan tangannya ke arah Lily, gadis itu mundur "Berikan atau gue hajar lo!"
__ADS_1
"Apa?"
"Sertifikat rumah dan tanah." Dia mendorong dorong kepala Lily "Anak si*l kayak lo gak bakal becus megang benda penting!"
"He-" Lily menggeleng ke arah Rosa, dengan wajah memelas dia memohon agar mereka tidak melakukan apapun.
"Tapi tidak ada sama aku." Lily berbohong, meski demikian dia tidak bisa menyerahkannya.
"Gue gak peduli, gue mau sertifikat itu." Dia mendorong pundak Lily, meski sakit Lily sama sekali tidak meringis. "Tebus sertifikat itu, gue tidak peduli dengan cara apa. Lo lacu*in diri lo kalau perlu. Toh darah lo sudah kot-akh!"
Mereka terbelalak saat Rudi terjatuh ke samping.
"Mulut sampah nyokap lo turun temurun ya?" Lyz adalah pelaku kenapa Rudi jatuh, dia menendangnya.
"Bang*at!"
Rudi berdiri, baru akan menendang dia sudah kembali jatuh karena tendangan Lyz. Dia menatap Lyz tidak percaya, bagaimana?
Lyz menatapnya dingin "Lo terlalu lambat!"
"Apa urusan lo sama gue?"
"Tidak ada."
Rudi menyeringai dia melirik Lily "Kenapa? Apa dia lac*r lo?" dia tertawa "Sekali kotor tetap kotor!"
Lily menggigit bibir bawahnya, kalimat itu juga selalu membuatnya takut. Tubuhnya gemetar
"Lo it-
Bukh!
Lyz menarik kerah baju Rudi, dia menatanya dingin. "Tutup mulut busuk lo!"
Lyz memukulnya tapi bukannya berhenti Rudi makin tertawa.
"Kenapa ha? Kotoran sudah mendarah daging di tubuhnya. Darah dari bapaknya yang parasit ke keluarga gue!" dia mengarahkan tinjunya ke arah Lyz dan berhasil mengenainya "Kenapa lo diam ha? Hahaha..."
Lyz menyeringai, sedetik kemudian Rudi sudah jatuh ke tanah. Lehernya sudah di tahan oleh Lyz, sedikit bergerak saja Rudi pasti tercekik!
Lyz menunduk dan berbisik ke telinga Rudi "Gue tau keluarga lo sangat baik!"
"Nona!" Lily mendongak, supir yang di tugaskan Angga mengantar jemputnya sudah datang. "Nona baik baik saja?"
Lily hanya diam tidak menjawab, dia sekali lagi melihat ke arah Rudi yang tergeletak di lantai dengan Lyz menahannya. Lyz melihatnya dan memberi isyarat agar cepat pergi, Rosa dan Nurul membantunya berjalan ke mobil.
"Kemana pun lo pergi, lo hanya bawa sial. Lo gak lupa kan nyokap lo mati karena l-akh!"
__ADS_1
"Ayo!"
"Nona!" Pintu sudah di terbuka dan mempersilahkan Lily juga teman temannya masuk.