Lily Untuk Angga

Lily Untuk Angga
Part 46


__ADS_3

Sambil menggendong Farhan, Lily turun dari mobil. Angga membawa mereka jalan jalan ke sebuah cafe yang baru saja dibuka, dia mendapat rekomendasi dari Dwi.


Angga mengambil Farhan dari gendongan Lily, gadis itu tampak kesulitan. Setelah Farhan diambil darinya, Lily berjalan lebih dulu membuka pintu untuk mereka.


Angga memesan tempat yang jauh dari kawasan rokok, biar bagaimanapun dia membawa anak anak dan perempuan yang bisa dibilang masih anak anak juga. Lily mengambil kembali Farhan, dia akan membiarkan Angga memesan makan untuk mereka.


"Mau makan apa?" Angga bertanya sambil membuka menu yang ada di depannya.


"Bento!" Angga memandang Lily, gadis itu menyengir "Sudah lama gak makan bento soalnya. Lagian menu utamanya kan bento"


Lily mengambil tisu di atas meja, dia mengelap tangan Farhan yang tangannya masih ada bekas coklat. "Adek mau makan apa?"


Anak itu mendongak menatap Lily, Angga mengulurkan menu di depan Farhan menyuruhnya memilih. Anak itu menatap sebentar sebelum menunjuk bento juga.


"Wihh... Samaan sama Kakak!" ucap Lily, dia mengusap kepala Farhan "Sama Ice cream Macha ya kak"


Angga mangguk mangguk, dia mengangkat tangannya untuk memanggil pelayan. Angga menyebutkan apa saja yang mereka pesan, dia menambahkan beberapa menu lagi.


"Ah, sama air mineral botol sedang ya Mas" kata Angga.


Pelayan itu mencatatnya, dia menatap ketiga orang di depannya sebelum pergi, entah apa yang ada di kepalanya.


"Adek senang gak diajak ke sini?" tanya Lily, anak itu mengangguk sambil tersenyum memperlihatkan gigi susunya yang rapi.


"Senang!" Dia kemudian menoleh keluar etalase, memandang kendaraan di luar. Dia menarik narik ujung baju Lily "Kakak Ibu.. Kakak ibu!"


Farhan memang memanggilnya demikian, dia ingin memanggilnya kakak tapi dia juga mendengar neneknya memanggil Lily ibu jadilah panggilan Lily seperti itu. Dia memanggil Angga Kakak bos.


"Kenapa sayang?"


"Mobil melah" dia menunjuk sebuah mobil, matanya berseri.


"Wah... Farhan suka mobil merah?" Anak itu mengangguk senang.


Angga yang dari tadi menjadi nyamuk menonton dua anak di depannya tiba tiba berceletuk. "Mau dong di panggil sayang juga!"


Lily dan Farhan menoleh kearahnya, mereka menatap Angga dengan tatapan polos.


"Panggil kakak, sayang juga dong Li!" ucap Angga lagi.


Lily tidak mengatakan apa apa, dia hanya mengkerutkan hidungnya ke arah Angga. Mendongak menatap Lily, Farhan melihat Angga dengan ekspresi yang sama.


"Oh gitu... Ya udah kalian pulang jalan kaki saja!" Angga mendengus ke arah mereka.


Lily mengangkat alisnya "Ngapain naik jalan kaki, kan ada taksi ya dek?" Farhan menganggukkan kepalanya "Lily baru saja jadi orang kaya tadi!" Dia menepuk tas yang berisi dompetnya, sontak Angga langsung tertawa.


"Iya deh...iya deh nyonya."


Tanpa mereka ketahui, di sebuah meja yang agak jauh dari mereka, sekumpulan orang membuka mulutnya menganga.

__ADS_1


"Itu beneran pak Angga? Dia bisa tertawa?" Orang satu bertanya pada rekannya, seolah baru melihat hantu.


"Cuman mirip kali" orang lain menimpali.


Mau tidak mau mereka menatap dengan seksama, setelah memastikan mereka saling menatap.


"Itu dia!" mereka berucap bersamaan


"Tapi siapa cewek depannya? Adeknya?"


"Tidak mungkin adek! Pak Angga mau gimana pun masih remaja, pasti pacar!" mereka kembali melihat.


"Nona delivery!" salah satu dari mereka berseru "Dia cewek yang selalu nganter makan siang!"


Merasa diperhatikan, Angga menoleh dia bisa melihat sekumpulan orang dewasa yang mencuri curi pandang ke arahnya. Angga tentu saja mengenali mereka.


"Kenapa?" Lily melihat ke arah yang dilihat Angga "Kakak kenal?"


"Bukan apa apa" Dia kembali melihat Lily "Mereka orang kantor. Makanan sudah datang!"


Mereka tidak membahas orang kantor itu lagi, Angga fokus pada makanannya sesekali menggoda Farhan yang mengambil perhatian Lily darinya.


Plak


Lily memukul tangan Angga yang pura pura ingin mencuri makanan Farhan, gadis itu melototi Angga membuat Angga meletakkan bento Farhan.


"Besok besok aku mau punya anak cewek saja! Biar ada yang belain" seru Angga, dia menghela nafas.


"Nikah dulu, baru bahas anak!" Empat kursi langsung ditarik di samping mereka.


Mereka menoleh dan mendapati keempat temannya tiba tiba muncul.


Dwi, orang yang merekomendasikan tempat itu hanya memasang simbol piece begitu Angga menatapnya tajam.


Tujuan mereka sebenarnya sederhana, makan gratis!


"Ga, anak lo dah gede aja Ga!" Hari mengusap kepala Farhan, anak itu mengendur memeluk lengan Lily.


"Samaan sama anak ceweknya Afkar!" seru Niel, mereka terkekeh.


Angga bingung "Anak cewek?"


Niel memperlihatkan postingan Afkar di twitter, seorang anak perempuan. Dia membaca beberapa komentar, ya anak itu sepertinya milik tetangga mereka.


"Ngapain sih lo pada di sini?" tanya Angga kesal, mereka menyengir sebelum menjawab bersamaan.


"Makan gratis!"


"Makan gratis bapak lo!" serunya

__ADS_1


"Gue kan gak punya bwapak sekarang! Kasihanilah anak yteam ini" Hari memasan wajah memelas.


"Iya Ga, lo gak kasian? Gue sama Ezra gak ada emak" kata Dwi, Angga mendengus


"Lo pikir gue punya? Harusnya minta ke Niel noh!" merasa akan jadi sasaran Niel langsung melihat ke arah lain.


"Gak buka amal gue!" serunya, mereka mendengus.


Mendengar candaan mereka, Lily merasa aneh, tapi sekarang dia terbiasa bahkan bisa tertawa pelan mendengar mereka.


"Salah orang lo kalau minta traktir ke gue!" Angga bersandar di sandaran kursi, mereka melihat Angga "Dana di pegang sama Nyonya" dia menunjuk Lily dengan dagunya.


Di perhatikan tiba tiba, Lily jadi kebingungan sendiri. Mereka melihat Angga kembali, cowok itu mengangkat sebelah alisnya.


"Apa? Gue cuman karyawan nona Lily!" kata Angga dia mengangkat tangannya.


"Kakak!" tegur Lily, Angga terkekeh pelan sebelum memanggil pelayan ke mereka lagi.


"Nguras dompet aja lu pada"


"Harusnya lo tau, itu fungsi teman" Ezra berkata dia mengambil menu lebih dulu, Angga mengambil tisu bekas di depan Lily, melemparnya ke Ezra. Cowok itu tertawa.


Mereka tahu kalau Angga tidak pernah menolak untuk mentraktir mereka, makanya apapun kata penolakan Angga, mereka tidak peduli dan terus menerobos. Angga juga tidak bisa mengabaikan mereka, selain mereka teman, mereka juga adalah orang orang yang selalu membantunya meski diawali dengan misuh misuh tidak jelas.


Setelah pesanan mereka datang, mereka melahapnya sambil bercanda lagi seperti biasanya.


"Jadi besok lo mau ke sekolah?" Tanya Dwi, Angga menganggukkan kepalanya, dia mengambil tisu mengulurkannya ke Lily untuk membersihkan mulut Farhan "Osis?"


"Ngak tahu, tapi pak Juan yang minta" jawab Angga dia kembali memakan makanannya.


"Gue juga dapat pesan pak Juan" Niel menyaut "Kayaknya masih masalah Bryan"


"Kenapa masih ngurusin tuh anak sih? Padahal tinggal tunggu lulus" ucap Dwi, dia memang tidak ikut Osis sebelumnya.


"Tidak segampang itu!" Kata Hari, Angga mengangguk setuju "Masalah ini, mereka bakal libatin adek kelas. Lebih lebih anak kelas sepuluh yang polos."


Angga meletakkan gelasnya yang baru saja ia teguk isinya "Sebenarnya kalau hanya masalah geng sesama siswa tidak terlalu masalah." Dia menghela nafas "Masalahnya geng ini mereka bentuk diluar sekolah juga, sekarang malah seperti sekumpulan preman."


"Hubungannya dengan kelas sepuluh?" tanya Dwi, Ezra memukul belakang kepalanya "Apa sih Jrak?"


"Lo ogeb soalnya" ketus Ezra, Dwi baru akan membalasnya tapi berhenti begitu melihat tatapan polos Farhan ke arah mereka.


Ezra bersedekap dan menjelaskan "Untuk membuat komplotan mereka besar, mereka pasti merekrut anak buah, yang paling gampang itu adek kelas dengan iming iming kekuasaan di sekolah. Yang parah kalau sampai mereka menjatuhkan anak lain ke jalan yang salah."


Dwi mengkerutkan keningnya, Angga menghela nafas dia kembali membuka suara "Beberapa bulan lalu, Afkar sama ketua osis menemukan siswa membawa obat terlarang ke sekolah!"


"HAH?" mereka berseru kaget, bahkan Lily


"kami tidak tahu" seru Niel.

__ADS_1


"Kenzo laporan sama gue. Pak Juan minta untuk tidak menyebarluaskan, bagaimanapun nama baik sekolah harus dijaga."


Mereka semua terdiam, bingung dengan kenakalan yang semakin tidak masuk akal.


__ADS_2